Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
15. sudah isi yah?


__ADS_3

Risma dan Leon sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv tak ada aktifitas malam ini yang seperti biasa mereka lakukan, semua pekerjaan sudah mereka lakukan bersama, dan kali ini tak ada PR kali ini sehingga mereka sedang bersantai-santai saja.


"Leon aku lapar," ucap Risma dan menghadap ke Leon.


Leon memalingkan penglihatannya dari layar tv dan menatap ke arah Risma yang sedang mengaduh bahwa dia lapar.


"Kita pesan saja yah, soalnya aku lagi malas masak," ucapnya dan mengusap lembut kepala istrinya itu.


Risma mengangguk tanda setujuh karna kali ini dia juga lagi malas memasak jadi dia setujuh saja dengan permintaan Leon. Leon manggambil hpnya dan menghubungi seseorang agar mengantarkan mereka makanan.


"Bagaimnana?" tanya Risma.


"Sebentar lagi akan sampai," jawab Leon.


Mereka kembali menonton tv sambil menunggu pengantar makanan mereka yang sudah dia pesan. Setelah 30 menit lamanya, pintu apartemen diketuk seseorang. Risma pun berdiri untuk membukakan pintu karna sedari tadi dia sangat lapar menuggu pengantar makanan itu.


Ceklec..


Saat pintu dibuka Risma terkejut melihat orang itu karna dia bukan pengantar makanan tapi adik iparnya yang sedang membawah banyak kantong makanan di tangannya.


"Loh, Dion!" ucapnya dengan kaget.


Dion hanya cengengesan, Risma mempersilahkan adik iparnya masuk dan mengambil alih kantong yang beradah di tangan Dion. Risma membawah kantong makanan itu ke dapur untuk mempersiapkan makanannya di atas meja.


"Kenapa lama banget, sih!" ucap Leon tampa berpaling dari tv.


Dion melemparkan bantal sofa ke arah kakaknya. "Itu karna kamu banyak pesan, Ka," ujar Dion. Dia duduk di sofa dekat kakaknya dan ikut menonton tv.


Risma kembali dari dapur dan menujuh ke sofa tempat Leon dan Dion, dia memanggil dua pria itu untuk makan malam bersama dengan pesanan yang Dion bawah tadi.


Mereka pun menikmati makanan mereka masing-masing, Dion dan Leon sedang makan bakso sedangkan Risma sedang memakan nasi goreng dan ayam goreng saja.


Leon melirik ke Risma yang lagi menikmati makanannya itu, Leon tersenyum lalu menjulurkan tangannya ke arah Risma dan mengusap ujung bibir itu karna berplepotan.


"Kok makannya seperti ana kecil sih," ucapnya.


Risma menghentikan suapannya dengan kening berkerut karna ada tangan Leon yang sedang menyentuh bibirnya. Risma melirik ke arah Dion yang sedang ikut menatapnya, Risma meraih tangan kekar itu lalu membawanya ke pangkuannya dan menggemgamnya dengan erat, Risma melirik ke Leon memberikan kode kalau Dion sedang menatap mereka, Leon pun mengerti dengan kode istrinya itu.


"Kenapa natapnya begitu amat," tanya Leon pada Dion.


"Bisa ngak, sedikit saja jangan terlalu romantis di depanku?" ucap Dion. Dia melanjuti makannya lagi yang sempat tertunda.


"Emengnya kenapa? Kita 'kan sudah halal," jawab Leon dengan lagak ejeknya.


"Terserah deh. Tapi setidaknya, hargai aku yang jomblo ini, Ka." Dion membalas ucapan kakaknya tampa melihat pasangan itu.


Risma dan Leon tertawa karna alasan yang diberi Dion kalau dia sedang tidak suka melihat mereka bermesraan.


"Makanya Di, nikah cepat," ucap Risma.


"Maunya gitu," jawabnya.


"Mana boleh. Sekolah saja yang bener baru pikirin untuk nikah," ujar Leon.


"Terus Ka Leon kenapa nikah cepat, kan masih sekolah."


"Itu karna aku udah mapan sekarang dan bisa menghidupi istri sendiri." Leon berdiri mengambil air minum lalu kembali lagi duduk di samping istrinya.


"Terserah!" ucap Dion.

__ADS_1


"Tapi, aku boleh pacaran yah,yah?" minta Dion dengan mata berbinar.


"Tidak boleh," jawab Leon.


"Kenapa? Kamu mau aku jomblo terus tampa pasangan kekasih? Aku 'kan juga mau romantis-romantisan dengan pacarku," jelas Dion dengan mulut cemberut.


"Bukan halal," ujar Leon dan menatap Risma.


"Akh! Terserah! Selalu saja melarang." Dion merasa kesal dengan ucapan Leon.


"Ini demi kebaikan kamu, Di."


"Ok,ok." Dion memilih akur saja dari pada tambah rumit.


Leon mencoba menyuapi Risma dengan bakso yang dimakannya tapi Risma menolak suapannya itu dengan menggeleng.


"Kenapa, tidak mau aku suap lagi?" tanyanya karna masih ditolak suapannya.


"Ng-nggak ko," ucap Risma dengan pelan.


Merasa kesal karna suapannya ditolak Risma, akhirnya dia punya ide agar istrinya itu menerima suapannya kali ini. Leon mencubit pinggang Risma dengan pelan.


"Akh!" Sontak Risma membuka mulutnya dan tampa menunda kesempatan kali ini Leon dengan cepat menyuapi Risma dengan bakso yang di sendoknya.


Saat bakso itu masuk ke dalam mulutnya, Risma terbelalak dan menatap Leon dengan tajam lalu berdiri dan lari menujuh ke wastafel untuk memuntahkan isi mulutnya itu.


"Hoek... hoek...." Risma mulai muntah karna bakso itu.


Leon dan Dion melihatnya merasa heran karna baru satu sendok yang masuk ke mulutnya tapi dia sudah memuntahkan kembali.


"Ka, dia kenapa?" tanya Dion melirik ke Leon.


Leon merasa aneh juga pada Risma yang sedang munta-munta karna bakso barusan, dia pun berdiri menghampiri Risma yang masih berdiri di dekat wastafel sambil mencuci mulutnya.


"Masih munta?" ucap Leon. Dia mengambil tisu yang berada di atas kulkas lalu mengelap bibir Risma yang basa.


Risma menggeleng. "Sudah tidak," ucapnya lalu kembali lagi menujuh meja makan disusul Leon.


"Kenapa muntah, sudah isi yah?" tanya Dion.


"Isi kepalamu itu yang kotor," ucapnya lalu kembali menyuapi nasi gorengnya.


"Kenapa?" tanya Dion dengan kening berkerut.


"Aku itu tidak suka makan daging sapi, makanya tadi munta karna disuap Leon dengan bakso," jelasnya lalu melirik Leon sekilas.


"Oh, aku kira aku tidak lama lagi dapat kaponakan yang lucu." Dion cengengesan memperlihatkan deretan gigi putihnya dan ginsul pipinya.


"Maaf, aku tidak tau kalau kamu tidak makan daging," ucap Leon dengan rasa bersalah.


"Tidak papa, sekarang 'kan sudah tahu," ucap Risma lalu tersenyum.


Mereka pun kembali melanjuti makanan mereka, setelah beberapa menit mereka telah selesai ritual makanannya. Dion dan Leon sekarang berada di sofa sambil menonton film horor kesukaan Dion, sedangkan Risma baru saja datang dari dapur menyelesaikan cuci piring yang kotor.


"Lagi nonton apa?" Risma duduk dekat Leon.


"Film horor," jawab Leon.


"Apa! Jangan yang ini dong," ucapnya pada Leon.

__ADS_1


"Ini film kesukaan Dion, lagi pula filmnya keren loh," ujar Leon.


Risma mulai merasa merinding karna film horor yang dinonton mereka, sejujurnya dia sangat takut menonton film yang berbaur horor.


Saat hantunya muncul dari persembunyiannya, suara teriakan di tv bersamaan dengan suara teriakan Risma.


"Aaaa...." Risma berteriak kencang dan sontak memeluk Leon dengan erat.


Leon yang merasakan dipeluk Risma dengan cepat membalas pelukan Risma, Leon mengusap punggung Risma yang bergetar hebat karna takut dan kaget, sedangkan Risma masih setia menyembunyikan wajahnya di dada Leon dengan mata terpejam.


"Matiin tvnya," ucap Risma dengan suara gemetar.


"Nggak, aku suka dengan filmnya," jawab Dion.


"Tapi aku tidak suka, Dion!"


"Jangan nonton, aku jugs tidak suruh kamu nonton," ucap Dion.


"Kamu ke kamar saja," suruh Leon. Tapi dengan cepat Risma menggeleng di dada Leon.


"Aku takut sendiri," ucapnya dengan pelan.


"Di kamar tidak ada hantu, sayang." Leon mengusap rambut Risma dengan lembut.


"Tidak mau," tolak Risma.


"Yah sudah, tidur saja di sini," ujar Leon. Dia merebahkan tubuh Risma dan meletakkan kepala Risma di pangkuannya lalu meraih remot untuk mengurangi volume suara tv.


Leon menggemgam tangan Risma dengan lembut dan tangan sebelahnya menepuk bahu Risma agar cepat tidur, Risma memejamkan matanya dengan kuat-kuat dan tangannya menutup kupingnya agar tidak mendengar suara tv lagi.


Risma tidur dengan menyamping dan wajahnya menghadap ke perut Leon, Risma kembali membuka matanya menatap Leon yang masih setia menonton film itu.Leon yang merasa ditatap oleh Risma, dia pun menunduk melihat wajah ketakutan istrinya.


"Kenapa belum tidur? Hem?" tanyanya karna melihat mata Risma masih terbuka.


Risma hanya diam dan memiling ujug baju Leon. "Masih takut?" sambung Leon.


Risma mengangguk pelan, Leon mengusap pelan pipi Risma dengan lembut. "Tidur yah," pintahnya. Leon memasukkan kepala Risma ke dalam bajunya agar Risma tertidur dengan cepat.


Setelah beberapa menit, Leon tidak merasakan pergerakan Risma lagi di bawah sana dan hanya mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulut mungil istrinya. Leon memutuskan membuka bajunya di bawah sana yang sedang menutupi wajah Risma, Leon tersenyum melihat wajah tentram itu yang sedang tidur di pangkuaannya.


"Ternyata dia sudah tidur," ucap Leon. Dia mengelus pipi itu dengan lembut.


"Yah sudah, aku pulang dulu, Ka." Dion mulai berdiri dan merai kunci mobilnya di atas meja.


"Hati-hati di jalan bawah mobilnya," ucap Leon mengusul Dion ke pintu.


"Hem." Dion pun pergi meninggalkan aparteman kakaknya sedangkan Leon menggunci pintunya lalu kembali lagi ke sofa tempat Risma tertidur.


Leon memilih mengangkat tubuh Risma menujuh ke kamarnya dari pada membangunkannya, dia merasa kasihan jika harus membangunkan dari tidur nyenyaknya. Saat didalam kamar Leon membaringkan Risma dengan pelan dan merai selimut lalu menyelimuti tubuh Risma sampai dada. Leon juga merebahkan tubunya di samping Risma setelah melakukan hal yang biasa dia lakukan sebelum tidur, yaitu mengecup kening sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Saat Leon mulai memejamkan matanya dia merasa pergerakan di sampingnya dan sebuah tangan melingkar di perutnya dan ternyata itu ulah Risma, entah sadar atau tidak dia lakukan saat ini dan membawah kepalanya di atas bahu Leon dan menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Leon. Leon membalas pelukan itu dan berbisik sesuatu di dekat telingah Risma.


"Cepatlah membalas cintaku, sayang. Aku selalu menunggumu sampai kamu mencintaiku juga, aku sayang kamu Risma."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2