Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
66


__ADS_3

Deren sudah berangkat ke sekolah, diantar oleh baby sister dan bodyguardnya, itulah Deren, dia sangat dijaga dan disayangi oleh keluarga barunya, walaupun tanpa kedua orang tua, Deren tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya.


Sementara Leon bersiap-siap juga untuk pergi ke restorannya, Leon lebih sering ke sana dari pada ke caffenya, itu semua karena permintaan Dion. Yah, Dion 'lah yang sekarang mengawasi tempat itu karena ada Yuna di sana.


"Kak, apa hari ini kamu sibuk?" Risma menghampiri suaminya yang sedang bercermin didepan meja riasnya.


"Aku mau ke resto hari ini," balas Leon.


"Apa tidak bisa besok saja?" tanyanya lagi.


"Besok pengunguman kelulusan, Mami dan Papi yang akan pergi menjadi wali kita."


Dia hanya mengangguk tanda mengerti dengan perkataan suaminya. Tapi Dia juga ingin menjelaskan sesuatu.


Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, Dia tidak ingin rumah tangganya hancur karena masih menyembunyikan rahasia dari suaminya.


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Risma mendekat, menyeret pelan Leon untuk ikut duduk di ranjang bersamanya.


"Kak, aku tahu, aku salah. Dari awal aku tidak memberitahu dan malah menyembunyikan hal ini darimu, aku minta maaf, Kak." Risma menatap kedua mata suaminya yang juga menatapnya tanpa bersuara.


Setelah menatap cukup lama Leon, Risma menguatkan dirinya untuk menyampaikan sesuatu dan berharap suaminya bisa menerima alasannya.


"Kak, sebenarnya dari dulu aku ingin memberitahu, tapi aku takut, jika nanti kamu malah membenci dan meninggalkanku, disaat aku sudah benar-benar mencintaimu." Risma mulai bergetar karena ingin berkata jujur kepada suaminya.


"Lalu, apa dengan kamu menyembunyikannya, kamu malah tenang dari masalah ini?" Leon mulai bersuara walaupun sangat pelan, tapi penuh sindiran.

__ADS_1


Risma menggeleng, "bukan begitu, Kak."


"Apa kamu masih menganggapku orang asing? Sehingga kamu masih menyembunyikan rahasia dariku. Ingat, sekarang aku adalah suamimu, tidak baik menyembunyikan sesuatu, walaupun itu hanya masalah kecil."


Risma menatap suaminya dengan mata yang mulai memerah yang siap menumpahkan airnya. Dia akan menerima keputusan Leon, jika memang nanti marah padanya.


Leon berdiri dari ranjang, meninggalkan istrinya yang masih diam karena meratapi kesalahannya.


"Tidak usah cerita jika memang tidak sanggup, lagi pula aku sudah mengetahuinya, simpan saja rahasiamu itu sampai kamu puas." Leon mulai menyindir lagi. Leon benar-benar kecewa.


"Tidak, Kak. Kamu belum tahu segalanya, siapa dia sebenarnya." Risma ikut berdiri di belakang Leon.


"Aku tahu!" Potong Leon, dia berbalik menatap istrinya yang mulai menangis walaupun tidak terisak tapi dapat Leon liat bahwa kedua pipi istrinya sudah basah oleh air mata.


"Dia bahkan tidak datang melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya, apa salahnya jika datang untuk melihat mereka sebentar saja, Kak. Di--dia sungguh egois, Kak. Dia tidak pulang sama sekali."


Tumpalah sudah, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Isaknya semakin deras terdengar, walupun sejak tadi di tahannya tapi akhirnya lepas juga, dia tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya, yang bagaikan tertindis batu berat dan kepalanya yang seakan ingin meledak.


Sreek. Bukh.


Karena tak tahan lagi melihat istrinya menangis di hadapannya. Leon pun langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya, memberinya ketenangan biar istrinya tidak menangis.


"Menangislah. Menangislah sepuasmu, Sayang." Leon berbisik di telinga istrinya yang masih menangis terisak dalam pelukannya.


Benci? Jawabannya Tidak. Leon tidak membenci istrinya, hanya saja dia kecewa karena meyembunyikan hal ini, ini bukan masalah kecil. Tapi masalah besar, andai dia tahu dari dulu siapa Giovanni sebenarnya, mungkin dia tidak akan cemburu kepada kakak iparnya sendiri, bahkan mengakibatkan istrinya terluka.

__ADS_1


Bukan hanya Risma yang menangis, kini Leon pun ikut menagis, bagaimana bisa, sudah 5 bulan menikah, tapi baru kemarin dia mengetahui bahwa istrinya masih memiliki saudara kandung yang lain dari pada Baim.


Pantas saja waktu pertama kali bertemu dengan Tuan Giovanni, Leon merasa tidak asing dengan wajah tampan itu, ternyata wajah Giovanni mirip dengan wajah Baim, hanya saja Baim memiliki gigi ginsul sedangkan Giovanni tidak.


Setelah cukup lama menangis di pelukan suaminya, Risma mendorong pelan dada sang suami agar ada jarak di antara mereka, dia bisa melihat wajah suaminya yang ikut basah karena air mata.


"Dia tidak pulang karena takut, Kak. Papa mengusirnya, bahkan tidak mengakuinya lagi sebagai anak. Kak Gio sudah dianggap tiada oleh Papa."


"Apa maksudmu?" Leon mengerutkan kening mendengar penjelasan istrinya.


Pasalnya kemarin dia hanya di beritahu oleh Bunda, kalau Giovanni itu adalah iparnya,saudara istrinya sama halnya Baim, karna Giovanni adalah anak kedua mertuanya yang tinggal di luar Negeri.


Sebenarnya Leon tahu jika Giovanni di benci oleh keluarganya, karena kesalahannya yang ingin menikahi kekasihnya yang berasal dari negeri lain. Hanya itu yang dia tahui dari penjelasan Bundanya, Riki.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2