Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
46


__ADS_3

Di pinggir pantai tepatnya samping pelabuhan kini ramai dengan pengunjung, ada anak-anak, adapun orang dewasa dan yang kebanyakan ber pasangan-pasangan.


Di sisi kiri, di bawah pohon terdapat sepasang kekasih sedang saling berangkulan di bahu.


"Sayang, ayo kita menikah," ajak si pria.


"Apa kamu serius, sayang?" tanya antusias si wanita. Si pria pun mengangguk cepat lalu kembali memeluk kekasihnya.


Sedangkan di sisi kanan terdapat seorang pria dengan balutan jas mewahnya dan kaca mata hitam melekat di hidung mancung nya.


"Tuan, kita mau mau kemana? tanya seorang wanita yang sepertinya adalah pembantunya.


"Kita tunggu di sini saja orangnya." Si tuan menjawab sambil memeriksa telepon genggam yang berada di tangannya.


Tanpa mereka sadari seorang gadis yang berumur 6 tahun sedang memerhatikan perbincangan mereka. "Kenapa dia memanggilnya tuan?" gumamnya.


Ternyata anak yang lebih besar dari gadis itu mendengar ucapannya. "Karena dia seorang pembantu." Si gadis mendongak menatap si anak laki-laki itu.


Menatap sekilas lalu kembali lagi menatap ke depan di mana terdapat sepasang kekasih masih berpelukan. "Mereka ingin menikah... Apa Kavan juga mau menikah?" tanyanya polos.


"Tentu saja aku mau menikah. Berhentilah memanggilku 'Kavan'! Aku bukan kain pembungkus orang mati." Si anak pria geram pada anak gadis itu karena memanggilnya dengan sebutan 'Kavan'


"Kain pembukus orang mati itukan, kain kafan bukan 'Kavan'." jawab si gadis kecil.


"Sama saja."


"Tapi aku suka."


"Kamu suka. Tapi aku tidak! Dasar kecil."


"Heiii... Berhenti memanggilku 'kecil' karena aku sama sekali tidak kecil!" Si gadis kecil itu mulai geram kepada anak laki-laki yang dipanggilnya Kavan itu. Dia sama sekali tidak terima jika di panggil kecil. Menurutnya, dirinya itu tinggi.


"Makanya, berhenti juga memanggilku 'Kavan', " jawab si anak laki-laki.


Si anak gadis mengangguk pelan lalu tersenyum dan berucap, "baiklah, aku akan panggil 'Tuan' saja."


"Apa! Tidak. Pokoknya jangan memanggilku 'tuan' atapun 'Kavan'." Si anak laki-laki makin geram pada anak gadis itu. Ingin rasanya dia mencubit pipi anak gadis di depannya itu yang sedang menertawakan dirinya.


"Tapi, itu panggilan sayang dariku," ucapnya lirih, lalu tertunduk lesuh.


Karena melihat anak gadis itu tertunduk dengan cepat Kavan mengusap kepala anak itu.


"Baiklah, jika panggilan itu adalah panggilan sayang darimu, maka aku menyukainya." Kavan mengangkat dagu gadis itu biar menatapnya.


"Benarkah? Aku boleh memanggilmu dengan panggilan itu?" tanya antusias dengan kedua mata berbinar. Si Kavan hanya mengangguk mengiyakan agar gadis kecil itu tidak kecewa.


"Terima kasih, Tuan Kavan." Si gadis pun mencium pipi sebelah kiri Kavan lalu memeluknya dengan erat.


"Ayo kita menikah jika sudah besar nanti," ucap si gadis kecil itu.


Begitulah mereka, walau selalu bertengkar tapi mereka tidak pernah marahan sampai lama dan mereka saling menyayangi satu sama lainnya.



"Sayang?" Si pria tampan itu tersentak kaget saat merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang.


"Ekh, apa dari tadi datangnya?" tanyanya lembut pada si pemilik suara tadi.


"Tidak. Apa kamu melamunkannya lagi?" tanya si pemilik suara.


Helaan nafas panjang terdengar dari si pria tampan itu. "Iya, aku begitu merindukannya. Apa lagi dengan panggilan sayang darinya. Tapi...."


"Yang sabar, sayang. Semoga kalian kembali bersama lagi seperti dulu," ucap orang itu yang memiliki kulit putih bersih dan wajah cantik.


"Mungkin dia tidak akan pernah memaafkanku." Si pria itu menunduk diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jangan berkata seperti itu. Berdoa saja, semoga dia mengerti dengan kepergianmu dulu... Sebenarnya akulah yang penyebab dari semua ini." Si cantik juga ikut tertunduk lesuh.


Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan bubur itu sudah terlalu nikmat dimakannya. Kini hanya ada jalan satu-satunya untuk kembali bertemu dengan gadisnya, yaitu dengan cara meminta maaf kepada gadisnya dan memberikan pengertian.


Si pria tampan itu mendongak menatap si cantik atau lebih tepatnya istrinya. "Ini bukan salahmu, sayang ... Sudah, urusan gadis itu biar aku yang urus. Kamu tidak usah terlalu memikirkannya." Di memeluk istrinya dan memberinya ketenangan agar si istri tidak terlalu menyalahkan dirinya.


"Tapi, Van. Aku takut jika dia tidak mau menerimaku," ucapnya lirih dengan air mata mulai menetas karena tidak dapat lagi ditahannya.


"Husst... Bukankah kamu sendiri yang bilang? Kita hanya berdoa, agar Risma mau memaafkanku dan juga bisa menerima kamu yang saat ini sudah menjadi istri Sah ku." Van mengusap air mata yang membasahi kedua pipi istrinya dengan ibu jarinya lalu mengecup kening sang istri dengan lama.


"Semoga Risma bisa memberikan maafnya untuk kita," ucap si cantik dan Van hanya mengangguk sambil memeluk istrinya.



Hari ini Leon lagi sibuk mengurus sesuatu di perusahaan papinya. Katanya sih, kedatangan tamu dari luar negeri yang ingin menanam saham di perusahaanpapinya, jadi Leon diminta untuk hadir menjemput kedatangan tamu tersebut.


Dion? Dion juga pergi ke Resto dan ke caffe untuk mengecek sesuatu seperti hari biasanya.


Deren? Hari ini anak kecil itu belum pulang juga dari tadi pagi perginya, Deren dijemput oleh mami Leon, seperti biasa. Ingin membawa anak itu berkeliling sambil berbelanja yang disukainya. Deren memang sangat dimanjakan oleh mami Leon, apalagi dengan bayi besarnya.


Karena merasa suntuk di rumah sendirian, walaupun ada pembantu di rumahnya, tetap saja dia merasa kesepian.

__ADS_1


Dan akhirnya, dia kini sudah berada di rumah Ayu. Cerrry dan Gary sudah terlebih dahulu datang, sebelum kedatangan Risma dan Riki.


"Hay."


"Hay, Ris. Tumben datang bersama Riki. Leon kemana?"


"Dia lagi sibuk." Risma menjawab pertanyaan Cerry lalu duduk di samping Ayu yang sedang makan cemilan.


"Lagi nonton apa sih?"


"Film romantis, keren loh ceritanya. Ada komediannya juga. Tapi aku lebih suka jika Zon dan Shaifa yang muncul, kisah cinta mereka lucu," jawab antusias Cerry.


"Loh, bukannya ini film Thailand?" tanya Risma.


"Iya, ini film BL romantis Thailand." Cerry kembali lagi menjawab tanpa melihat kearah Risma karena terlalu fokus menatap layar TV yang sedang menampakkan aktor-aktor tampan.


Risma tersentak kaget saat mendengar jawaban Cerry, pantas saja, dari sejak pertama melihat siaran TV itu hanya menampakkan aktor-aktor Pria saja, wanita ada, tapi hanya sekali-kali saja muncul dan sudah dipastikan kalau itu hanya pemeran pembantu.


Riki mulai khawatir dengan ucapan Cerry, andai saja dia tahu jika teman-temannya itu menonton film BL. Maka dia tidak akan mengajak Risma ke rumah Ayu.


"A-aku mau pulang." Karena tak tahan lagi melihat adengan itu, Risma pun berdiri.


"Loh, kamu 'kan baru sampai. Kenapa harus pulang lagi? Duduklah filmnya mulai seru nih." Ayu mencegah sahabatnya untuk pulang.


"Aku tidak suka filmnya, jadi aku mau pulang." Tanpa memperdulikan cegahan para sahabatnya, Risma langsung berlari keluar rumah dan memesan taksi online.


"Risma kenapa sih?" Cerry menatap Riki yang ikut berdiri menatap sepupunya pergi.


"Dia tidak suka menonton film BL."



Kini sudah pukul 9 malam tapi Leon belum juga pulang dari kantor papinya, sementara Risma sudah dari tadi khawatir pada suaminya. Apa lagi kini hujan deras mulai mengguyur turun membasahi permukaan bumi, bahkan hujan turun dari pukul 7 malam.


"Kok, Ka Leon belum pulang ya? Apa dia terjebak macet apa lagi kini hujan deras." Risma dari tadi mondar-mandir mandir di ruang tamu sambil memeras kedua tangannya dan sekali-kali mengusap wajah dengan kasar.


Matanya sesekali melirik ke arah jendela, hujan sakin deras saja. Bahkan petir mengkilat dan guntur yang mengeluarkan suara bergemuruh. Sebenarnya Risma sangat takut mendengar guntur dan petir, dia hanya menutup kedua telinganya dengan tangan yang gemetar takut.


Bruk!


Pintu terbuka dengan keras dari luar, Risma berbalik menatap kearah pintu dan ternyata disana sudah ada sosok yang basah kuyup mungkin karena terkena hujan deras.


"Ka Leon?" Risma segera menghampiri suaminya yang masih berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar, kulit pucat dan bibir mulai membiru karena kedinginan.


"Kenapa bisa basah begini, Ka?" Memang bukan pertanyaan yang harus dikeluarkan, tapi Risma merasa heran, bukannya Leon pergi dan membawa kendaraan beroda empat.


"Ban mobil kempes, sayang. Jadi aku terpaksa naik ojek pulangnya karena takut, kalau kamu semakin khawatir." Leon menjelaskan dengan bibir gemetar.


"Ka, sebaiknya kita ke kamar saja untuk mengganti pakainya yang kering." Leon hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai berjalan ke arah lantai atas.


Sementara Risma menuju ke arah dapur membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Setelah beberapa menit, susu hangat telah jadi dan dia pun terburu-buru menaiki tangga.


Risma sudah sampai di kamarnya dan meletakkan segelas susu hangat itu di atas nakas samping tempat tidur.


Leon keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap dengan baju kering yang melekat di tubuhnya, tapi tetap saja dia masih kedinginan walau dia sudah memakai baju lengan panjang dan celana trening. Leon berjalan menghampiri Risma yang masih berdiri di dekat ranjang.


Risma mengambil alih handuk kecil yang berada di tangan Leon, menyuruh Leon duduk di pinggir ranjang lalu menggosok pelan rambut basah suaminya. "Ka, seharusnya tunggu sampai hujannya berhenti dulu baru pulang. Dari pada kehujanan begini? 'Kan bisa berakibat sakit." ucap Risma yang mulai berhenti menggosok kepala Leon.


"Aku takut kamu semakin khawatir, sayang. Makanya aku langsung naik ojek," jawab Leon.


"'Kan ada HP, Ka. Oh iya, dari tadi aku juga menghubungi telepon kakak tapi kok, tidak aktif?"


"HP aku mati. Lupa mencasnya," jawab Leon lagi.


"Tapi 'kan bisa pakai telpon kantor, Ka." Risma mengambil gelas yang berisi susu hangat itu lalu memberikannya kepada Leon.


"Minum dulu, Ka. Biar berkurang dinginnya." Leon pun menerima gelas itu dengan tangan yang masih gemetar walaupun sudah tidak terlalu parah lagi.


Leon meminumnya sampai tandas lalu menyerahkannya lagi gelas kosong itu pada Risma. "Sekarang berbaringlah, Ka." Lagi-lagi Leon hanya menurut, dia pun mulai membaringkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut.


"Sayang, dingin." Leon berucap dari balik selimut. Risma yang mendegar suara suaminya langsung naik ke atas ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut. Memeluk tubuh dingin suaminya untuk memberikan kehangatan.


Leon yang merasakan tubuhnya di peluk oleh Risma dari depan langsung membuka matanya, menatap wajah Risma sebentar lalu kembali lagi memejamkan mata. Leon menggeser tubuhnya untuk lebih dekat lagi, bahkan kini dia sudah meletakkan kepalanya di lengan istrinya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang istri, di balik selimut. Sementara Risma semakin memeluk erat tubuh Leon dan sesekali menunduk mencium kepala Leon.


"Apa masih terlalu dingin?" bisiknya didekat telinga suaminya.


Leon menggeleng pelan dalam pelukan istrinya, dia tak mampu lagi bersuara karena kepalanya yang mulai terasa berat, mungkin karena terlalu lama terkena hujan.



Jam 3 pagi Risma terbangun karena merasakan tubuh suaminya yang berada di dalam pelukannya itu menggigil hebat. Risma mulai menyentuh jidat Leon dengan punggung tangannya, terasa panas, dia pun membangunkan dirinya dan kembali lagi meletakkan punggung tangannya di leher Leon.


"Sangat panas, ini pasti gara-gara hujan. Semoga saja masih ada obat." Risma menuruni ranjang dan mulai mencari obat di dalam laci, tolak di temukan. Risma pun mengutuskan untuk memcari di lantai bawah, siapa tahu saja menemukannya di lantai dasar.


Setelah cukup lama perginya, akhirnya dia kembali lagi ke kamarnya dengan hanyaembawa tangan kosongnya. Risma sama sekali tidak menemukan obat penurun panas uang dia temukan hanya ada alkohol dan obat merah saja di kotak p3k.


Risma kembali menghampiri Leon yang masih menggigil di balik selimut, sementara badannya sakin panas. "Tubuh Ka Leon semakin panas saja, terus apa yang harus aku lakukan?" Dia mulai panik saat kembali menyentuh jidat Leon.

__ADS_1


Dalam kepanikan dia mengingat seseorang danel memutuskan untuk menghubunginya segera. Setelah menunggu beberapa detik, telponnya pun tersambung.


"Hallo, assalamu'alaikum." Risma mulai bersuara saat mendegar sapaan di sebrang sana.


[Wa'alaikumsalam, Nak.] jawab Si penerima telpon.


"Mi, Ka Leon demam. Badannya semakin panas saja," laporan ya.


[Demam? Loh, tumben itu anak demam?]


"Ka Leon kehujanan saat pulang dari kantor, Papi. Katanya, ban mobilnya kempes. Jadi dia naik ojek pulang." Risma menjawab dengan pelan.


[Hem, pantas demam. Suamimu itu memang paling anti dengan hujan, jika sudah terkena hujan pasti langsung demam.]


"Terus apa yang harus aku lakukan, Mi? Aku juga tidak menemukan obat penurun panas di rumah ini." Kembalinya panik saat mendengar penjelasan mertuanya. Selama menikah dengan Leon, dia memang tidak pernah menemukan Leon sedang demam dan ini adalah pertama kalinya.


[Kamu kompres saja, Nak. Besok pagi aku akan datang kesitu bersama dokter. ]


"Baik, Mi. Ya sudah, aku matikan dulu, assalamualaikum." Setelah mendapat balasan salamnya Risma kembali lagi ke lantai bawah untuk mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air.


Tidak berapa lama kepergiannya, kini pintu kembali lagi terbuka dan dia mulai masuk dengan terburu-buru, membawa baskom itu dengan handuk kecil.


Risma mulai mengompres jidat Leon dengan telaten, tapi Leon tetap saja mengatakan 'dingin', walaupun AC di dalam kamar itu sudah dimatikan sejak tadi. Sudah cukup lama Risma mengompres Leon, tapi suhu badannya tetap panas.


"Obat tidak ada, di kompres pun tidak mempan. Apa iya, aku harus melakukan cara itu?" gumamnya.


"Kasihan, Ka Leon. Sepertinya dia kedinginan sekali. Tapi, bagaimana kalau dia bangun? 'Kan aku sendiri yang malu ... Tidak, pokoknya aku tidak boleh malu, Ka Leon 'kan suami aku. Sudah sepantasnya aku menolongnya jika dalam kesulitan, apa lagi dalam keadaan seperti ini" Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk menolong suaminya yang sedang kedinginan.


Risma membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Leon, mulai menarik ujung baju Leon ke atas dada.


Glek!


Susah payah dia menelan silivanya sendiri, saat melihat dada suaminya yang putih bersih dan ada dua lingkar coklat mudah di kedua sisi masing-masing.


'Astaga, apa yang kupikirkan! Ini bukan saatnya,' batinnya.


Risma mulai melepaskan baju itu di kedua tangan suaminya lalu beralih ke kepala Leon, mengangkatnya dengan pelan lalu menarik baju itu agar terlepas.


Setelah baju Leon terlepas, Risma naik ke atas ranjang. Duduk di sisi Leon dan mulai juga membuka bajunya dengan pelan, tapi pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Leon. Takut jika Leon langsung membuka matanya.


Tidak ada tanda-tanda Leon membuka matanya, akhirnya dengan terburu-buru, dia melepaskan bajunya dan membuatnya ke lantai. Merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


Risma menarik lengan Leon, agar tubuh itu bisa miring dan berhadapan dengannya. Risma menarik Leon masuk kedalam pelukannya, meletakkan kepala Leon lagi di lengannya. Menarik kembali selimut tebat itu untuk menutupi tubuhnya dengan sang suami.


Deg! Deg!


Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dia sungguh takut jika Leon tersadar, apa lagi dalam posisi seperti ini. Terasa hangat, saat napas Leon mengenai dadanya.


Risma melakukan ini hanya ingin memberi kehangatan pada suaminya, yang sedari tadi selalu berucap kalau dia 'kedinginan'.


Saat merasakan kehangatan di tubuhnya, Leon mulai membuka matanya dengan pelan, dia mulai merasa heran dengan pandangannya, saat menatap lebih lama dan teliti, Leon pun tersenyum ternyata itu adalah aset pribadi istrinya yang masih terbungkus.


Leon mulai bergerak dan mengangkat tangannya untuk memeluk pinggang ramping istrinya, wajahnya pun semakin dia tenggelamkan di dada sang istri dengan mata terpejam.


"Sayang, kanapa kamu melakukan ini saat aku sedang tidak kuat?" ucapnya pelan.


Deg!


Bukannya jantung itu meredah, tapi kini semakin berdetak lebih keras lagi, seakan ingin lompat dari tempatnya, saat mendengar suara suaminya dan merasakan lengan suaminya yang melingkar erat di pinggangnya.


Risma melonggarkan pelukannya lalu menunduk melihat suaminya yang masih terpejam. "K-ka Leon sudah sadar?" tanyanya gugup.


"Hem." Hanya deheman yang keluar dari mulut suaminya.


"Terima kasih, sayang." Leon semakin mengeratkan pelukannya karena tadi Risma sempat melonggarkan pelukannya.


Risma sebenarnya merasa gerah dengan tubuh Leon yang menempel padanya, dia mulai berkeringat karena tubuh Leon yang panas. Tapi dia tidak menyerah, Risma tetap bertahan karena melihat suaminya malah merasa nyaman dengan pelukannya.


"Ka, ja-jangan menggigit ku ya?" ucapnya dengan suara yang sangat pelan.


Leon hanya tersenyum dengan mata terpejam saat mendegar permintaan istrinya itu yang terasa lucu didengarnya.


"Ka, apa kamu sudah tidur?" Risma kembali bersuara saat tidak mendengar suara suaminya.


Bukannya apa, Risma tahu isi pikiran suaminya yang super mesum itu, apa lagi Leon sangat suka menggigit dirinya, walaupun dia sudah memperigati suaminya tetap saja melanggar.


"Syukurlah jika dia sudah tid- aakh... Ka! Apa yang kamu lakukan?"


"Rasa itu juga yang aku rasakan saat kamu menggigit dadaku, sayang." Leon berucap dengan pelan.


"Ta-"


"Diamlah, jangan terus menggangguku, jangan sampai aku semakin khilaf, sayang." Leon kembali berucap saat Risma mau bersuara.


'Ish, dasar mesum! Dalam keadaan sakit pun, dia tetap sama, berpikiran mesum terus.' Risma mendumel dalam hati.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2