
Setelah dua malam menginap di rumah sakit, kini Risma sudah berada di kediaman mertuanya. Sebenarnya, Pak Andi dan istrinya belum mau jika menantunya keluar dari rumah sakit, mereka masih khawatir pada kondisi menantunya, tapi atas bujukan Risma, akhirnya Pak Andi dengan berat hati menuruti kemauan menantunya.
Tapi dengan satu syarat, Risma harus tinggal dulu di rumahnya, tidak lupa pula, dia sudah menyuruh Dion untuk menjemput Deren.
Sudah dua hari pula Deren merengek untuk bertemu dengan Risma, katanya dia rindu. Saat Dion memberi tahu kalau Risma berada di rumah sakit, Deren pun langsung sedih. Dia sangat ingin bertemu dengan Risma tapi jika di rumah sakit, Deren tidak mau, alasan takut.
Risma, dia masih tetap sama. Masih mendiamkan suaminya, rasa kecewa masih tersemat di hatinya jika melihat wajah Leon. Sementara Leon, dia kadang menangis dalam diam jika tidak ada yang melihatnya.
Leon juga bigung dengan keadaannya yang kini suka berubah-ubah, kadang sedih, kadang cuek dang kadang juga marah-marah tanpa jelas.
Kadang Leon ingin bermanja pada istrinya, seperti dulu yang sering dia lakukan, tapi jika mendekati istrinya, bukannya mendapatkan respon yang dia inginkan, Leon malah mendapatkan rasa kecewa karena dicuek oleh Risma.
Setelah tiga malam berada di rumah mertuanya, Risma mulai berbicara pada mertuanya, tapi tidak dengan Leon. Seperti malam ini, malam ke empat, saat berada di dalam kamar, Leon menghampiri Risma yang sedang berbaring di ranjang.
"Apa, sudah tidur?" ucapnya, saat sudah duduk di sebelah istrinya, tapi dia masih tidak mendapatkan jawaban.
"Sayang, bicaralah. Setidaknya jangan mendiamkan aku seperti ini terus," mohonnya.
Karena masih tetap tidak mendapatkan respon, Leon pun hanya mendesah pelan.
"Yah, sudah. Tidurlah yang nyenyak." Tidak lupa pula, dia memberikan kecupan hangat di kening sang istri, setelah mengucapkan selamat tidur.
Leon ikut merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya, Leon juga merasa lelah akhir-akhir ini. Leon menarik selimut untuk menutupi badannya dan memunggungngi Risma, rasa sedih muncul lagi, air matanya sudah tidak bisa dibendung, bahunya mulai gemetar menahan isak tangisnya, agar tidak bersuara, bahkan dia juga menggigit jarinya sendiri biar tangisnya tidak di dengar Risma.
Risma membuka matanya, dia menatap punggung Leon yang sedikit bergetar, Risma tahu kalau saat ini suaminya menangis lagi.
Risma juga merasa kasihan pada Leon, yang selalu mengemis padanya untuk mendapatkan maaf. Bohong jika dia juga tidak merindukan kemanjaan Leon, hanya saja dia masih kecewa.
Punggung Leon semakin bergetar, isak tangisnya kadang terdengar walaupun terdengar lirih.
Puk!
Risma menepuk punggung Leon dengan pelan, dia juga tidak ingin mendapatkan dosa dan dicap sebagai istri durhaka karena tidak mau menerimah maaf dari suaminya.
Merasakan tepukan di punggungnya, Leon langsung menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya, lalu berbalik, berhadapan dengan Risma.
"Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Risma menggeleng, dia menatap mata sembab suaminya, masih ada sisa air mata di sana.
"Sa--sayang, aku ... aku benar-benar minta maaf." Air matanya kembali menetes, Leon membenci dirinya saat ini yang selalu menangis.
Risma hanya diam menatap Leon.
"Sayang, bicarahlah. Jangan mendiamiku terus. Aku ... aku tidak sanggup." Leon semakin terisak, walaupun sudah menahannya tetap saja tidak bisa.
__ADS_1
"Maaf," ucapnya lirih, lalu kembali menutup mata.
"Tidurlah, jangan menangis terus." Ini adalah suara pertama Risma yang menegurnya selama tiga hari.
Leon membuka matanya, dia tidak menyangka jika Risma kini mulai berbicara padanya.
"Sayang, Aku--"
"Sudah, tidurlah." Risma mengusap air mata suaminya, kini mata itu terlihat sembab dan sedikit bengkak.
Rasa sedih dan kasihan muncul saat melihat keadaan Leon, dia baru sadar, ternyata bukan hanya dia yang merasa terpukul dengan keadaan. Tapi, ada Leon yang lebih terpukul lagi.
Sreekk!
Puk!
Melihat Leon yang masih tetap menangis, Risma pun langsung menarik Leon ke dalam pelukannya. Berharap itu bisa membuat suaminya menghentikan tangisnya. Mendapatkan perlakuan istrinya, bukannya diam, Leon malah semakin menumpahkan tangisnya di dada sang istri. Tidak lupa pula, Leon melingkarkan tangannya di tubuh sang istri, seakan tidak ingin pelukan istrinya terlepas.
Risma juga ikut meneteskan air matanya, mendengar isak tangis Leon yang semakin memilukan, malah membuatnya juga ikut menangis.
"Sudah. Tidurlah," ucap Risma.
Mendengar suara Risma, Leon sedikit memundurkan kepalanya, mendongak, lalu menatap wajah istrinya yang juga kini menatapnya.
Memberi kecupan di kedua mata sang suami, terakhir mengecup dengan lama di kening suaminya, lalu menarik kembali Leon untuk masuk ke dalam pelukannya, dapat dia rasakan jika tubuh sang suami agak sedikit kurus.
'Apa selama ini aku terlalu kejam?' batinnya.
Merasa mendapatkan maaf dari Risma, Leon mulai tenang, dia tidak lagi menangis, hanya sesekali sesegukan dan menarik nafas panjang, mungkin itu sisa tangisnya tadi.
"Maaf, jika selama ini aku terlalu kejam," ucapnya lirih dan ikut menutup mata.
Akhirnya, malam ini Leon mendapatkan maaf juga dari sang istri, tidak sia-sia selama ini untuk meminta maaf terus. Malam ini pula, Leon bisa tidur nyenyak, mendapatkan maaf sekaligus pelukan hangat sang istri yang selama ini dia rindukan.
••
"Aa--ampuun ... aku mohon. I--ini sungguh sakit," eluh seseorang.
"Apa, katamu? Ampun?!" bentak seseorang.
"Cambuk terus!" perintahnya.
Kini wanita itu sungguh sudah lemah karena menerima terus siksaan setiap hari, ini sudah hari ke 8. Mereka berdua selalu meminta maaf, tapi apa yang mereka dapat? Malah mendapatkan cambukan lagi dan lagi, bahkan semua ujung jarinya meneteskan cairan merah yang kental.
__ADS_1
"Ampun, aku mohon. Apuni ka--kami."
"Tiada ampun bagi kalian. Kalian tahu? Gara-gara kalian, gadis kecilku menderita lagi. Maka, sekarang kalian mendapatkan balasannya."
Orang itu yang tak lain adalah Giovanni, dia sedang duduk di sofa empuk. Sementara dua gadis yang sedang diikat kedua tangannya, digantung ke atas kepala mereka. Cambuk karet tidak henti-hentinya mereka dapatkan di seluruh tubuhnya.
Giovanni seakan tidak puas melihat siksaan itu, baginya, siksaan merak belum setara dengan penderitaan gadis kecilnya atau yang tidak lain adalah Risma.
"Gara-gara perbuatan kalian juga, Gadis kecilku malah kembali membenciku lagi. Bahkan dia tidak mau mengakuiku." Giovanni kembali bersuara dengan mata memerah.
"Tapi, ka--kami tidak melakukan apapun," eluh salah satu gadis itu.
"Apa, katamu?!"
Skkkk!
Plak!
"Aakhh ... aakhh, hiks, hiks ... a--amp--uun."
Plak! Plak!!!
Bukan hanya cambuk yang mereka dapat, tapi mereka juga mendapatkat pukulan dari kayu yang selebar tiga jari di baguan betis mereka.
Kali ini seorang wanita cantik yang memberi merela pukulan, wanita itu merasa geram dengan perkataan kedua gadis itu yang tidak mau mengaku kesalahan mereka.
"Wanita si*l*n! Kenapa masih ada wanita bu**k seperti kalian yang hidup di Bumi ini, HAHH?!" bentaknya penuh emosi.
"Nona, sudah. Kamu bisa membunuhnya!" Seorang pria datang dan menankap tangan gadis yang sedang marah itu dan beberapa kali melayangkan pukulan.
"Biarkan saja, wanita ibl*s seperti mereka hanya pantas berada di Neraka. Aku ... aku yang akan mengirim mereka kesana."
"Qi, sudah. Jangan mengotori tanganmu dengan cara menghajar mereka. Biarkan saja algojo yang menghajarnya," ucap Giovanni yang mencoba menghentikan amukan Qi.
Wanita yang bernama Qi ini, memang sangat susah dihentikan jika sudah sangat marah dan mengamuk. Dia hanya mendengar ucapan atau teguran Giovanni saja. Mungkin karena Giovanni adalah suami dari sepupunya.
••
.
.
.
__ADS_1