Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
30


__ADS_3

Dion berjalan ke kelasnya setelah mengantar Yuna menuju kelas 2 IPA 1, Dion sengaja mengantar Yuna karena melihat gadis itu sedikit sedih dan ada rasa takut terhadap para gadis penggemar Dion yang selalu mencibir nya dengan kata-kata buruk.


Dion masuk ke dalam kelas dan menuju ke kursinya, dia duduk di kursi yang sebelahnya sudah ada penghuninya yang sedari tadi hanya diam saja.


"Kakak kenapa?" Dion sudah duduk dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


Risma mengerutkan kening mendengar pertanyaan adik iparnya, pasalnya dia merasa baik-baik saja dan tak ada yang dia lakukan saat ini selain berdiam saja menunggu guru masuk.


"Ditanya malah diam," ucap Dion.


"Aku tidak kenapa." Risma memalingkan wajah menghadap ke jendela.


"Terus, itu bibit kenapa luka?" Dion menunjuk bibir kakak iparnya yang terlihat masih sedikit bengkak dan masih terdapat luka kecil di sana.


Risma kembali menatap Dion dengan mata melotot serta wajahnya yang mulai bersemu merah tapi dia berusaha menyembunyikan agar Dion tak melihatnya.


Risma menyentuh bibirnya. "Eh, i-ini hanya... kejedot pintu saat bagun, i-iya itu," jelasnya dengan gugup.


Dion mengerutkan kening. "Benarkah?" Risma mengangguk cepat agar adik iparnya itu tak berpikiran aneh lagi.


"Apa, Kakak yakin? Em, maksudku kejedot di pintu bukan di-"


"He, jangan berpikir yang tidak-tidak, mana mungkin ini terluka karena bibir kakakmu tadi pagi yang mesum itu," jelasnya dengan cepat.


Dion tertawa kecil sambil menaikkan alisnya sebelah, dia menertawakan ucapan pengakuan kakak iparnya yang tentang bibir itu, padahal ucapannya saja tadi belum sampai tapi sudah dipotong dengan cepat.


"Jadi kalian ciuman pas mau berangkat ke sekolah?" selidik Dion. Dia menaik turunkan alisnya menggoda sang kakak ipar yang wajahnya semakin memerah saja.


"Ekh!"


Risma baru menyadari kalau dia keceplosan mengatakan hal itu padahal dia juga tak tau tadi Dion mau mengatakan apa. Risma hanya mengerutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.


Dion masih tertawa kecil sedangkan Risma hanya menunduk malu apa lagi wajahnya yang semakin memerah tak mungkin dia bisa mengelak lagi dari Dion.


"Sabarlah menghadapi, Kakakku." Dion menatap ke depan memandang papan tulis.


"Kau. Jangan seperti kakakmu itu, kasihan nanti pasanganmu jika kau juga sangat manja seperti anak kecil," ucap Risma.


Dion kembali menatap kakak iparnya, tersenyum lalu mengangguk kecil menandakan kalau dia tak akan seperti Leon yang sangat manja pada istrinya.


"Tapi, manja sedikit boleh?" Dion kembali tertawa kecil karena takut yang lain mendengarnya.


"Kakak sama adik sama saja," gerutunya.


Risma hanya melotot dan memutar matanya malas setelah memukul pelan lengan sang adik ipar dengan bukunya.


.


.


Risma dan Leon kini sudah menuju tempat yang sudah mereka janjikan untuk menjenguk seseorang, terutama Leon yang sangat penasaran apa hubungan istrinya dengan pria yang bernama Deren, dia sebenarnya ingin bertanya banyak lagi tentang Deren tapi takut juga jika istrinya nanti malah tak mau mempertemukan mereka.


Kini mobil mewah Leon sedang melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil tak ada pembicaraan sama sekali sejak berangkat dari parkiran sekolah. Leon yang fokus menatap ke depan, sedangkan Risma hanya diam juga menatap bangunan-bangunan yang menjulang tinggi ke atas langit.


Setelah beberapa menit perjalanan mobil mereka telah memasuki parkiran Rumah sakit yang di tempati Deren.


Risma keluar dari dalam mobil dan di susul Leon yang tampaknya merasa gugup ingin bertemu dengan orang yang telah berani mencium istrinya.


Risma yang menyadari keadaan suaminya hanya tersenyum lalu berjalan ke samping Leon dan menggengam tangan itu.


" Apa Ka Leon akan marah padanya?"


Leon hanya menggeleng pelan, dia juga tidak bisa marah sebelum tahu selat-belut hubungan itu walaupun dia mencurigakan sesuatu hal di dalam hatinya. Tapi dia juga yakin itu tak akan pasti apa lagi istrinya masih terlihat sangat mudah.


Risma kembali tersenyum, sungguh dia merasa beruntung mendapatkan suami yang sangat baik padanya walaupun dia masih menyembunyikan sesuatu hal dari suaminya.


Mereka berjalan menuju ke dalam Rumah sakit, terutama menuju ke ruangan perawatan Deren. Setelah sampai di sana, Risma dan Leon di sambut oleh suster yang baru saja keluar dari ruangan Deren.


"Syukurlah, Nona sudah datang." Suster itu merasa lega karena Risma ada di saat mereka semua kualahan menghadapi Deren.


"Memangnya ada, Sus?" Risma mulai terlihat cemas.


"Dia dari tadi menanyakanmu, dia juga tak mau makan. Padahal dia harus minum obat, tapi tetap saja menolak bujukan kami. Katanya dia menunggu pacarnya."

__ADS_1


Deg!


Pacar? Apa ini bisa-bisanya Risma mempunyai pacar sedangkan dia sudah memiliki suami.


Leon melepaskan tangannya dari gemgaman Risma, dia masih tak percaya kalau ternyata istrinya memiliki seorang pacar dan dia tak tahu sama sekali.


.


Setelah mengatakan itu, suster pergi meninggalkan Risna dan Leon yang masih berdiri di depan pintu. Suster juga berpesan agar Risma bisa membujuk Deren agar bisa makan lalu minum obat.


"Pacar? Apa maksudnya ini, kenapa suster tadi bilang kalau pria di dalam sana menunggu pacarnya dan itu adalah kamu?" Leon tersenyum getir memandang istrinya.


Risma menatap wajah suaminya dengan penuh penyesalan, jujur dia juga yang salah karena tidak memberitahukan dahulu sebelum mereka menikah.


Risma mengangkat tangannya mengusap pipi kiri Leon dengan lembut. "Percayalah, hanya kamu yang paling aku cintai," ucapnya. Risma memeluk tubuh kekar suaminya.


"Tapi, kenapa kamu tak memberi tahu ku dulu, Sayang?" Wajah Leon mulai cemberut tak menerima kenyataan.


Risma melepaskan pelukan itu dan menatap wajah cemberut suaminya. "Ka Leon, jangan cemberut seperti itu, apa kau tak malu pada Deren?"


Leon hanya diam, Risma membuka pintu di depannya dan terlihat sang pemilik kamar sudah bersandar menatap keluar jendela.


Deren menatap ke pintu yang terbuka lebar dan betapa senangnya karena orang yang dia tunggu-tunggu dari tadi akhirnya datang juga. Risma berjalan ke arah ranjang Deren dan di susul Leon mengekor di belakangnya tanpa suara.


"Baby, kau datang juga," seruh Deren.


'Apa katanya? Baby? Heii, itu istriku,' gerutu Leon dalam hati.


Dia memeluk Risma begitupun dengan Risma, dia membalas pelukan Deren dengan lembut dan sesekali mengecup pucuk kepala Deren tanpa memikirkan kalau ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


Deren tersadarkan kalau Risma datang tak hanya sendiri saja, dia melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Leon.


"Baby, dia siapa?" tanya Deren. Dia merasa heran menatap wajah Leon yang terasa asing di penglihatannya.


"Baby-baby. Hei, jangan pernah memanggilnya dengan sebutan itu," kesal Leon. Leon berjalan ke samping ranjang tepat di sisi Risma.


Deren menatap Risma dan Leon bergantian dengan keherananan.


"Apa hakmu melarangku?" Deren mulai kesal melihat Leon yang berdiri di dekat Risma.


Risma hanya menepuk jidat nya melihat tingkah dua pria di depannya, terutama dia tak menyangkah kalau penyakit anak kecil Leon kambuh lagi.


"Ka, sudah. Tidak malu apa?" Risma mencoba menenangkan Leon.


"I-istri? Baby kenapa orang ini bilang kamu adalah istrinya?" Wajah Deren mulai memerah bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Deren itu-"


"Aku suaminya dan Risma istri SAHku!" Leon menekan kata sah.


"Katakan sesuatu, kumohon. Katakan kalau itu tak benar," ucap Deren. Air matanya mulai keluar dan membasahi pipi pucatnya.


"Sayang, kenapa kau tak memberitahukan kalau kita sudah menikah."


"Hey, itu tak benar, mana mungkin dia memiliki suami mirip anak kecil seperti dirimu," kesal Deren.


"Apa, anak kecil? Kau yang anak kecil." Leon dan Deren mulai beradu mulut.


Sedangkan Risma mulai merasa pusing melihat dan mendengar pertengkaran itu di depan matanya. Risma memejamkan mata memijit pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.


"Sayang, Baby jelaskan," ucap serentak Leon dan Deren.


"Diaaam," teriak Risma. Sontak kedua pria itu menutup mulutnya rapat dan melotot tak menyangka kalau Risma saat ini sedang geram pada mereka berdua.


"Ka Leon, Deren, kalian mau ribut atau aku pergi?" Sontak mereka menggeleng cepat.


"Apa Ka Leon tak malu, berantem dengan anak kecil yang masih berumur 5 tahun dan saat ini sedang sakit?" tanyanya. Leon hanya menunduk diam.


"Deren, bukankah kamu saat ini sedang sakit dan harus minum obat?" Deren hanya diam juga seperti Leon saat ini, mereka hanya sesekali melirik satu sama lainnya dalam diam.


Ternyata Deren adalah anak kecil yang masih berumur 5 tahun yang sedang sakit dan dia selalu menggapainya Risma sebagai pacarnya sejak pertemuan mereka.


Risma tak menyangka Leon bertingkah lebih anak kecil lagi dari pada Deren, bisa-bisanya dia bertengkar dengan anak kecil yang sedang sakit saat ini.

__ADS_1


Mereka berdua masih terdiam menunduk karena merasa takut dengan suara Risma yang mulai terdengar marah. Risma tersadar dari geramnya setelah mendengar suara isak tangis berasal dari Deren. Risma mulai mendekat dan mengusap punggung mungil itu dengan lembut lalu menariknya ke dalam dekapannya.


"Maaf karena sudah marah padamu." Risma kembali mengusap punggung mungil Deren.


Deren tersenyum dalam dekapan Risma dan menjulurkan lidahnya ke arah Leon,seakan-akan menyatakan kalau dia menang dan Leon kalah.


Leon membulatkan mata melihat Deren yang sedang mengejeknya. Leon tak menerima kekalahan itu, wajahnya mulai cemberut karena istrinya memilih memeluk Deren dari pada Dia.


Hey! Sadarlah Leon, Deren adalah anak kecil bisa-bisanya kamu merasa cemburu pada anak kecil yang masih berumur 5 tahun.


"Sayang, kamu membelanya?" Leon bertanya dengan suara sedih bergetar dibuat-buat nya.


Risma melepaskan pelukannya, dia menatap wajah suaminya yang sudah cemberut sedih. Risma kini beralih memeluk tubuh kekar Leon dan sesekali mengecup dada suaminya di balik seragam sekolah, seakan menyatakan dia minta maaf pada suami tercintanya.


Leon merasa bersorak dalam hati karena kini istrinya memeluknya dengan erat. Leon kini yang mengejek Deren dengan menjulurkan lidahnya mirip yang dilakukan Deren tadi terhadapnya.


Sedangkan Deren yang melihat itu hanya membalas ejekan Leon karena tak mau merasa tertindas dari Leon.


.


.


"Deren, sekarang waktunya makan lalu minum obat," ucap Risma.


Deren masih memalingkan wajahnya ke arah lain dan bersedek tangan.


"Deren? Ayolah, aku menyuapimu ya." Risma menyendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Deren.


Tapi Deren masih belum mau memakannya, dia masih marah karena Risma tak menyatakan kalau dia sudah punya suami bahkan dia juga tak mendapatkan undangan pernikahan Risma.


Leon berdiri dari sofa sudut ruangan itu, dia menghampiri ranjang Deren.


"Sini, biar aku yang suap," bisiknya pada Risma.


Risma menatap wajah Leon, tapi Leon hanya tersenyum lalu mengambil mangkuk berisi bubur di tangan istrinya.


Risma berdiri dan menyerahkan kursi kepada Leon. Leon duduk dan menatap Deren yang masih terdiam menatap ke arah jendela.


"Maaf, karena aku telah menikahinya." Leon mencoba menyentuh tangan Deren.


Deren masih diam dan juga tidak menyingkirkan tangan Leon yang sedang menyentuh tangannya.


"Kami hanya dijodohkan," ucap Leon.


Ucapan itu berhasil membuat Deren menatapnya dengan tatapan sedih. "Apa kamu mencintainya?" tanya Deren.


Leon mengangguk cepat dan menatap mata Deren yang mulai berair.


"Apa kamu akan membawanya pergi jauh dan tak akan kembali lagi, seperti Mama?" Dengan deraian air mata Deren mengucapkan kalimat itu yang dari tadi dia tahan yang membuatnya merasa takut.


Leon menggeleng cepat. "Aku tak akan membawanya pergi darimu," jelas Leon.


"Janji?" Deren mengangkat jari kelingking mungilnya ke depan Leon meminta agar Leon mau berjanji padanya. Leon pun menyambut tangan mungil itu lalu tersenyum.


"Terimakasih." Deren langsung memeluk tubuh Leon.


Leon membalas pelukan anak itu, tangisannya pecah dalam peluka Leon. Dia takut jika Risma dibawa pergi jauh darinya, seperti perkataan mamanya yang selalu teringat dalam pikirannya.


"Jangan menangis, Papamu lebih mencintaiku jadi dia menjemputku dan membawaku pergi." Itu ucapan mamanya Deren saat pergi meninggalkan Deren sendirian.


Itulah sebabnya Deren kini takut kalau Leon akan membawa Risma pergi jauh dan tak kembali lagi seperti mamanya yang pergi dibawa papanya karena cintanya lebih besar.


Leon melepaskan pelukannya setelah merasa tangisan Deren mulai meredah dan hanya tinggal sesegukan saja.


"Sekarang ayo makan lalu minum obat," ajak Leon.


Deren hanya mengangguk dan menerima suapan Leon. Risma yang melihat itu merasa senang karena akhirnya suaminya sudah akur dengan Deren, dia juga sempat menitihkan air mata dengan perkataan Deren tadi.


.


#tbc


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2