Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
35


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya Risma dan Leon pergi ke sekolah begitupun dengan Dion hanya saja mereka berangkat sekolah dengan kendaraan yang berbeda.


Sementara Deren tinggal di rumah saja, Deren diasuh oleh babysitter sewaan Leon. Leon juga menugaskan salah satu anak buahnya untuk mengawal Deren kemana saja dia mau pergi dan tentu saja atas izin Leon dulu baru bisa keluar rumah.


Saat di sekolah Risma dan Leon harus mengurangi kemesraan mereka karena tak mau siswa-siswi yang lain mengetahui hubungan mereka yang berstatus sudah kawin. Walaupun Leon sebenarnya tak mau berpisah dengan sang istri karena kemanjaan nya yang sudah kebiasaan.


.


Setelah jam istrahat Risma, Ayu, Cerry dan Dion pergi bersama ke kantin. Mereka telah sampai di kantin dan duduk di sebuah meja dekat yang satunya sudah memiliki penghuni da n siapa lagi bukan Leon dan Riki.


"Hay," sapa Cerry. Sedangkan Riki yang di sapa hanya memberikan senyuman pada pacarnya.


Risma yang bertatap mata pada Riki juga tersenyum tapi Riki langsung membuang muka dan menampakkan wajah datarnya.


Risma merasa heran dengan tingkah Riki saat ini, pasalnya Riki tak pernah seperti itu pada Risma. Malahan dia yang selalu terlebih dahulu menyapa Risma, tapi sekarang malah seperti orang yang sedang marah karena sesuatu. Tapi apa, Risma sama sekali tak membuat salah pada Riki.


Setelah pesanan mereka datang, mereka berempat yang baru datang tadi langsung memakannya karena perut mereka dari tadi berbunyi meminta di isi.


Tapi, baru dua Suap Risma memakan nasi gorengnya dia langsung menghentikannya karena Riki langsung berdiri dan pergi tanpa mengucapkan satu hal.


Mereka semua hanya memandang punggung Riki yang sudah mulai jauh, begitupun dengan Risma, setelah berpikir panjang Risma mengingat sesuatu.


'Aduh, pasti Riki marah besar nih," batin Risma.


Risma berdiri ingin menyusul Riki tapi di hentikan dengan Leon yang duduk di sampingnya.


"Mau kemana? Makanannya belum di habisin." Risma hanya berbisik pada Leon lalu pergi. Sedangkan Leon hanya dian dengan bisikan Risma tadi.


.


Riki kini berdiri di Roftoop menatap langit yang begitu biru cerah, mengingat penjelasan bundanya semalam. Emosinya begitu naik setelah mengetahuinya yang sebenarnya.


Sebenarnya dia sangat curiga dulu, tapi hanya beranggapan kalau hubungan merek hanya sebatas pacaran saja tapi nyatanya apa sekarang.


Riki mendesah kuat mengacak rambut dan mengusap wajah dengan kasar jika mengingat penjelasan bundanya semalam.


"Riki...," panggil seseorang.


Riki yang tahu dengan suara tersebut hanya diam memejamkan matanya dengan kuat.


Risma berjalan mendekati Riki, tapi saat sudah berada di dekat Riki malah orang itu ingin pergi.


"Riki...." Risma kembali memanggilnya dan menangkap tangan Riki. Agar tak pergi meninggalkannya.


Riki langsung menghentakkan tangan Risma dan mulai melangkah lagi, tapi baru beberapa langkah dia sudah berhenti lagi karena Risma kembali mengejar Riki dan menarik tangan kekar miliknya.


"Sekarang apa? Kenapa kau begitu tega sama aku, Ris?" bentak Riki. Yang sudah mulai emosi.


Risma hanya menunduk karena bentaran Riki barusan, dia begitu takuk karena baru pertama kalinya Riki membentaknya.


"Maaf." Risma hanya mampu mengucapkan satu kata itu.


Riki menatap ke atas lagi dan mendesah kuat lalu kembali lagi menata Risma yang menunduk ketakutan sambil meremas jarinya sendiri.


"Kenapa kamu tak memberitahuku. Apa kamu tak menganggapku sebagai saudaramu? Iyah?! Tapi setidaknya anggap aku sebagai sahabatmu atau temanmu!" bantak Riki. Dia begitu marah karena di sembunyikan hal besar.


Risma menatap Riki lalu menggeleng kuat dengan mata mulai berkaca-kaca. "Bukan seperti itu Rik-"


"Lalu apa? Apa aku ini merupakan musuhmu? Begitu?!"


"Bu-bukan, Ki." Air mata Risma mulai keluar membasahi pipinya.


"Lalu apa? Ayo jelaskan," pintah Riki.


Risma memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap Riki yang wajahnya begitu merah menahan emosinya.


"Kami hanya dijodohkan... Aku tak bisa menolak permintaan Papa. Waktunya begitu cepat, tepat sebulan pertunangan kami, Papa langsung menikahkan kami. Aku tak memberitahumu karena kamu pergi ke Kanada waktu itu. Aku tak mau mengganggu liburanmu, apalagi mulutmu yang begitu ceplos pada Cerry." Risma menjelaskannya dengan teliti.


Riki membulatkan mata saat mendegar ucapan Risma di akhir yang mengatakan mulutnya begitu ceplos.


"Apa? Jadi kau tak memercaiku, begitu?" Wajah Riki kembali merah.


"Bukan itu, Ki. Tapi...."


Risma terdiam sejenak mengingat sesuatu hal, benar juga kata Riki kalau dia bisa menyimpan rahasia.


"Jika aku memberi tahumu waktu itu apa kamu akan pulang dan membatalkan liburanmu yang begitu kamu inginkan dari dulu?" Pertanyaan itu berhasil membuat Riki terdiam dan mulai melemah.


"Tapi, setidaknya beri tahu aku buka malah menyembunyikannya juga."


"Iya, maaf. Tapi sekarang kamu tahukan alasannya." Risma menatap wajah Riki yang mulai kembali normal.


Riki hanya diam menatap Risma dengan dalam. "Tapi perlu kau ketahui juga aku bisa menyimpan rahasia besarmu, Ris." Riki kembali mengingatkan hal itu lagi.


Risma diam setelah mendengar ucapan Riki.


"Apa dia tahu tentang pernikahanmu?" Risma kembali menatap Riki yang bertanya padanya lalu mengangguk.


Risma memutar tubuhnya menatap ke depan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku memberitahunya melalui pesan dua hari sebelum pernikahan itu dan meminta agar dia datang menjemputku agar pernikahan itu batal. Tapi, dia tak datang sama sekali bahkan membalas pesanmu saja tidak." Risma mulai terisak. Air matanya kembali membasahi mata dan pipinya.


"Kenapa kamu ingin membatalkan pernikahanmu?" tanya Riki.


"Dulu, aku pikir Leon memiliki sifat buruk jadi aku takut bila suatu hari dia memukulku atau menyakitiku dengan hal lain. Makanya aku sempat berpikir untuk kabur waktu itu," jawab Risma.

__ADS_1


"Lalu sekarang?" Riki kembali bertanya lagi dan ikut menatap ke depan.


Risma terdiam sejenak lalu tersenyum mengingat suami tercintanya dan super manja itu.


"Aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata lagi, Ki. Aku begitu mencintai pria itu setelah dia resmi menjadi suamiku dan mungkin aku tak bisa hidup jika berpisah dari Ka Leon." Risma kembali tersenyum walau air matanya juga ikut keluar.


Riki merangkul bahu Risma dari samping. "Aku berjanji akan melindungimu dari para iblis yang ingin memisahkan kalian." Risma mendongak menatap wajah Riki yang berkata serius itu.


"Terimakasih, Ki." Risma membalas rangkulan Riki. Tapi hanya di pinggang Riki saja karena tubuh itu begitu tinggi jadi risma tak bisa merangkul bahu sepupunya.


Mereka memang sangat dekat, bahkan banyak yang mengira kalau mereka pacaran.


"Dia sekarang ada di Indonesia," ucap Riki.


"Apa?"


Risma begitu kanget mendegar ucapan Riki barusan dan langsung melepaskan rangkumannya di pinggang Riki.


"Jangan bilang kamu juga tak memberi tahukan pada suami itu." Riki menatap wajah Risma yang mulai pucat dan berkeringat dingin.


"Kamu seharusnya tak menyembunyikan hal besar ini dari Leon. Ingat, dia itu suami sekarang," ujar Riki.


"Mungkin lebih baik Ka Leon tak mengetahuinya, aku takut jika Ka Leon nantinya menjauh dan merasa jijik memiliki istri seperti ku, Ki." Risma menunduk menatap kakinya dan menyembunyikan air mata yang mulai keluar lagi.


"Hiks, a-aku takut, Ki. Ji-jika Ka Leon pergi meninggalkanku hiks, hiks...." Tangis Risma pecah sudah.


Sungguh dia takut jika Leon sudah mengetahuinya dan malah meninggalkannya disaat dia begitu mencintai pria yang berstatus suaminya.


Riki ikut sedih menata sepupunya menangis yang di landa ketakutan. Riki menangkup kedua pipi Risma dan mengusap air mata itu.


"Jika memang Leon begitu mencintaimu makan dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya. Aku akan membantumu nanti menjelaskannya jika kamu takut." Risma menatap wajah Riki yang menatapnya begitu dalam.


Risma tak mampu lagi berkata-kata, Riki langsung menariknya ke dalam dekapannya dang mengusap punggung Risma dengan lembut seakan memberikan semangat untuk kuat pada sepupunya itu.


Tangis Risma malah pecah dalam dekapan Riki. "Hiks, te-terimah ka-kasih, Ki. Hiks, hiks...." Riki hanya mengangguk.


.


.


Sepulang sekolah Risma terus diam karena masih mengingat perkataan Riki tadi. Sedangkan Leon yang melihat wajah murung istrinya langsung menghampiri dan duduk di sofa dekatnya.


"Ada apa, hem?" Leon mengusap pipi Risma dengan lembut dan berhasil membuat Risma tersadar dari lamuannya.


Risma menggeleng lalu kembali menatap TV walaupun pikirannya jauh di sana. Mereka saat ini berada di ruang TV di lantai dua.


"Ada apa dengan Riki?" tanya Leon.


Risma kembali menatap Leon. "Dia sudah mengetahuinya, dia begitu marah karena tidak mengetahui tantang pernikahan kita. Tapi aku menjelaskannya tadi, jadi sekarang dia tak marah lagi." Risma tersenyum pada Leon lalu mencubit pipi Leon dengan gemas.


"Lalu apa yang kamu pikirkan, Sayang? Risma hanya menggeleng.


"Dia ada kamarnya." Leon langsung merebahkan dirinya di sofa dan berbantalan paha Risma.


"Ka, jangan berbaring di sini. Bagaimana jika Deren lihat," ucap Risma.


Leon malah memejamkan matanya dan tak menghiraukan perkataan istrinya.


Risma kembali diam, dia tahu kalau suaminya saat ini ingin bermanja lagi padanya. Tanpa di suruh Risma langsung menyisir rambut Leon dengan lembut agar tertidur.


Risma melakukan itu karena tahu kalau Leon sangat suka jika rambutnya di sisir dengan jari.


Leon memutar tubuhnya dan kini wajahnya sudah berada di perut istrinya. "Ka, jangan bergerak." Risma merasa geli karena hidung Leon menyentuh kulit perutnya walaupun terhalang baju tapi Risma masih bisa merasakannya.


Leon malah mendekatkan hidungnya di perut rata itu dan sesekali mengecupnya sedangkan Risma sudah terkikik menahan geli.


Saat Risma ingin mendorong kepalanya, Leon malah merangkul pinggang istrinya dengan erat.


Cup.. Cup...


"Ka, hentikan atau aku menjewermu." Leon seketika menghentikan ciumannya tapi tetap merapatkan wajahnya di perut Risma, entah mengapa Leon sangat suka berada di sana jika sudah berbaring di pangkuan istrinya.


Saat sedang asik bermesraan seseorang menghampirinya dan menghentikan aksi itu.


"Baby." Deren semakin mendekat.


Leon mendesah kesal karena terganggu lagi dengan Deren. Sedangkan Risma hanya menggeleng melihat wajah Leon yang mulai cemberut.


Leon masih berbaring di pangkuan Risma dan hanya memutar tubuhnya menghadap Deren yang sudah berdiri di dekatnya.


"Kenapa berbaring di pangkuan Babyku? Bantal 'kan ada," kesal Deren.


"Mau-mau aku dong, dia kan istriku." Leon seakan tidak ingin kalah dari anak kecil itu.


"Ck! Dasar anak kecil." Deren berdecak lalu naik di sofa dan duduk di dekat Risma dengan tangan bersilang di depan dada.


Leo membulatkan mata mendegar ucapan Deren. "Apa? Kamulah yang anak kecil, anak curut." Leon bangun dari pembaringannya dan menatap Deren dengan tatapan tajam dan tangannya ikut bersilang di depan dadanya.


"Heii... Jangan memanggilku anak curut," kesal Deren.


"Jangan manggilku juga anak kecil," balas Leon.


"Yah, yah. Kamu memang bukan anak kecil tapi kamu manja pada Babyku." Deren mulai berdiri di atas sofa memandang Leon dengan wajah yang mulai memerah.


"Dia istriku, jadi apa salahnya jika aku bermanja padanya," jawab Leon.

__ADS_1


Risma hanya menggeleng melihat Leon dan Deren bertengkar lagi, tiada hari mereka tidak bertengkar. Leon juga seakan tak ingin kalah dari anak kecil itu.


"Tentu saja salah, karena dia Babyku."


"Tapi dia istriku."


"Tidak, dia Babyku."


"Tapi dia istriku."


Mereka semakin bertengkar dan saling menyilangkan tangannya di depan dada.


"Diam!" bentak Risma.


Meraka terdiam, Deren duduk di sofa dan menatap ke depan begitupun dengan Leon sementara tangan mereka bersilang di dada dan mulut manyun ke depan.


"Kalian kenapa sih, selalu saja bertengkar kalau bertemu? Bisa 'kan tidak bertengkar dalam sehari saja? Risma mendesah melihat tingkah keduanya.


"Dia yang duluan memanggilku anak kecil," ucap Leon. Tanpa melihat ke sampingnya.


"Lalu kenapa kamu memanggilku anak curut, aku tampan," balas Deren.


Risma dan Leon tertawa mendengar ucapan anak itu tapi Leon menyembunyikan wajahnya agar Deren tak melihat wajahnya.


"Ok, aku tak akan memanggilmu anak curut. Tapi berhenti juga memanggilku anak kecil." Leon menatap Deren yang masih memajukan bibirnya beberapa cm.


Deren menata Leon dengan wajah yang masih cemberut karena di panggil 'anak curut' padahal Leon tahu kalau Deren tidak terima di panggil itu karena dia beranggapan kalau wajahnya itu tampan, imut, dan manis jadi menurutnya panggilan 'anak curut' itu tak pantas untuknya.


"Ok." Deren menyetujui hal itu.


"Dasar bayi besar," gumam Deren.


Tapi gumamannya masih terdengar jelas di telinga Leon dan itu berhasil membuat Leon kembali geram pada anak kecil itu.


"Hentikan anak curut," ucap Leon.


"Lihat, kamu memanggilku anak curut lagi, aku 'kan tidak memanggilmu anak kecil lagi," elak Deren.


"Memang kamu tak memanggilku anak kecil, tapi memanggilku Bayi besar. Bukankah itu lebih buruk lagi." Leon tak menerima kekalahan dan panggilan baru dari Deren untuknya.


Risma hanya menggeleng lalu tertawa lepas mendengar panggilan baru Deren pada Leon. Tapi benar juga yang di katakan Deren tentang Leon.


Deren sudah mengganti tiga kali nama Leon dalam sebulan ini. Yang pertama, Deren memanggilnya anak kecil, lalu si Manja, dan kini menggantikannya lagi menjadi bayi besar.


Dan panggilan terakhir itu lebih parah dari kedua sebelumnya. Leon semakin tak terima dipanggil bayi besar oleh Deren.


"Berhenti memanggilku bayi besar, anak curut atau aku akan...." Leon menghentikan ucapanya dan mendekati Deren.


"Akan apa, bayi besar? Deren bertanya dengan polosnya.


Leon tak menjawab pertanyaan Deren tapi langsung mengelitik Deren sampai anak itu terkikik geli dan meminta ampun pada Leon.


"Hihi...a-ampun hihi, ampun bayi besar, hihi...." Deren semakin terkikik dengan gelitikan Leon di pinggannya. Tubuh Deren sudah berbaring di sofa dan tertawa minta ampun.


Leon menghentikan gelitikan pada Deren dan duduk di samping Risma dekat deren.


"Sekarang berhenti mamanggilku 'bayi besar', ok."


Deren tak membalas ucapan Leon dan malah bangun lalu memeluk Leon.


"Itu panggilan sayangku buatmu," ucap Deren.


Leon membalas pelukan Deren dan tersenyum. "Tapi tidak juga seperti itu, bagaimana kalau kita menggantinya?" tanya Leon.


"No, no, no. Tetap pada 'bayi besar'ku." Deren menolak permintaan Leon.


Risma hanya ikut tertawa mendengar ucapan Deren karena bisa-bisanya Deren mendapat nama panggilan tepat pada suaminya.


Leon pun terpaksa menerimanya, tapi tak ada salahnya dengan panggilan itu apalagi itu adalah panggilan sayang dari Deren, pikir Leon.


Deren melepaskan pelukannya dari Leon. "Aku mengantuk, mau ke kamar." Risma dan Leon hanya mengangguk.


Deren turun dari sofa, tapi sebelum pergi Deren sempat membuat Leon membulatkan mata lagi.


"Aku pergi dulu, Baby. Muach...." Deren melakukan kiss bay pada Risma. Risma pun membalas.


Deren langsung pergi ke kamarnya. Leon hanya menggeleng melihat tingkah anak kecil itu yang semakin hari semakin membuat orang merasa gemas padanya.


"Ka, kenapa kamu suka sekali membuatnya marah?" Risma bertanya saat Leon menatap kepergian Deren.


"Aku suka melihat wajah imutnya itu jika sedang marah," jawab Leon.


Cup.


Leon mencium bibir Risma sekilas lalu tersenyum lalu berdiri dan menggendong Risma pergi ke kamarnya.


"Ka, kita mau kemana?"


"Ke kamar, tidak bagus bermesraan di ruang tv nanti ada yang lihat. Aku 'kan belum dapat hari ini," ucap Leon.


Risma hanya menggeleng mendengar ucapan suaminya.


Risma tahu alur ucapan suaminya dan tentu saja yang Leon maksud adalah dia belum mendapatkan ciuman mesra dari istrinya hari ini, jadi dia memintanya sekarang juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2