
Sudah 4 bulan pernikahan Leon dan Risma, kini hubungan mereka nampak baik-baik saja. Leon yang semakin manja pada istrinya dan Risma yang semakin hari semakin berpikiran dewasa, tidak seperti dulu lagi yang selalu membuat keluarganya kewalahan menghadapinya.
Risma memang terbilang anak yang suka bandel, keras kepala, selalu kabur dari rumah. Tapi dia kabur ke dermaga hanya untuk melihat senja sekalian menenangkan pikirannya.
Tapi semenjak dia menjadi istrinya Leon. Risma tak pernah lagi keras kepala, bahkan dia selalu menurut yang dikatakan Leon, dia juga tak pernah membantah jika Leon melarangkan sesuatu hal yang Leon tak sukai.
Risma juga selalu teringat kata-kata orang tuanya. "Nak, jangan pernah membantah perkataan suamimu. Hargailah dia, sekarang dia adalah pengganti kami mengurusmu."
Begitupun dengan Leon. Dia tak pernah membentak atau menyakiti hati istrinya. Tapi kini dia semakin membuat istrinya pusing dengan tingkah manjanya itu.
Semenjak Risma mengakui kalau dia juga sudah menerima Leon sebagai suaminya dan mencintainya. Leon semakin hari semakin manja, bahkan dia tak mau berpisah dari istrinya walau sehari saja.
Leon selalu memberikan Risma cinta dan kasih sayang setiap hari, sehingga Risma pun sulit menjauh dari suami manjanya itu.
Leon bahkan pernah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan meninggalkan Risma, apapun yang terjadi. Kecuali maut yang memisahkan mereka.
Deren? Deren semakin hari semakin manja juga pada bayi besarnya, bahkan jika di jahili oleh Dion pasti dia akan melapor pada Bayi besarnya. Deren memang selalu dimanja oleh Leon, bahkan semua permintaannya pasti akan dituruti.
Semenjak Deren tinggal bersama Leon dan Risma, dia tak pernah membantah perkataan Leon, palingan Deren akan merajuk jika permintaannya tidak dituruti.
Risma pun merasa senang karena Leon memanjakan Deren seperti adiknya sendiri.
Deren bahkan sudah dikenalkan kepada Mami dan Papi Leon dan ternyata mereka sangat menyukai Deren, bahkan menganggapnya sebagai cucu mereka. Mami Leon sangat menyayangi Deren, bahkan dia kadang membawa Deren jalan-jalan, berbelanja mainan dan pakaian.
Deren juga sudah tak mengingat lagi kepergian Mamanya yang meninggalkannya sendiri dunia ini, tanpa ada keluarga yang menemaninya. Hanya ada Risma dan keluarganya saat itu, jadi Deren kini menganggap Risma sebagai keluarganya saat ini.
.
Tak terasa sudah jam pulang sekolah, hari ini begitu cerah dan terik matahari begitu panas memancarkan cahayanya. Sehingga membuat tubuh mereka gerah dan terasa lengket karena keringat.
Risma berjalan masuk ke kamar mandi setelah Leon keluar dari dalam sana, jadi sekarang giliran dia untuk membersihkan diri karena tubuhnya yang sangat gerah.
Sedangkan Leon langsung duduk di sofa sambil mengelap rambutnya yang masih basah dan mengambil hpnya.
15 menit kemudian Risma keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang hanya menutupi dadanya sampai sebatas paha. Risma sebenarnya lupa membawa baju ganti masuk ke sana jadi terpaksa hanya menggunakan handuk untuk keluar.
Risma langsung menuju ke lemari tempat penyimpanan pakaiaannya tanpa mengetahui bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
Leon dengan susah menelan silivanya karena disuguhkan pemandangan itu, bahkan jiwa kelakiannya mulai kambuh lagi, Leon bahkan tak bisa berpaling dari penglihatannya.
Leon menghampiri istrinya yang sedang asik mencari pakainya tanpa menyadari bahwa Leon semakin dekat dengannya.
Risma tersentak kaget saat merasakan ada lengan kekar yang melingkar di perutnya, pasalnya tadi dia tak memperhatikan kalau Leon ada di kamar itu.
Leon mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Risma, menghirup bau wangi dari tubuh gadisnya itu.
Sedangkan Risma semakin merinding, saat merasakan ada benda kenyal dan hangat menyentuh tengkuk dan lehernya. Risma meremas kuat lengan yang melingkar di perutnya saat Leon mengubah ciumannya menjadi gigitan, bahkan dia juga meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.
"Ka?" Risma mencoba menyadarkan Leon dari tingkahnya yang terbawa nafsu.
Tapi Leon tak menghentikannya juga, Leon membalikkan tubuh yang dipeluknya itu menjadi menghadap, kepadanya. Leon menatap lekat wajah merona istrinya yang kini hanya menatap dada bidangnya karena merasa takut memandang kedua mata Leon.
Leon meraih dagu istrinya agar menatapnya. Risma pun mendongak menatap kedua mata Leon yang memerah karena menahan sesuatu tapi tetap tak bisa. Bahkan Risma bisa merasakan deruh nafas Leon yang begitu berat dan Risma pun mengetahui bahwa saat ini nafsu suaminya kambu karena ulahnya sendiri.
Leon mengecup kening itu begitu lama sedangkan Risma memejamkan matanya, ikut merasakan kecupan hangat dari suaminya.
Kecupan yang awalnya hanya di kening saja, kini sudah berpindah ke benda kenyal yang selama ini membuatnya tercandu, bahkan dia tak bisa merasa tenang jika tak mencicipi nya sekali saja.
Risma tak membalas ciuman itu dan hanya membiarkan Leon melakukannya sendiri, yang Risma takutkan jika dia membalasnya malah membuat Leon tak bisa berhenti.
Karena merasa tak ada perlawanan Leon pun semakin memperdalam tautannya dan meraih tengkuk Risma, yang tadinya hanya menempel saja tapi kini sudah berubah menjadi ******* demi ******* yang lembut. Tapi membuat Risma kehabisan nafas dan terpaksa mendorong dada bidang Leon agar terlepas dan dia bisa menghirup udara segar.
"Maaf." Leon setengah berbisik saat tautan mereka sudah terlepas.
Risma hanya mengangguk pelan dan langsung memeluk erat suaminya. Wajahnya dia tenggelamkan di dada bidang Leon sedangkan kedua tangannya melingkar erat di pinggang Leon. Sebenarnya bukan tanpa alasan dia memeluk suaminya, tapi sebenarnya dia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah merona. Leon pun membalaskan pelukan itu tak kalah erat.
"Sayang?" Leon kembali mengecup pucuk kepala istrinya bahkan bertubi-tubi.
Risma hanya mengangguk pelan dalam pelukan Leon, setelah cukup lama berpelukan Leon pun mulai melepaskannya lalu menggendong tubuh istrinya menuju keranjang miliknya.
Leon menaiki ranjang tersebut lalu membaringkan Risma tak lupa pula ikut menindih tubuh itu. Leon menatap wajah istrinya yang kini di bawa kungkungannya, dia kembali lagi mengecup kening, kedua pipi dan terakhir di bibir ranum milik istrinya dengan sekilas.
Karena mengetahui keinginan suaminya, Risma langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Leon dan menariknya lebih dekat lagi, agar bisa mengecup ujung hidung Leon.
Senyuman Leon langsung berbentuk bulan sabit saat mendapatkan kecupan itu.
Kali ini Leon benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya walaupun dia berusaha untuk menghentikannya tapi tetap tak bisa.
Semua pria normal pasti tak bisa menahannya, begitupun dengan Leon. Apa lagi setiap hari melihat pemandangan itu, tidur seranjang dengan wanita bahkan saling berpelukan saat ingin tidur.
Apa lagi wanita yang bersamanya saat ini adalah wanita yang sudah dia halalkan 4 bulan yang lalu, jadi tak ada salahnya jika mereka melakukannya bahkan malah mereka mendapatkan pahala.
Sebenarnya Leon sudah lama menginginkan moment ini, tapi dia teringat perkataan papinya bahwa mereka masih sekolah dan masih lama di sana. Bagaimana jika Risma hamil dan para guru dan siswa-siswi mengetahuinya, pasti mereka akan menghina Risma dengan kata-kata yang tidak-tidak karena belum ada yang mengetahui pernikahan mereka selain Ayu, Cerry, Riki dan Gery.
Sedangkan yang ada di pikiran Risma saat ini adalah perkataan mamanya yang selalu mengigatkan akan kedukannya saat ini.
"Nak, kini kau tak sendiri lagi. Ingat, sekarang kau adalah seorang istri dari pria yang sudah menghalalkanmu. Jangan pernah menolak saat dia meminta haknya, jika kau masih bisa mengabulkannya makan berikanlah. Jangan menjadi istri yang durhaka pada suaminya."
"Ingat suatu hal, surga seorang istri ada pada suaminya."
Itu adalah perkataan mamanya yang selalu dia ingat, jadi apakah salah jika dia memberikan hak suaminya sekarang, apa lagi suaminya sendiri yang meminta padanya dan dia masih bisa menyanggupinya saat ini.
.
Setelah 2 jam beradu kasih menyatukan bukti cinta mereka, akhirnya mereka meraih puncak kebahagian bersama, bahkan mereka tak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
Setelah 4 bulan resmi menikah, baru pertama ini mereka melakukan sunnah rosul. Akhirnyna Leon mendapatkan haknya yang selalu dia nanti dan diinginkannya yang selama ini ditahannya.
Suara tersengal-sengal masih terdengar dari keduanya, bahkan tubuh mereka kini penuh dengan keringat yang membuat tubuh mereka semakin lengket.
Leon menatap wanitanya yang masih terpejam di bawah kungkungannya dengan dada turun naik karena masih susah mengatur nafasnya menjadi normal.
Leon mengecup lama kening istrinya yang basah karena keringat, lalu merebahkan dirinya di samping tubuh istrinya yang masih terpejam. Dia pun menarik tubuh istrinya yang kini sudah tertutupi oleh selimut ke dalam dekapannya.
"Terimakasih, sayang. Tidurlah, kau pasti lelah." Setelah mengucapkan itu Leon pun kembali mengecup kening dan pipi istrinya.
Sedangkan Risma hanya mengangguk pelan dengan mata yang masih tertutup rapat.
.
Kriingg... Kriingg...
__ADS_1
Suara jam weker yang menunjukkan jan 05:00 sore membangunkan dari tidur nyenyak nya, dia pun langsung membuka matanya perlahan dan mematikan jam tersebut. Penglihatannya kini teralih pada istrinya yang masih terlelap berada dalam pelukannya.
Hufff...
Leon meniup wajah istrinya, tapi ulahnya malah tak mempan dan membuat istrinya semakin memperbaiki posisi tidurnya.
Leon terkikik saat kembali mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut istrinya.
"Sayang, bangunlah. Ini sudah petang." Leon kembali meniup wajah istrinya.
"Eegghmm..." Risma semakin menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Leon agar tak terganggu lagi.
"Sayang, ini sudah jam 5. Bangunlah," bisiknya lagi.
"Sebentar lagi, Ka." Suara serak khas bangun tidur Risma akhirnya terdengar juga.
Karena merasa tak ada tanda-tanda istrinya ingin bangun, Leon pun menjahili nya dengan menarik pelan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Risma pun membuka matanya karena merasakan kalau selimut yang menutupi tubuhnya semakin menurun ke bawah. Dia panik dan langsung menarik kembali selimut itu agar tubuhnya tertutupi kembali.
Sedangkan Leon tertawa melihat wajah panik istrinya yang takut tubuh polosnya terlihat. Mau tak mau Risma pun bangun dan mendudukkan dirinya.
"Auukh...," ringisnya. Risma merasakan perih di bawah sana saat ingin bergerak lebih.
Leon yang mendegar dan melihat wajah ringisan istrinya pun langsung ikut terbangun duduk dari pembaringannya.
"Apa sakit sekali?" Leon terlihat cemas pada istrinya.
Risma hanya menggeleng pelan lalu menunduk karena malu di tatap Leon, apa lagi wajah yang kembali merona. Karena mengerti dengan keadaan istrinya, tanpa aba-aba dan permintaan dari sang istri Leon langsung meraih tubuh yang terbalut selimut itu lalu menggendongnya menuju ke kamar mandi.
Leon menurunkan Risma di Bagthup. "Ka, keluarlah aku mau mandi." Risma berbicara tanpa melihat ke suaminya karena Leon saat ini tak mengenakan apa pun.
"Tidak, kita akan mandi bersama."
.
Setelah selesai mandi Leon keluar terlebih dahulu dan kini dia juga sudah mengenakan pakaiannya, lalu kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk memberikan istrinya handuk.
Setelah meletakkan handuk di tempat penggantungan nya, Leon pun keluar. Leon kini beralih ke lemari mengambil sepray yang lain untuk menggantinkan yang di pakainya tadi.
Saat berdiri di samping ranjang itu, Leon termenung melihat ada beberapa bercak noda darah di sana. Pikirannya kembali teringan kejadian beberapa jam yang lalu dan membuatnya senyum-senyum sendiri karena merasa bahagia.
Lamuan Leon tersadarkan karena mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dengan cepat dia membuka sepray itu lalu menggantikannya dengan yang baru.
"Ka?" Leon pun berbalik menatap istrinya yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi.
"Pakailah pakaianmu, aku keluar dulu." Setelah mendapat anggukan dari istrinya, Leon pun keluar kamar sambil membawa sepray tadi agar bisa mencucinya dimesin cuci.
.
"Bi, Deren belum pulang?" Leon tadi mendapat telpon waktu masih di sekolah, maminya memberi tahu kalau dia mengajak Deren jalan-jalan lagi hari ini.
"Belum, Tuan."
Leon pun mengangguk. "Apa Bibi sudah memasak?"
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah tersedia di atas meja makan," jawab Bibi.
.
Risma sudah selesai mengenakan pakaiannya, kini dia sudah duduk di sofa sambil menonton TV. Tapi pandangannya teralihkan saat pintu terbuka dan menampakkan sang suami yang sedang membawa sepiring nasi dan segelas air di tangannya.
Leon tersenyum saat istrinya menatapnya. "Sayang, makan dulu." Risma pun mengangguk.
Leon duduk di samping istrinya dan meletakkan gelas tersebut di atas meja di depannya, lalu memberikan piring itu pada istrinya.
Risma pun menerimanya. "Makasih, apa Kakak sudah makan?"
Leon hanya menggeleng dan tersenyum, dia mengusap rambut istrinya yang masih sedikit basah.
"Ayo kita makan bersama, hem? Biar aku menyuapi Ka Leon." Risma pun mulai menyendok makan tersebut dan mengarahkannya ke mulut sama suami.
"Aak... buka mulutnya, Ka." Leon pun membuka mulutnya lalu menerima suapan istrinya.
"Sekarang kamu yang makan, ya?" Leon pun mengambil alih sendok itu lalu menyuapi istrinya juga.
"Apa enak?" Risma pun mengangguk karena mulutnya penuh dengan nasi.
Kini mereka sedang makan sambil suap-suapan saling bergantian dengan sepiring nasi dan segelas air berdua.
.
"Aku pulang!" teriak Deren.
Leon yang mendengar suara Deren langsung menghampirinya, kini Deren sudah belari kecil saat melihat Leon yang sudah berdiri di dekat tangga.
"Hai, dari mana saja? Kenapa baru pulang?" Leon mengangkat tubuh anak kecil itu yang berada di dekat kakinya sambit tertawa.
"Dari jalan-jalan, sama Oma." Tunjuk Deren pada Mami Leon yang sudah berdiri di dekatnya.
"Nak, maaf ya? Mami baru sempat bawa Deren pulang." Mami Leon ikut tersenyum melihat tingkah manja Deren yang kini berada di gendongan anaknya sambil memeluk leher Leon.
"Tidak apa-apa, Mi. Justru kami yang khawatir, apa Deren tak membuat Mami kewalahan mengawasinya?"
"Sama sekali tidak, Leon. Bahkan tadi kami pergi ke Mall. Tapi Deren tak ingin berbelanja yang lain selain es krim," jawab Mami.
Leon pun memanggil babysitter Deren, menyuruhnya mengantar Deren ke kamarnya karena ini sudah jam 7 malam.
Setelah Deren diambil alih oleh babysitternya. Leon mengajak Maminya untuk duduk di ruang keluarga sambil berbincang-bincang.
"Istrimu mana, Le?" tanya Ibunya.
"Ada di kamar, Mi. Tunggu sebentar biar ku panggilkan." Baru juga ingin berdiri tapi Leon dihentikan oleh Maminya.
"Tak usah, Nak. Ini sudah malam, Mami pulang dulu ya? Sampaikan saja salamku pada menantu Mami." Leon pun mengangguk.
"Ya sudah, Mami pulang dulu."
"Hati-hati di jalan, Mi." Leon memeluk sejenak maminya dan mengecup pipi wanita paru baya itu tapi masih tampak cantik.
Maminya pun membalas pelukan anaknya dan mengecup kening Leon sekilas dan tersenyum. "Sudah, jangan maja seperti ini lagi sama Mami. Ingat, sekarang kamu punya istri. Tidak malu apa? Nanti liat seperti ini."
__ADS_1
Leon pun melepaskan pelukannya pada maminya. "'Kan cuman sekali-kali, Mi."
Maminya hanya tersenyum mendegar ucapan anaknya. "Mami pulang dulu." Wanita paru baya itu pun keluar setelah mendapatkan anggukan dari anaknya.
Leon pun menutup pintu saat mobil maminya sudah tak terlihat lagi pandangannya. Leon kembali naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
.
Risma sedang duduk di atas ranjang sambil main game di hpnya. Sedangkan Leon yang melihat itu langsung menghampiri istrinya dan duduk di dekat istrinya.
"Lagi ngapain, sayang?"
"Main game." Risma menjawab tanpa menatap wajah suaminya.
"Lebih baik main yang tadi, mau ya?" ajak Leon.
"Percuma. Baru juga 2 ronde tapi Kakak selalu kalah."
"Ok. Kali ini aku pasti yang menang, main lagi ya?"
"Ck! Aku capek, mau tidur." Risma menyimpan hpnya di atas nakas samping ranjangnya, lalu mulai merebahkan tubuhnya tapi tertahankan oleh Leon.
"Sayang, ayolah."
Dengan keterpaksaan Risma pun mengiyakan permintaan suaminya, Risma mulai mengambil tempat di tengah-tengah ranjang, agar permainan mereka lebih seru.
Leon pun turun dari ranjang dan mengambil sesuatu di bawah meja.
Leon kembali lagi naik ke atas ranjang dan duduk berhadapan dengan istrinya.
"Ayo kita mulai."
Mereka pun kembali main dengan permainannya, tanpa Leon sadari kalau yang dia tantang saat ini adalah ahli dalam permainannya.
Sudah pukul 9 malam dan itu artinya mereka sudah main 2 jam yang lalu, tapi Leon belum mau mengalah. Sedangkan Risma sudah mulai mengantuk dan mulai capek karena sudah duduk selama 2 jam.
"Ka, sudah ya? Aku sudah capek, mau tidur. Kakiku juga sudah mulai keram. Ini juga sudah 2 ronde." Risma mulai mengeluh dari tadi, tapi Leon tak mau berhenti karena tak menerima kekalahannya.
"Ck! Aak! Kenapa aku bisa kalah terus? Sayang, kamu belajar dari mana permainan ini?" Leon kembali mengacak rambutnya.
Sedangkan Risma hanya tertawa melihat tingkah suaminya yang tak menerima kekalahannya. "Sudahlah, Ka Leon sudah kalah dan aku yang selalu menjadi pemenangnya. Jadi, Terima saja kekalahan ini."
Risma kembali meremas kakinya yang keram dari tadi karena terlalu lama duduk bersila.
Merasa kasihan dengan istrinya, Leon pun menerima kekalahannya dan mulai mengumpul kembali anak catur dan menyimpannya kembali di bawah meja sofa.
Sebenarnya dari tadi mereka itu sedang bermain catur dan Leon selalu kalah melawan istrinya. Padahal jika dia bermain dengan Dion, maka dia lah yang selalu menang tapi melawan istrinya sendiri malah kalah terus.
Leon kembali ke ranjang dan duduk di tepi ranjang. "Sayang, berikan kakimu. Biar aku yang memijit nya karena aku lah yang membuatnya keram." Leon mulai mengambil kaki istrinya, meletakkan di atas pahan dan mulai memijit nya supaya tidak keram lagi.
"Ka, tidak usah. Ini sudah mulai berhenti kok. Ka Leon tidur saja, besok masuk sekolah lagi pagi-pagi karena ada piket." Risma pun menarik kembali kakinya dan memasukkannya di dalam selimut dan menepuk kasur di dekatnya, menyuruh Leon ikut berbaring dengannya.
Leone nurut dam mulai mengambil posisi tempat tidurnya, sedangkan Risma yang melihat Leon sudah berbaring terlentang dengan cepat meletakkan kepalanya di lengan suaminya dan melingkarkan tangan kirinya di perut sang suami. Leon yang mendapatkan pelukan dari istrinya juga langsung membalasnya dan mengecup beberapa kali pucuk kepala istrinya.
"Astaga, aku baru ingat." Leon baru teringat sesuatu yang seharus dia sampaikan dari tadi.
Risma yang tadi sudah memejamkan matanya kini kembali lagi terbuka. "Ada apa Ka?"
"Tadi, Mami menitip salam untukmu."
"Loh, tadi Mami ada di sini? Kenapa tidak memberitahuku, Ka? Aku 'kan juga ingin bertemu dengan Mami." Risma merasa jengkel pada suaminya dan mulai melayangkan beberapa cubitan di pinggang suaminya.
"Mami tadi cuman mengantar Deren, dia hanya sebentar dan hanya menitip salam untukmu," jelas Leon.
"Astaga, aku baru ingat dengan anak itu, apa dia sudah tidur?"
"Deren sudah tidur dari tadi, sebelum masuk ke mari, aku mengeceknya dulu dan ternyata dia sudah tertidur pulas setelah menganti bajunya. Mungkin dia lelah karena seharian ini jalan-jalan sama Mami."
"Sekarang tidurlah, besok masuk sekolah." Leon memiringkan tubuhnya menghadap ke istrinya dan mengecup kening itu begitu lama lalu memeluk istrinya. Risma pun membalas pelukan suaminya dan mulai memejamkan matanya agar masuk ke alam mimpi.
.
Sedangkan di tempat lain ada 2 gadis sedang menyusun rencana jahatnya untuk memisahkan sepasang suami-istri itu.
Dan siapa lagi kalau bukan Elsa dan Dira. Elsa tak terima jika Leon pacaran dengan Risma karena sebenarnya dia lah yang ingin bersama dengan Leon.
Sudah 4 bulan juga dia mencoba mendekati Leon tapi tetap tak ada hasilnya, yang dia terima dan dia dapatkan tetap sama yaitu penolakan dari Leon.
Begitu pun dengan Dira, dia sangat jatuh cinta pada Dion. Tapi saat mengajak Dion berbicara pasti di cuekin saja atau malah di tinggal pergi. Dira juga cemburu jika melihat Dion bersama dengan Yuna.
Bukan tanpa alasan Dion membenci Elsa dan Dira. Dion perna melihat kejahatan mereka yang menyerang wajah kakak iparnya dengan air bahkan di depannya sendiri dan kakaknya, Leon.
Makanya selama ini Dion sangat membenci Elsa dan Dira, setiap Elsa dan teman-temannya merencanakan sesuatu pasti digagalkan oleh Dion.
"Ra, rencana kita kali ini harus berhasil." Elsa mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
"Betul El. Aku tak sabar ingin melihat Leon berpisah dengan wanita kecentilan itu akan dibenci oleh Leon." Dira menyeringai seram dengan kepikiran jahatnya.
"Kita tinggal cari kelemahan wanita centil itu. Setelah dapat, kita membuatnya menangis meraung-raung bahkan jika perlu sampai menangis darah dan Leon? Leon pasti jatuh ke pelukanku," ucap Elsa.
"Aku setuju, kita buat dia agar dibenci oleh Leon dan Dion, jika perlu kita buat Dia dibenci seluruh Siswa-siswi di sekolah," Sambung Dira.
"Aku tak sabar melihat kehancurannya." Elsa mulai tertawa jahat begitupun dengan Dira.
Tanpa mereka sadari bahwa ada beberapa orang yang menjaga Risma dan tentunya yang paling utama melindungi Risma adalah Leon.
Sedangkan sahabat dan adik iparnya juga ikut melindungi pernikahan mereka dari orang-orang yang ingin menghancurkan mereka.
Elsa dan Dira juga tak menyadari kalau ada yang mengawasi Risma dari jauh bahkan ada beberapa suruhan orang misterius itu untuk mengawasi gadisnya.
Dan jika Elsa dan Dira ketahuan niat jahat oleh orang misterius itu pasti sudah di tangkap nya dan tak di beri ampun karena sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada gadis kesayangannya.
.
"Semoga kau selalu bahagia bersamanya, Sayang. Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat aku membawamu pergi jauh dari kehidupan orang-orang yang menyakitimu."
.
.
.
__ADS_1