
"Hei. Kudengar ada pengawas baru hari ini," ucap salah satu siswa di dalam kelas Risma.
"Benarkah? Perempuan atau laki-laki?" tanya siswa yang lain.
"Semoga saja pengawasnya masih mudah." Siswa yang lain ikut berbicara.
"Aku juga tidak tahu. Yang aku dengar tadi, kata para guru ada 2 orang." Siswa yang pertama memulai percakapan berucap kembali.
Tak!
Tak!
Suara hentakan sepatu terdengar semakin mendekat saat menghampiri kelas yang Risma tempati.
Plak!
Suara meja guru yang dipukul dengan mistar kayu terdengar keras. Seketika semua siswa-siswi terdiam.
"Sudah puas bergosipnya, anak-anak?" ucap seorang guru yang baru masuk dan siapa lagi kalau bukan ibu Nur.
"Sudah, Bu!" jawab serempak anak-anak.
"Baiklah, hari ini ibu mau menyampaikan kalau ada pengawas baru dari pusat. Ibu minta sikap kalian dijaga dengan baik, sikap kalian 'lah yang menentukan harga diri sekolah, para guru dan orang tua kalian." Ibu Nur berpidato di depan, sementara siswa-siswi hanya diam mendengar ucapan gurunya.
"Jangan membuat onar lagi. Setiap yang membuat onar maka nilai kalian akan di kurangi 5 poin. Jadi ibu harap, mulai sekarang bersikaplah dengan baik. Dengar semua!" lanjut ibu Nur lagi.
"Dengar, Bu."
"Baiklah. Pak, Buk. Silahkan masuk dan perkenalkan diri kalian." Ibu Nur memanggil orang yang masih berdiri di depan pintu kelas.
Orang yang dipanggil pun masuk, seketika semua siswa terdiam. Memandang kedua orang dengan bergantian dan terkagum-kagum.
"Ck. Ck. Ck ... gantengnya." Siswi berdecak kagum saat melihat pemgawas si pria.
"ho'oh. Jadi pengawas hati aku aja, Pak!" teriak siswi lain.
"Si cewek buat aku aja," bisik si siswa jakung.
Siswa-siswi mulai riuh lagi membicarakan kedua pengawas. Kedua pengawas memang terlihat tampan dan juga cantik. Itulah mengapa semua siswa-siswi semakin riuh membicarakannya.
"Kak, kamu kenapa? Kamu kenal yah, sama orang itu?" tanya Dion. Karena dia melihat iparnya yang menatap tanpa ke arah orang baru itu.
Seketika Risma langsung tersadar dengan pertanyaan Dion.
"Ekh, nggak kok. Cuman wajah mereka tidak asing, tapi mungkin perasaanku saja."
"Baiklah adik-adik, perkenalkan nama saya Qinxi, kalian boleh manggilku Kak Q," ucap si wanita.
"Kalau aku, Arzen."
Si pria ikut memperkenalkan dirinya dan itu berhasil membuat siswi-siswi bersorak karena mendengar suara bass khas pria.
"Wah ... suaranya keren banget."
"Uukh, Buluku jadi merinding."
"Aku siap kok kak, jadi yang ke dua."
Banyak lagi teriakan-teriakan yang lain, bahkan ada juga yang berbisik-bisik memuja sang tamu atau lebih tepatnya pengawas baru.
•
"Sayang, ada apa? Dari tadi pagi aku melihatmu selalu saja termenung. Apa yang kamu pikirkan, hem?"
Giovanni atau biasa di panggil Kavan ini di kejutkan oleh tepukan lembut di penggungnya, dia pun tersadar dengan kehadiran sang istri.
"Akh, tidak. Kamu dari tadi datangnya? maaf, aku tidak menyadarinya. Aku...."
"Kamu tidak pintar menyembunyikan sesuatu dariku, sayang." Si sang istri memotong cepat ucapan Kavan, karena dia tau kalau ada sesuatu yang dipikirkan suaminya.
"Katakanlah, siapa tau aku bisa bantu masalah mu. Bukankah kita sudah sepakat tidak saling menyimpan rahasia satu sama lain? Jadi, ayo cerita. Ada apa sebenarnya?"
__ADS_1
Dengan lembut dia mengusap rahang tegas sang suami yang kini sedang menatap kedua bola mata cantik itu.
"Aku memikirkan cara agar dia tidak menjauhiku lagi," ucap Kavan lemah.
"Hei, dengar. Dia sudah memaafkan mu 'kan? Jadi pasti dia tidak akan menjauh lagi, apa lagi membencimu."
Si cantik pun menarik Kavan menuju ke sova di sudut ruang kerja sang suami.
"Yang perlu kita pikirkan itu, bagaimana caranya kita bisa memberi tahu Leon yang sebenarnya dan semoga dia bisa menerima kita juga." sambung sang Istri.
Kavan mengganguk pelan, tapi dia teringat lagi dengan permintaan Risma yang di taman waktu itu. Risma meminta agar mereka saling melupakan seperti dulu dan saling tidak kenal, agar pernikahannya baik-baik saja nantinya.
"Astaga!" Giovanni langsung berdiri karena teringat sesuatu.
"Ada apa, Yang?" tanya istrinya.
"Aku lupa, hari ini aku ada janji sama seseorang," jawab Giovanni.
"Dengan siapa?" Istrinya ikut berdiri di samping Giovanni.
"Dengan seseorang dan tentunya dia sangat spesial." Giovanni mencubit hidung mancung si cantik jelita yang sudah menjadi istrinya selama 4 tahun lamanya.
"Oh yah. Baiklah, aku akan pergi ke rumah sak-"
"Tidak. Hari ini kamu ikut denganku saja, orang itu sangat ingin bertemu dengan istri cantikku ini." Giovanni langsung memotong perkataan istrinya.
Cup!
"Hei, hentikan." Istrinya langsung mendorong tubuh Giovanni karena main nyosor saja.
"Memangnya kenapa? Kamu itu istriku, jadi semua yang ada di tubuhmu adalah milikku. Terutama ini, ini dan ini." Giovanni menunjuk jidat, pipi dan bibir sang istri.
Istrinya pun tersenyum mendengar ucapan Giovanni. "Iya, aku tahu sayang. Tapi kamu harus tahu tempat juga dong. Kita sekarang ada di kantormu, bagaimana kalau ada yang masuk ke ruaganmu ini." Si cantik mengelus pipi Giovanni.
"Mereka tidak akan selancang itu, sayang." Giovanni ikut mengelus pipi si cantik lalu turun ke bibir merah itu bagaikan buah cerry yang siap disantap.
"Tap-"
"Kecuali mereka sudah bosan bekerja disini." Giovanni langsung memotong ucapan istrinya dengan ciuman.
"Yah sudah, ayo kita pergi." Si cantik langsung mengajak Giovanni pergi menemui orang itu, karena dia tahu kalau suaminya itu pasti ada maunya.
"Kita akan pergi jika aku sudah mendapat jatah darimu." Giovanni mencoba mencoba mencium bibir manis itu lagi, tapi dia malah mendapatkan dorongan pelan dari si pemilik bibir manis.
"Sudah. Kamu akan membuat bibirku bengkak nanti," ucap lembut istrinya.
"Aku akan membuatnya bengkak jika kamu mengomel terus."
Kini tak ada pilihan lain lagi, Istrinya sudah kehabisan akal untuk menolak keinginan Giovanni.
•
"Bunda, apa kabar?" tanya Giovanni.
"Baik, Nak." Wanit itu tersenyum saat melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bunda, apa Ayah ada?" Giovanni kembali bertanya sambil celingak-celinguk mencari sosol pria yang di panggilnya ayah.
"Ayah lagi di kantor hari ini, dia sedang ada rapat, jadi sepertinya dia tidak bertemu denganmu, Van." Bunda menjelaskan sambil menatap Giovanni dengan mata yang mulai berair.
Sementara Giovanni yang ikut menatap wanita itu langsung memeluknya, dia tau kalau bundanya sebentar lagi akan menangis.
"Sudah, Bunda. Jangan menangis lagi, nanti wajah bunda jadi keriput dan tambah tua." Giovanni mengusap punggung wanita itu dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda memang sudah tua, Van." Bunda ikut membalas pelukan Giovanni. Seakan tak ingin terpisah lagi, sudah cukup mereka terpisah beberapa tahun ini.
Giovanni melepaskan pelukannya, lalu memegang tangan bunda dengan penuh kasih sayang.
"Bunda, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu," ungkap Giovanni.
"Siapa, Van?"
__ADS_1
"Sayang, kemari 'lah." Giovanni memanggil istrinya yang sedang berdiri tak jauh darinya bersama bunda.
Sedangkan bunda dibuat bingung, sejak kapan orang itu berdiri di situ dan memperhatikan mereka berdua atau dia saja yang tak memperhatikan karena terfokuskan oleh Giovanni seorang.
"Van, Di--dia...."
"Bund, dia adalah Istriku. Dia lah yang selama ini bersamaku." Giovanni menjelaskan, dia tahu kalau bundanya akan terkejut dengan kenyataan ini.
Sementara Bunda, dia sungguh terkejut dengan ucapan Giovanni. Ternyata masalah ini bukan hanya mimpi atau cerita bohongan saja, kalau Giovanni pergi meninggalkan Indonesia 4 tahun lalu karena ingin menikahi kekasihnya, bahkan pergi meninggalkan wanita yang sangat dia sayangi yaitu Risma kaponakannya.
"Sayang, Dia Bunda. Yang selama ini aku ceritakan, dia juga sudah aku anggap sebagai mamaku sendiri. Sekaligus, bundanya Riki." Giovanni memperkenalkan bundanya Riki pada istrinya.
"B-bunda, a-apa kabar." Istrinya Giovanni langsung menyalami tangan bunda dan menciumnya dengan takzim dan tentu ada sedikit rasa takut.
Bunda langsung tersadar oleh perbuatan istrinya Giovanni.
"Kabar bunda baik, Nak." Bunda juga menepuk bahu kanan menantu barunya itu dengan penuh Kasih sayang, seperti kalau dia sedang menepuk bahu Giovanni atau Riki anaknya satu-satunya itu.
Bunda juga terpesona dengan kecantikan istrinya Giovanni, bibir mungil yang cantik danerah alami, terutama poster tubuh yang yang menarik dilihat. Pantas saja Giovanni tertarik pada orang ini, karena dia benar-benar sempurna.
"Oh iya, bunda bahkan tidak mempersilakan kalian masuk." mereka pun tertawa bersama.
"Ayo masuk, ada banyak hal yang ingin bunda tanyakan pada kalian, terutama padamu, Van" Bunda menatap Giovanni dengan gemas seakan ingin menjewer telinga pemuda tampan itu.
"Aku tahu, nanti saja bunda menjewer telingaku." Seakan tahu ke ingin bundanya.
"Sok tahu kamu, Van" Bunda membuka pintu rumahnya dengan lebar agar tamu istimewanya bisa masuk bercerita banyak dan tentunya melepas rindu di antara mereka.
"Tentu saja aku tahu, Bund. Bukankah aku ini sudah menjadi seperti anakmu sendiri sejak itu." Giovanni seakan mengingatkan kepada wanita yang hampir berusia
40 tahun.
"Ok-ok, kamu menang lagi." Bunda pun mengalah dengan Giovanni, tak ada gunamya berdebat dengan laki-laki tampan ini karena apa? Karena dia pasti menang dalam berdebat dengan bundanya Riki.
"Mbok, tolong buatkan minuman untuk tamuku." bunda berteriak pada pembantunya yang berada di dapur.
Bunda pun mempersilakan Giovanni dan istrinya untuk duduk di sofa ruang keluarga, baginya Giovanni bukan tamunya tapi adalah keluarganya sendiri.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya bunda.
Giovanni yang mengerti dengan arah pertanyaan bundanya pun langsung terdiam sejenak lalu mengangguk lemah.
"Kami sudah bertemu tapi aku belum memperkenalkan diri pada suaminya."
Bunda mengerutkan kening dengan ucapan Giovanni. "Tapi, Riki bilang kamu sudah bertemu dengan Leon."
"Iya, tapi Leon belum tahu siapa aku sebenarnya. Yang dia tahu, aku hanya seorang kliennya yang berharga untuk berkerja sama dengan perusahaan Pak Andi."
Giovanni menjelaskannya pada bunda yang sebenarnya terjadi.
"Jadi kamu belum bertemu dan memberi tahu Leon kalau kamu adalah pria berharga masa lalu istrinya?"
"Belum Bund," jawab Giovanni.
"Kenapa, Van? Bukankah itu lebih bagus, agar dia bisa menerima kenyataan yang sebenarnya." Bunda sedikit kesal dengan Giovanni yang belum menjelaskan kepada Leon.
"Itu karena permintaan Risma, Bund. Bahkan dia juga meminta agar aku menghilang lagi dari kehidupannya untuk selama-lamanya."
"Aku tidak bisa Bund. Aku tidak sanggup lagi berpisah lagi dengannya Bunda, apa lagi untuk selanya," sambung Giovanni sambil mengusap air matanya yang sudah berhasil membasahi pipinya.
Sementara istrinya hanya diam mendengar setiap ucapan Giovanni dan bundanya Riki, dia hanya mengusap punggung suaminya, dia tahu kalau pria itu tidak bisa melupakan gadis kecilnya.
"Jangan terlalu memaksakannya, Van. Dia sudah punya suami, begitupun denganmu. Bunda tahu kalau kamu sangat cinta dan sayang padanya, tapi ingat kamu sekarang sudah dewasa dan punya istri yang harus kamu jaga." Bunda ikut mengusap pundak Giovanni, seakan menguatkan pria itu.
"Apa Baim tahu kalau kamu sudah kembali?"
.
.
.
__ADS_1
.