Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
48


__ADS_3

Pov Risma


Setelah bertemu dengan Kavan, aku mulai merasa takut, bukan karena apa. Tapi aku takut jika suamiku mengetahui yang sebenarnya dan meninggalkanku.


Sebenarnya, aku sudah tahu jika Kavan sudah kembali ke Indonesia. Sama sekali tak ada niat untuk bertemu lagi dengannya.


Benci?


Ya, aku sangat membencinya! karena dia meninggalkan aku saat acara Hari jadi waktu itu akan dimulai. Dia memilih pergi bersama orang yang dicintainya, sementara aku tetap menunggunya hari itu.


Setelah mengetahui bahwa dia pergi, aku mengejarnya ke bendara. Tapi sial menghampiriku, malam itu aku kecelakan dan hampir saja aku kehilangan nyawa.


Tapi malam itu aku malah senang jika aku meninggal, setidaknya aku bisa melupakan pria brengsek itu selamanya.


Mama, papa dan ka Baim memintaku melupakannya. "Untuk apa kamu memikirkannya, dia saja sama sekali tidak peduli lagi denganmu." Itu adalah perkataan mereka.


Aku pun berjanji pada mereka untuk tidak lagi memikirkannya apa lagi sampai menemuinya lagi.


Tapi, kemarin aku bertemu dengannya saat dia menolong Deren yang hampir saja tertabrak mobil.


Saat mengetahui bahwa yang telah menolong Deren itu adalah si brengsek itu, aku pun mengajak Deren pergi tanpa memperdulikan dia yang terluka di sudut keningnya.


Aku sangat membencinya!


Tidak ada niat lagi ingin bertemu dengan Kavan, tapi Riki malah membawaku bertemu dengannya, andai saja aku tahu jika Riki mengajakku untuk bertemu, sudah pasti aku menolak.


Tapi setelah bertemu dengannya, aku tak bisa lagi berbohong pada diriku sendiri.


Ya, aku juga sangat merindukannya, walaupun aku sangat membencinya, tapi rasa sayangku padanya masih ada dan setelah dia pergi aku hanya memendam rasa rindu itu, tanpa ingin memberi tahu kepada siapa pun.


Aku membencinya karena dia pergi saat hari itu tanpa ada penjelasan, bahkan aku juga tidak tahu apa yang membuatnya pergi.


Tapi mama dan papa memberi tahu ku kalau Kavan pergi malam itu karna ingin menikahi kekasihnya yang berasal dari negara asing.


Aku sangat marah, karena dia sama sekali menyembunyikan hal besar ini dari ku. Padahal kami sangat dekat, bahkan aku selalu pergi kemana pun dia pergi, tapi mengapa bisa aku sama sekali tidak mengetahui kalau dia punya kekasih bahkan ingin menikahinya.


Setelah pertemuan itu, aku meminta pada Kavan, untuk tidak lagi menemuiku karena takut jika Ka Leon mengetahui siapa sebenarnya Giovanni itu dan malah membenciku atau malah menceraikan ku.


Oh Tuhan! Semoga itu tidak terjadi, semoga saja Ka Leon tidak menceraikanku karena merasa jijik punya istri seperti ku. Aku tak tahu lagi harus kemana jika Ka Leon akan meninggalkanku, aku sudah tak punya orang tua, sementara ka Baim sudah pergi ke luar Negri karena mengurus perusahaan papa yang hampir bangkrut.


Kavan malah memintaku untuk mempertemukannya dengan suamiku ingin menjelaskan semuanya, katanya dia sudah bertemu dengan Ka Leon di perusahaan papi saat ingin menjalin kerja sama. Ternyata yang ka Leon temui tamu besar dari luar negeri waktu itu adalah adalah Kavan.


Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan pada ka Leon, saat pertama menikah dengannya, ka Leon bertanya padaku, "apa kamu menyembunyikan sesuatu padaku?" Aku pun menjawab, "tidak ada." Aku masih takut jika memberi tahunya apa lagi mama dan papa memintaku untuk melupakan Kavan untuk selamanya apa lagi menganggap orang itu masi ada di dunia ini.


Mama dan papa sangat marah pada Kavan, jangankan bertemu, menyebutkan nama Giovanni saja didepannya, mereka sangat murka, mereka juga menganggapnya kalau yang bernama Giovanni ini suda mati.


Entahlah sampai kapan rahasia ini aku sembunyikan pada suamiku. Riki juga sudah memberi usul untuk menjelaskan pada Ka Leon, tapi aku tetap untuk memilih akan menjelaskan jika waktunya sudah tepat dan semoga saja Ka Leon bisa menerimanya juga.



Pov Author.


Hari ini adalah hari pertama ujian akan dimulai, Leon sudah tidak demam lagi, tapi rasa mualnya kadang datang menghampirinya.


Leon berusaha menahan rasa mual itu agar tidak muntah saat ujian dimulai, Risma pun memberi tahu jika sudah selesai ujian suaminya harus istirahat saja di UKS, dia akan menemui suaminya di sana.


Setelah ujian pertama selesai, Leon langsung pergi ke UKS dan ternyata tak lama setelah berbaring di ranjang, istrinya datang bersama Dion.


"Ka, apa masih mual?"


"Hm, sedikit. Apa sudah makan?" tanyanya pada sang istri.


"Aku belum lapar, apa ka Leon sudah lapar?"


"Tidak, pergilah makan dulu, jangan sampai kamu juga sakit seperti ku."


"Tidak, aku hanya ingin menjaga Ka Leon. Dion kamu pergi saja ke kantin, tapi aku titip ya." Dion hanya mengangguk saat iparnya berucap.


"Ya sudah, aku pergi dulu." Dion pun pergi ke kantin meninggalkan Leon dan Risma.


"Apa kepalanya masih sakit?" Leon mengangguk.


"Biar aku pijitin, ya?" Risma pun memijit kepada Leon dengan pelan sengaja Leon merasa jaman dengan pijitin istrinya.


Cup! Cup!


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Leon membuka matanya menatap sang istri yang masih tetap menciumnya.


"Tidak, aku hanya ingin mencium kepala suamiku saja. Sepertinya aku sudah tercandu dengan bau wanginya."


"Kenapa hanya kepala saja, kenapa bukan di pipi atau di bibirku ini?"


"Bilang saja kalau ka Leon ingin mendapat untung," ketusnya.


"Jadi, ceritanya tidak mau nih?" godanya, sambil menaik turunkan alisnya sambil menatap sang istri.


"Tidaklah, apa lagi ini 'kan di sekolah Ka, bagaimana jika ada yang melihat kita?"


"Apa masalahnya kita sudah sah, lagi pula mereka mengetahui kalau kita ini sepasang kekasih. Ayolah, mau ya?" Leon kembali membujuk istrinya untuk mendapatkan ciuman.


"Tapi-" Ucapan Risma terpotong saat benda kenyal itu sudah mendarat, saat ingin mendorong dada bidang suaminya, Leon malah semakin menahan tubuh istrinya dan malah menariknya kedalam pelukannya, bahkan menggigit benda kenyal itu agar tidak terlepas.


Alhasil Risma hanya menurutinya saja, dari pada bibirnya terluka karena Leon menggigitnya.


"Hemphh...." Risma menepuk dada suaminya saat pernafasan nya mulai menipis. Karena tidak ingin istrinya pingsan disebabkan nafas, akhirnya Leon melepaskan istrinya lalu mengusap benda kenyal itu yang basah dan memerah.


"Terima kasih, sayang." Risma mengangguk saja dia masih mengatur pernafasan nya yang hampir habis.



Kini pelajaran kedua sudah dimulai, semua siswa fokus pada lembar ujian di depannya, setelah beberapa menit Leon berdiri dan menyerahkan lembar ujiannya pada guru pengawas, tidak begitu lama Elsa menyusulnya.


"Leon tunggu. Ada yang ingin aku sampaikan," ucapnya saat sudah berada di depan kelas.


"Apa?"


"Kita bicaranya di taman saja. Ini penting, karena menyangkut Risma." Elsa mulai berjalan menuju taman dan mendahului Leon.


"Is- ... Maksudku, ada apa dengan Risma?" tanya Leon.


"Aku akan menjelaskannya di taman." Tanpa berbicara lagi, Elsa langsung pergi, mau takau Leon akhirnya mengikuti saja, dia juga pemasaran dengan perkataan Elsa tentang istrinya.



"Apa yang ingin kamu jelaskan?" tanya Leon saat sudah sampai di taman


"Ternyata wanita yang sangat kamu cintai itu, bukanlah wanita baik-baik." Elsa menjawab sinis.


"Apa maksudmu, Elsa!"


"Sepertinya kamu terlalu bodoh, tidak bisa membedakan yang mana baik dan yang mana buruk," jawab Elsa.


"Tidak usah bertele-tele, Elsa! Aku tidak suka banyak cing-cong!"


"Wanita yang begitu kamu cintai telah berselingkuh di belakangmu, bahkan mereka sedang berpelukan mesrah di taman kemarin dan bahkan mereka saling menikmati momen itu." Elsa kembali memanasi Leon karena dia sudah melihat wajah Leon yang berubah.


"Apa buktinya kalau mereka selingkuh di belakang ku?" Leon berucap dengan rahang yang mulai mengeras dan wajah yang memerah menahan emosi.


Elsa menyerahkan hpnya pada Leon yang di layarnya sudah terpampang foto Risma yang sedang berpelukan dengan Giovanni kemari di taman. Ternyata orang yang kemari mengambil gambar itu adalah Elsa bersama Dira.


Leon mengerutkan keningnya saat melihat foto itu, foto tersebut benar adalah Risma, tapi pria itu tidak terlalu jelas di lihatnya. Tapi Leon percara dengan foto itu karena baju yang Risma pakai kemarin sama persis yang berada di HP Elsa. Jadi tidak salah lagi kalau itu benar-benar istrinya bersama pria lain


Leon menyerahkan HP Elsa setelah menfirim foto itu ke HPnya dan langsung pergi ke arah parkiran dengan wajah yang semakin memerah, rahang mengeras bahkan kedua mata Leon juga iku memerah menahan emosinya.


Sementara Elsa hanya tersenyum lihat kepergian Leon. "Ternyata Berhasil. Sebentar lagi Leon akan menjadi milikku seutuhnya, sementara jal*ng itu pasti akan di tinggalkan oleh Leon. Salah! Leon akan membencinya." Elsa tersenyum licik penuh kemenangan, karena impiannya sebentar lagi akan terujud.


'Inilah akibatnya jika kamu membantah ku jal*ng! Sepertinya kehilangan orang tuamu belum membuatmu menyerah. Jadi jangan salahkan aku,' batin Elsa.



"Maaf, Ka. Aku lambat datangnya," ucapnya saat sudahasuk ke dalam mobil suaminya.

__ADS_1


Leon tidak menjawab, dia masih kepikiran tentang foto itu.


Apakah benar istrinya selingkuh?


Itulah yang selalu mengisi pikirannya.


Leon lansung menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area parkiran sekolah. Setelah hampir satu jam mengendarai mobilnya dengan kecepatan biasanya, mobil Leon telah memasuki pekarangan rumahnya.


Setelah mesin darimana Leon langsung keluar tanpa memperdulikan lagi istrinya yang keterangan dengan sikapnya.


'Ka Leon kenapa ya? Tidak biasanya seperti itu. Mirip anak gadis saja yang moodnya selalu berubah saat datang bulan.' Risma bermonolog dalam hati.


Karena bingung dengan tingkah suaminya hari ini, Risma pun ikut turun dari mobil lalu memasuki rumah besar suaminya.


Karena tidak menemukan suaminya di ruangan bawah, akhirnya dia memutuskan naik ke lantai atas. Sama halnya dia juga tidak menemukan di ruangan TV lantai atas.


"Apa ka Leon langsung mandi ya?" monolognya lagi.


Risma berjalan menuju ke arah pintu kamarnya, setelah pintu kamar terbuka, dia pun melihat bahwa Leon sedang berbaring di atas ranjang dengan lengan kirinya menutupi wajahnya.


Karena tidak ingin mengganggu suaminya, Risma pun menutup pintu dengan pelan lalu berjalan dengan pelan ke meja belajarnya, menyimpan tas lalu memasuki kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dengan keringat.


Saat menjalankan shower untuk membasahi Tubunnya yang sudah tidak mengenakan pakaian.


Pukh!


Deg!


Risma tersentak kaget saat sebuah tangan memegang pundaknya, Risma menengok kebelakang ternyata ada Leon yang berdiri dan menatapnya dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"E-eh, K-ka. Aku mau mandi, kakak keluarlah dulu," mohonnya dengan gugup karena Leon menatap tubuhnya yang tidak tertutupi pakaian lagi.


"Ayo bercinta. Aku menginginkannya sekarang." Leon berucap dengan wajah datarnya.


"T-tapi kita lagi ada di kamar mandi, Ka."


"Ada masalah dengan tempat ini?"


"Ak--"


Chup!


"Tidak ada penolakan!" Leon langsung memulai aksinya, sedangkan Risma hanya pasrah saat Leon menginginkan dirinya.


Risma membuang pikirannya yang aneh-aneh tentang suaminya hari ini, menurutnya mungkin Leon bersikap seperti itu karena nafsunya yang tidak bisa tertahan lagi.



Setelah beberapa jam di dalam kamar mandi memadukan kasih saling menyalurkan kasih sayang dan cinta, walaupun tidak seperti biasanya karena hari ini Leon sedikit kasar. Risma pun tidak tahu mengapa suaminya sedikit aneh hari ini, biasanya juga mereka melakukan ibadah itu di atas ranjang luasnya, tapi hari ini Leon menginginkan di tempat lain.


Risma masih berada di dalam kamar mandi karena memilih merendam dirinya dulu, kakinya terasa ngilu saat berdiri dan bagian perut bawahnya juga terasa keram.


Entah berapa lama Leon melakukannya tanpa berpikir kalau istrinya sudah sangat lelah.


Sementara Leon langsung keluar saat setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Kok aku merasa ka Leon semakin aneh hari ini?"


Setelah merasa cukup kuat untuk berdiri, Risma keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk komono nya dan handuk yang melilit di kepalanya.


"Dia kemana lagi?" Saat keluar dari kamar mandi dia tidak lagi mendapati suaminya di dalam kamar.


Setelah memakai baju dan bersiap-siap, Risma keluar, menuruni tangga satu persatu dengan pelan, masih merasa ngilu di kakinya, dan area sensitifnya juga sedikit perih karena permainan Leon yang sedikit kasar.


"Bi apa ada makanan? Aku sangat lapar," tanyanya pada asisten rumah tangga.


"Ada, Non. Aku sudah siapkan di meja makan," jawab sang asisten.


"Ka Leon kemana ya, Apa bibi melihatnya?"


"Tadi, Tuan Muda pergi bersama Tuan Muda kecil. Tapi aku tidak tahu mereka mau kemana, Non."


"Apa bibi sudah makan? Mari kita makan bersama saja."


"Silahkan, Non. Aku masih kenyang. Aku permisi dulu, mau kebelakang masih ada yang mau dikerjakan, Non."


"Eh, iya Bi."



Risma lagi duduk termenung di atas sofa, ruang keluarga sambil menonton TV. Leon belum juga pulang, entah kemana perginya.


"Ka!"


Risma dikagetkan dengan suara Dion yang memanggilnya sedikit keras, Risma sama sekali tidak menyadari kalau Dion sudah ada disampingnya bahkan sudah beberapa kali memanggilnya.


Walaupun arah penglihatannya kearah TV yang sedang menyalah, tetap saja dia kepikiran dengan yang lain. Akhir-akhir ini dia kepikiran banyak sekali.


Kedatangan Giovanni.


Keanehan Suaminya.


"Ka, kenapa sih? Dari tadi bengong terus," tanya Dion.


Risma hanya menggeleng pelan lalu tersenyum pada adik iparnya, berusaha menutupi yang dia pikirian.


"Deren mana?"


"Lagi keluar sama Ka Leon."


"Hem. Padahal aku ingin menjemputnya karena disuruh, Mami." Dion beralih menatap TV sejenak lalu kembali lagi menatap kakak iparnya.


"Lehernya kenapa memerah begitu, apa lagi elergi?" Dion mengerutkan kening saat tanpa sengaja melihat tanda kepemilikan Leon di sana.


Risma dengan cepat menutupi lehernya dengan kedua tangannya. "Ekh, i-ini bukan apa-apa kok. Hehe...."


"Oh, aku tahu. Ini pasti elergi dari bibir suami mesummu itu 'kan?" tanya Dion dengan menaik turunkan keningnya, menggoda sang kakak ipar sambil cengengesan .


"Jangan bicara seperti itu, terutama jangan mengikuti jejak kakakmu itu."


"Tapi apa salahnya, dia 'kan melakukan hal mesum pada istrinya sendiri," ucap Dion pelan.


"Dion!"


Dion hanya cengengesan melihat wajah kakak iparnya yang memerah karena geram padanya dan campur malu.



Jam 8 malam Leon baru pulang, sedangkan Deren sudah dia antar kerumah maminya karena permintaan maminya sendiri.


Leon memilih keluar tadi sore karena masih emosi dengan perihal foto yang diperlihatkan oleh Elsa, tapi dia juga belum ada bukti kalau istrinya selingkuh dibelakangnya. Takut terjadi apa-apa karena emosi dia memilih keluar dan mengajak Deren untuk jalan-jalan sekaligus menghilangkan emosinya.


Setelah sampai dirumah, Leon langsung menaiki tangga menuju lantai atas, membuka pintu kamar dan langsung menuju kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


Sedangkan Risma yang melihat kedatangan suaminya hanya terdiam, dia masih benar-benar bingung dengan kelakuan suaminya, pasalnya saat masih di ruang UKS suaminya masih berlaku hangat, bahkan masih manja pada dirinya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dan Leon keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang, sementara sebelah tangannya sedang menggosok rambutnya yang basah dengan gandul kecil.


Leon berjalan kearah lemari, membukanya dan mengambil pakaian. Setelah memakainya, dia langsung naik ke atas ranjang, membaringkan tubuh lelahnya tanpa menghiraukan sang istri.


"Ka?"


Tak ada jawaban sama sekali, bahkan Leon tidak membuka matanya.


"Ka Leon kenapa?" Lagi-lagi tak ada jawaban.


"Ka Leon marah sama aku? Tapi, salah aku apa, Ka?" Risma mulai mendekat, duduk di samping disamping suaminya yang sedang terlentang dengan masih menutup matanya.


Mencoba mengguncang tubuh suaminya agar mau berbicara, dia tahu kalau suaminya belum tertidur.

__ADS_1


"Ka, kalau aku ada salah tegur. Jangan diami aku seperti ini, a-aku jadi bingung. Hikss ... Hikss...."


Air mata yang sedari tadi ditahannya kini keluar juga membasahi pipinya.


"Ka, j-jangan diam terus, aku mohon. Setidaknya bicaralah kalau ada yang salah." Risma berbicara sambil mengguncang tubuh suaminya yang masih tetap diam.


Air matanya pun tak henti-hentinya keluar, suami yang ditunggu-tunggu untuk berbicara masih tetap terdiam, seakan menulikan pendengarannya.


"Ka?" Kembali lagi menyentuh lengang suaminya.


"Apa?" Karena tidak tengah lagi mendengar suara tangisan istrinya, akhirnya Leon membuka matanya dan menatap istrinya yang lagi tertunduk karena menangis.


Setelah mendengar suara suaminya, Risma menatap mata Leon yang terbuka. "Kakak kenapa? Kenapa diami aku terus, aku salah apa?"


"Aku tidak suka dengan orang pembohong."


"Maksud ka Leon apa?" Risma heran dengan arah pembicaraan suaminya.


Leon bangun untuk duduk bersila di depan istrinya. "Kemarin kemana saja dan menemui siapa?"


Deg!


Pertayaan itu berhasil membuatnya kaget. Tapi dia berusaha menutupi kegugupan nya.


"Kemarin pagi, aku keluar membeli obat untukmu bersama Deren."


"Apa kau menutupi sesuatu dariku?" Leon kembali lagi bertanya dengan tatapan tajamnya.


"Maaf kalau kemarin aku tidak cerita yang sebenarnya, Ka?"


"Sekarang ceritalah," pinta Leon.


"K-kemarin Deren ... Em ... Anu-" Risma mulai gugup berbicara, dia takut kena marah oleh suaminya karena kemarin lalai menjaga Deren.


"Deren kenapa?"


"Deren h-hampir tertabrak mobil, tapi seseorang menyelamatkannya."


"Apa?! Jadi"


"Maaf, Ka." Risma kembali tertunduk dan menangis karena takut pada suaminya.


Sebenarnya Leon sudah tahu dengan masalah ini karena tadi saat keluar bersama Deren, dia sempat bertanya dengan anak itu. Apakah mereka bertemu dengan seseorang kemarin, terutama dengan seorang pria.


Deren pun menjawab semua pertanyaan Leon, anak itu menceritakan saat dia yang hampir tertabrak mobil. Tapi seseorang menyelamatkannya, sampai-sampai orang itu terluka di sudut keningnya.


Saat ingin kembali menolong pria itu, malah Risma mengajaknya pulang.


Deren juga bercerita kalau kemarin orang itu meminta maaf pada Risma, tapi Risma malah membentaknya dan mengatakan kalau dia sangat membenci pria itu.


"Baiklah, aku bertanya sekali lagi, hadi jawablah dengan jujur." Leon kembali bersuara setelah beberapa menit terdiam.


Risma mendongak menatap suaminya lalu mengangguk pelan.


"Kemarin, apa kamu bertemu dengan seseorang di taman?"


"I-iya."


"Dia siapa?" tanya Leon lagi.


Deg!


Jantungnya kini berdetak lebih kencang, pertanyaan yang dia takutkan dari suaminya, akhirnya terdengar juga sekang.


"Dia sepupunya, Riki. Dia baru ada satu bulan di Indonesia, kemarin kami sempat bertemu saat Riki mengajakku untuk bertemu bunda." Risma menjawab dengan hati-hati karena takut jika suaminya malah semakin marah. Risma berkata jujur.


"Lalu, kenapa kalian berpelukan?"


"Mungkin dia hanya ingin melepas rindu karena baru bertemu lagi. A-apa, Ka Leon cemburu?" tanyanya hati-hati.


"Ck! Tentu saja aku cemburu. Mana ada suami yang tidak cemburu saat melihat istrinya berpelukan dengan orang yang tidak dikenalnya."


"Ka Leon melihatnya?" Risma mengerutkan kening.


"Ini." Leon menyerahkan hpnya pada Risma dimana ada foto istrinya yang sedang berpelukan.


Risma terbelalak melihatnya, bagaimana bisa ada fotonya saat berpelukan dengan Giovanni kemarin di HP suaminya. Risma menatap suaminya seakan bertanya dimana dia mendapatkan foto itu.


"Elsa yang memberikabnya tadi, saat sebelum pulang sekolah, " jawab Leon.


"Jadi, seharian ini ka Leon marah karena merasa cemburu dengan foto ini? Apa ka Leon curiga juga kalau aku selingkuh dibelakangmu?" Sekarang tahu dengan tingkah suaminya hari ini yang selalu diam bahkan berlaku kasar padanya walaupun masih tidak nampak sekali.


Leon hanya diam, Risma kembali lagi menangis dan tetap menatap suaminya.


"Jika aku ingin selingkuh, untuk apa aku menerimamu sebagai suamiku? Dan untuk apa aku memberikan cintaku padamu? Kenapa ka Leon masih berpikir kalau aku selingkuh, kenapa, Ka? Kenapa?!"


Leon masih tetap diam menatap istrinya yang sudah di banjiri oleh air mata. Matanya suda ikut memerah, sudah dipastikan kalau dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.


Karena tidak mendapatkan respon dari sang suami, Risma memilih untuk pergi saja dari kamar itu. Tapi baru saja ingin berdiri dari ranjang, tubuhnya sudah tertarik dari belakang sehingga dirinya kembali lagi terduduk.


Leon 'lah yang menariknya untuk tidak pergi, lalu menarik tubuh gemetar istrinya masuk ke dalam dekapannya, mengecup berkali-kali pipi sang istri yang dipenuhi air mata, lalu menyembunyikan wajahnya di pangkal leher sang istri.


"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.


Risma terdiam saat merasakan pelukan dan kecupan Leon. Basah, dia merasa kalau bahunya basah.


'Apa ka Leon nangis?' batinnya.


Risma melepaskan lengan suaminya yang melingkar di tubuhnya dari belakang.


Berbalik menatap suaminya yang juga ikut menangis. "Ka, aku yang harus minta maaf karena sudah membuat ka Leon merasa marah. Maafkan aku, Ka." Risma memeluk suaminya dan ternyata Leon juga kembali memeluk pinggang istrinya.


"Tapi aku juga yang salah karena langsung cemburu tanpa bukti."


"Ka Leon tidak salah, kemarin, seharusnya aku tidak membiarkan orang itu memelukku dan juga ikut memeluknya. Maaf."


Leon melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Risma, mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. "Sayang, aku tidak relah jika ada orang lain yang memelukmu. Aku takut jika kamu lebih memilihnya dari pada aku," ungkap Leon.


"Ka, kamu adalah suamiku, mana mungkin aku memilih orang lain, sementara aku sudah punya suami yang sangat sayang dan cinta padaku," jawab Risma.


"Justru, akulah yang takut. Jika suatu hari kamu malah meninggalkan aku, apa lagi menceraikan ku, Ka. Aku takut," sambunnya. Risma kembali lagi menagis, dia benar-benar takut jika Leon menceraikannya.


"Sayang, dengar. Aku tidak akan pernah menceraikanmu, sama sekali tidak akan pernah!"


"Terima kasih, Ka." Risma kembali lagi memeluk suaminya setelah mengecup pipi Leon. "Aku mencintaimu, Leon."


"Aku juga mencintaimu, Sayang." Leon pun sama halnya dengan Risma. Memeluk tubuh kecil istrinya dengan erat dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pundak istrinya.


Leon merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menangis, sudah mencurigai istrinya dengan berselingkuh dengan orang lain, bahkan berlaku kasar.


Masih teringat kelakuannya yang bertindak kasar tadi siang, bakan saat istrinya merasakan sakit, dia bahkan tidak peduli karena emosi menguasainya.


"Sekarang tidur, ya?" Risma hanya mengangguk pelan dalam dekapan Leon.


Leon merebahkan dirinya tanpa melepaskan pelukannya dari Risma.


Chup!


"Tidurlah, sayang. Besok kita harus sekolah." Leon berbisik setelah mengecup lama kening istrinya.


Risma hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Leon. Memberikan beberapa kecupan di dada sang suami dengan mata terpejam.


'Maaf, Ka. Aku belum bisa memberitahumu ada hubungan apa aku dengan Kavan. Tapi aku janji, akan memberi tahun siapa Giovanni sebenarnya dan semoga kamu juga bisa menerimanya.' Risma membatin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2