Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
28


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Risma langsung menuju ke apartemennya karena dia takut kalau Leon terlebih dahulu pulang sebelum dia sampai di sana. Risma belum pernah bercerita tentang Deren pada Leon, ia berpikir belum saatnya Leon mengetahuinya saat ini.


Mobil taksi yang Risma naikkin sudah berhenti di depan bangunan tinggi itu, dia buru-buru masuk ke apartemennya setelah membayar sewaan taksi. Risma berlari menuju lift dan menekan tombol 10 menuju


tempatnya, setelah pintu lift terbuka, dia keluar menuju pintu yang memiliki nomor 205 dan membukanya segera.


"Semoga, Ka Leon belum pulang," gumamnya.


Risma melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah, dia mendaratkan bokongnya di sofa karena merasa sedikit lelah. Kepala dia sandarkan di sandaran sofa dan matanya mulai terpejam, tapi baju juga beberapa menit dia dikejutkan dengan suara seseorang.


"Dari mana?" tanya Leon yang berdiri di hadapannya.


Risma membuka matanya dan memperbaiki duduknya, lalu menatap suaminya.


"Dari keluar sebentar, ketemu dengan teman," ucapnya.


"Apa kamu sudah makan?" Leon menuju ke dapur setelah mendapatkan gelengan dari istrinya.


Risma mengikuti Leon dari belakang sambil menggigit ujung kuku jarinya dia merasa kalau suaminya sedikit berperilaku dingin.


"Ka, maaf ya?" Risma berdiri tepat di belakang Leon sambil menunduk dan memilin ujung bajunya.


Leon memutar tubuh menghadap pada istrinya yang tertunduk. "Jika kamu mau keluar, beri tahu aku, biar aku tidak khawatir mencarimu." Leon kembali menghadap ke wastafel dan menghembuskan nafasnya begitu berat.


Risma mengangkat kepalanya menatap punggung suaminya dan melangkah lebih dekat lagi, Risma memeluk tubuh Leon dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di punggung Leon.


"Maaf," lirihnya.


Leon terdiam sejenak lalu melepaskan tangan yang melingkar erat di perutnya yang rata. Leon kembali memutar tubuhnya menghadap istrinya dan meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri.


"Aku tidak marah, tapi jangan diulangi lagi. Ingat kamu sekarang punya suami, kamu tidak boleh keluar tanpa sepengetahuan suamimu." Leon mengusap pipi istrinya yang mulai basa.


Risma menatap wajah suaminya lalu mengangguk pelan dan kembali memeluk tubuh itu dengan erat, wajahnya dia tenggelamkan di dada suaminya.


"Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi," lirihnya.


Leon mengusap punggung istrinya dengan lembut dan sesekali mencium pucuk kepala itu.


"Baiklah, sekarang ayo kita memasak bersama," ajak Leon.


Risma melepaskan pelukannya dan mengangguk. Mereka sekarang memasak bersama untuk makan malam mereka, setelah beberapa menit masakan mereka telah jadi dan siap disantap.


.


.


"Apa sudah kenyang?" Leon menuangkan air untuk Risma lalu memberikannya.


"Iya. Ka Leon masuklah dulu, biar aku saja yang mencuci piringnya," ujar Risma.

__ADS_1


"Lebih baik kita kerjakan bersama, biar cepat selesai," ucap Leon.


Lalu berdiri menuju ke wastafel membawa piring yang kotor dan Risma pun ikut berdiri di dekat Leon dan membilas piring yang sudah di sabungi Leon. Tak butuh berapa lama semuanya sudah selesai dikerjakan bersama, Leon dan Risma kini menuju ke kamarnya untuk istirahat, apalagi besok mereka masuk sekolah lagi.


.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Risma kini sudah berada di atas ranjang sambil melihat foto Deren yang sempat dia ambil tadi sore. Leon yang melihat Risma memerhatikan hanponenya dan senyum-senyum sendiri hanya mengerutkan kening, lalu naik ke atas ranjang sebelah kanan Risma.


"Liat apa sih?" Leon berusaha melihat layar HP itu, tapi dengan cepat Risma menyembunyikan di balik bantal.


"Bukan apa-apa," jawabnya.


"Terus, kenapa disembuyiin. Sini aku juga mau lihat, aku penasaran apa yang membuatmu senyum sendiri dari tadi." Leon berusaha mengambil HP itu tapi Risma tetap menyembunyikannya.


"Ka, lebih baik sekarang kita tidur. Besok 'kan sekolah," pintahnya.


"Ok. Sekarang terserah kamu," ucap Leon. Dia merebahkan dirinya dan membelakangi istrinya.


Risma yang melihat itu merasa bersalah, seharusnya dia tak menyembunyikan hal itu dari suaminya. Sampai kapan pun dia tutupi akan terbongkar juga nantinya, tapi dia tidak mau kalau Leon nanti melarangnya bertemu dengan Deren.


"Ka, apa Kakak marah?" tanyanya. Risma menyentuh bahu Leon dan mencoba menggoyangkan nya.


Tak ada pergerakan, bahkan Leon juga tak bersuara sedikit pun. Risma mencoba membalikkan tubuh Leon dengan terlentang, tapi mata itu sudah tertutup rapat. Risma tahu kalau suaminya belum tidur dan hanya berpura-pura saja.


"Ka, jangan marah. Aku janji akan mempertemukan Ka Leon besok dengannya, tapi...." Risma menghela nafas berat.


"Tapi apa?" Leon membuka matanya menatap wajah sedih istrinya.


Leon menarik tubuh Risma ke dalam dekapannya, kini Risma berbaring di samping Leon dan menyembunyikan wajah di celuk leher suaminya dan sesekali menghirup bau segar tubuh itu.


"Siapa yang kamu temui tadi?" tanyanya dengan lembut.


"Janji, jangan marah." Risma menjauhkan kepalanya dari leher Leon dan mulai membuka matanya menatap wajah tampan suaminya.


"Hem." Setelah Leon berdehem Risma menghela nafasnya yang terasa berat.


Apa dia harus memberitahu siapa yang dia temui tadi sore dan membuatnya lupa memberi kabar pada suaminya kalau dia lagi pergi ke sesuatu tempat.


"Aku tadi ketemu dengan seseorang dan sebenarnya tadi itu aku melihat fotonya di HP aku," jelasnya.


"Cewek atau cowok?"


"Cowok," liriknya.


Leon membuka matanya saat Risma mengatakan kalau dia tadi bertemu dengan seorang cowok.


"Apa?"


Karena melihat wajah suaminya yang mulai berubah merah, Risma bangun dan duduk sambil tertunduk. Dia mengaku salah karena tidak memberitahu Leon dari dulu.

__ADS_1


"Boleh aku liat fotonya?" pinta Leon.


Risma hanya diam dan mengambil HPnya yang dia sembunyikan tadi di bawa bantal, lalu memberikannya pada Leon.


Leon mengambil HP itu dan mulai menghidupkan lalu beralih ke aplikasi galeri, mencari foto yang dimaksud istrinya tadi. Betapa terkejutnya Leon melihat beberapa foto Risma dengan seorang pria sambil tersenyum, bahkan ada foto Risma yang pipinya di cium oleh pria itu.


Leon kembali menyerahkan HP istrinya dengan wajah yang memerah. Risma mendongak menatap wajah Leon, ada rasa takut di dalam hatinya. Dia tahu kalau saat ini Leon pasti sedang marah melihat itu semua.


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.


"Aku tidak marah jika kalian bertemu, tapi aku sangat marah karena dia mencium pipimu itu," ucapnya dengan penuh tekanan.


Wajah Leon cemberut mirip anak kecil yang lagi marah bahkan seperti anak kecil ingin menangis jika mainannya diambil orang lain.


"Aku minta maaf," ucapnya pelan. Risma kembali menunduk karena tak mampu melihat wajah suaminya yang sudah memerah dan sebenarnya bukan hanya rasa takut yang dia rasakan saat ini, tapi juga rasa ingin tertawa melihat wajah cemburu itu yang mirip anak kecil.


"Besok, pertemukan kami," pintanya.


Risma mengangguk, Leon kembali merebahkan tubuhnya dengan membelakangi istrinya lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Risma ingin menertawakan hal itu tapi dia tahan, karena jangan sampai Leon semakin marah padanya.


Risma merebahkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut, dia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Dia mencoba membalikkan tubuh itu agar bisa berbaring di lengan kekar suaminya. Dan sepertinya Leon tak menolaknya, Leon kembali membuka selimut yang menutupi kepalanya dan menatap wajah imut Risma yang sudah berbaring di lengannya.


Risma tersenyum saat Leon menatap wajahnya. "Jangan marah." Risma memeluk pinggang suaminya dengan erat dan mencium pipi Leon berkali-kali.


"Janji, lain kali jangan lagi," ucapnya dengan wajah cemberut dan bibir di monyongin.


Risma mengangkat kedua bahunya lalu tersenyum lagi, tangan yang tadinya terlingkar erat di pinggang suaminya kini sudah terangkat mengusap pipi itu dengan lembut.


Leon memiringkan tubuhnya menatap wajah Risma tanpa bersuara. Risma hanya tersenyum karena dia tahu kalau suaminya lagi cemburu pada Deren dan marah karena pria lain sudah mencium pipinya itu.


"Sudah, jangan cemberut lagi." Risma mencium kening dan kedua pipi Leon lalu terakhir mencium benda kenyal milik Leon.


Saat ingin menjauhkan wajahnya, Leon menarik tengkuk Risma agar benda kenyal itu kembali lagi bersentuhan. Bukan hanya saling merapat saja tapi Leon mengubahnya menjadi ******* bahkan mengigitnya juga saat Risma tak membalasnya. Risma tak bisa menghentikan kelakuan Leon, dia hanya membiarkan Leon melakukan itu, biar Leon tak marah dan dia juga sesekali membalas ******* itu biar Leon lebih puas lagi.


Setelah merasa puas Leon menghentikan aksinya dan menatap wajah Risma yang ikut menatapnya.


"Apa, masih marah?" Leon hanya menggeleng lalu mengusap bibir istrinya yang mengeluarkan darah karena gigitannya tadi.


"Terimakasih." Risma tersenyum karena suaminya tak marah lagi, sedangkan Leon kembali menghisap darah itu agar berhenti keluar, dia sadar kalau perbuatannya tadi sedikit kasar. Saat darah itu tak keluar lagi, dia menghentikannya dan menarik Risma ke dalam dekapannya dan sesekali mencium pucuk kepala istrinya.


"Tidurlah. Ayo kita bertemu dia besok bersama," ucap Leon.


Risma hanya mengangguk dalam pelukan suaminya, wajah kini berada di celuk leher Leon karena dia merasa kalau di sana adalah tempat yang paling nyaman baginya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2