
Risma terbangun dari tidur nyeyaknya, setelah nyawanya sudah terkumpul penuh, dia meraih hpnya yang berada di atas nakas samping ranjang tersebut, melihat sejenak layar HP yg telah dia hidupkan lalu menyimpannya kembali.
Risma meraba lengan yang melingkar erat di perutnya dari arah belakang dan lengan siapa lagi kalau bukan lengan suaminya.
Ya, saat ini dia sedang berbaring dengan posisi miring membelakangi suaminya, tapi kepalanya berbantalan lengan Leon.
Risma berbalik menatap wajah Leon yang masih terlelap dalam tidurnya, tangannya terangkat menyingkirkan poni Leon yang menutupi jidatnya. Rambut Leon memang sedikit agak panjang bagian atas, kadang Risma dan Deren suka mengikatnya dengan ikat rambut kecil karena itu memperlihatkan wajah Leon mirip anak kecil, sesuai nama panggilan Leon dari Deren.
Risma tersenyum memandang suaminya yang masih terlelap karena saat ini Leon masih mengeluarkan dengkuran halus, Risma mengangkat kepalanya lalu mengecup kening Leon begitu pelan agar tidur siang suami tidak terusik.
Setelah mengecup kening Leon dengan singkat, Risma bangun dari pembaringan lalu mencari handuk yang semalam Leon pakai.
Setelah menemukan handuk itu, dia mulai melilitkan ke tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Saat ingin menuruni ranjang, Risma tersentak kaget saat Leon tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang.
"Mau kemana, hem?" Suara serak terdengar dari belakang. Risma memutar dirinya menghadap ke arah Leon yang masih memejamkan matanya tapi tanganya tetap melingkar erat di pinggang istrinya.
Leon sebenarnya sudah dari tadi bangun dari tidurnya, hanya saja dia tetap memejamkan matanya dan pura-pura masih terlelap.
"Aku mau mandi," jawab Risma. Lalu perlahan melepaskan tangan suaminya yang melingkar erat. Saat tangan itu sudah terlepas dia mulai bergerak menuruni ranjang tersebut.
Bruk.
"Akwuuh."
Leon bangun dengan cepat saat mendengar suara jatuh ke lantai dan ternyata istrinya sudah terduduk di lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Dengan paniknya, Leon bangun dengan buru-buru lalu menghampiri istrinya yang masih terduduk di lantai.
Risma tak menghiraukan pertayaan suaminya, dia malah memijit kakinya yang terasa ngilu dan lemas.
"Kakimu kenapa, sayang?" Leon masih berjongkok di samping istrinya dan ikut memijit kaki lemas itu.
"Sialan kamu, Ka! Ini semua gara-gara kamu."
"Kok, aku sih?" Leon mengerutkan keningnya menatap heran pada sangat istri.
"Iyalah. 'Kan Ka Leon yang semalam menghajarku sampai berjam-jam dan lihat sekarang! Badanku terasa remuk, kaki pun terasa lemas dan ngilu." Risma mulai geram dengan pertanyaan konyol suaminya, sementara Leon hanya cengengesan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, biar aku bantu ke kamar mandi. Sekalian kita mandi bersama saja." Leon menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
Bukannya tersipu malu seperti biasanya, Risma malah semakin geram melihat suaminya yang semakin hari semakin mesum.
Ingin menolak, tapi itu tidak mungkin karena saat ini kakinya benar-benar terasa lemas bercampur ngilu.
"Ayo, biar aku gendong." Leon mulai merengkuh tubuh mungil istrinya kedalam gendongannya, tapi saat ingin berdiri dia tertahankan karena Risma tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu. Ka Leon pakai handuk dulu," ucapnya.
"Handuknya ada di dalam kamar mandi."
"Ish, Ka Leon tidak malu apa seperti itu?"
"Kenapa harus malu, tidak ada siapa-siapa pun selain kita, untuk apa kamu malu melihatnya? Bukankah sebelumnya kamu juga pernah melihatnya. Bahkan semalam juga melihatnya 'kan?"
Bugk!
Risma memukul dada kekar suaminya yang berbicara panjang lebar. "Berhentilah bicara atau aku menggigit dadamu lagi?"
"Jangan memancingku, sayang. Jika kamu menggigitku makan aku pastikan kamu tidak bisa berjalan sampai dua hari."
Risma pun hanya diam, percuma saja meladeni Leon yang semakin hari otaknya semakin mesum dan jangan lupakan juga tingkahnya yang semakin hari semakin manja saja pada istrinya.
•
__ADS_1
Karena sekarang hari minggu makan hari ini Yuna bekerja full di caffe, dia tidak mau cuti di hari minggu karena gajinya akan berkurang nantinya.
"Yun, kamu antar pesanan ini ke ruangan Bos ya."
Yuna pun mengambil alih nampang yang berisi berbagai menu tersebut.
"Es krim lagi? Berarti anak kecil itu pasti datang lagi kesini." Yuna bergumam sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah imut Deren.
Sebelum masuk Yuna mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendengar suara dari dalam yang membersihkan dirinya masuk, diapun membuka pintu tersebut dan yang pertama dia lihat adalah anak kecil yang sedang diam dan duduk bersila di sofa.
Yuna berjalan menghampiri Deren lalu meletakkannya nampang itu di atas meja depan Deren.
"Hei, kamu ya, yang pesan es krim?" Deren hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu tersenyum pada Yuna.
"Kakak cantik duduk di sini ya?" Deren menarik tangan Yuna agar duduk di sampingnya, tapi Yuna merasa sedikit takut bila Bosnya marah karena malah duduk dekat Deren dan tidak melanjuti pekerjaannya.
"Duduklah, temani dulu dia. Bukankah sudah kukatakan jika dia memintamu untuk duduk maka turuti saja." Dion berbicara tanpa melihat ke arah Yuna dan Deren, dia tetap menatap berkas yang berada di tangannya.
Hari ini, masih Dion yang mengawasi caffe tersebut karena kakaknya masih terlalu sibuk mengurus yang lain apalagi mertuanya baru saja meninggal.
Saat ingin berangkat ke caffe, Deren datang dan merengek untuk ikut, walaupun Dion sudah melarangnya untuk ikut tapi tetap saja dia merengek. Bahkan mengancam melaporkan Dion pada bayi besarnya jika Dion tidak mau mengajaknya bahkan dia juga mengancam akan membocorkan rahasia Dion ke bayi besarnya.
Entah rahasia apa yang Deren ketahui tentang Dion, sehingga mau tidak mau Dion selalu menuruti permintaan anak kecil itu untuk ikut.
Dan sekarang, inilah yang Dion cemaskan jika Deren ikut karena Deren selalu saja memesan es krim beberapa gelas, sedangkan Leon selalu melarang Deren untuk memakan es krim yang berlebihan.
Tapi anak itu tetap saja tidak memperdulikan larangan Leon, bahkan dia kadang sembunyi-sembunyi memakan es krim jika Leon ada di rumah.
"Apa begitu enak?" Yuna bertanya pada Deren yang begitu lahap memakan es krim nya, bahkan saat ini sudah habis segelas dan melanjuti gelas kedua.
Deren tak menyahut, dia hanya mengangguk lalu memakan kembali es krim rasa coklat itu.
Sementara Dion sudah selesai memeriksa berkas-berkasnya, kini dia berdiri menhampiri Deren dan Yuna.
"Ka, itu es krimku."
"Kamu sudah makan dua, jadi ini buatku saja." Dion tetap melahap es nya. Sementara Deren semakin geram karena Dion memakan miliknya.
"Tapi, aku yang memintanya. Kakak pesan yang lain saja." Deren mulai berdiri di atas sofa sambil melipat tangannya di depan dada.
"Yakin, tidak mau berbagi denganku? Baiklah, sepertiya aku akan harus merekammu saat memakan es krim ini dan mengirimnya ke bayi besarmu itu. Hem, entah apa yang akan dia katakan jika me-"
"Baiklah, baiklah. Kali ini aku akan mengalah." Deren langsung duduk dengan wajah cemberut dan mulut yang terus berkomat-kamit.
Dion tersenyum melihat wajah cemberut Deren karena itu terlihat menggemaskan. "Itu mulut kenapa? " Dion pura-pura tidak tahu pada hal dia sudah mencoba menahan tawanya agar tidak meledak di depan Deren.
Deren. Jangan ditanyakan lagi, kini wajahnya semakin cemberut dan matanya sesekali melirik Dion yang duduk di sampingnya.
Yuna yang sedari tadi memperhatikan Dion dan Deren hanya ikut tersenyum, ingin rasanya mencubit gemas pipi anak kecil itu, tapi dia juga takut bila pemilik pipi itu malah semakin cemberut.
"Jangan mengomel dalam hati, itu tidak baik." Dion kembali berbicara.
"Ish, dari mana Ka Dion tahu?" Deren menatap Dion yang tahu apa isi hatinya.
"Tentu saja aku tahu, muka jelekmu sudah menunjukkan kalau kamu sedang mengomel dalam hati," jawab Dion.
"Huaaa... Hiks, hiks...." Deren berpura-pura menangis karena Dion mengakatan kalau wajahnya jelek.
"Hei, berhentilah menangis." Dion mencoba menghentikan Deren yang lagi menangis, es krim yang tadi dia lahapnya sudah dia hentikan dan malah bertambah menangis.
Yuna mencoba memegang tangan Deren agar tidak menangis lagi. "Hei, berhentilah menangis, ganteng. Wajahmu tidak jelek kok, malah ganteng dan imut," ucap Yuna.
Deren mendongak menatap Yuna yang saat ini mengelus pucuk kepalanya sekarang. "Benarkah, Kakak cantik?" tanya Deren. Yuna mengangguk cepat agar anak itu berhenti menagis.
__ADS_1
"Tapi, kata Ka Dion mukaku jelek," ucap Deren, dia berbicara sambil menunjuk wajah Dion. Dia kembali berpura-pura menangis.
Yuna dengan cepat merengkuh anak itu, mendudukkan Deren di pangkuannya dan memeluknya dengan lembut, sesekali tangan itu mengelus punggung kecil Deren.
Dion yang melihat itu merasa kesel bukan karena apa karena saat ini Deren berbalik padanya dan menjulurkan lidahnya pada Dion, seakan mengejek kalau saat ini dia menang lagi.
"Ish! anak ini." Dion geram, dia baru sadar kalau ternyata Deren hanya berpura-pura menangis. Dan kini anak itu menang bayak karena dia sudah berada dalam pelukan kakak cantik, Yuna.
"Bos, maaf. Dia hanya anak kecil, jadi wajar kalau mudah menangis." Yuna menatap bosnya dengan tatapan takut, sebenarnya dia takut jika Dion malah marah padanya.
Deren semakin mengejek Dion yang menatapnya, malah dia membalas pelukan Yuna dengan cara mengalungkan kedua lengannya di leher Yuna, sementara wajahnya di sembunyikan di celuk leher gadis itu.
"Jangan membelanya, dia akan semakin keras kepala." Dion menatap Yuna sebentar lalu kembali memakan es krim nya dengan cepat bahkan bibirnya sedikit berlepotan.
Yuna ingin tertawa melihat tingkah bosnya tapi takut juga.
"Bukankah kepala memang keras?" tanya Deren masih dengan posisinya.
"Diam kamu."
"Bilang saja kalau iri." Deren dngan cepat membalas ucapan Dion karena dia tidak Terima Dion yang mengatakan hal itu padanya.
"Dasar manja, bilang saja kalau mau dipeluk dia tidak usah berpura-pura." Dion kembali bergumam tapi suaranya tetap didengar Deren.
"Ck, ck, ck. Bilang saja kalau Ka Dion itu cemburu," Ejek Deren.
Dion tak lagi membalas ucapan Deren, bahkan dia juga tak ingin melirik anak itu karena setiap melihatnya Deren selalu menjulurkan lidahnya dan tertawa seakan memberitahu dia menang banyak.
Dion memilih memutar tubuhnya dan membelakangi Deren dan Yuna, sementara Yuna hanya terdiam melihat sekali gus mendengarkan perdebatan bos dan anak kecil yang berada di pangkuannya.
Puk!
Cup!
Deren tak lagi berada di pangkuan Yuna, malah kini dia sudah memeluk Dion dari belakang dan melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher Dion lalu mengecup pipi kiri pria merajuk itu.
"Apa, Ka Dion marah?" tanyanya, Dion hanya diam.
"Apa, Ka Dion mau juga dipeluk Kakak Cantik? Enak loh dipeluk sama dia." Deren berbisik di telinga Dion.
Bukannya merayu, Deren semakin membuat Dion marah karena berbisik di telinganya. Tapi dia semakin diam bahkan tak menyahut sepatah kata pun untuk membalas Deren, dia tahu kalau saat ini anak itu sengaja membuatnya cemburu.
Cup, cup, cup!
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Dion, Deren semakin menghujani Dion kecupan dengan bibir kecilnya di pipi Dion, bukan hanya sebelah kiri tapi kini juga berpindah ke sebelah kanan.
"Ish, berhentilah menciumku."
"Berhenti dulu merajuk nya atau mau kakak cantik yang menciumnya dulu agar berhenti merajuk?" Deren memiringkan kepalanya menatap Dion.
Sementara Yuna yang mendengar ucapan Deren malah tercengang, bisa-bisanya Deren berucap seperti itu pada Dion.
Tidak bisa di sembunyikan kalau saat ini wajah Yuna memerah seperti kepiting rebus, dari dulu awal bertemu sampai sekarang rasa suka yang kini berubah menjadi cinta itu tak pernah pudar, hanya saja dia takut mengatakan itu dan dia tahu posisi saat ini kalau dia hanyalah gadis yatim-piatu tanpa harta atau lebih tepatnya miskin.
"Memangnya boleh apa?" Dion pura-pura bertanya padahal jantungnya sudah berdetak kencang sama halnya Yuna.
"Bukankah dulu sudah pernah?"
.
.
#tbc
__ADS_1
Maaf ya teman-teman karena baru Up lagi🙏😂