
Sepulang dari sekolah Risma dan Leon sudah berada di dapur, sedang memasak untuk makan siang mereka. Hari ini seperti hari biasanya mereka memasak bersama, karena menurut mereka lebih baik melakukannya bersama biar cepat selesai dari pada dikerjakan sendiri saja.
Setelah semuanya sudah selesai Leon membawa semua makanan ke atas meja makan dan menaranya dengan rapi, sedangkan Risma mencuci alat masak yang tadi dipakainya.
"Ka, pergilah mandi," suruh Risma.
"Baiklah." Leon pergi membersihkan diri terlebih dahulu karena pekerjaannya sudah selesai.
Setelah beberapa menit Leon keluar dari kamarnya dengan wajah yang sudah terlihat fresh. Leon menghampiri Risma yang sedang duduk di sofa menunggu Leon keluar.
"Sekarang giliranmu," ucap Leon.
Risma mendongak melihat wajah Leon. "Wah, suamiku terlihat semakin tampan saja," goda Risma.
Leon duduk di dekat Risma dan mengerutkan Keningnya. "Lagi sakit?"
Risma menggeleng dengan heran. "Terus, tumben memujiku?
"Bukankah suamimu ini memang tampan dari dulu? Apa kamu baru sadar?" sambungnya lagi.
"Ya ampuun, dia terlalu percaya diri," gumam Risma.
Tapi Leon masih mendengar gumaman istrinya. "Itu kenyataan, Sayang."
"Ok, ok. Ka Leon memang dari dulu tampan," lirih Risma.
"Nah, itu tahu."
"Tidak ada penghargaan nih?" tanya Leon. Dia tersenyum dengan wajah menggodanya dan membuat Risma merasa sedikit curiga melihatnya.
"Penghargaan a-apa?"
Leon menunjuk pipi kanannya menandakan dia minta ciuman dari istrinya itu, tapi sepertinya Risma tak menyetujui permintaan suaminya.
"Aku mau mandi dulu." Risma berdiri melangkahkan kakinya menuju ke kamar dengan buru-buru.
Leon hanya tertawa melihat tingkah istrinya dengan wajah yang mulai bersemu merah.
.
.
Risma dan Leon sudah berada di meja sedang makan bersama, tak berapa lama mereka sudah selesai dengan ritual makannya dan bersama-sama membersihkan piring yang kotor.
"Sudah selesai," ucap mereka serempak.
Mereka berjalan menuju ke sofa ruang tengah, Risma duduk dan mengambil remot dan menyalakan TV. Sedangkan Leon langsung baring dan berbantahan paha Risma.
"Ka, jangan baring dulu, 'kan baru saja selesai makannya." Risma mendorong kepala Leon yang berada di pahanya.
"Aku mengantuk, biar begini dulu ya? Sebentar saja," ucap Leon kembali merebahkan kepalanya di paha Risma.
"Tapi, Ka-"
__ADS_1
"Sebentar saja, Sayang." Leon menatap Risma memperlihatkan wajahnya imut.
Risma tersenyum melihat Leon lalu mengangguk. Leon langsung memeluk pinggang ramping istrinya, dia menenggelamkan wajahnya di perut rata itu dan sesekali menciumnya. Risma hanya tersenyum geli saat Leon melakukannya, tangan Risma sedang menyisir rambut Leon dengan lembut.
Kini Leon mengeluarkan dengkuran halus dari mulutnya sehingga membuat Risma terkekeh pelan mendengarnya.
Semakin hari hubungan mereka semakin romantis saja dan tingkah Leon semakin manja pada istrinya. Sepertinya ini terbalik deh, biasanya itu istri yang manja. Tapi ini Leon yang manja pada istrinya dan kadang bertingkah merajuk persis anak kecil jika permintaannya tak dituruni olah Risma.
Risma juga tak pernah mempermasalahkan suaminya yang manja. Dia malah senang dengan tingkah suaminya karena kadang membuatnya tertawa melihat wajah imut super manja itu.
.
Setelah ada 1 jam lebih Leon terbangun dari tidurnya dan melihat wajah istrinya yang masih setia menyisir rambutnya sambil menonton film kesukaannya.
Karena merasa ada pergerakan di bawa sana, Risma menatap wajah suaminya yang baru saja bangun tidur.
"Nyenyak tidurnya?"
"Hem." Leon bangun dari pembaringannya dan melirik jam yang berada di dinding.
"Sayang, aku mau keluar sore ini, ada hal penting yang harus aku urus," ucap Leon.
"Apa lama?" tanya Risma.
"Mungkin, aku pulang sebelum makan malam," ujar Leon.
"Baiklah."
Leon tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut, lalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
.
"Iya, Hati-hati di jalan dan jangan ngebut bawah mobilnya," ucap Risma dan dapat anggukan dari Leon.
Leon mencium kening Risma dengan lembut dan Risma menyalin tangan Leon serta menciumnya dengan takzim. Setelah berpamitan Leon pergi ke sesuatu tempat untuk mengurus sesuatu.
Risma masuk ke dalam saat punggung Leon tak terlihat lagi.
"Aku harus ngapain ya?" gumamnya.
Dia teringat sesuatu yang sudah lama tak dia kunjungi lagi. "Oh iya, lebih baik aku pergi ke sana. Apa lagi aku juga sudah rindu," monolognya.
Setelah selesai bersiap-siap dan pakaiannya juga sudah dia ganti dengan baju kaos warna putih, celana levais panjang dan separuh putih, tak lupa pula dia membawa tas nya.
Risma berjalan keluar dari apartemen nya dengan buru-buru karena taksi yang dia hubungi tadi sudah menunggunya.
.
.
Seorang gadis sedang melangkahkan kakinya masuk ke sebuah ruangan yang bernuansa serba putih dan berbaur dengan obat-obatan. Gadis itu menghampiri sebuah ranjang yang di atasnya sedang ada seorang pria terbaring lemah dengan selang infus bersarang di tangan kanannya dan selang oksigen terpasang di hidungnya.
"Hai, apa kabar. Apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Maaf, aku baru ada kesempatan menjengukmu," sambungnya lagi.
Gadis itu tersenyum dan duduk di kursi samping ranjang dan mengemgam tangan yang terasa dingin dan lemah itu.
Pria itu tersadar karena merasa tangannya di gengam oleh seseorang. Dia tersenyum setelah melihat wajah yang berada di depannya, jujur dia juga sudah rindukan gadis itu karena sudah lama tak mengunjunginya lagi.
"Apa aku hanya berhalusinasi?" gumamnya.
"Tidak, ini nyata," ucap gadis itu.
Pria itu tersenyum bahkan meneteskan air mata karena merasa bahagia. "Terimakasih," ucapnya pelan.
Gadis itu mengangguk dan mengusap air mata yang sudah membasahi pipi pucat pria itu.
"Maaf ya, aku baru datang sekarang," ucapnya.
"Hem, tapi aku sangat rindu padamu sudah 1 bulan ini kamu tak menjengukku," ujar sang pria.
Gadis yang tak lain adalah Risma hanya diam dan mengusap lembut tangan lemah pecat itu.
"Aku juga rindu, tapi aku sibuk di sekolah," jelasnya.
"Baiklah, aku percaya."
"Apa kamu sudah makan?" tanya Risma.
Pria itu hanya menggeleng lemah. "Biar aku suap ya?" Risma mengambil mangkok yang berisi bubur di atas nakas samping ranjang.
Risma menyuapi nya dengan telaten, setelah beberapa menit pria itu pun menghabiskan buburnya.
"Terimakasih, sudah mau menghabiskannya," ucap Risma.
"Justru aku yang harus berterimakasih karena sudah menyuapiku," jelasnya.
Mereka saling melepaskan rindu dengan berbicara banyak hal, pria itu sangat merasa senang karena Risma akhirnya datang juga menjenguknya dan menghabiskan waktu yang banyak untuknya kali ini.
Risma melirik jam yang sudah menunjuk pukul 7 malam dan baru teringat sesuatu kalau tadi dia tak pamit pada Leon, bahkan tak memberikan kabar kalau dia sedang pergi.
"Hem... Der, aku pulang dulu ya, soalnya ini sudah malam. Kamu juga harus istirahat biar cepat sembuh," ucap Risma.
Pria itu yang bernama Deren hanya mengangguk pelan walaupun sebenarnya dia belum mau ditinggal lagi dengan Risma. Tapi dia tak mau egois apa lagi dia tahu kalau Risma harus bersekolah besok.
"Hei, jangan sedih. Aku janji akan sering datang ke sini kok," ujar Risma.
"Baiklah, tapi janji ya?" Deren mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari kelingkingnya.
Risma tersenyum dan menautkan jari kelingking dengan jari kelingking Deren lalu mengangguk.
"Aku pergi dulu ya? Cepat sembuh." Deren hanya mengangguk pelan lagi, Risma berdiri lalu mengecup kening Deren sekilas.
Risma membenarkan selimut Deren sebelum keluar, sedangkan Deren memilih memejamkan matanya untuk menuju ke alam mimpi.
.
__ADS_1
.
.