
"Sayang." Leon menghampiri Risma yang masih terbaring di ranjang, sambil menutup matanya. Pakaiannya sudah terganti dengan pakaian pasian.
Leon langsung duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang tersebut, dia menyentuh tangan istrinya yang terasa dingin. Rasa penyesalan pun muncul, hatinya ikut teriris melihat keadaan istrinya sekarang.
'Bodoh. Bodoh. Kamu sungguh bodoh, Leon.' batinnya.
Risma tidak membalas gengaman Leon di tangan kirinya, dia hanya diam, menangis tanpa suara. Air matanya tetap keluar walaupun dia masih terpejam.
"Sayang, maafkan Aku." Leon mengusap air mata Risma, dia tahu kalau istri tidak tidur.
Risma tetap diam, matanya pun masih tertutup rapat, rasa marah pada Leon masih besar. Dia tidak ingin membuka mata dan melihat wajah itu, bisa jadi dia memukul suaminya jika sampai dia menatap suaminya. Sungguh, saat ini dia sangat marah pada Leon.
Leon mengangkat tangan istrinya dan beberapa kali memberi kecupan hangat di tangan mungil itu, dia ikut menangis, apa lagi istrinya tidak membalas ucapannya. Jangankan menyahut, membuka mata pun tidak.
Leon mengecup kening istrinya beberapa kali, dia bahkan memeluk istrinya. Wajahnya, dia sembunyikan di cekuk leher Risma, sambil berucap kata 'maaf' terus. Sedangkan Risma, dia semakin nangis juga, dapat dia dengar suara Leon yang manangis bahkan beberapa kali sesegukan.
Ini pertama kali dia mendengar suaminya menangis sangat deras, walaupun matanya tetap tertutup, tapi dapat dia rasakan air mata Leon membasahi lehernya.
Puk!
Runtuh sudah pertahanan Risma, dia tidak dapat lagi bertahan. Dia membalas pelukan suaminya, hatinya juga ikut teriris mendengar Leon menangis. Dapat dia rasakan kalau suaminya benar-benar menyesal dan tidak sengaja melakukan tadi.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf," ucap pelan Leon.
"Kenapa, Kak. Kenapa?" Risma akhirnya bersuara walaupun masih terpejam.
Leon masih di posisinya, menangis, bahkan sesegukan dan itu dapat dirasakan Risma.
"Aku berpikir kalau itu, Elsa. Tanpa berpikir dan melihat dulu."
"Hiks. Hiks ... tapi itu kamu, Sayang. A--aku benar-benat tidak se--sengaja," sambungnya dan terbata-bata.
Risma kembali diam, dia tidak ingin membalas ucapan Leon. Rasanya, tubuhnya juga lelah, sama dengan pikirannya, dia tidak ingin berdebat dulu sekarang.
"Ka--karena kecerobohanku, aku membuatmu pendarahan ... ba--bahkan keguguran. Hiks, hiks ...." Leon kembali menangis lagi, bahkan pelukannya semakin erat.
Degh!
Seketika Risma membuka matanya dan melepaskan pelukannya pada Leon. Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya, seakan ingin lepas saja dari ronggah dadanya. Mendengar ucapan barusam Leon, dapat dia simpulkan kalau Dokter itu mengatakan kalau dia sedang hamil saat ini.
"Jadi ... Dokter itu mengatakan--"
"Iya, Sayang. Dokter mengatakan kalau kamu pendarahan, jadi tante Diva menyimpulkan kalau kamu keguguran." Leon langsung memotong perkataan istrinya.
"Tinggalkan aku sendiri, Kak."
Leon langsung melepaskan pelukannya dan bangun. "Tidak, Sayang," tolaknya.
Leon kembali mengengam tangan Risma dan mengecupnya berkali-kali. Dia juga mengusap pipi Risma yang basah karena air mata.
Risma menatap wajah Leon yang memerah karena menangis, bahkan mata dan hidung itu pun ikut basa. Kini wajah itu, mirip wajah Deren saat menagis.
"Kenapa, Kak?" Risma kembali bertanya dengar air mata semakin deras.
Leon yang ditanyai hanya diam dan menggeleng, itu sebagai jawaban kalau dia benar-benar tidak sengaja melakukannya, air matanya pun kembali membasahi pipinya, Leon benar-benar ikut hancur.
"Kamu membunuh anakmu sendiri, Kak."
"Aku tidak sengaja, Sayang."
"Walaupun kamu tidak sengaja, kamu tetap membunuhnya!"
"Sayang, aku--"
"Keluar, Kak. KELUAAAR!" Risma berteriak keras.
Leon kembali menggeleng, "tidak. Aku tidak akan keluar," balasnya.
__ADS_1
Tak!
Pintu terbuka dari luar, Dion 'lah pelakunya. Dia membuka pintu karena mendengar suara teriakan Risma yang cukup keras, Dion menghampiri Leon, disusuli dengan Dokter Diva dan Yuna.
Dion menatap sedih iparnya, sungguh dia juga ikut merasakan kesedihan itu. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
"Kak, biarkan dia beristirahat dulu." Dion menepuk punggung Leon dengan pelan.
Dokter Diva ikut mendekat dan mengusap punggung Leon dengan lembut, "iya, Leon. Jangan membuatnya semakin tertekan, Nak."
Leon menggeleng, "tidak, Tante. Biarkan aku tetap disini."
Risma kini berpaling, dia tidak ingin melihat wajah suaminya. Rasa kecewa terhadap Leon begitu besar, sebesar rasa bencinya saat ini.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah sepatu terdengar keras dari arah pintuh, di sana muncul dua orang berbeda jenis yang cukup berumur, dengan wajah kecemasan, mereka menghampiri ranjang yang di tempati Risma.
"Sebenarnya, ada apa ini?" tanya si pria.
"Mami, Papi." Dion berbalik menatap kedua orang tuanya.
Sedangkan si wanita yang tak lain adalah maminya, Leon, langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dia sungguh kaget dengan dilihatnya sekarang ini. Menantunya terbaring lemah, terlihat jarum infus terpasang di tangan kanannya, di bagian ujung keningnya juga terdapat perban.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Dion?" Papinya kembali bertanya.
Pak Andi memang tidak mengetahui yang sebenarnya, dia hanya menerima telepon dari Dokter Diva, yang menyuruhnya segerah ke rumah sakit, tidak lupa menyuruh mareka datang berdua.
"Dia jatuh dari tangga, Pih." Dion menjawab dengan pelan.
"Bagaimana bisa dia jatuh, kalian kemana saja?" Kini Pak Andi menatap Dion, menunggu jawaban anaknya.
"Itu--"
"Semuanya karena aku, Pih." Leon memotong Dion yang ingin menjawab papinya. Kini dia berdiri membiarkan maminya untuk duduk dan melihat Risma.
"Maksudmu, apa Leon?" Kening Pak Andi ikut berkerut mendengar jawaban anaknya.
"Memangnya, apa yang kamu lakukan pada istrimu?"
"Ak--aku tidak sengaja menyentak tangannya, saat menyentuh bahuku. Aku pikir itu Elsa."
"Jadi, itu membuatnya jatuh dari tangga?"
"I--iya, Pih."
Pak Andi hanya bisa mendesah mendegar ucapan jawaban anaknya, bagaimana bisa seceroboh itu? Bahkan membuat istrinya sendiri terjatuh dari tangga dan berakhir di rumah sakit.
"Apa yang membuatmu bisa melakukan itu, Leon? Apa kalian bertengkar?" Kini maminya yang bertanya, walaupun dia tetap menatap wajah menantunya.
"Maaf, Mih."
"Kenapa kalian bertengkar?" Papinya bertanya lagi.
Leon mengeluarkan sesutu dari kantong celana depannya dan menyerahkan pada papinya. Walaupun ada rasa ragu, tapi dia tetap menyerahkan benda itu.
"Karena ini, Pih."
Pak Andi mengambilnya, melihatnya dan membuka lembar demi lembar. Matanya terbelalak, melihat siapa yang berada di dalam foto tersebut. Pak Andi mengenal jelas siapa foto wanita dan pria tersebut.
"Giovanni?" lirih pak Andi.
"Papi mengenalnya?" Leon bertanya karena mendengar ucapan papinya tadi, walaupun suara papinya tadi kecil, tetap saja dia bisa mendengarnya.
Pak Andi kini menatap Leon. "Jadi ini, yang membuatmu bertengkar? Bahkan kamu hampir membunuh istrimu!" bentaknya.
"Bukan hanya Istrinya, Andi. Tapi, karena kecerobohannya, malah membuat istrinya keguguran," ucap Dokter Diva.
__ADS_1
"Apa?!" ucap serentak Pak Andi dan istrinya.
"Iya. Risma mengalami pendarahan saat terjatuh tadi." Kembali lagi Dokter Diva yang menjawab.
Plak!
Suara tamparan terdengar keras di dalam ruangan, semua orang kaget melihatnya. Pak Andi benar-benar marah karena perbuatan Leon, sungguh perbuatan Leon sudah kelewatan batas, hanya gara-gara foto tersebut malah membuat istrinya keguguran.
"Apa yang kamu lakukan, Leon?!"
Leon masih diam, rasa perih bercampur kebas di pipinya, bahkan sudut bibirnya berdarah karena tamparan tadi.
"Hanya karna itu, kamu membunuh anakmu! Apa yang ada di dalam pikiranmu Leon?" Pak Andi kembali ingin melayangkan tamparan pada Leon, tapi dihentikan oleh istrinya.
Leon menatap papinya. Air matanya kembali membasahi pipi mulus itu. Dia tidak menyangkah, papinya membentak dan menamparnya, ini yang pertama kali selama hidupnya.
"Papi bilang 'hanya'? Pih, suami mana yang tidak cemburu, jika melihat istrinya berpelukan dengan pria lain. Bukan hanya sekali, tapi sudah berulang kali ... jika Aku tanya, dia hanya menjawab kalau pria itu sepupunya, Riki."
"Sepupu?" Kening Pak Andi berkerut mendengar ucapan Leon, kini matanya teralih pada menantunya yang terbaring.
Risma yang melihat tatapan mertuanya, yang penuh tanda tanya hanya menggeleng pelan. Memohon agar mertuanya tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Suami mana yang tidak cemburu, Pih? Aku juga punya perasaan, Pih. Jika memang mereka hanya sepupuan, kenapa mereka berpelukan begitu erat, seakan melepaskan rasa rindu, bagaikan sepasang kekasih yang sudah terpisah lama." Leon mengeluarkan semua pemikirannya selama ini.
"Tapi, tidak juga secara kasar begini, Leon. Bahkan kamu membuat istrimu keguguran!"
"Aku sudah bilang, Pih. Aku benar-benar tidak sengaja. Mana ada, seorang Ayah tegah membunuh anaknya." Leon lembali menjawab perkataan papinya.
"Jadi sekarang kamu merasa benar, tidak bersalah sama sekali? Begitu?!"
"Pih, Aku--"
Plak!
Kini, tamparan ke dua telah mendarat sempurnah di pipi Leon, bahkan wajahnya juga ikut terpaling ke samping, saking deras Pak Andi menamparnya. Bahkan pak Andi menarik kerah baju Leon dengan ke dua tangannya, "apa ini, yang Papi ajarkan padamu? Kamu bahkan menyelesaikan masalahmu dengan kekerasa!"
Ingin rasanya Pak Adi memberi tamparan lagi pada Leon, tadi dia sadar juga, kalau Leon tidak sengaja menyentak tangan istrinya tadi.
"Pih, sudah. Istigfar, Pih." Mami Leon mencoba menenangkan suaminya, ini pertama kalinya, dia melihat kemarahan pak Andi.
Risma langsung bangun dari pembaringan, menuruni ranjang dengan pelan, walaupun Dion sudah menahannya agar tetap berbaring saja, tapi Risma tetap ingin bangun, akhirnya Dion membantu Risma untuk bangun dan menuruni ranjang.
"Biarkan, Mih. Papi benar, aku telah gagal menjadi suami yang baik."
"Baru sadar, IYA!" Pak Andi kembali mengangkat tangannya, ingin mendaratkan tamparan yang ke tiga kalinya, tapi dihentikan oleh Risma.
"Sudah, Pih. Jangan memukul Kak Leon lagi. Dia juga tidak sengaja," lirihnya. Risma langsung memeluk Leon dari depan, takut jika pak Andi menampar suaminya lagi.
Risma mendongak menatap wajah Leon, darah di sudut bibir Leon semakin banyak karena mendapatkan tamparan ke dua dari papinya, pipi mulus dan putih itu kini terlihat memerah, bahkan sedikit bengkak, terlihat jelas juga bekas jari-jari pak Andi.
Risma kembali menangis melihat wajah suaminya, dia kembali memeluk Leon, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Leon pun sama, dia juga ikut memeluk istrinya bahkan manangis deras lagi. Bisikan kata 'maaf' tetap terulang beberapa kali di telinga Risma.
Semua orang yang berada di dalam ruangan ikut menangis, melihat pasangan suami-istri ini saling berpelukan sambil menangis.
Pak Andi pun ikut meneteskan air mata, dia tersadar, bahwa ini pertama kalinya dia membentak Leon, bahkan menampar anaknya juga. Tidak pernah sama sekali dia melakukan hal itu, dia adalah seorang ayah yang selalu sayang dan memanjakan anak-anaknya. Tapi, dia benar-benar geram dengan tikah Leon, yang langsung marah tanpa mencari tahu masalah terlebih dahulu.
Dia juga berpikir, lebih baik dia yang menghajar anaknya, dari pada masalah ini diketahui oleh Giovanni. Bisa-bisa anaknya tinggal nama, jika Giovanni yang menghajar Leon.
Sedangkan, Mami Leon. Dia baru sadar kalau ada orang lain yang ikut berdiri di ruangan itu, walaupun cukup jauhdari mereka, tetap saja orang itu adalah orang lain di antara mereka.
"Tunggu, gadis itu siapa?"
•••
.
.
__ADS_1
.
.