Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
17. nangis karena cemburu


__ADS_3

Pukul 7 malam Risma sedang mengerjakan PRnya yang diberi guru tadi siang dan harus dikumpulkan besok pagi juga, sedangkan Leon baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.


Leon berjalan menghampiri Risma. "Keluar yuk," ajak Leon.


"Aku masih mengerjakan PRku," jawab Risma dengan tetap menatap bukunya.


"Biar kubantu agar cepat selesai." Leon menarik kursi belajarnya dan langsung duduk di dekat Risma.


"Terimah kasih," ucap Risma dan tersenyum.


"Hem." Hanya deheman yang terdengar dari Leon, dia mulai mengerjakan tugas Risma.


Setelah beberapa menit berlalu semuanya telah selesai, Leon pun menatap Risma yang sedang memperhatikan tadi mengerjakan tugasnya. "Kenapa natap seperti itu?" tanya Leon.


"Supaya aku lebih mengerti," jawab Risma.


"Oh. Sekarang sudah selesai, keluar yuk," ajaknya lagi pada Risma.


"Kemana?"


"Ke caffe, dari pada di sini terus, tidak bosan apa?" ucap Leon.


"Tidak ah! Malu." Risma mulai berdiri menuju ranjangnya.


Leon memutar badannya menatap Risma. "Malu kenapa?" tanyanya heran.


"Nanti aku dikira habis cubitin anak orang lagi," ucap Risma dan cengegesan.


Leon mengerutkan keningnya, lalu berdiri menghampiri Risma yang sudah membaringkan tubuhnya di kasur. "Maksudnya apa, sih?" tanya Leon.


"Itu mata masih bengkak, habis nangis tadi karna cemburu," ucap Risma dan mengusap pipi Leon.


"Ini semua juga karna kamu," ujar Leon dengan mulut dimonyongkan.


"Siapa suruh cemburu tampa bertanya dulu?" ucap Risma dan tertawa melihat mulut Leon seperti anak kecil saja dengan tingkahnya itu.


"Mau keluar atau di rumah saja?"


"Yah sudah, aku ganti baju dulu." Risma bangkit pergi menganti pakaiannya, dia juga tidak mau membuat Leon kecewa dengan menolak ajakannya.


Setelah beberapa menit Leon menunggu, akhirnya Risma selesai juga dan menghampiri Leon yang sedang duduk di sofa sambil memainkan game di hpnya.


"Aku sudah selesai," ucap Risma berdiri di depan Leon.


"Yah sudah, ayo kita berangkat." Leon menyimpan hpnya di saku celana lalu berdiri merangkul Risma untuk keluar dari kamarnya.


_________________________________


Dion sedang duduk termenung di sebuah caffe sambil menunggu pesanannya datang.


Seorang kariawan wanita caffe itu menghampirinya dan membawa nampan berisi yang dipesan Dion tadi.


"Permisi Ka. ini pesanannya," ucap kariawan itu dengan tersenyum.


Dion mendongak menatap kariawan yang berdiri di sampingnya, Dion pun membalas senyumannya tak kalah manis dan membuat kariawan itu salah tingkah.


"Terimah kasih," ucap Leon. Kariawan yang tak lain adalah Anisa itu pun pamit untuk melanjuti pekerjaannya.


Leon dan Risma telah sampai di caffe yang Leon maksud tadi, mereka masuk dan mencari meja untuk mereka tempati. Saat Leon sedang mencari meja tanpa sengaja dia melihat Dion yang juga berada di caffe itu, Leon mengajak Risma menghampiri Dion.


"Dari tadi di sini," ucap Leon yang sudah berdiri dekat Dion.

__ADS_1


Dion yang merasa tak asing dengan suara itu, dengan cepat mendongak menatap orang itu. "Eh! Baru saja, kalian baru datang?" tanya Dion.


Leon dan Risma duduk di depan Dion. "Baru saja dan liat kamu menyendiri duduk di sini," ujar Leon.


Dion menatap Leon dengan serius karna dia merasa ada yang beda dengan Leon hari ini.


"Ka Leon, tumben wajahnya ceria banget hari ini?" tanya Dion yang melihat perubahan Leon.


"Biasa aja." Leon memanggil kariawan untuk memesan minuman untuknya dan Risma.


"Ada apa, Ris?" tanya Dion.


"Oh itu, mungkin karna habis nangis kali," jawab Risma dan tersenyum. Sedangkan Leon yang mendengar perkataan Risma dengan cepat menatap Risma dengan tajam.


"Kok habis nangis, padahal setahuku Ka Leon tak pernah nangis kecuali hal serius. Emengnya kenapa?"


"Karna-" Belum sempat Risma menjawab pertanyaan Dion, Leon sudah menutup mulutnya denga tangan sebelah kirinya.


"Kamu mau buat suamimu malu?untuk apa juga menjelaskan padanya, sedangkan dia juga tidak mengerti," jelas Leon.


Dion semakin bingung dengan kedua pasutri di depannya dia mengerutkan kening sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Kamu cubit Kakak aku yah?" tanya Dion dan membuat pasangan itu terdiam menatapnya.


Risma membuka tangan Leon yang masih menutup mulutnya. "Enak saja. Aku tidak cubit dia tapi dia itu nangis karna cemburu," cerocos Risma tanpa melihat Leon yang sudah malu.


"Terus?"


"Aku jelasin kalau aku tidak ada hubungan dengan orang itu selain berteman, tapi dia sudah nangis terlebih dahulu sampai matanya bengkak," ucap Risma.


"Kenapa wajahnya kembali ceria lagi?" tanya Dion lagi.


"Itu karna dia mengakui kalau dia juga sudah cinta sama aku, ternyata tidak sia-sia air mataku yang mahal ini keluar. Akhirnya cinta aku terbalaskan juga," jawab Leon dengan cepat.


"Jadi ceritanya sudah saling cinta nih?" Dion menatap pasangan itu bergantian dan senyum-senyum sendiri.


Leon merangkul bahu Risma lalu tersenyum pada Dion, sedangkan yang dirangkul hanya tersenyum dan menunduk malu dengan wajah yang semakin bersemuh merah bagai tomat matang. Tadinya dia yang ingin membuat Leon malu tapi sekarang dia yang malu besar karna ulahnya sendiri.


"Jadi, tidak lama nih aku jadi Paman," ucap Dion sambil menaik turungkan alisnya dan tertawa.


"Tenang saja, kamu maunya berapa?" tanya Leon. Dia membalas canda Dion dan tertawa pada Dion.


Risma mencubit perut Leon dengan keras karna semakin malu dengan kata-kata kakak-beradik itu.


"Kenapa dicubit sih, Sayang." Leon menatap Risma yang menunduk, merasa besalah dengan perkataannya tadi, Leon menarik Risma dalam dekapannya dan sesekali mencium pucuk kepala Risma.


"Maaf, kami cuman bercanda," ucap Leon. Risma hanya menganggukkan kepala pelan dan menyembunyikan wajahnya di dada Leon.


Mereka kembali melanjuti percekapan hal biasa saja saat pesanan mereka sudah sampai, sesekali Dion menggoda kakak iparnya dengan meminta dibuatkan kaponakan yang lucu, sedangkan yang digoda selalu saja diam tersipu malu.


"Aku pergi dulu sebentar," ujar Leon.


"Kemana?" tanya Risma.


Leon mengusap pipi Risma dengan lembut dan tersenyum. "Hanya sentar kok," ucapnya.


"Tenang saja dia tidak akan keluar dari caffe ini," sambung Dion.


Risma menatap Dion dengan penuh keheranan. "Maksudnya?"


"Aku mau masuk ke dalam dulu, ngecek kariawan. Apa pekerjaan mereka semua baik-baik saja dan tidak membuat aku kecewa," jelas Leon.

__ADS_1


"Jadi...," pikir Risma.


"Iya, ini caffe aku sendiri," ucap Leon.


Risma pun mengangguk memberi tanda dia telah memberi Leon pergi. Leon pun pergi ke dalam untuk melihat kerja kariawannya, karna Leon baru sempat pergi melihat caffenya selama setelah pernikahan dia dan Risma. Caffe ini adalah pemberian ayah Leon untuknya, supaya Leon ada pekerjaan untuk membiayai kehidupannya dengan Risma, sekarang dia punya tanggung jawab besar karna sekarang dia tidak sendiri lagi, tapi ada istri yang harus dia nafkahi.


Setelah Leon pergi, Dion dan Risma kembali membicarakan hal-hal tentang Leon selama mereka menikah dan kepada siapa Leon cemburu.


"Dia cemburu sama siapa sih, Ka


ipar?" tanya Dion dengan kedua tangan menopang dagunya.


"Berhenti memanggilku Kakak ipar Dion, bagaimna kalau ada yang dengar," ujar Risma mengingatkan pada Dion.


"Tapi kamu memeng Kakak iparku."


"Iya, aku tahu tapi sekarang ada di luar rumah, kamu bole panggil itu jika kita di rumah."


"Baiklah, terus dengan siapa Ka Leon cemburu," tanya kembali Dion.


"Sama Riki, teman sekelasnya," jawab Risma.


"Riki, bukannya itu pacarnya Si cerewet," ucap Dion.


"Hem. Riki itu sahabat aku dari Dulu dan sebenarnya aku dan Riki itu sepupuan, Mamanya itu adik Papa aku." ujar Risma.


"Kok bisa, tapi kenapa pas kalian nikah dia tidak ada?"


"Aku sengaja tidak mengundang dia. Soalnya mulut dia itu juga ember sama seperti pacarnya, bisa-bisa rahasia ini terbongkar," jelas Risma.


"Betul juga, tapi apa Ka Leon tahu kalau kalian sepupuan?"


"Sudah aku jelaskan tadi, karna dia sudah menangis mirip anak kecil yang tidak diberi mainan," ucap Risma.


"Tapi jujur saja ini pertama kali dia menangis, pasti dia sangat takut kehilangan kamu," ujar Dion.


Risma tertawa mengigat Leon tadi menagis sampai matanya agak bengkak karna cemburu pada Riki. Sedangkan Dion tertawa membayangkan Leon menangis seperti anak kecil saja karna kecemburuannya pada sepupu Risma dan otomatis itu Iparnya juga.


Di tempat lain ada yang merasa aneh dalam hatinya melihat kedua orang itu tertawa seperti sepasang kekasih saja. Ya, dia adalah Anisa Fayuna yang bekerja sebagai kariawan di caffe 'ZIZY' dan caffe itu adalah milik Leon. Tapi Anisa Fayuna tidak tahu kalau Dion adalah iparnya Risma, yang dia tahu Dion adalah anak baru di sekolahnya yang selalu dekat dengan Risma, bahkan yang dia tahu Dion duduk sebangku dengan Risma. Melihat malam ini kedekatan Risma dan Dion, dia semakin yakin kalau mereka adalah sepasang kekasih. Sebenarnya sejak pertemuan mereka itu hari, dia sudah mulai menyukai Dion dalam diam karna merasa pria itu adalah orang baik dan saat dia mencari tentang Dion yang selalu bersama Risma bahkan mereka sebangku, dia merasa ada rasa sakit hati dan rasa cemburu di dalam sana. Tapi dia memilih diam saja, dia pun memilih pergi dari sana dan mengerjakan tugasnya yang lain.


Setelah beberapa menit Leo datang menghampiri istri dan adiknya.


"Maaf, aku lama." Leon duduk kembali di dekat Risma.


Risma tersenyum menyambut kedatangan suaminya. "Tidak kok," ucapnya.


"Kalian gosipin aku yah?"


"Sedikit, tentang kamu menagis tadi, supaya Dion tahu kelakuan kamu di rumah," jujur Risma.


"Siap-siap kamu dapat hukuman nanti karna sudah gosipin suami sendiri," bisik Leon dekat telinga Risma.


Risma denga cepat memengan lehernya karna pasti Leon akan membuktikan ucapannya tadi dan tentu lehernya atau bibir yang menjadi sasaran empuk Leon seperti kebiasaannya selama ini.


Leon yang melihat Risma memengang lehernya karna tahu maksud perkataannya tadi, dia tersenyum kemenangan karna membuat Risma ketakutan.


"Tenang saja, palingan cuman beberapa tanda saja kok," sambungnya lagi dan berbisik.


Risma dengan cepat mencubit lengan Leon. Leon tertawa melihat ketakutan dan kemarahan di wajah istrinya dan semakin menambah imut saja. Dion juga ikut tertawa dan menggeleng kepalanya melihat tingkah Leon dan Risma, dia juga merasa bahagia melihat pasangan itu yang akhirnya sudah saling mencintai walaupun awalnya mereka hanya dijodohkan bahkan mereka tidak dipertemukan sama sekali, mereka hanya bertemu saat di hari pernikahan. Tapi sekarang sudah saling cinta satu sama lainnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2