
"Tunggu!" Mami Leon menghentikan langkah Giovanni.
Kaki Giovanni berhenti melangkah menghampiri pintu, padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi dia sudah berada di depan pintu.
"Aa--pa ... apa, kamu datang untuk mengambilnya dari kami?" Walaupun gugup tapi mami Leon tetap memberanikan diri untuk bertanya pada Giovanni.
Giovanni tersenyum mendengar pertanyaan wanita itu, tapi dia masih membelakangi pak Andi dan maminya Leon. Pertanyaan itu seakan lelucon buatnya, pertanyaan itu seharusnya tidak di pertanyaka kepadanya.
Jika ingin mengambilnya, sudah dari dulu dia lakukan itu, tapi dia sadar, dia tidak boleh egois seperti yang di katakan istrinya setiap saat. Bahwa Risma sudah memiliki suami, Risma bukan tanggung jawabnya lagi.
"Apa kamu akan membawanya?"
Kini pertanyaan keduanya keluar dari mulut maminya Leon. Sungguh, dia tak sanggup lagi jika harus menahan pikirannya lagi tentang kemunculan Giovanni yang secara tiba-tiba.
"Tergantung." Giovanni berbalik menatap secara bergantian suami-istri yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maksudmu?"
"Aku akan membawanya pergi jika kalian menyakitinya atau membuatnya bersedih."
"Itu tidak akan terjadi. Kami sudah menganggapnya seperti anak kami sendiri, jadi kamu tidak ada hak lagi untuk mengambil menantu kami." Dengan penuh emosi mami Leon berucap seperti itu.
"Bagaimana jika Leon menyakitinya?" Kini Giovanni yang berbalik bertanya.
"Leon tidak seperti dirimu dan kupastikan Leon tidak akan menyakiti istrinya seperti kamu menyakiti Risma."
"Jika kamu punya diat untuk mengambilnya dari kami, maka buanglah jauh-jauh keinginanmu itu. Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!" Dengan nafas yang bergemuru naik turun karena emosi, mami Leon meninggikan suaranya.
Maminya Leon sungguh marah karna kemunculan Giovanni yang secara tiba-tiba. Dia sungguh berpikir jika saat ini Giovanni akan mengambil Risma darinya, itu sungguh membuatnya takut. Takut jika itu benar-benar terjadi, dia sudah menganggap Risma sebagai anaknya sendiri. Bahkan kasih sayangnya sama besarnya dia berikan ke anak-anaknya.
"Mih, sudah. Giovanni juga tidak akan mengambilnya dari kita." Pak Andi mencoba menenangkan istrinya yang mulai emosi.
"Selama kita menjaganya dengan baik," sambungnya lagi.
"Tapi, Pih. Dia sudah tidak punya hak lagi sekarang. Risma sudah menjadi istri Leon dan juga menjadi menantu kita."
"Iya, iya. Papi tahu itu," ucap pak Andi.
Giovanni tersenyum, dalam hati dia ikut bahagia mendengar ucapan sepasang suami istri di hadapannya ini, ternyata Risma sangat di sayangi oleh keluarga barunya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada lagi memberinya kasih sayang.
"Aku masih punya hak, Nyonya. Jangan lupakan itu." Giovanni kembali memancing maminya Leon.
"Hak katamu, HAK apa?!" tanya Nya dengan emosi.
"Semenjak kamu meninggalkannya dulu, kamu sudah tidak punya hak lagi terhadapnya, Giovanni."
"Jadi, jangan pernah berharap kalau kamu akan mengambilnya dari kami," sambung maminya Leon.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggunya atau mengambilnya dari kalian." Setelah cukup lama, akhirnya Giovanni bersuara.
"Tapi ingat, jika kalian menyakitinya. Maka, aku akan mengambil dan membawanya pergi untuk selamanya. Kupastikan kalian tidak pernah menemuinya lagi," sambung Giovanni.
Setelah mengucapakan kalimat itu, Giovanni pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang diam mematung mendengar perkataannya barusan. Sungguh, itu bukan lagi pesan untuk menjaga menantunya. Tapi itu semacam pengancaman.
Pak Andi terduduk di sofa dengan lemas mendengar ucapan Giovanni barusan, dia benar-benar bingung. Bagaimana jika Giovanni membuktikan ucapannya. Bagaimana jika...?
__ADS_1
Berbagai macam kata "bagaimana" muncul di benak pak Andi. Sekarang dia harus hati-hati untuk menjaga menantunya itu, dia benar-benar takut saat ini.
"Dasar anak serakah!" Maminya Leon kembali emosi dengan Giovanni.
"Dia pikir bisa? Tidak semudah itu mengambil menantuku," sambungnya lagi.
"Pih, kenapa tadi Papi hanya diam sih, mendengar ucapan Gio." Kini dia berbalik bertanya kepada suaminya yang sudah duduk terdiam.
"Lalu, Papi harus apa, Mih? Yang dia katakan itu benar. Papi juga sebenarnya takut jika itu semua terjadi, tapi kita bisa apa untuk menghadapi Gio."
"Sekarang dia bukan anak kecil lagi yang harus ditundukkan, apa lagi sekarang dia sangat berpengaruh di Perusahaan papi. Bagaimana jika dia membatalkan kerjasama dengan Leon?" sambung Pak Andi.
***
"Bagaimana, apa mereka mencurigaimu?"
"Sepertinya tidak, Tuan."
"Jangan sampai mereka mengetahui identitasmu, sebelum kalian mengetahui perbuatan tikus busuk itu."
"Baik, Tuan."
"Tapi, Tuan. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu untuk nona muda," sambung si anak buah kepada bosnya.
"Tetap awasi mereka, jangan sampai dia menyakiti gadis kecilku." Tanpa menunggu jawaban anak buahnya dia sudah menutup telpon terlebih dahulu.
Percakapan melalui telpon pun berakhir. Giovanni melajukan mobilnya menuju ke Perusahaannya, saat ekor matanya menangkap sesuatu yang tidak asing baginya, dia pun langsung memelankan laju mobilnya dan menepih ke pinggir jalan.
"Kurasa, kami sudah ditakdirkan untuk bertemu lagi." Senyuman manis terukir di wajahnya saat keluar dari mobil.
Anak kecil itu menoleh karena merasa dirinya disapah seseorang. Anak kecil itu adalah Deren. Deren meminta kedua pengawal menemaninya ke taman karena merasa bosan tinggal di rumah saja.
Deren langsung tersenyum saat melihat wajah siapa yang menyapanya, dia kenal betul orang itu walaupun baru sekali bertemu dengannya. Ingatan Deren sangat tajam, makanya dia langsung mengenali siapa orang itu.
"Paman." Deren langsung berteriak girang dan ingin menghampiri pria yang dipanggilnya paman.
"Tuan muda." Babysitter mencegah Deren, pasalnya dia baru pertama kali melihat orang itu.
Kedua pengawal itu pun sama, mereka mencega Deren. Di saat anak kecil itu ingin menghampiri orang yang mereka tidak kenal, mereka tidak mau mendapat masalah dari Bosnya jika Tuan mudanya terluka.
Sementara Gio yang melihat aksi itu ikut mengkerutkan dahi, dia tidak menyangka kalau anak kecil itu di jaga seperti Emas saja.
Deren mendogak menata ketiga orang dewasa yang mengawalnya.
"Tidak apa-apa Paman. Aku mengenalinya." Deren tahu apa isi pikiran mereka bertiga.
"Tapi, Tuan-"
"Aku pernah bertemu dengannya. Dia orang baik, dia juga pernah menolongku saat hampir di tabrak mobil." Deren berceloteh menjelaskan.
"Babyku juga mengenal paman itu," ucap Deren.
Akhirnya kedua pengawal itu pun berhenti mencegah Deren setelah mendengar penjelasan dari bibir mungil dan merah itu. Apa lagi saat Deren menyebut kata 'Baby' maka mereka paham siapa yang Deren maksud.
"Baiklah, jika Tuan Muda mengenalnya denga baik." Salah satu dari pengawal itu berucap.
__ADS_1
Deren pun langsung melihat ke arah Giovanni yang masih berdiri di dekat mobilnya, Anak kecil itu langsung tersenyum dan berlari kecil ke arah Giovanni.
"Tuan, jangan lari. Anda bisa jatuh."
Sementara para pengawal masih mengikuti Deren dari belakang, mereka takut jika tuan mudanya terjatuh dan terluka.
"Paman, apa kabar?"
Deren mendongak menatap wajah tampan Giovanni, sementara Orang yang ditanyanya ikut menunduk menatapnya wajah mungil dan ceria itu.
"Aku baik," jawab Giovanni. Dia langsung berjongkok menyamai tingginya dengan Deren.
"Paman, apa lukamu sudah sembuh?" Deren menatap ke ujung kening Giovanni yang dulunya terluka saat menolong dirinya.
Giovanni tersenyum dengan pertanyaan Deren, dia tidak menyangkah kalau anak kecil ini perhatian sekali dan daya ingatannya juga tajam.
"Itu hanya luka kecil. Kamu apa kabar?" Kini Giovanni yang kembali bertanya sambil mengusap pelan pipi lembut Deren.
"Aku baik juga, Paman."
"Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku hanya suntuk di rumah, Paman. Baby dan bayi besar ku ke sekolah, Kak Dion juga ke sekolah. Aku tidak punya teman di rumah."
"Apa kamu belum sekolah?"
"Aku sudah pulang, Paman."
Giovanni pun mengerti dengan ucapan anak kecil ini, kalau saat ini Deren sudah mulai sekolah di TK.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Pertanyaan itu berhasil membuat kedua mata Deren berbinar.
"Anggap saja aku temanmu dan kita jalan-jalan itu untuk merayakan pertemanan baru kita, apa kamu setujuh?" sambung Giovanni.
"Ok, aku menerima Paman sebagai teman baruku." Deren dengan gembira langsung memeluk Giovanni.
Giovanni pun ikut membalas pelukan anak kecil itu, hatinya ikut menghangat merasakan pelukan Deren. Gio juga sudah tahu siapa Deren sebenarnya dikehidupan gadis kecilnya.
"Tapi, Tuan." Para pengawal Deren mencoba menghentikan saat Giovanni sudah berdiri, sementara tangan Deren di gengamnya.
"Tenang saja, kalian boleh ikut."
Mendengar penjelasan Giovanni, para pengawal itu pun langsung terdiam kembali dan hanya mengikutinya dari belakang saja.
"Paman, kakiku sudah lelah." Deren berhenti melangkah sambil menunduk.
Giovanni yang mendegar ucapan anak itu hanya tersenyum, tanpa membalas ucapan Deren. Giovanni langsung mengangkat tubuh kecil dan ringan itu dengan kedua tangan kekarnya, seketika Deren sudah berada di gendongannya. Semetara Deren langsung mengalungkan tangannyanya di leher Giovanni.
Deren juga berbalik menatap pengawalnya, dia memberikan kedipan mata nakal ketiga pengawal yang masih setia mengikutinya. Pengawal itu hanya bisa menggelengkan kepala karena melihat tingkah tuan mudanya. Mereka tahu jika Deren hanya beralansan jika kakinya lelah.
.
.
.
__ADS_1
.