
Risma dan Leon sudah berada di apartemen nya dan mereka berdua sedang bergulat di dapur bersama peralatan masak dan bahan-bahan yang mereka beli tadi.
"Ka, kita bagi dia saja pekerjaannya biar cepat selesai," Ujar Risma.
"Ok, biar aku yang kerjakan ayamnya, kamu masak sayurnya saja." Leon mulai mengerjakan daging ayam dan udang di wastafel sedangkan Risma mulai memasak sayur sup kesukaan Leon.
Setelah Risma sudah selesai dengan masakannya kini giliran Leon yang memasak ayam dan menggoreng uangnya. Risma mengambil alih mencuci alat-alat yang kotor biar tidak makin banyak dan menumpuk.
Setelah semuanya selesai Risma membawa semua masakan tadi ke meja makan dan menyusunnya dengan cantik dan tentunya di bantu Leon.
"Mau mandi dulu atau langsung makan?" tanya Leon.
"Kita makan dulu ya? Soalnya aku suda sangat lapar," jawabnya dan mengusap perutnya.
"Baiklah." Leon mempersilahkan Risma duduk dan dia juga duduk di dekat kursi Risma.
"Aku ambilin ya?" tanya Leon.
"Eh! Biar aku saja, seharusnya istri yang layani suami. Bukan suami yang layani istrinya," Jelasnya. Risma mulai mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauknya untuk Leon.
"Silahkan makan, Suamiku."
"Makasih, Istriku," balas Leon. Dia memberikan senyuman pada Risma dan memulai memakan.
Risma juga sudah mengambil nasi dan beberapa lauk pauknya yang sedari tadi membuat perutnya menunggu bahkan air liurnya sedari tadi ditelan saat bau masakan dari masakan Leon memenuhi indra penciuman nya.
Sayur sup, ayam masakan kari dan udang kentaki dan tak lupa pula sambal pedas buatan Leon.
"Apa enak masakanku?" tanya Leon disela-sela suapannya.
"Hemm, enak. Masakan Ka Leon selalu tak ada duanya," ucapnya. Risma sangat lahap memakan makanannya.
"Pelan-pelan makannya, Sayang." Leon mengambil sebutir nasi yang singgah di pinggir bibir Risma lalu memakannya.
Risma hanya cengengesan dan melanjutkan makannya lagi begitu pun dengan Leon. Kini kembali hening tak ada pembicaraan lagi dan hanya ada dentingan sendok dan piring yang terdengar dari tangan pasutri ini.
.
Mereka sudah selesai dengan ritual makannya dan mulai membersihkan meja makan. Risma mengumpulkan Puring kotor dan yang lainnya lalu membawanya ke wastafel untuk mencucinya. Leon memasukkan sisa makanan tadi ke kulkas biar nanti jika lapar lagi tinggal memanasnya saja.
"Biar aku bantu, biar cepat selesai." Leon sudah berdiri di dekat Risma dan membantunya.
"Kakak mandi saja, biar aku yang selesaikan."
"Bukankah lebih cepat selesai jika kita kerjakan bersama?" Leon tak menghiraukan suruhan Risma, dia tetap mau membantu istrinya.
"Baiklah." Risma menyabung piring yang kotor sedangkan Leon yang membilas dan mengelaknya kain kering lalu menyimpannya di tempat biasanya.
.
"Sudah selesai," ujar Risma.
"Masuklah mandi," pintah Leon.
__ADS_1
"Kakak bagaimana?" Sungguh bodoh pertanyaan Risma yang dia berikan pada Leon.
Leon menaikkan sebelah alisnya. "Apa mau mandi bersama juga?"
Seketika wajah Risma memerah lagi dengan pertanyaan Leon, tapi dialah yang salah sudah memancing Leon terlebih dahulu tanpa dia sadar dengan pertanyaanya barusan.
"Eh! Eng-tidak. Aku mau mandi duluan saja," ucapnya dengan sedikit gugup.
"Yakin? Bukankah jika bersama agar lebih cepat selesainya?" Leon menaik turunkan alisnya dengan senyuman menggoda.
"Apa!"
Leon menarik tangan Risma menuju kamarnya dan tetap menatap wajah Risma yang mulai memerah. Risma yang menyadari tarikan itu dan alur ucapan Leon dengan sigap dia menarik tangannya lagi
"Dasar mesum!" teriaknya. Risma berlari mendahului Leon masuk ke kamar dan menuju kamar mandi dan menguncinya.
Sedangkan Leon yang melihat tingkah ketakutan istrinya yang dia goda kali ini lagi hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
.
.
"Ini gaji kalian di bulan ini," ucap seseorang di depan karyawannya.
"Terimakasih, Bos," ucap karyawan serempak.
"Dimana karyawan yang satu lagi?" tanya sang bos.
"Dia tadi pamit ke toilet," jawab salah satunya.
Setelah menerima gaji mereka masing-masing, semuanya keluar lagi dan melanjutkan pekerjaannya.
.
"Eh, Na. Dipanggil Bos ke ruangannya." Salah satu karyawan memberi tahu pada temannya yang belum menerima gajinya.
"Ok," ucapnya. Dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruangan sangat Bos.
Tok tok tok
Karyawan itu mengetuk pintu sangat Bos lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Maaf. Bos, memanggilku?" tanyanya.
Orang yang dipanggil Bos itu sedang berdiri di dekat jendela kaca dan saat mendengar suara karyawannya dia memutar balik tubuhnya melihat orang yang sedang tertunduk di depannya.
"Ini gajimu untuk bulan ini."
Deg...
Sepertinya dia mengenal suara itu walaupun tidak terlalu sering mendengarnya tapi dia bisa menghapal nya siapa pemilik suara khas itu. Dia mencoba mengangkat kepalanya menatap orang itu dan benar saja dia adalah orang yang selama ini dia kagumi atau dia sukai.
"Ini ambillah," ucap orang itu.
__ADS_1
Dia mulai mengambil amplop itu dengan tetap menatap wajah tampan Bosnya.
'Bagaimana bisa dia ada di sini? Apa dia bosnya?' batinnya.
"Dan ini untuk gaji tambahan karena kau bekerja dengan baik." Orang itu menyodorkan amplop lain padanya.
"Ma-makasih, Bos."
"Itu sudah sepantasnya untukmu," ucap orang itu lagi.
"Tapi, Bos. Bukankah ini pemiliknya orang lain? Lalu bagaimana anda...." Dia menggantungkan ucapannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa sedikit bingung.
Orang itu yang tak lain Adalah Dion tertawa, bagaimana bisa satu karyawannya ini tidak mengetahui kalau dia adalah adik dari pemilik caffe itu.
"Aku adik dari Bos kalian, saat ini dia tidak sempat datang," jelas Dion.
"Oh, begitu ya, Bos. Hehe ... aku tidak tahu," ucapnya dengan cengengesan.
"Baiklah.Yuna, boleh kelurahan lagi dan melanjutkan pekerjaanmu," ujar Dion.
"Maaf, Bos. Aku Anisa," jelasnya.
Dion kembali lagi tertawa dengan tingkah karyawan yang satu ini.
"Kamu Anisa Fayuna 'kan?" tanya Dion.
"Iya Bos." Anisa menggaruk tengkuknya lagi dan sedikit merasa malu.
"Apa masalah kalau aku panggil dengan nama 'Yuna'?" tanya Dion kali ini lagi.
"Karyawan yang lainnya juga memanngilmu Fayuna 'kan?" sambungnya lagi.
"Eh, tidak Bos. Jika kau lebih nyaman memanggil dengan nama itu,"
Memang nama asli Anisa itu adalah Anisa Fayuna, tapi dia selalu di panggil dengan nama 'Anisa' di sekolah. Tapi semenjak bekerja di caffe itu dia di panggil dengan nama 'Fayuna' sebab di tempat kerjanya ada juga yang bernama Annisa jadi semua karyawan memanggilnya dengan nama barunya agar tidak salah panggil lagi. Tapi kini dia dapat panggilan baru lagi dari adik Bos nya.
"Ok, kamu boleh lanjutin lagi pekerjaanmu," ucap Dion.
"I-Iya Bos, sekali lagi terimakasih untuk gaji tambahannya." Yuna merasa senang karena mendapatkan gaji tambahan lagi kali ini.
"Aku permisi, Bos." sambungnya.
"Hem." Hanya deh eman yang keluar dari mulut Dion lalu duduk di kursinya.
Yuna permisi keluar dari ruangan itu dan melanjutkan pekerjaanya setelah menyimpan uangnya.
Yuna memang selalu dapat gaji tambahan dari bosnya karena dia selalu bekerja dengan baik dan sebenarnya yang memberikan gaji tambahan itu adalah Leon. Leon merasa kasihan pada Yuna, seharusnya saat ini dia belajar dengan giat bukan malah mencari nafkah sendi untuk menghidupi nya.
Sebelumnya Leon telah menyelidiki kehidupan Yuna dan tentunya itu juga permintaan Dion. Semenjak Dion mendengar perkataan waktu itu dia merasa kalau Yuna adalah salah satu anak yang membutuhkan bantuan, mana lagi dia harus membiayai sekolahnya. Leon dan Dion sepakat mau membantu tanpa sepengetahuan Yuna.
.
.
__ADS_1
.