
"Gio, K-kamu...."
"Iya Om, ini aku Gio"
"Kenapa Om begitu kaget melihatku, bukankah kita sudah bertemu sebelumnya?" tanya Giovanni, orang yang di panggilnya Om hanya terdiam karena masih shok dengan yang dilihatnya sekarang ini.
"Jadi. Jadi kamu Giovanni yang menerima bekerja sama dengan Leon?" tanya si pria paru baya itu.
"Benar Om. Maaf kalau aku belum memperkenalkan diriku padamu sebelumnya." Gio menatap orang di depannya itu yang kini masih kaget karena kedatangan dirinya di kantor orang itu.
"Apa kamu datang untuk membawanya pergi, Gio?" Pertanyaan yang mengandung rasa takut mulai di keluarkan orang itu.
"Akh, tidak Om Andi. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya saja."
Kini memang Giovanni mendatangi pak Andi, papinya Leon. Gio hanya ingin memperkenalkan diri walaupun sebenarnya pak Andi sebenarnya tahu siapa sebenarnya Giovanni dalam kehidupan menantunya itu.
Tapi, tetap saja Gio sudah menghilang selama 4 tahun, dia hanya ingin memperkenalkan dirinya yang sekarang kepada pak Andi.
"Ah, baiklah Gio. Aku senang sekali mendengar ucapanmu." Pak Andi berucap syukur di dalam hati saat mendengar ucapan Giovanni.
"Jangan senang dulu, Om."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku akan membawanya pergi jika anak Om menyakitinya. Ingat Om, Aku masih punya hak padanya." Gio berucap seakan mengancam
"Ta--tapi Gio."
"Aku tahu, Om. Walaupun dia masih marah padaku," balas Gio melemah.
"Bukan itu maksud Om, Gio."
"Om harap kamu tidak membawanya pergi dari kami, apalagi dari kehidupan Leon. Om lihat sekarang mereka saling mencintai, begitupun dengan kami. Kami sudah menganggap Risma seperti anak kadung kami." Pak Andi berbicara sambil menatap Giovanni.
Pak Andi Tahu perasaan Giovanni, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula Risma sudah menjadi tanggung jawab Leon sekarang.
Saat sedang asik berbicara tentang Risma dan Leon, tiba-tiba pintu ruangan kerja pak Andi ada yang membukanya dari luar. Kini sosok wanita cantik walaupun umurnya sudah tak mudah lagi.
"Hai Pi-- ... ekh, ada tamu. Maaf aku tidak tahu," ucap maminya Leon.
"Mi, perkenalkan ini Tuan Giovanni tamu yang pernah Papi bicarakan, Dia berasal dari luar Negeri."
Pak Andi memberitahu saat istrinya sudah duduk di dekatnya, dalam hati pak Andi, istrinya berhak tahu siapa sebenarnya Giovanni itu.
"Maaf, Tuan Giovanni. Aku masuk tanpa permisi dulu, aku kira tidak ada tamu." Mami Leon jadi malu kepada tamu suaminya.
"Tidak apa-apa, Nyonya," balas Giovanni.
__ADS_1
"Pi, inikah orang yang Papi maksud memiliki beberapa perusahaan dan hotel di luar Negeri?" Maminya leon berbisik pada suaminya.
"Iya, Mi."
"Wah, dia menjadi pria sukses yah, Pi. Padahal dia masih terlihat mudah sekali, semoga anak kita juga seperti dia, Pi."
Mami Leon kembali berbisik dan berharap anak- anak mereka sukses seperti pemuda yang berada di depannya.
Akan tetapi harapan itu hancur setelah pak Andi membisikkan sesuatu pada istrinya. Mata mami Leon seketika membulat dan kini penglihatannya teralihkan ke wajah sang suami.
"P--pi?
Seakan meminta kepada suaminya kalau yang di katannya itu hanya bohongan saja. Pak Andi hanya mengangguk memberi kebenaran pada istrinya kalau itu semua benar.
Seketika tangan mami Leon dingi dan bergetar, dia ingat. Sangat ingat! Dengan perkataan Pak Rusdi, papa nya Risma.
Bahwa jika suatu hari ada pria yang bernama Gio jangan pernah mempertemukan Risma dengannya, kare pria itu adalah pria yang meninggalkan Risma di malam ulan tahunnya yang ke 13.
Malam itu pula Risma hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan, saat mengejar pria itu ke bendara untuk mencega kepergiaannya. Tapi apa yang di dapatkannya, malahan dia yang hampir mati dan pria itu atau lebih tepatnya, Gio. Sama sekali tidak kembali.
.
.
__ADS_1
.
.