Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
36


__ADS_3

Risma mulai melupakan perkataan Riki yang tempo hari karena sifat dan kelakuan suaminya dan siapa lagi kalau bukan Leon.


Setiap hari Leon selalu memberi Risma perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dan membuat Risma semakin cinta pada bayi besarnya itu.


Hari ini Risma sedang berada di Roptoof sekolah dan tentunya bersama Ayu, Cerry, dan Leon. Sahabatnya itu sudah mengetahui tentang pernikahan Risma dan Leon dan sekarang mereka minta penjelasan yang tepat.


"Ris, benar kalian sudah menikah?" Ayu mulai bertanya sambil menatap Risma dan Leon secara bergantian.


Risma hanya melirik Leon lalu mengangguk ragu, sebenarnya dia takut jika sahabatnya marah.


Ayu mendesah lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Jadi benar yang dikatakan Riki?" Ayu kembali bertanya seakan tak percaya kalau sahabatnya itu sudah menikah.


"Iya, kami sudah menikah." Kali ini bukan Risma yang menjawab, melainkan Leon. Dia menjawab dengan lantang dengan pedenya lalu merangkul pinggang Risma.


Sedangkan Risma menggerutu kesal, dia begitu kesal pada Riki. Inilah yang membuat Risma tak mau memberi tahukan pada sepupunya itu, soalnya Riki begitu ceplos pada Cerry dan Ayu.


Tapi apakah salah jika Riki memberi tahu Cerry dan Ayu, mereka juga berhak mengetahui tentang pernikahan sahabatnya itu. Apa lagi persahabatan mereka cukup lama bahkan mereka sudah berteman sejak kecil.


"Wah, pantas saja. Saat Leon dan Dion jadi siswa baru dulu, kamu begitu terkejut atas kedatangan mereka," ucap Cerry.


"Benar, pantas saja kalian sangat lengket. Bahkan aku pernah melihat kalian berpelukan mesra di sini," tempat Ayu.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa di ucapkan Risma. Sedangkan Leon tampak biasa saja.


"Apa kalian marah?" Risma bertanya dengan polosnya.


"Tentu saja. Kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari kami, padahal kami ini sahabatmu bukan musuhmu." Ayu mengomel dengan bibir mungilnya.


"Ok, ok. Kami minta maaf, soalnya pernikahannya secara mendadak disaat libur lalu. Jadi apa yang kami lakukan agar kamu memaafkan kami," tanya Leon.


Cerry tersenyum seakan mendapat kesempatan meminta sesuatu hal pada dua orang yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Aku akan memaafkan kalian, tapi dengan satu syarat." Cerry tersenyum lebar.


"Apa?" tanya Leon.


"Teraktir aku makan samp-"


Pltak...


Belum sempat Cerry melanjutkan ucapannya tapi dia sudah mendapatkan jitakan pada jidatnya itu sehingga membuat dia meringis kesakitan.


"Auwh... sakiitt, bodoh!"


"Kamu yang bodoh! Bisa-bisanya kamu hanya memikirkan perutmu itu. Kenapa kamu selalu saja memikirkan makanan?" Ayu benar-benar emosi dibuat Cerry.


Leon dan Risma hanya menatap dua orang itu yang sedang berdebat di depannya.


"Lalu apa?" tanya Leon.


Ayu dan Cerry menghentikan debatannya dan langsung menatap Leon dan Risma lagi secara bergantian.


"Apa kau sudah hamil?" tanya Cerry.


Hal itu membuat Risma menelan ludah dengan susah payah, bisa-bisanya Cerry bertanya seperti itu. Ya, memang sih Cerry yang paling memiliki mulut cerocos.


"Tentu saja belum," jawab Leon.


"Bagaimana kamu bisa tahu tentang Risma bisanya hamil?"

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa tahu, aku 'kan suaminya." Leon melirik Risma yang hanya diam.


"Syukurlah jika kamu belum hamil. Tapi jika sudah berisi, maka kami dulu yang kalian beritahu tentang hal itu." Kali ini Ayu yang berbicara.


"Tenang saja, kamu tinggal tanya temanmu ini kapan dia siap mengandung anakku." ucapan Leon malah mendapatkan cubitan dari istrinya itu.


"Apa kalian sudah gila! Kita ini masih sekolah."


Leon hanya cengengesan begitupun dengan Ayu dan Cerry. Ada betulnya juga yang dikatakan Risma, jika dia hamil saat masih menjadi siswi maka banyak yang akan membicarakan hal ini bahkan bayak orang yang akan membencinya. Terutama Elsa dan gengnya itu.


Risma mengajak Leon pergi ke kantin karena perutnya sudah lapar dan tentunya juga Ayu, Cerry ikut.


"Aku akan semakin melindungimu dari nenek lampir itu, Ris. Aku janji," batin Ayu. Lalu ikut berjalan menyusul Risma dan Leon sedang bergandeng mesra.


.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria yang sedang bediri di depan jendela ruangannya dan menatap bangunan-bangunan tinggi di luar sana.


"Apa kamu selalu mengawasinya?" Pria itu bertanya pada anak buahnya.


"Iya, Tuan. Saat ini dia baik-baik saja, bahkan suaminya memperlakukannya dengan baik." Anak buahnya yang bernama andi menjawab sambil menunduk.


"Bagus. Selidiki terus tanpa ada yang mengetahui tindakanmu, terutama suaminya."


"Baik, Bos. Akan kulakukan." Andi pun keluar dari ruangan bosnya.


Cklek..


Pintu terbuka dan menampakkan seseorang yang berparas cantik, kulit putih bersih,bibir mungil berwarna merah alami. Dia masuk lalu menutup kembali pintu itu dan berjalan menghampiri si pria.


"Apa kamu masih mengawasinya?" tanya si Cantik.


"Aku selalu mengawasinya dari dulu sampai sekarang," jawab si Pria.


"Entahlah. Tapi jika dia berani menyakiti gadis kecilku makan aku tak akan segan-segan menghancurkannya!" geram si Pria. Sampai-sampai dia mengepalkan tangannya kuat-kuat bahkan rahangnya mengeras.


"Kamu jangan terlalu egois, Ka." Si Cantik ikut memandang keluar jendela.


Dia mengerti perasaan pria yang sedang berdiri di dekatnya itu, tapi apa boleh buat. Menurutnya lebih baik tidak usah mengawasinya walaupun dari jauh, apa lagi si wanita sudah memiliki suami. Apalagi dia tahu kalau suami si wanita begitu menyayanginya dan mencintainya jadi tak perlu mencemaskan Nya.


.


Lonceng berbunyi menandakan jam pulang sudah waktunya.


Leon sudah berada di dekat meja sang istri menunggunya untuk pulang. Dion, Cerry dan Ayu merasa iri pada Risma. Mereka juga ingin diperlakukan seperti itu oleh pasangannya.


"Di, ayo pulang." Leon mengajak adiknya pergi bersama ke parkiran tapi Dion masih duduk di bangkunya.


"Kakak pulang saja, aku ada urusan sebentar." Dion menampakkan senyuman pada Leon agar kakaknya tidak curiga.


Leon memicingkan matanya menatap sang adik dengan teliti mencari sesuatu yang mencurigakan.


"Jangan pulang malam." Setelah mengucapkan itu Leon langsung merangkul bahu sang istri dan Risma pun membalasnya dengan merangkul pinggang Leon tanpa berpikir ada Cerry yang sedang meronta-ronta.


Ayu hanya menggeleng melihat tingkah Cerry, Ayu juga berharap semoga Risma sama Leon sampai kakek-nenek tanpa ada orang ketiga.


.


Dion berjalan cepat setelah melihat seorang gadis yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah.

__ADS_1


"Hei, tunggu." Dion meneriaki gadis tersebut.


Sedangkan gadis itu yang tak lain adalah Yuna, langsung menoleh menatap ke arah Dion yang sedang berlari kecil menghampirinya.


"Ada apa, Ka?"


"Ada yang ingin aku katakan." Tanpa persetujuan Dion langsung menarik tangan Yuna pergi ke parkiran karena motornya masih terparkir di sana.


"Naik." Dion menyuruh Yuna setelah dia berada di atas motornya.


"Kita mau ke mana?" Yuna kembali bertanya tapi tetap melakukan apa yang disuruh Dion.


Dion tak menjawab pertanyaan Yuna, Dia langsung menjalankan motornya dengan kecepatan rata-rata.


Setelah sampai, Yuna langsung turun begitupun dengan Dion. "Ayo kita masuk," ajak Dion.


Mereka pun masuk ke dalam resto tersebut dan duduk di salah satu meja yang sudah Dion pesan terlebih dahulu.


"Kita ngapain di sini, Ka?" Yuna menata sekeliling ruangan tersebut.


"Mau makanlah."


'Apa?! Apa ini menjadi kencan pertama kami? Oh Tuhan senangnya, apalagi bersamanya.' Yuna membatin dan menatap wajah tampan Dion.


Makan berdatangan tanpa mereka pesan, itu memang sudah di lakukan oleh Dion. Dion mempersilahkan Yuna untuk makan apa lagi dia tadi sempat mendengar perut gadis itu berbunyi.


Setelah beberapa menit mereka telah selesai makan, Yuna sangat menikmati makanannya. Apa lagi ini pertama kalinya dia makan di resto termahal tanpa membayarnya sepeserpun.


"Apa enak?"


Yuna hanya mengangguk lalu tersenyum dan itu membuat Dion menatapnya tanpa berkedip.


"Makasih, Ka."


"Sama-sama, oh iya ini untukmu." Dion menyerahkan kotak kecil pada Yuna.


Dion sebenarnya tak ingin memberi itu pada Yuna karena merasa cemburu, tapi jika tak di beri makan Deren akan marah besar padanya dan tak ingin bermain lagi pada Dion bahkan dia mengancam akan melaporkan Dion pada bayi besarnya.


"Ini apa?" Yuna menerima dan menatap Dion penuh tanya sedangkan Dion membuang muka saja.


"Itu dari Deren, katanya sebagai ucapan terima kasihnya padamu."


Jujur dia saja belum berani memberiakan sesuatu pada gadis itu, tapi Deren dia malah sudah mendahului mencium pipi Yuna dan kali ini memberikan sesuatu lagi.


Yuna membuka kotak tersebut, Yuna langsung tersenyum mengambil benda kecil itu. "Haishhh... dari mana dia tahu kalau aku suka jepitan rambut warna pink?" Yuna berbicara sendiri dan menatap jepitan itu.


Ya, sebenarnya Deren memberikan Yuna jepitan rambut, dia ingat perkataan Risma lalu kalau dia sangat suka dengan jepitan rambut berwarna pink. Jadi Deren beranggapan kalau Yuna juga akan menyukai hal itu. Ternyata benar saja, Yuna sangat menyukai jepitan pemberian Deren.


Yuna menatap Dion lalu tersenyum kembali. "Sampaikan ucapan terimakasih ku juga padanya, Ka. Aku sangat suka." Yuna kembali menatap jepitan rambut itu.


'Apa? Dia hanya berterima kasih pada Deren? Ck! Dasar anak itu, kenapa dia begitu cepat mendapatkan perhatian para gadis?' batin Dion.


'Alangkah bahagianya jika ini darimu, Ka Dion." Yuna pun membatin.


Mereka saling menyukai hanya tapi mereka saling menutupi. Dion yang belum berani menyatakan cintanya apa lagi dia akan meminta kakak iparnya untuk membujuk Leon, biar dia bisa pacar. Sedangkan yuna, dia tak berani menyatakan cintanya pada Dion, dia tahu kalau mereka berbeda tingkat. Terutama okonomi, apalagi dia tahu banyak para gadis yang sedang berlomba-lomba mendapatkan cinta Dion. Yuna juga kepikiran tentang kakak kelasnya yang bernama Risma itu.


Sebenarnya Yuna masih salah paham pada Risma dan Dion tentang hubungan mereka. Yuna hanya melihat kedekatan mereka di sekolah tanpa mengetahui kalau ada Leon yang sebagai suami Risma. Memang benar sih Dion kadang dekat pada Risma tapi bermaksud membujuk kakak iparnya agar dia bisa dibantu untuk membujuk Leon biar dia bisa pacaran.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2