
Leon pulang dengan perasaan campur aduk. Sedih, senang, kecewa, dan benci. Benci pada dirinya sendiri yang telah menyakiti istrinya beberapa kali tanpa mendengar penjelasan istrinya terlebih dahulu.
Kecewa kepada semua orang karna tidak ada yang mau memberitahunya yang sebenarnya, seakan dia tidak bisa dipercaya untuk menerimanya semua kentaannya.
Setelah mendengar penjelasan Bundanya Riki, Leon langsung pulang dengan mata yang sudah berair, bakan di dalam mobil sebelum menjalankan mobilnya, Leon menangis karena kenyataan yang harus diterimahnya.
••
"Kak Leon dari mana?"
Bukannya menjawab, Leon malah diam menatap istrinya dengan wajah sedikit kecewa.
"Kak, ada apa?" Risma heran dengan suaminya yang baru-baru pulang tapi malah diam tidak seperti waktu dia pergi.
Setelah Leon pergi tadi, Risma pamit kepada mertuanya untuk pulang ke rumah mereka, walaupun Leon tidak ada, tapi ada beberapa Bodyguard yang Leon pekerjakan untuk jaga-jaga untuk istrinya dan Deren, Deren bahkan punya 2 Bodyguard dan 1 babysitter untuk menjaganya.
Leon hanya diam lalu duduk di ranjang miliknya, Risma mengekor dan langsung berdiri di hadapan suaminya. Menyetuh kedua pipi suaminya dan membuat wajah itu menatapnya.
"Kak, kenapa diam, hem? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi.
"Apa aku tidak berarti buatmu?" Bukannya menjawab, Leon malah bertanya balik.
Risma menatap wajah suaminya, dia bisa melihat jika kedua matah itu sedikit merah dan sembab, dia pun berpikir jika suaminya pasti sudah menangis sebelumnya.
"Kenapa bertanya seperti itu, Kak? Kamu suamiku, tentu saja berarti buatku," jawab Risma, sambil mengusap lembut kedua pipi suaminya.
"Lalu, kenapa kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku, Sayang?" Pertayaan itu hanya mampu Leon lontarkan di hatinya saja.
__ADS_1
"Aku mau mandi." Leon langsung berdiri dan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan istrinya yang menatapnya keheranan dengan sikapnya.
'Apa terjadi sesuatu? Kenapa dia begitu cuek. Sikapanya selalu saja berubah-ubah.' Risma membatin melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
Setelah beberapa menit membersihkan diri, Leon keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sementara tubuh bagian atasnya tidak tertutup sama sekali. Tanpa menghiraukan istrinya yang menatapnya kemana pun dia melangkah.
Leon langsung saja ke arah Lemari pakaian, mengambil baju tidur untuk di pakainnya. Setelah selesai memakai pakaian sambil membelakangi istrinya, Leon berjalan lagi menuju kamar mandi untuk menjemur handuk yang dipakainnya tadi.
Sedangkan Risma masih menatap Leon kemana pun suaminya pergi, Risma heran dengan tingkah suaminya, tidak biasanya Leon terlihat cuek dan dingin begitu terhadapnya, entah kemana sifat manja suaminya?
"Kak Leon kenapa?" tanyanya, setelah melihat Suaminya keluar dari kamar mandi.
Leon menatap sekilas istrinya, lalu melangkah mencari keneradaan HPnya.
"Tidak apa-apa, Aku hanya sedikit pusing," bohongnya.
"Tidak usah, Sayang. Kamu istirahat saja, ini sudah malam," tolaknya halus. Sungguh Leon masih kecewa pada istrinya.
Tidak. Bukan hanya kepada istrinya, tapi kepada keluarganya juga, bisa-bisanya rahasia besar mereka sembunyikan darinya, sebegitu tidak pentingnyakah dirinya, sehingga hal besar itu di sembunyikan darinya.
"Kak Leon mau kemana?" Risma kembali bertanya saat melihat suaminya menuju ke arah pintu.
"Mau ke kamar Deren," jawabnya dan berlalu.
Bukan hanya ingin menghindar dari istrinya tapi dia juga Rindu pada anak kecil itu, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah mendengar celoteh anak curut itu.
Leon membuka pintu kamar Deren dengan pelan, dia mengira jika anak kecil itu sudah tidur. Ternyata, Deren belum tidur sama sekali, terlihat jelas saat Leon membuka pintu dan menghampirinya.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" Leon naik keranjang anak kecil, walaupun keci, ranjang Deren tetap besar seukurang ranjang orang dewasa.
Leon sengaja memberikan ranjang lebih besar di kamar Deren, dia takut jika anak kecil itu nanti terjatuh disaat tidur, pasalnya dia tahu kalau Deren banyak goyang jika tidur.
Bukannya menjawab, Deren malah senyum. Deren langsung menyuruh Leon berbaring di sampingnya dengan cara menepuk bantal kosong di sampingnya.
Leon pun menuruti permintaan anak kecil itu, dengqn cepat Deren langsung bergeser lebih dekat dan langsung menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Leon, memeluk laki-laki itu dengan erat.
"Apa kamu rindu?" bisik Leon.
Deren mengangguk pelan, saat Leon bergerak untuk memperbaiki posisi tidurnya, malah Deren dengan cepat mengangkat kakinya ke atas perut Leon seakan Leon adalah gulingnya.
"Jangan pergi," bisiknya pelang.
"Tenanglah, Aku tidak akan pergi meninggalkanmu."
Deren langsung bangun dan duduk di samping Leon. ''Janji?"
"Iya. Tidurlah, Aku temani sampai besok pagi."
Deren kembali berbaring, tapi bukan di bantal,melainkan kembali berbaring di bahu Leon dan menyembunyikan wajahnya lagi seperti posisi semula.
"Dasar manja,'' gumam Leon.
"Sama sepertimu," balas Deren.
selamat hari valentine day baut kalian yg merayakan hari ini yang tidak ya baca aja :)
__ADS_1
and happy birthday to me :)