Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
65


__ADS_3

Jam 1 malam, Risma terbangun dari tidurnya karena merasa haus, dia sempat heran saat membuka matanya, pasalnya dia tidak menemukan suami tercinta, ini pertama kali dia tidak menemukan Leon di tempatnya saat terbangun di tengah malam, biasanya dia selalu berada di pelukan hangat suaminya.


"Apa dia tertidur di kamar Deren?"


Risma memilih bangun karena tenggorokannya sudah sangat kering.


Setelah melepaskan rasa hausnya dengan air yang selalu tersedia dia atas meja samping ranjangnya, Risma tidak melanjuti tidurnya lagi.


Merai HPnya untuk mengetahui jam berapa sekarang, mengapa suaminya belum kembali juga dari kamar anak kecil itu.


Risma malah terbelalak melihat apa yang terterah di layar HPnya, bukan masalah jam yang membuatnya kaget, tapi dia baru saja membuka pesan yang di kirim oleh Bundanya.


(Nak, Suamimu tadi ada di rumah Bunda, bahkan tanpa sengaja disaat Gio juga masih ada. Mereka hampir berkelahi. Bunda sangat takut melihat kemarahan Gio, saat suamimu melarangnya untuk menemuimu.)


Isi pesan pertama sudah membuat jantung Risma berdetak kencang, tidak habis pikir jika Leon bertemu Dengan Gio di rumahnya Riki.


(Bunda tidak punya pilihan lain, Bunda memilih jujur dan mengatakannya yang sebenarnya. Maafkan Bunda Nak, Bunda benar-benar takut jika Gio memghajar suamimu.)


"Dasar pria gila!" umpatnya, setelah membaca isi pesan dari Bundanya.


Risma langsung saja ke kamar Deren karena ingin melihat suaminya, dia juga baru sadar, pantas saja suaminya tadi terlihat sedih dan kecewa bahkan matanya terlihat sedikit memerah dan berair.


"Apa Kak Leon akan membenciku, setelah tahu semuanya? Kurasa, pasti. Pasti sangat membenciku, sama seperti pria gila itu!" Tak henti-hentinya Risma mengumpat dalam hati untuk Giovanni.


Saat berada di depan pintu kamar Deren, dia sempat terdiam sejenak.


"Mengapa harus seperti ini. Di sekolah, Suamiku di kelas sebelah. Tapi sekarang, malah suamiku di kamar sebelah," gumamnya.


"Semoga saja Kak Leon tidak membenci dan meninggalkanku," sambungnya lagi.


Risma membuka kamar Deren dengan cara sangat pelan, takut membangunkan penghuni di dalamnya.


Risma menggeleng melihat model tidur Deren, wajahnya tersembunyi di cekuk leher Leon, sementara tangan kirinya berada di mulut Leon, seakan menutup mulut pria itu yang sedang mengeluarkan dengkuran halus.


Padahal nyatanya, Deren lah yang mengeluarkan dengkuran yang lebih besar dari Leon. Sementara kaki kirinya masih setia melingkar di perut Leon yang sedang tidur terlentang.


"Ish, anak ini. Bisa-bisanya Dia menahan Kak Leon di sini."


Secara pelan Risma duduk di samping kanan Leon dan memcoba menyentuh kaki mungil itu, secara perlahan menyingkirkannya dari perut sang suami.


Tapi, belum juga Risma melepaskan kaki itu di kasur, sang pemilik lebih terdahulu menariknya lalu kembali melingkarkannya ke perut Leon.

__ADS_1


Takut mambangunkan kedua kesayangannya, Risma memilih berhenti menyentu kaki Deren.


Risma menatap wajah lelah suaminya. "Wajahnya semakin terlihat tampan saja saat tidur. Maaf Kak, sudah menyembunyikan rahasia ini darimu, aku hanya tidak ingin kamu berpikiran buruk tentangku."


Risma memilih berbaring di samping kanan Leon setelah mengecup pipi sang suami dengan pelan. Mengambil lengan suami sebagai bantalnya yang seperti selalu dia lakukan jika tidur bersama suaminya.


Menghadap ke arah Deren yang sedang memeluk suaminya, tidak ingin kalah dari anak kecil itu, Risma juga melingkarkan tangannya di perut sang suami dengan erat.


Kini Leon tidur dengan posisi terlentang dengan kedua sisi di temani orang tercintanya, kini Leon terlihat seperti seorang suami yang tidur di antara sisi istri dan anaknya, sangat serasi bukan?


•••


Plak!


Risma terusik dari tidur nyenyaknya, merasakan ada yang memukul tangannya, bukannya hanya sekali, tapi sudah berulang kali pukulan kecil itu dia rasakan di tangan yang sedang melingkar di perut sang suami.


Mencoba membuka mata secara perlahan, saat matanya terbuka sempurna, bukan wajah sang suami yang pertama dilihatnya, melainkan wajah cemberut Deren dengan bibir yang sedang komat-kamit, entah apa yang di ucapkannya.


Risma mendongak menatap wajah Leon yang baru juga membuka matanya.


"Pagi, Sayang," sapanya.


"Pagi juga," balas Leon.


Cup!


Karena melihat istrinya yang sedang berbaring di sampingnya, Leon berbalik memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Risma, merasa bersalah sudah meninggalkan istrinya semalam karena rasa kecewanya.


Cup! Leon membalas kecupan Risma di kening, memeluk istrinya dengan erat dan kembali lagi mengecup ubun-ubun istrinya beberapa kali, sambil mengucap 'maaf' di dalam hati.


Sungguh, pagi yang Romantis!


Tapi keromantisan mereka tidak berlangsung lama, hanya sebentar saja karena Deren kembali mengganggu, sebab merasa di cuekin oleh bayi besarnya.


Sreek! Plak!


Menarik bahu Leon agar pelukan mereka terlepas, bahkan dia juga kembali memukul tangan Risma.


"Ish, mengganggu saja!" gerutu Risma.


"Heiii ... kamulah yang menganggu Nyonya. Adanya, Anda di sini, Dia bahkan melupakanku." Deren menunjuk Leon dengan tangan mungilya.

__ADS_1


Risma bangun, duduk berhadapan dengan Deren yang sedang duduk bersilah dan kedua tangan berada di pingang masing-masing.


Leon masih terlentang di antara Risma dan Deren menyaksikan Drama yang akan di mulai pagi ini.


Leon baru ingat jika semalam dia tidur di kamar anak kecil ini karena meminta untuk di temani, tapi saat terbangun tadi dia melihat wajah istrinya, jadi dia sempat melupakan Deren.


"Apa katamu? Hei, Dia itu suamiku. Jadi aku berhak atas dirinya."


Risma meniru gaya anak kecil itu, dia sengaja membuat Deren semakin marah, Risma suka jika melihat kedua pipi mungil itu memerah dengan mulut komat-kamit dan jangan lupakan hidung mancungnya yang ikut kembang kempes.


"Ingat, Nyonya. Anda berada di mana sekarang?"


"Aku tidak akan berada di sini, jika kamu tidak tidak menahan suamiku semalaman."


"Hei-hei, jaga bicara Anda, Nyonya. Dia sendiri yang datang kemari."


Adu mulut Deren dan Risma semakin memanas saja, bagaikan seorang istri yang sedang bertengkar dengan seorang pelak*r yang ingin merebut suaminya.


Sementara Leon yang melihat pertengkaran kecil itu hanya menggeleng dan tertawa, merasa geli melihat adu mulut istrinya dan Deren, anak kecil itu.


'Gaya bicaranya semakin dewasa saja. Siapa yang mengajarinya?' gumam Leon dengan heran.


"Dasar, pengganggu. Perebut!"


"Heii, Andalah yang perebut suami orang!"


Tak henti-hentinya berkelahi, bahkan kini Deren sudah berdiri betolak pinggang karena merasa rendah dari Risma yang juga duduk.


Risma mengambil bantal untuk memukul pelan tubuh mungil yang sedang berdiri dihadapannya.


Tidak ingin kalah dari Babynya, Deren langsung saja mengambil selimut dan melemparkannya ke Risma, otomatis Risma terbungkus selimut.


Deren merasa menang karena Risma tidak bisa memukulnya lagi, bahkan anak kecil itu tertawa melihat Risma kesusahan melepaskan diri dari selimut itu.


"Aku menang!" Deren bersorak gembira dan langsung berbaring kembali di sisi Leon dan memeluknya erat.


Merasa gemas dengan Deren Leon pun membalas pelukan Deren dan beberapa kali mencium pipi lembut anak kecil itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2