
Risma dan Leon kini berada di dalam mobil mereka yang sedang menuju ke sekolah, seperti hal biasanya, semenjak mereka pindah ke apartemen, mereka selalu berangkat dan pulang bersama.
"Aku boleh katakan sesuatu, tidak?" tanya Leon. Dia tetap pokus menyetir dan memandang ke depan.
Risma menoleh ke arah Leon. "Apa?"
"Bolehkah cara bicaramu dengan teman-temanmu itu kamu ubah. Seperti, 'elo-gue' jadi 'aku-kamu' saja," ujar Leon.
"Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab dia malah bertanya kembali.
"Biar lebih enak didengar, aku kurang suka jika cara bicaramu seperti itu." Leon memberhentikan mobilnya di parkiran sekolah.
"Baiklah, akan kucoba," ucap Risma.
"Makasih ya, Sayang." Leon menarik Risma ke dalam dekapannya dan mencium kening Risma.
"Iya, yuk turun, tidak lama jam masuk." Risma mulai membuka pintu mobil dan turun begitu pun dengan Leon.
Mereka jalan bersama menuju ke kelas sambil berpengangan tangan, walaupun awalnya Risma menolak karena dia merasa risih dipada siswa-siswi lainnya tapi Leon tak menghiraukan itu, dia tetap memengang tangan istrinya sampai di kelas mereka.
"Mereka pacaran yah?"
"Bukankah mereka sepupuan?"
"Tapi mereka terlihat romantis banget."
"Aku jadi irih."
"Ah, beruntung sekali dia."
Begitulah ucapan mereka, baik adik kelas maupun setingkatannya saat Risma dan Leon jalan bersama.
"Ka, aku masuk kelas dulu yah," ucap Risma dan tersenyum.
"Hem." Leon melepaskan tangannya dan mempersilahkan Risma masuk duluan baru dia masuk di kelasnya juga.
Risma berjalan menuju kursihnya di mana di sana sudah ada Dion yang duduk. Yah hari ini Dion datang awal dari sebelumnya.
"Hai. Dari tadi datangnya?" Risma duduk di kursihnya.
"Tidak juga," ucap Dion dengan muka kurang semangat.
"Kenapa mukanya seperti itu?" tanya Risma. Dia melihat ada kelelahan di wajah tampan itu, padahal biasanya wajah tampan milik Dion selalu ceria jika mereka bertemu.
"Tidak ada," jawabnya.
"Ah, aku sudah bicara sama Ka Leon, agar kamu di izinkan pacaran juga," ujar Risma.
Dion yang mendengar ucapan Risma dengan cepat mengubah duduknya dan menghadap ke iparnya.
"Benarkah? Terus apa katanya?" tanya Dion. Wajahnya kini agak ceria.
"Hem, dia akan bicarakan pada Mami dulu," jawab Risma.
"Kenapa harus pada Mami, 'kan selama ini dia saja yang melarangku pacaran dan bukan Mami," lirih Dion lalu menunduk.
"Di, ini semua juga demi kebaikanmu, percayalah." Risma mengusap punggung Dion yang tertunduk sedih.
Dion menatap Risma lalu tersenyum. "Terimah kasih, Kakak ipar," ucapnya dengan suara pelan.
"Hem, sudah jangan sedih, nanti aku bicarakan lagi padanya."
Dion pun mengangguk pelan, dia merasa senang karena memiliki kakak ipar yang peduli padanya dan tak hanya itu, semenjak dia bertemu dengan Risma dia merasa nyaman, karena Risma selalu baik padanya dan dia sangat menyukai melihat kedua bola mata Risma yang berwarna coklat itu. Semakin dia perhatikan semakin dia teringat seseorang yang paling dia sayangi dulu, tapi kini orang itu telah pergih jauh darinya.
'Aku sangat merindukanmu,' batin Dion.
_________________________
"Hai Leon," sapa seseorang.
Leon hanya diam dan duduk di kursihnya dan mengeluarkan bukuya dari dalam tas.
"Leon, aku bisa nggak minta bantuanmu?" tanya seseoarang yang tak lain adalah Elsa.
Leon melirik Elsa sekilas lalu berucap, "bantu apa?"
__ADS_1
"Aku mau minta kamu ajarin aku tentang pelajaran MTK yang kamarin kita pelajari," jelas Elsa.
"Kenapa tidak dengan yang lain saja, aku lagi sibuk," ucap Leon tanpa melihat Elsa.
"Karna kamu yang lebih pintar di sini."
Betul yang di katakan Elsa, Leon sangat pintar menjawab semua mata pelajaran di sekolah dengan mudahnya.
"Aku bolehkan belajar di rumahmu jika sore hari," ucapnya dengan pelan.
Leon merasa kesal dengan permintaan Elsa, bagaimana bisa wanita itu dengan entengnya meminta izin belajar di rumahnya sedangkan sekarang dia memiliki istri, apalagi Leon tidak pernah membawa wanita ke rumahnya selain Risma.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sekarang jadi tutor seseorang," ujar Leon. Leon memeng menjadi tutor Risma sekarang, dia selalu mengajari Risma jika ada mata pelajaran yang susah.
"Tapi di sekolah boleh 'kan?" tanyanya lagi.
"Aku juga mau istrahat seperti kalian." Leon kembali membaca bukunya.
"Tapi, aku belum mengerti pelajaran tentang kemarin," ucap Elsa.
"Baik aku ajarin sekarang. Tapi, hanya untuk hari ini aku bisa bantu."
Elsa duduk di dekat Leon dan membuka buku mata pelajaran yang dia maksud, Leon mulai menjelaskannya dengan teliti biar Elsa cepat paham. Tapi orang yang dijelaskan, malah lain yang dia tatap dan dia tidak mendengarkan penjelasan Leon sedari tadi.
'Tampannya, akh! Aku harus memilikinya," batin Elsa.
"Apa kamu sudah mengerti?" tanya Leon.
"Ah, i-iya. Aku sudah mengerti semuanya, terimah kasih," ujar Elsa dan tersenyum manis pada Leon.
Leon tak menghiraukannya, dia merasa ada sesutu yang beda pada Elsa. "Kembalilah ke tempatmu karna tidak lama lagi guru masuk."
"Ah, i-iya." Elsa dengan berat hati berdiri meninggalkan Leon.
Sebenarnya dia hanya beralasan saja jika dia tidak mengerti pada pelajaran kemarin, dia hanya ingin mendapat kesempatan duduk didekat Leon saja dan melihat wajah tampan itu lebih dekat lagi.
______________________________
Setelah 2 jam mata pelajaran berlangsung kini para siswa-siswi sedang berada di jam istrahatnya. Kakak beradik ini memilih ke kantin dan tentunya bersama Risma dan teman-temannya juga.
"Ka, mau pesan apa?" tanya Dion.
Risma sedang duduk dekat Leon dan Dion duduk di depan mereka, karna mereka memilih satu meja. Sedangkan Ayu, Cerry, Riki, dan pacar Ayu yang bernama Gery memilih satu meja yang berdekatan dengan meja Risma.
Mereka semua sudah mulai berteman, tapi terlihat di sini cuman Dion saja tak punya pasangan. Sebenarnya banyak wanita yang tertarik padanya, hanya dia saja yang tak mau dulu pacaran tanpa ada izin dari Leon. Dia tahu kalau ini semua juga demi dia tapi tidak juga di larang pacaran apa lagi kini dia sudah kelas tiga dan umurnya sudah 16 tahun.
Semuanya menikmati makanan mereka masing-masing yang sudah ada di atas meja.
"Aku ke toilet dulu yah," bisik Risma pada suaminya.
Setelah mendapat anggukan dari suaminya, dia mulai berdiri dan berjalan menuju tempat yang dia tuju.
"Ris, mau kemana?" tanya Ayu.
"Mau ke belakang dulu." Risma tak menyebutkan bama tempatnya karena dia tahu banyak orang di dekatnya yang sedang makan, jangan sampai mereka merasa jijik dan menghentikan makannya.
Ayu yang mengerti maksud Risma pun mulai ikut berdiri dan menghampiri Risma. "Kita sama," ucapnya.
Mereka pun pergi ke toilet bersama, setekah berjalan beberapa menit mereka telah sampai di sana. Dan masuk melepaskan sesuatu yang sedari tadi membuat mereka tak nyaman.
"Gue merasa jengkel ini hari," ucap seseorang.
"Kenapa emangnya?" tanya temannya.
"Lo tahu? Hari ini gue dicueken sama si Leon," geramnnya.
"Benarkah? Sepertinya dia tidak tertarik pada lo, El."
Risma yang mendengar nama suaminya di sebut-sebut tetap berdiam di dalam kamar kecil itu walau sedari tadi dia selesai membuang air kecil, begitupun dengan Ayu.
"Ini semua gara-gara cewek brengsek itu," geram Elsa.
"Siapa maksud lo?" tanya Dira.
"Siapa lagi kalau bukan cewek centil itu, apa dia belum puas juga dengan mendekati adiknya dan sekarang dia mau mendekati kakaknya juga?!" Elsa benar-benar merasa jengkel karna sudah lebih 2 minggu dia mencoba mendekati Leon tapi tetap saja dicuekin.
__ADS_1
"Tapi bukankah mereka sepupuan? Sudah sepantasnya mereka dekat," ujar Dira.
"Tapi beda dengan mereka, Dir. Mereka itu terlalu dekat, seperti orang pacaran saja," ucap Elsa.
"Jika lo memang suka sama dia, maka rebut hatinya."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Elsa.
"Lo harus misahin mereka lah," ucap Dira.
Risma yang mendengar percekapan mereka tetap berdiam di dalam sana, apalagi dia mendengar namanya juga disebut-sebut.
'Apa misahin kami? Itu tidak mungkin, dan apa katanya tadi, aku cewek centil? Bukannya mereka yang kecentilan ingin merebut suamiku, dasar pelakor," batin Risma dengan geram.
Sedangkan Ayu yang mendengar percakapan itu juga ikut geram, bagaimana tidak sahabatnya dikatain cewek centil.
"Aku tidak akan biarkan mereka membuat Risma dan Leon berpisah," batin Ayu.
Setelah merasa Elsa dan Dira suda pergi dari tempatnya, barulah mereka keluar dari persembunyiannya, maksudnya kamar kecil itu.
"Lo dengar perkataan cewek pelakor itu?" tanya Ayu.
"Ya, aku dengar semuanya," ucap Risma.
Dia menunduk merasa sedih dengan hubungan dia dan suaminya, banyak wanita yang menganggapnya cewek centil karena berdekatan dengan suaminya sendiri, tapi dia juga tidak mungkin bilang ke semua orang kalau Leon itu adalah suaminya yang sah.
Ayu yang melihat sahabatnya bersedih itu mengerti dengan perasaan yang di rasakan Risma saat ini karena yang dia tahu Risma dan Leon sekarang ini sedang pacaran. Andai dia tahu kalau sahabatnya itu dengan Leon adalah pasanga suami istri, sudah padti dia akan menjambak rambut Elsa dan Dira karna mengatai sahabatnya cewek centil padahal merekalah calon pelakor yang ingin merebut Leon dari Risma.
"Sudah, jangan diingat lagi kata-kata mereka," ucap Ayu.
"Aku tahu, tapi ... mereka akan pasti memisahkan kami," ucap Risma.
"Tunggu, sejak kapan lo pakai 'aku' bukannya biasanya pakai 'elo-gue'," ujar Ayu.
"Leon yang minta, katanya dia tidak suka mendengar kalau aku bicara seperti itu," jelas Risma.
"Jadi, aku minta kamu juga mengubahnya sepertiku juga," sambungnya lagi.
"Baiklah, akan gu- eh, aku coba," ucap Ayu.
"Ya sudah, ayo kita keluar pasti mereka sedah menunggu kita," ajak Risma.
Mereka pun kembali ke kantin karena merasa sudah lama perginya, sebenernya mereka lama karena mendengar perbincangan dua wanita jahat itu.
"Kenapa lama?" tanya Leon.
Leon sudah dari tadi menunggu Risma kembali tapi tak datang juga.
Risma duduk kembali dekat Leon. "Maaf, tadi aku lagi nguping seseorang," ucapnya.
"Nguping siapa? Tidak baik nguping pembicaraan orang," ujar Leon.
"Mereka lagi gosipin kita, terus mereka ingin kita berpisah," jelas Risma.
"Siapa?" tanya Leon.
"Siapa lagi kalau bukan teman sekelasmu yang centil itu."
"Bahkan mereka bilang kalau aku ini cewek centil dan cewek brengsek yang selalu dekat denganmu dan tidak puas dengan satu cowok saja," sambungnya lagi.
Leon yang mendengar ucapan istrinya itu mulai geram dengan wanita yang mengatai istrinya apalagi sampai ingin memisahkan mereka berdua.
"Tenang saja, jika mereka akan menyakitimu, maka mereka akan keluar dari sekolah ini," ucap Dion. Dia yang mendengar perkataan kakak iparnya merasa tidak terimah jika wanita kejam itu menyakiti kakak iparnya.
"Aku tidak akan biarkan mereka memisahkan kita," sambung Leon.
Risma mengangguk pelan tanda mengerti, Leon merangkul bahu istrinya, dia menarik wanita itu masuk ke dalam dekapannya.
Ayu yang melihat adengan itu merasa terharu.
'Semoga kalian tetap seperti itu dan bahagia selalu." batin Ayu.
Karena baru pertama kali ini dia melihat sahabatnya jatuh cinta dan terlihat di wajahnya kalau dia merasa sedih dan takut kehilangan pria yang dia cintai. Ayu merasa kalau pria itu sangat berarti dalam hidup Risma.
.
__ADS_1
.
.