
Hubungan Risma dan Leon tak seindah dulu lagi, semenjak kejadian di mana Leon yang tanpa sengaja membuat istrinya berakhir di rumah sakit. Apa lagi Giovanni semakin mendekati Risma, walaupun Leon sudah melarangnya.
Leon tidak membiarkan istrinya lagi keluar rumah tanpa bersamanya, yang dia takutkan jika Giovanni datang dan membawah istrinya pergi.
Leon tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi, dia sudah terlanjur cinta dan sayang pada istrinya.
Saat pulang dari Resto, Leon kembali marah karena tahu Giovanni membawa Deren pergi jalan-jalan. Bahkan mami dan papinya saja tahu tentang hal itu, lalu mengapa dirinya tidak di beri tahu sama sekali.
Kebencian terhadap Giovanni semakin besar, ternyata Giovanni tidak hanya mendekati istrinya saja, bahkan kepada Deren juga. Itulah isi pemikiran Leon.
Leon mengaku kagum pada Giovanni yang pintar sekali ambil hati seseorang, pasalnya Deren sangat sulit di dekati oleh orang asing, lalu mengapa Deren sampai bisa jalan-jalan berdua dengan Giovanni bahkan sudah akrab sekali.
"Mami kenapa memberi izin Deren keluar?"
"Apa salahnya, Leon. Deren pun senang jalan bersama Tuan Gio. Jadi tidak ada masalah 'kan?" Maminya menjawab dengan enteng.
"Masalah, Mih. Dengan cara Mami memberi dia izin membawa Deren tanpa sepengetahuanku. Apa Mami sadar? Dia adalah orang yang berada di foto itu. Yang membuatku cemburu terhadapnyan dan malah menyakiti istriku."
Mami Leon terdiam, dia juga masih ingat tentang foto itu, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa mencegah Giovanni lagi. Apa lagi dia sudah membuat Giovanni kecewa dengan perkataannya dulu, yang mengatakan kalau anaknya lebih bisa menjaga Risma dari pada Giovanni, tapi ternyata tidak juga.
"Apa kamu bisa membuat anak kecil itu kecewa?" tanya maminya.
Leon menatap maminya sedang duduk di sofa yang juga menatapnya.
"Tapi jangan membiarkan Deren terlalu dekat padanya, Mih. Aku takut, jika dia sudah dekat pada Deren dia juga akan merebut anak kecil itu dariku. Aku tidak mau itu semua terjadi. Mereka milikku, Mih."
__ADS_1
Mami Leon ikut sedih melihat anaknya yang takut kehilangan istri dan Deren, semuanya kacau dengan kemunculan Giovanni kembali.
"Tenanglah, Le. Dia tidak akan merebut istrimu atau Deren. Dia hanya ingin berteman pada Deren tidak ada maksud lain, Nak." Maminya mencoba menenangkan pikiran buruk Leon.
"Ada apa ini?" Pak Andi yang baru saja pulang langsung menghampiri anak dan istrinya.
"Papi mau mandi atau langsung makan dulu?" Bukannya menjawab suaminya, mami Leon malah mengalihkan pembicaraan.
"Nanti saja, Mih. Leon, ada apa?" tanya Pak Andi.
Leon mengangkat wajahnya menatap sang papi yang juga menatapnya.
"Tuan Giovanni, Pih. Dia menemui Risma lagi. Bahkan dia juga mulai mendekati Deren," ucap Leon.
"Tapi, Pih. Dialah orang yang membuatku sehingga menyakiti Risma tanpa sengaja, aku akui, aku juga salah. Tapi ini semua karena dia, Papi jangan lupakan itu."
Pak Andi hanya bisa menatap anaknya penuh harap jika suatu saat Leon mengetahui semuanya, dia tidak akan mempermasalahkan masalah itu dalam hubungannya pada Risma. Ingin rasanya Pak Andi mengatakan yang sebenarnya tapi dia juga bingung harus memulainya dari mana.
Apa lagi Risma melarangnya dulu untuk mengatakan yang sebenarnya karena tidak banyak yang tahu tentang Giovanni. Risma juga taku jika sampai Baim tahu s3muanya maka kakaknya itu pasti akan menghajar Giovanni, bisa jadi Giovanni kehilangan nyawanya.
Baim memang orangnya rama pada setiap orang, tapi jika sudah membenci orang itu maka tiada maaf untuk orang itu. Apa lagi Baim melihat adiknya lalu yang hampir kehilangan nyawa, hanya karena mengejar laki-laki brengs*k seperti Giovanni. Makanya Baim sangat membenci Giovanni, dia lalu sudah berjanji pada Risma jika sampai menemukan Giovanni maka dia akan menghajar laki-laki itu.
"Apa dia menerima kerja sama denganku hanya karena ingin mendekati Risma, Pih? Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan istriku atau meyerahkan kepadanya."
"Baiklah, Papi pegang perkataanmu, Le. Tapi jika kamu sampai menyakiti istrimu lagi, maka Papi angkat tangan. Papi tidak akan membantumu," ucap Pak Andi.
__ADS_1
"Maksud Papi, apa?"
"Cepat atau lambat kamu pasti akan tahu. Papi harap, jika kamu sudah mengetahuinya semua kamu bisa berpikir Lebih baik lagi, tanpa egoismu, Nak." Setelah berucap, Pak Andi langsung berdiei dan meninggalkan Leon yang masih menatapnya penuh keheranan.
••
"Sayang, ada apa? Kenapa akhir-akhir ini kamu suka sekali melamun?" tanya sang istri.
Baim langsung menatap istrinya yang sedang berdiri di sampingnya, Baim tidak tahu sejak kapan istrinya berada di dekatnya, mungkin karena terlalu larut dalam lamuannya jadi dia tidak merasakan kehadiran istrinya tadi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya merindukan Risma, sudah beberapa hari ini dia tidak menelponku, aku hanya khawatir saja."
"Kalau kamu khawatir, telpon saja. Mungkin akhir-akhir ini dia sibuk mengurus sekolahnya, jadi tidak menghubungi kamu terlebih dahulu, sayang." Istrinya mencoba memberinya saran.
Baim pun mengangguk pelan mendegarkan saran dari istrinya, dia akan menghubungi adiknya nanti saja, ini pertama kalinya dia meninggalkan Risma terlalu jauh, bahkan sampai keluar Negeri. Bahkan sewaktu orang tuanya masih hidup pun dia tidak pernah pergi jauh, tapi mau bagaimana lagi, proyek ini harus dia tangani langsung karena permintaan orang yang mengajaknya bekerja sama.
Andai saja Baim tahu siapa pemilik perusahaan yang mengajaknya bekerja sama, mungkin dia tidak akan menerimanya walaupun perusahaan papanya dalam masalah besar dan berakhir bangkrut.
.
.
.
.
__ADS_1