Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
29


__ADS_3

Leon sudah bersiap-siap dari tadi dengan seragam sekolahnya sedangkan istrinya masih berada di dalam kamar mandi, selang beberapa menit pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan seseorang di sana.


Risma berjalan keluar menuju ke meja rias, ia duduk di kursi lalu mengambil sisir untuk menyisir rambutnya agar terlihat rapi.


Leon yang melihat istrinya itu berdiri dari sofa lalu menghampirinya. Leon berdiri di belakang Risma dan mengambil alih sisir itu, dengan telaten Leon menyisir nya dengan lembut, sedangkan Risma hanya senyum memandang wajah suaminya melalui pantulan cermin.


'Akh, sungguh tampan,' batinnya.


"Sini ikat rambutnya," mintanya.


"Tidak usah diikat, Ka. Rambutnya masih basah, nanti jadi busuk," ucapnya.


"Sini jepitan rambutnya," mintanya lagi.


Risma mengambil jepitan rambut di dalam laci meja lalu memberikannya pada Leon. Leon menerimanya dan langsung membawa rambut bagian atas Risma ke belakang dan menyipitnya ribut itu dengan pelan agar istrinya tidak meringis kesakitan lagi seperti waktu dia mengepang rambut itu dan membuat sang istri mengeluarkan air mata.


"Sudah, ayo kita berangkat sekarang." Leon mengambil kunci mobilnya di atas meja belajar.


"Terimakasih." Risma melihat rambutnya di pantulan cermin.


Leon melangkahkan kakinya mendahului Risma keluar kamar tanpa mengucapkan satu kata lagi. Risma yang sedikit heran tingkah suaminya yang kembali dingin mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya dalam hati.


'Apa dia masih marah?' batinnya.


Risma menyusul Leon keluar dan mendapati Leon yang sedang berada di depan pintu sambil memakai sepatunya. Risma menepuk jidatnya karena tersadarkan satu hal yang membuat wajah suaminya tampak dingin tadi kini berubah menjadi wajah cemburut imutnya.


Risma menarik lengan Leon agar bisa berhadapan dengannya. Ternyata itu berhasil Leon memutar tubuhnya karena tarikan yang tiba-tiba dari belakang.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Leon, Risma tersenyum melihat wajah itu yang nampak malu-malu karena di cium.


"Terimakasih," ucapnya.


Leon masih mengerucut bibir dan terdiam, Risma kembali menjinjit karena Leon terlalu tinggi baginya, pipi sebelah kiri kini juga mendapatkan ciuman. Sang pemilik pipi kini mulai tersenyum kemenangan, dengan pura-pura cuek ternyata mendapat keuntungan besar juga dari istrinya.


Risma ikut tersenyum melihat wajah suaminya yang kembali lagi terlihat ceria, dia tahu kalau yang membuat wajah suaminya cemberut itu karena tidak mendapatkan ciuman karena sudah merapikan rambut istrinya.


Modus.


Leon tadi mengharapkan ciuman selepas selesai menciptakan rambut itu tapi ternyata harapannya tak mendapatkan hasil, yang dia dapatkan hanya ucapan 'terimakasih' saja. Jadi dia memilih pura-pura cuek dan ternyata dapat ciuman juga akhirnya.


"Lagi." Leon menunjuk bibirnya yang dia monyongin.


Risma menggeleng pelan, dia tahu Leon meminta lebih dari itu, dia sebenarnya tak menolak permintaan suaminya, hanya saja dia takut jika Leon kembali berbuat kasar sama seperti semalam yang membuat bibirnya terluka bahkan mengeluarkan darah segar.


"Mau dosa?" Leon tenyata kali ini mengingatnya hal itu lagi.


Risma menghela nafas, tentu saja dia tak ingin mendapatkan dosa jika menolak keinginan suami. Semua orang juga pasti tak ingin mendapatkan dosa, apalagi itu hanya permintaan ringan yang bisa dia sanggupi hanya saja ada sedikit rasa takut jika terjadi seperti semalam.


Leon mulai membungkukkan dirinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Dengan berat hati Risma memegang kedua bahu Leon dia mulai mendekatkan diri ke benda kenyal itu agar bisa saling bersentuhan.


Akhirnya benda kenyal itu kembali lagi bersentuhan, cukup lama bibir mereka saling rapat tanpa bergerak sedikit pun dan Risma ingin menyudahinya. Risma mulai memundurkan diri dari benda kenyal Leon. Tapi Leon sepertinya tak menyukainya karena masih belum puas, Leon menarik pinggang ramping itu biar bibir mereka kembali lagi menjatuhkan.


Risma ingin menolaknya dengan mencoba mendorong dada Leon, tapi sepertinya tak bisa karena kekuatan Leon lebih kuat darinya. Risma pun hanya membiarkannya saja dari pada nanti semakin parah jika dia menolaknya.


Leon melakukannya dengan puas dan menguasai ruang di dalam mulut dan deretan gigi sang istri sudah dia telusuri semua, semakin lama ciuman itu semakin mendalam saja dan Leon sepertinya tak ingin menyudahinya karena terlalu menikmati permainannya.


Setelah cukup lama Risma membiarkan permainan itu berlangsung, hanya menuruti dan memberikan balasan ke suaminya agar tak cemberut lagi dan tak ingin mendapatkan dosa yang seperti Leon katakan tadi.


Leon yang tersadarkan tepukan pelan di dadanya, langsung melepaskan pangutan mereka dan memberikan kecupan ringan beberapa kali sambil tersenyum kemenangan.


Mereka mengatur nafas yang terputus-putus karena hal tadi yang berlangsung cukup lama.


"Ka Leon ingin membunuhku? Ha?!" Risma mengelap bibirnya yang basa karena siliva mereka tadi.


Sedangkan Leon hanya terkikik penuh kemenangan karena berhasil menjebak istrinya itu. Risma merasa bibirnya kembali basa dan perih, dia kembali mengusapnya dengan ibu jari dan ternyata benar saja, bibir yang semalam belum kering kini kembali lagi mengeluarkan darah segar walaupun Leon tak bermain kasar. Tapi tetap saja mengeluarkan darah karena luka itu belum sembuh total.

__ADS_1


"Tuh 'kan, berdarah lagi," ucapnya. Risma menghisap bibirnya agar darah itu tak keluar lagi.


"Biar kulihat," pintanya. Leon mengangkat dagu Risma dan melihat bibir itu.


Risma kembali membulatkan mata karena Leon kembali ******* bibir itu dan menghisap nya agar darahnya tak keluar lagi. Setelah merasa cukup Leon melepaskannya dan benar saja bibir itu tak berdarah lagi tapi agak sedikit bengkak.


Leon mengusap pipi istrinya dengan lembut dan menyunggingkan senyuman. Risma hanya menatapnya dengan tatapan sedikit marah.


"Selama 2 hari, Ka Leon tak mendapatkannya," ucapnya.


Leon mengerutkan kening. "Kenapa begitu?" tanyanya.


"Kenapa, tidak setuju? Ok, tambah 2 hari lagi." Risma menunduk memakai sepatunya dan tak memperdulikan Leon yang keheranan.


"Apaa?"


Bagimana tidak, Leon tak heran, selama 2 hari dia tak mendapatkan jatah dan kini di tambah 2 hari lagi jadi otomatis jumlahnya selama 4 hari dia tidak bisa mendapatkannya, jangan 'kan 2 hari, sehari saja dia tak mampu tidak menyentuhnya.


"Tidak, aku tidak setujuh," tolak nya.


Risma kembali menegakkan tubuhnya karena sudah selesai memakai sepatu.


"1 minggu tak dapat." Risma kembali menambah waktu Leon tak mendapatkannya.


Leon menggeleng cepat karena tidak setuju dengan keputusan istrinya. "Apa salahku?" tanyanya tanpa dosa.


"Ka Leon masih bertanya apa salahnya? Apa Ka Leon tak lihat, bibir aku semakin luka dan bengkak karena perbuatan, Ka Leon?" terangnya.


Leon akui sekarang kalau dia yang bersalah, tapi dia tak mau menerima perkataan istrinya tadi, dia tak bisa juga mengelak lagi. Leon menggaruk kepalanya yang tak gatal, sepertinya dia mencari ide agar bisa tetap mendapatkan jatah.


"Kenapa diam? Apa aku salah?" Risma bertolak pinggang menatap Leon yang masih terdiam.


"Ok, aku setuju selama 2 hari aku tak menyentuhnya, tapi...." Leon mengetuk dagunya dengan jari telunjuk memikirkan sesuatu.


Risma merasa tidak enak, pasti otak mesum suaminya memikirkan sesuatu yang akan membuatnya dalam bahaya.


"Yang lain sebagai gantinya." Leon memutar balik tubuhnya untuk membuka pintu.


"Apa maksudnya?" tanya Risma.


"Pikir saja sendiri," ucap Leon tanpa melihat kebelakang.


Risma memikir sejenak, setelah sadar dari ucapan suaminya. Dia melototkan mata karena merasa semakin terjebak dalam ancamannya sendiri, dia yang memulai permainan itu tapi dia yang malah terjebak. Risma memegang lehernya karena teringat waktu dia menolak Leon menciumnya tapi malah lehernya yang mendapatkan bercak mereh.


"Dasar mesum." gerutunya.


.


.


.


.


Yuna hari ini berjalan kaki pergi kesekolah karena sepedanya masih rusak, ingin memperbaikinya tapi lupa membawanya ke bengkel.


"Aduh, kok angkotnya belum datang sih? Bisa-bisa aku lambat ke sekolah kalau seperti ini. Akh! Lebih baik aku lari saja dari pada terlambat," monolognya.


Yuna mulai berlari menuju ke sekolah karena jam menunjuk tak lama lagi jam masuk. Yuna mulai ngos-ngosan karena sudah cukup jauh berlatih tapi jarak sekolahnya masi jauh dan sepertinya hari ini dia akan terlambat masuk.


Yuna sesekali berhenti di pinggiran jalan untuk mengambil nafas lalu melanjutkan kembali larinya.


Tingg... Tingg....


Suara klakson motor mengagetkan nya, nafas suda susah di atur ditambah lagi suara yang mengagetkan, membuatnya memekik kuat dan memegang dadanya.


"Aaa... astaga, astaga," pekiknya kaget.

__ADS_1


Orang yang mengendarai motor itu ingin menertawakan tingkah kaget Yuna, tapi dia tahan. Dia tak ingin jika Yuna melihatnya, dia juga yang salah karena membunyikan klakson motornya tepat di belakang Yuna.


Yuna menatap orang yang mengagetkan nya, dia ingin sekali memarahi orang itu tapi tak jadi karena melihat orang yang tak lain adalah adik Bosnya yang selama ini membuat jantung dalam dada itu berdetak begitu cepat jika melihat wajah tampan itu, apa lagi Saad ini orang itu tersenyum padanya.


"Eh, Bos." Yuna kembali menunduk malu mengingat tingkahnya tadi.


"Kenapa lari?" tanya Dion.


"Takut terlambat, Bos." Yuna menjawab dengan masih setia menunduk menatap sepatunya.


"Aku bukan Bosmu dan kenapa kau selalu saja menunduk jika aku bicara padamu?" tanya Dion.


Yuna tak bisa menjawab lagi, karena ucapan Dion memang benar, setiap Dion berbicara padanya dia hanya menatapnya sekilas lalu menunduk lagi, entah apa yang dia cari di bawah sana.


"Apa kamu malu menatap wajah tampan ku ini?" tanyanya dengan menyombongkan diri.


Wajah Yuna semakin bersemuh, bagaimana bisa Dion mengetahui jika dia malu bertatap mata pada pria itu, Yuna hanya berani menatap wajah Dion lama dari kejauhan saja.


"Lebih baik kamu naik sekarang, jam masuk tak lama lagi," ucap Dion. Dia kembali menghidupkan motornya.


"Tapi-"


"Naik saja, nanti semakin lambat jika berpikir lama. Angkot tidak ada lagi."


Yuna terpaksa naik ke job belakang, sebenarnya dia tak enak hati jika Dion selalu menolongnya. Dia juga sedikit khawatir bagaimana pendapat tentang siswa-siswi nanti jika melihatnya, apa lagi dengan Risma.


Setelah Yuna naik, Dion menyuruhnya berpegangan seperti waktu itu, Yuna ingin menolak tapi lambat lagi. Dion sudah menarik tangannya tanpa bersuara dan melingkarkan di perutnya lalu melajukan motor itu agar tidak terlambat.


.


.


Setelah beberapa menit Dion telah sampai di depan gerbang sekolah, Yuna segaja menyuruh Dion berhenti di situ, dia tak mau Dion mmemboncengnya sampai di dalam pekarangan sekolah. Yuna takut banyak pasang mata yang akan melihatnya nanti dan akan menjadi masalah padanya.


Tapi sepertinya Dion tak mau menghentikan motornya, Dion tetap memasukkan motornya di pekarangan sekolah menuju ke parkiran motor.


Yuna mulai resah karena kini benar saja, banyak pasang mata yang menatap kedatangannya. Terutama pasang mata para gadis-gadis yang selama ini mengharapkan Dion bisa melirik nya tapi tak pernah mendapatkan hal itu.


"Wah, apa ini. Apa mereka pacaran?"


"Aku mau juga dong dibonceng."


"Huaa... Dion ku sudah punya pacar."


"Dasar wanita centil, pelakor."


Banyak lagi perkataan para gadis yang begitu buruk terhadap tanggapannya melihat Dion dan Yuna boncengan ke sekolah. Mereka merasa tidak setuju jika Dion bersama Yuna. Karena Yuna tak serasi dengan Dion, Yuna adalah gadis miskin yatim piatu jadi tak cocok bersanding dengan Dion dari anak seorang terkenal kaya dan juga punya usaha sendiri.


Tapi ada juga yang setuju jika Dion bersama Yuna, menurut mereka harta hanya titipan semata dan cinta tak bisa memilih kepada siapa ia berlabuh.


.


"Kenapa?" Dion yang melihat wajah sedih Yuna. Bukannya senang karena sudah sampai di sekola sebelum jam masuk tapi malah memperlihatkan wajah sedih.


Yuna hanya menggeleng pelan, Dion sekarang tahu apa yang membuat Yuna sedih karena dia dapat mendengar perkataan para gadis yang sedang mencibir nya dengan perkataan-perkataan buruk.


"Sudah, jangan mendegar perkataan mereka." Dion menarik tangan Yuna meninggalkan parkiran itu.


Tapi perlakuan Dion semakin membuat Yuna di cibir buruk oleh para pensnya yang merasa benci melihat Yuna diperlakukan lembut oleh Dion. Sedangkan mereka, jangankan pegangan menyapa saja tak pernah, yang mereka dapatkan hanya senyum manis saja dari Dion tak lebih.


.


'Aku tak ingin kehilangan kedua kalinya mata itu.' batin seseorang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2