Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
45


__ADS_3

Hari-hari telah dia lalui dengan sibuk belajar, apa lagi tinggal hitungan hari akan di adakan ujian sekolah.


Tentang kematian orang tuanya, dia sudah tidak mengingatnya terus-menerus. Risma juga mulai ikhlas dengan kepergian orang tuanya, 'mungkin ini adalah takdir' batinnya.


Apa lagi dia mendapat dorongan dari sang suami agar tetap tegar dan semangat, tentang orang yang meninggal dunia itu, kita harus ikhlaskan kepergian mereka, agar mereka juga lebih tenang di alamnya.


Dan bukan hanya suaminya saja yang memberikan dorongan, kakak, mertua, Dion dan Deren pun Selalu menghiburnya.



Sudah seminggu ini Risma kembali ke sekolahnya dan tentunya para sahabatnya gembira atas kembalinya lagi. Risma pun selalu mendapatkan dorongan dari para sahabatnya agar lebih semangat lagi, dia pun bersyukur karena miliki para sahabat yang baik.


Seperti biasanya, Risma duduk di dekat Dion. Sedangkan Cerry dan Ayu duduk di belakangnya.


"Ka, pulang sekolah aku ikut kerumah yah?" ucap Dion.


Risma beralih menatap adik iparnya. "Kamu ini, emangnya aku pernah apa melarang kamu ke rumah."


"Iya sih. Tapi 'kan kakak sendiri tahu kalau aku ke sana itu mau ajakin Deren jalan," ucap Dion dengan senyam senyum karena malu.


"Ck, ck, ck. Sejak kapan adik iparku ini menjadi seperti anak gadis?" ucap Risma.


Sementara Dion langsung terganti ekspresi wajahnya yang awalnya senyam senyum, kini menjadi wajah cemberut. "Ish. Apaan sih, Ka? Aku ini cowok tulen tahu."


"Terus, barusan kenapa seperti anak gadis yang malu-malu gitu?"


"I-itu karena... Em, biar kakak ijinkan aku pergi sama Deren." Dion berucap dengan pelan dan tertunduk. Dia tahu kalau minggu lalu saat mengajak Deren pergi ke caffe, Leon sangat marah karena Deren pulang dan bajunya berbau es krim.


"Kamu boleh bawah Deren, asal jangan memberinya es krim terlalu banyak. Kamu sendiri tahu 'kan kalau kakakmu itu sangat menjaga kesehatan anak kecil itu?"


"Ok, siap Bu bos." Dion sangat semangat, ternyata Risma memberinya ijin. Memang sih semenjak itu Dion dapat larangan dari Leon agar tidak mengajak Deren pergi ke caffe.


Jam pelajaran akhir telah selesai, semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas utuk pulang.


"Ka, ayo kita pulang." Dion mengajak kakak iparnya.


Risma mendongak menatap Dion yang sudah berdiri dari bangkunya. "Kamu pulanglah dulu, aku mau pergi ke kelas sebelah melihat Ka Leon." Tanpa menunggu lagi Dion pun keluar terlebih dahulu.


"Risma, kamu belum pulang?" tanya Ayu. Kini dia dan Cerry sudah berada di samping meja sahabatnya itu dengan tas yang sudah berada di kedua bahunya.


"Eh, aku tunggu Ka Leon dulu," jawabnya sambil berdiri dari bangku yang dia duduki.


"Ya sudah, kami duluan yah." Ayu dan Cerry pun keluar. Sementara Risma yamg menyusul keluar langsung berbelok arah ke kelas suaminya.


Sementara di dalam kelas Leon. Tinggal dirinya bersama Elsa, sebenarnya Leon sudah dari tadi ingin keluar tapi Elsa menahannya.


"Elsa, apa yang ingin kamu katakan? Katakanlah, soalnya aku harus pulang cepat." Leon sedang berdiri di depan Elsa.


Elsa beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Leon, kini dia sudah berdiri berdiri dua langkah dari Leon. "Leon sebenarnya aku ingin memberi tahumu dari dulu, tapi kamu tidak pernah menghiraukanku."


"Tidak usah bertele-tele. Katakanlah," pintah Leon.


"Leon, sebenarnya aku sudah menyukaimu dari dulu, bahkan sejak pertama kali kita pergi ke kantin saat kamu masih menjadi siswa baru," ucap Elsa.


Leon hanya diam mendengar ucapan Elsa, dia sama sekali tidak berniat membalas ucapan Elsa.


Sementara Risma yang sudah berada di depan kelas suaminya sedari tadi, hanya berdiam diri sambil mendengar suara ucapan Elsa pada Leon.


Sakit hati?


Tentu saja, siapa yang tidak sakit hati jika mendegar dan melihat secara langsung di depan mata, seseorang yang mengucapakan perasaannya pada suami kita.


Ingin rasanya Risma masuk dan menjambak rambut perempuan genit itu, tapi dia takut juga jika Elsa mengetahui hubungannya dengan Leon, lalu menyebarkannya ke seluruh sekolah, sehingga dia dan Leon tidak dapat melanjutkan sekolahnya lagi. Sangat rugi bukan? Ujian tinggal hitungan hari, tapi akan dikeluarkan jika sampai masalah ini tersebarkan.


Risma hanya mampu bersembunyi di balik dinding dan terus mendengar pembicaraan mereka, Risma juga ingin tahu sebesar apa rasa cinta dan sayang Leon terhadapnya.


"Apa sudah selesai?" Leon bertanya sambil sesekali melirik jam tangannya, dia khawatir jika istrinya sudah menunggu terlalu lama di parkiran.


"Leon, aku-" ucapan Elsa terpotong saat pandangan matanya bertemu dengan ariska yang sedang berdiri di dekat pintu. Senyuman Elsa terukir, otak kotornya mulai merencanakan sesuatu hal yang sangat busuk.


'Beruntung sekali. Berarti kamu harus melihat ini," batin Elsa.


Elsa melangkah maju semakin mendekat kearah Leon dan secepat kilat menarik kerah baju Leon ke arahnya, bersamaan dia juga ikut berjinjit agar lebih cepat beraksi.


Cup!


Bibir itu mendarat tepat di pipi kiri Leon. Sementara Leon saat ini sangat syok, dia sama sekali tak menyangka jika Elsa melakukan hal itu.


Sementara Risma yang melihat itu juga ikut syok, dia benar-benar tidak menyangka Elsa melakukan hal menjijikkan terhadap suaminya.


Hati Risma semakin sakit melihat suaminya sama sekali tidak bergerak saat Elsa menciumnya. Bahkan Risma mengira Elsa telah mencium bibir suaminya, apa lagi dia hanya melihat adengan itu dari belakang Leon, jadi tidak melihat tepat dimana ciuman Elsa mendarat.


Seketika itu pula air mata Risma mulai membasahi pipinya, hatinya ikut perih melihat ini semua. Andai saja dia ikut dengan Dion, mungkin saja adengan menyakitkan hati itu tidak dilihatnya.


Risma mulai melangkah mundur, dia tidak ingin melihatnya lagi, sakit sungguh sangat sakit, wanita lain mencium suami sendiri di depan matanya.


Saat ingin memutar tubuhnya untuk kembali lagi masuk ke kelasnya, gerakannya terhentikan karena mendengar sesuatu benda yang terjatuh.


Bruk!


Dengan emosi Leon mendorong tubuh Elsa menjauh dari hadapannya, sakin kuatnya dorongan itu, tubuh Elsa langsung terduduk di kursi.


"Elsa! Apa yang kamu lakukan?!" Leon sangat emosi, bahkan wajahnya kini sudah memerah menahan emosi. Andai saja Elsa seorang pria, mungkin Leon sudah dari tadi menghajar wajah itu dengan tinjunya.


"Kenapa Leon? Apakah salah jika aku menyukaimu dan menciummu?! " Elsa sengaja membesarkan suaranya agar Risma dapat mendengarkannya.


"Tentu salah. Kamu bukan siapa-siapa aku! Aku bahkan sama sekali tidak menyukaimu. Perlu kamu ketahui, aku sudah punya kekasih dan tidak akan pernah menyukaimu!" Leon menekan setiap ucapannya, saat ini dia benar-benar sangat emosi karena perlakuan Elsa.


Sementara Risma yang mendengar ucapan suaminya, hanya tersenyum kemenangan. Ternyata Leon tetap memilihnya walau Elsa sudah mencium pipi mulus Leon.


Risma dengan cepat mengusap air matanya dan kembali masuk ke dalam kelasnya agar Leon tidak curiga padanya, kalau sebenarnya dia melihat adengan itu.


Sementara Leon meninggalkan Elsa yang sedang menangis, mungkin Elsa menangis karena malu. Tentu saja, karena cintanya di tolak mentah-mentah oleh pria yang sangat dia cintainya.


'Dasar, wanita gila!' Leon menggerutu di dalam hati, bahkan saat ini pipi yang sudah di cium Elsa, sudah merah karena terus digosoknya dengan tangannya sendiri. Leon merasa jijik dengan pipinya sendiri.


Saat berjalan melalui kelas istrinya, dia melihat Risma sedang duduk dimeja paling depan melalui jendela. Leon pun masuk dan menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita pulang," ajaknya saat sudah berada di depan istrinya.


Risma mendongak menatap wajah suaminya lalu tersenyum dan mengangguk.



"Ka, pipinya kenapa digosok terus? Itu sudah merah loh, sebentar lagi akan luka jika terus menerus digosok seperti itu." Risma mencoba menghentikan aksi Leon yang terus menggosok pipinya. Pertanyaan itu hanya alasan saja padahal dia tahu apa yang membuat suaminya emosi dan menggosok pipinya yang sudah memerah itu.


"Tadi digigit serangga." jawabnya ketus, tanpa melihat kearah istrinya. Risma hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang menurutnya malah tambah imut. Risma tahu bahwa ciuman itu juga tidak diinginkan Leon, hanya Elsa saja yang kegatelan.


"Sudah, Ka. Sini, biar aku bersihin." Risma mengambil tisu basah milik Deren, memang Leon menyiapkan tisu basah di mobilnya untuk Deren jika anak itu lagi ngemil di dalam mobil.


Risma pun mulai membersihkan pipi kiri Leon dengan tisu basah itu. "Di bibir, apa serangga itu tidak menggigitnya juga?" tanya Risma.


Leon menatap sekilas wajah istrinya, lalu kembali pokus mengemudi. "Mana mungkin dia berani!" Leon benar-benar marah jika mengingat adengan tadi.


"Benarkah?" selidik Risma.


"Sayang, kamu tidak percaya padaku?" Leon menampakkan wajah kekhawatiran.


"Baiklah, aku percaya." Risma menyentuh pipi Leon lalu beralih ke bibir merah jambu itu. "Bibir ini milikku, tidak ada yang boleh menyentuhnya sama sekali. Apa lagi memilikinya," gumam Risma, tapi masih juga Leon dengar.


Leon dengan cepat merangkul kan sebelah tangannya pada pundak Risma lalu menariknya masuk ke dalam dekapannya. "Aku janji, sayang. Aku hanya milikmu."


Cup!


Risma mengecup pipi Leon dengan lama, bukan karena apa, tapi dia ingin menghilangkan bekas ciuman Elsa dan menggantikannya dengan bekas ciumannya. Tapi lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi gigitan.


"Auwk... Ishh... Sayang, kenapa kamu malah menggigitnya?" Leon meringis karena gigi istrinya malah menancap di pipinya.


Cup! Cup!


Setelah melepaskan gigitannya, Risma kembali memberikan dua kali kecupan pada pipi suaminya.


"Aku hanya ingin menghilang bekas ciuman serangga kotor itu Ka, dengan gigitanku. Apa ada masalah?" tanya pura-pura.


Leon tersenyum, 'kenapa aku tidak kepikiran yah?' batinnya.


"Tidak ada yang salah, sayang. Cuman kamu menggigit ku terlalu kuat sampai membekas seperti ini, bagaimana jika anak curut itu melihatnya? Maka banyak lagi pertanyaan yang akan kujawab." Leon benar juga, jika anak kecil itu melihatnya pasti penasaran lagi. Tentang anak curut, siapa lagi kalau bukan Deren.


"Dia tidak akan liat, hari ini dia keluar lagi sama Dion." Risma menjawab ucapan suaminya sambil memeluk tubuh kekar itu dari samping.


"Apa!"



"Ka, kita mau kemana?" tanyanya dengan mulut yang penuh dengan cemilan.


"Kita akan bertemu dengan kakak cantik." Dion menjawab dengan tetap pokus dengan setirnya.


"Benarkah?"


"Iya, Deren imut." Deren yang mendengar namanya di tambah kata imut malah tersenyum.


"Hehe... Terima kasih pujiannya. Tapi aku curiga." Anak itu kembali memakan cemilannya sambil menatap Dion penuh curiga.


"Tumben memanggilku imut, biasanya selalu mengejekku. Apa, ada udang di balik baju?"


"Batu, Deren. Bukan baju." Dion menggeleng mendegar omongan anak kecil itu. Semakin hari omongan anak kecil itu mirip orang dewasa saja.


"Oo, kirain di balik baju. Tapi pasti ada maunya 'kan?" Deren semakin mendesak Dion yang kini terlihat bingun harus menjawab apa.


'Dasar anak curut! Kenapa dia bisa tau?' batin Dion.


Dion menggaruk ujung keningnya sambil cengengesan melirik Deren yang masih menunggu jawabnya. Setelah beberapa menit akhirnya Dion sudah mendapat alasan tepat.


"Bukan begitu. Aku hanya... ingin mengajakmu bertemu dengan kakak cantik. Kamu menyukainya nya bukan?" Deren mengangguk.


"Kakak benar." Deren kembali menyuapi cemilannya sambil senyum-senyum sendiri.


"Aku akan memintanya menjadi pacarku." sambung Deren.


"Aapa?!" syok Dion.



"Sayang, hari ini aku mau pergi ke Resto untuk mengecek kerja karyawan. Apa kamu mau ikut?" Leon sudah memakai pakaian yang rapi untuk ke Resto milik Dion, memang Dion sengaja meminta kakaknya untuk berganti pekerjaan. Leon ke Restonya dan Dion yang ke Caffe milik kakaknya.


Setiap Leon bertanya, pasti jawaban Dion. "Aku belum mampu mengurus yang terlalu besar, Ka." bohongnya. Padahal alasannya karena Yuna,


"Entah, kemana lagi anak itu membawa Deren?" tanya Leon sambil mengotak-atik hpnya.


"Palingan ke Caffe, kemana lagi coba?" Jawab Risma.


"Mungkin. Apa kamu mau ikut?" tanyanya lagi pada istrinya.


"Baiklah, aku ikut." Risma menjawab 'mau' dengan cepat agar suami tidak merasa kecewa dengan ajakannya.


Mereka pun pergi ke Resto milik Dion untuk mengecek para karyawannya, apakah bekerja dengan bagus. Walaupun di sana sudah ada menejer nya, tetap saja pemilik harus mengecek juga agar tidak terjadi kesalahan dan berakibatkan bangkrut.


Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu jauh, akhirnya Leon dan Risma sudah sampai ketempat tujuan. Mobil BMW warna hitam telah sampai di parkiran restoran tersebut.



Hari ini pengunjung sangat rame. Walaupun begitu, semua karyawan tampak tetap bersemangat bekerja, teliti dan penuh kebersihan.


Dion memang salalu memberi tahu karyawannya kalau mereka semua harus menjaga kebersihan, agar para pengunjung merasa enak jika sedang datang.


Saat Leon dan Risma berjalan menuju keruangan pemimpin, mereka langsung disambut hangat oleh menejer tersebut dan penuh hormat.


"Apa kabar, Tuan. Mari aku antar keruangannya." Menejer itu pun mempersilahkan Leon untuk ikut dengannya.


"Baik, Pak Jon. Bapak apa kabar?" Leon memang sudah akrab dengan menejer yang bernama Joni, pria yang kini berusia 48 tahun.


"Aku, kabar baik, Tuan."


Pak Joni mengantar Leon sampai keruangan tersebut dan pamit untuk pergi mengambil berkas-berkas penting di ruangannya.

__ADS_1


Risma yang tadinya hanya diam mendengar pembicaranya suaminya dan menejer itu, dia hanya ikut melangkah saat Leon tetap menggenggam tangannya.


"Jadi ini ruangan, Dion?"


"Iya," jawab Leon. Dia berjalan menuju ke mejanya lalu duduk di di kursi besar dan empuk itu.


"Ini Resto milik Dion, Ka?"


"Dulunya sih, milik mami. Tapi mami memberikannya pada Dion untuk belajar berusaha sendiri. Tapi kini, anak itu malah menyuruhku mengurusnya." Leon menjawab sambil memutar-mutar kursinya ke kiri-kanan karena pak Joni belum datang.


"Maklumlah, Ka. Dion 'kan sedang jatuh cinta." Risma berjalan menghampiri suaminya.


Leon langsung mendudukkan istrinya di pangkuannya, saat Risma sudah berada di sampingnya.


"Sama siapa?" Leon mengerutkan keningnya sambil mempermainkan rambut Risma dengan telunjuknya.


"Siapa lagi kalau bukan adik kelas itu."


"Adik kelas yang bekerja di Caffe itu?"


"Hm. Ka, biarkan saja Dion pacaran."


"Bukan karena apa, Sayang. Dion itu masih labil pikirannya, bagaimana kalau dia malah bikin masalah pada anak orang? Mereka 'kan bukan muhrim."


"Nikahkan saja mereka."


"Itu tidak mungkin. Mereka masih terlalu mudah." timpal Leon.


"Lalu, bagaimana dengan kita? Bukankah kita juga masih mudah? Bahkan saat nikah pun, kita tidak saling kenal. Tapi-"


Leon langsung memotong ucapan istrinya. "Sudah! Jangan bahas itu lagi. Jika mami dan papi beri izin, maka Dion boleh pacaran. Tapi, jika tidak... Kamu 'kan tau sendiri mami dan papi, sayang." Leon berucap sambil mengusap kedua pipi istrinya.


Risma hanya mengangguk kecil. Betul kata Leon, mertuanya memang sangat melarang anak-anaknya untuk menjalin hubungan sebelum sah atau menikah. Yang mereka takutkan adalah, anak-anaknya terjerumus kejalan yang salah dan malah merusak anak gadis orang dan tentunya itu hal yang paling memalukan dan kelakuan yang paling bejat.



Setelah selesai memeriksa hampir satu jam beberapa berkas yang di berikan pak Joni, Leon mengajak Risma keluar untuk menikmati beberapa hidangan istimewa restoran tersebut.


Leon berjalan menuju ke meja yang telah Pak Joni siapkan terlebih dahulu, makanan pun mulai berdatangan satu persatu saat mereka sudah duduk di kursi tersebut.


"Silahkan, Tuan. Nikmati makanan anda," ucap pelayan itu lalu pergi setelah mendapat deheman dari Tuannya.


"Sayang, ayo makan. Aku sudah dari tadi laparnya." Leon mempersilahkan Risma untuk makan sementara dia juga mulai menyuapi makanannya.


Risma pun ikut menikmati makanan lezat itu, apa lagi perutnya juga sudah begitu lapar.


Baru tiga sendok yang masuk dalam mulutnya, Leon sudah tersedak. "Minum dulu, Ka." Risma menyodorkan segelas air pada Leon.


Leon pun meminum air itu sampai setengah gelas, lalu menatap istrinya yang juga kini menatapnya. "Apa sudah baikan?" tanya Risma.


Leon hanya mengangguk. Bukan karena apa dia tersedak makanannya, tapi di melihat pemandangan di depannya dan tepatnya lagi berada di belakang Risma.


Tiga buah meja dari meja yang mereka tempati, Leon melihat sepasang manusia sedang duduk sambil makan juga. Leon sangat mengenal wanita dan pria itu, tapi bagaimana bisa orang itu sedang berada di restoran ini bersama bahkan makan saling suap-suapan.


Dan lebih parahnya lagi, si pria beberapa mengelap bibir si wanitanya dengan tisu dan kembali menyuapi nya.


"Ka?" Leon tersentak dari tatapannya saat Risma menyentuh tangannya dan memanggil namanya.


"Ka Leon kenapa?"


"Tidak, ini tidak benar." Leon yang mulai geram melihat sepasang manusia itu langsung berdiri dari mejanya lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah orang itu.


Risma mengerutkan keningnya saat melihat suaminya berjalan menghampiri sebuah meja, setelah dia memperjelas arah langkah Leon. Ternyata leo wng hampiri meja yang telah diduduki sepasang manusia yang sangat dia kenal.


"Jadi, mereka ada di sini juga?" Risma pun ikut berdiri dan menghampiri meja tersebut.


"Apa yang kalian lakukan di sini berduaan?" Leon mulai bertanya saat sudah berada si samping meja itu.


Si wanita pun mendongak sebentar lalu kembali memakan makanannya. Sementara si pria hanya diam saja. "Tentu saja makan. Mana mungkin kita tidur!" jawab ketus si wanita.


"Oh, bagus yah? Makan berduaan saling suap-suapan." geram Leon. "Entah apa yang akan di katakan pasanganmu masing-masing jika melihat kalian sedang berduaan disini."


"Kenapa malah selingkuh dengan pacar teman sendiri? tanya Leon.


Si wanita hanya diam malah menampakkan wajah cerita saat Leon mengatakan 'pacar mereka'. sementara Risma hanya diam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Begitu pun dengan si pria itu.


Risma yang melihat wajah wanita itu cemberut, langsung mengetahui apa lagi yang terjadi. "Sudahlah, Ka. Biarkan saja mereka disini." Risma mulai menarik lengan suaminya.


"Biarkan bagaimana? Mereka sedang selingkuh loh. Bahkan mereka selingkuh dari Riki, sepupu kamu bahkan sahabat mereka sendiri." Leon menunjuk Cerry dan Gery bergantian.


Yah, saat ini yang Leon liat itu adalah Cerry dan Gery, pacar Ayu. Mereka sedang makan juga di sini, bahkan saling suap-suapan.


Leon tentu tidak tinggal diam saat melihat hal ini, menurutnya ini adalah hal yang paling sangat salah. Apa lagi Leon sangat membenci orang-orang yang dia kenal itu sedang selingkuh.


"Ka, mereka tidak selingkuh. Biarkan saja mereka." Risma menarik lagi suaminya.


Cerry yang mulai geram dengan suami sahabat itu, meremas kuat rambutnya karena kepalanya kini tambah pusing saja dengan ucapan Leon. Cerry mendongak menatap Risma dan Leon secara bergantian.


"Ris, apa ku tidak memberi tahukan pada suamimu ini. Maksudku, tentang hubunganku dengan Gery?" tanya Cerry, Risma hanya menggeleng.


"Sayang, Jadi kamu tahu mereka selingkuh?" Leon beralih menatap Risma.


"Bukan seperti itu, Ka. Tapi mereka itu...." Risma kembali menatap Gery dan Cerry bergantian, sementara Leon sudah menunggu jawabannya.


"Cerry dan Gery itu saudara kembar, Ka." ucap pelan Risma. Cerry dan Gery memang saudara kembar dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Karena berantem dengan Riki yang selalu melarangnya makan terlalu banyak akhirnya Cerry ngambek. Lalu Gery merayunya agar tidak marah lagi dengan cara membawa adiknya itu ke restoran ini.


"Apa?! Kenapa kamu tidak memberi tahu ku sebelumnya, sayang." Leon beralih menatap istrinya.


"Leon, kenapa akhir-akhir ini kamu seperti gadis yang sedang datang bulan dan seperti emak-emak yang yang lagi hamil muda?" ucap Cerry. Dia merasa heran dengan kelakuan Leon akhir-akhir ini, tidak seperti biasanya. Apa lagi Leon memang terkenal pria yang irit bicara dan bersifat dingin jikasedang bersama teman-temannya apa lagi kepada orang lain.


"Aapa?!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2