
Semenjak kejadian yang terjadi pada Risma, Giovanni belum bisa tenang sama sekali. Walaupun, dia selalu menerima informasi dari anak buahnya, tapi tetap saja dia belum puas.
Tiga hari yang lalu dia menerima informasi dari Pak Andi, jika Risma sudah mau bicara pada Leon. Mengingat Leon darah Giovanni seakan mendidih, baginya Leon masih ceroboh sebagai suami.
Di hari kejadian, sebenarnya Giovanni ingin datang ke Rumah sakit untuk menjenguk Risma. Semuanya batal karena Istri Giovanni langsung datang dan menghetikannya.
Bukannya istri Giovanni tidak mau mempertemukan Giovanni dengan Risma, dia hanya takut jika Giovanni datang ke rumah sakit, hanya datang untuk menghajar Leon.
Dia sangat tahu, bagaimana sifat asli suaminya jika sedang marah pada seseorang.
Giovanni tidak bisa lagi untuk menahan rasa rindu, sekaligus khawatir terhadap Risma.
Giovanni kini berada di rumah Pak Andi, sudah lama dia ingin datang ke rumah ini, hanya saja istrinya selalu menahannya.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Om?"
Giovanni bertanya setelah mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu Pak Andi. Sementara Pak Andi, Dia duduk di sofa berhadapan dengan Giovanni.
"Dia sudah membaik." Pak Andi menjawab dengan senyuman ramah.
"Syukurlah, Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja," ucap Giovanni lagi.
"Kamu tidak perluh khawatir, Gio." Giovanni hanya mengangguk pelan.
"Lalu, kemana Dia pergi?" Giovanni bertanya karna sudah merasa cukup lama duduknya, tapi belum juga melihat atau memdengar suara Risma.
"Deren ingin keluar jalan-jalan, jadi Risma ikut bersamanya," jawab Pak Andi.
Pak Andi memperbaiki duduknya dan berhadapan dengan Gio, dia ingin membicarakan sesuatu yang serius.
"Gio ... Om ingin minta maaf. Om benar-benar gagal menjaganya dengan baik, Om telah mengecewakanmu," ucap Pak Andi dengan pelan.
Giovanni mengangkat tatapannya, menatap Pak Andi dengan serius, setelah beberapa detik, Gio kembali membuang muka.
"Bukan Om yamg salah."
"Tetap saja, karena anak Om adalah suaminya. Kesalahan Leon, Om yang tanggung. Jadi, Om harap kamu mau memaafkan Leon."
"Masalah itu ... ayo, lupakan saja. Seorang suami tidak mungkin menyakiti istrinya. Aku juga seorang suami, jangan lupakan itu," ucap Giovanni dengan senyuman.
Pak Andi pun merasa legah mendengarkan ucapan Giovanni, apa lagi melihat senyuman laki-laki ini, pasti sudah memaafkan Leon. Jika Giovanni senyum berarti dia bisa di ajak berdamai, tapi jika wajahnya kaku dengan tatapan tajam, berarti dia benar-benar tidak bisa di ganggu.
"Apa dia tidak pernah ke sekolah lagi?"
"Semenjak kejadian hari itu, Risma tidak pernah lagi, mau ke sekolah."
"Dia masih saja keras kepala," gumam Giovanni.
"Wajarlah, Dia masih remaja."
"Seharusnya, dia sadar. Dia sudah memiliki suami, keras kepalanya harus dia kurangi, Om."
"Risma tidak keras kepala. Dia sudah benar, untuk apa kesekolah lagi? Ujiannya sudah selesai." Lagi-lagi Pak Andi membela menantunya.
"Om, jangan terlalu memanjakannya. Nanti dia semakin besar kepala." Giovanni tahu kalau Risma sangat dimanjakan dengan keluarga suaminya.
__ADS_1
"Dia bukan hanya menantu kami. Tapi, dia sudah menjadi anak kami, Gio. Apa salahnya, jika kami memanjakannya sama seperti anak, Om yang lain." Kembali lagi Pak Andi menjawab dengan sedikit senyuman.
Mendengar ucapan Pak Andi, membuat hati Giovanni menghangat. Gio tahu kalau keluarga pak Andi sangat menyayangi gadis kecilnya.
Saat sedang asik berbincang, mereka berhenti seketika, saat mendengar suara seseorang yang berteriak dari luar.
"Aku pulaaang!" Kembali orang itu berteriak.
"Deren, berhenti berteriak. Kita tidak berada di hutan. Apa kamu Tarzan? Yang suka sekali berteriak." Risma menegur Deren yang ingin kembali berteriak.
"Aku memang penggemar Tarzan. Dia orang yang kuat, jadi aku ingin menjadi seperti dia," Deren bercerita dengan antusias.
Mereka belum sadar kalau ada Giovanni dan Pak Andi memerhatikan kedatangan mereka. Giovanni terseyum mendengar ucapa anak kecil itu.
Saat Deren ingin kembali berteriak, matanya menatap ke arah sofa dan senyumannya langsung mengembang. Keinginan teriaknya tidak dia lanjutin lagi, Deren langsung menghampiri orang itu.
"Paman, kapan kamu datang?" tanyanya antusias.
Giovanni langsung senyum saat ditanyai oleh anak kecil itu. Deren langsung berada di pangkuan Giovanni, bukan anak kecil itu yang bertindak, tapi Giovanni 'lah yang langsung mengankat anak itu dan memangkunya.
"Tidak juga. Apa kamu merindukanku?" Sesekali Giovanni mengelus kepala Deren dan tersenyum.
"Hemm, sangat! Beberapa hari ini, aku tidak melihatmu, jadi aku rindu," keluhnya.
Giovanni hanya tersenyu melihat Deren yang cemberut karena dirinya. "Baiklah, besok aku akan mengajakmu jalan-jalan, ok?"
Deren langsung mengangguk cepat karena mendengar ajakan Giovanni.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Pak Andi dengan heran.
Risma yang masih berdiri di tempatnya tadi, hanya diam menyaksikan percakapan Deren dan Giovanni.
'Dia sangat pintar mengambil hati,' gumamnya dalam hati.
"Deren, pergi ke kamarmu dan mandilah." Risma mulai bersuara.
Anak lecil itu langsung melihat Risma dengan tatapan senduh, seakan meminta agar dirinya bisa lebih lama lagi dengan Giovanni.
"Babyyy ...?"
Tapi Risma tidak menyahut saat Deren memanggilnya dengan suara manjanya.
"Papiih?" Kini Deren beralih menatap Pak Andi, seakan meminta agar Pak Andi membiarkanya sedikit lama lagi di pangkuan Giovanni.
Yah, panggilan Deren kini telah berubah, dulu dia memanggil 'Kakek' pada Pak Andi. Setelah beberapa lama dan tinggal di rumah Pak Andi dia merubah panggilannya, Deren bilang, terlalu tua jika dia memanggil Pak Andi dengan sebutan 'Kakek', apa lagi Pak Andi dan istrinya masih mudah, jadih belum pantas di panggil 'kakek dan nenek'.
"Nak, kemarilah," Pak Andi memanggil menantunya untuk bergabung bersamanya.
"Pih, aku--"
"Sebentar saja." Pak Andi langsung memotong ucapan menantunya, dia tahu jika Risma ingin menghindar dari Giovanni.
Risma dengan lemas menghampiri mertuanya tidak lupa menyalin tangan mertuanya dengan takzim.
Sementara Giovanni yang melihat semua itu, seakan hatinya menghangat, ternyata Risma sangat hormat juga pada mertuanya, dia tidak lupa dengan kodratnya yang sebagai menantu.
__ADS_1
"Nak?" Pak Andi kembali memanggil menantunya saat tangan itu terlepas, lalu menatap Giovanni.
Giovanni yang tahu dengan maksud Pak Andi, langsung angkat bicara, "emm, tidak apa-apa, Om."
"Duduklah," pintahnya pada memantunya.
Risma langsung mengangguk pelan, dan menghampiri sofa tunggal yang berada di samping sofa Pak Andi.
Giovanni tidak lepas menatap Risma, benar kata Pak Andi kalau kondisi Risma mulai membaik sekarang. Sementara Risma yang ditatap, tidak pernah sekali pun membalas tatapan Giovanni.
"Bagaimana keadaanmu, sekarang. Maaf, aku baru bisa datang." Giovanni memulai percakapan setelah beberapa detik keheningan.
Risma yang mendengar pertanyaan Giovanni, langsung menatap pria itu dan tersenyum sini.
"Apa pedulimu? Bukankah ini yang kamu inginkan? Tuan yang T E R H O R M A T!" Menekan perkataannya di ujung kalimat, seakan menyindir Giovanni.
Giovanni menggeleng pelan, ternyata Risma kembali membencinya, dari ucapan itu, Giovanni bisa menyimpulkan kebencian dihati gadis itu.
Pak Andi yang mendengar ucapan menantunya, langsung menegur, "nak, jangan bicara kasar."
Pak Andi langsung berdiri dan menghampiri Deren, yang masih berada di pangkuan Giovanni.
"Deren, ayo. Pergi mandi dulu, lalu kita membongkar belanjaanmu. Papi ingin lihat." Pak Andi mencoba merayu anak kecil itu dan semoga saja berhasil dalam pikirannya.
Deren langsung mendongak menatap Pak Andi. "Tapi, gendong?" pintanya dengan manja.
"Ok, ok. Papi gendong, ayo." Mengulurkan kedua tanggannya untuk mengangkat Deren, anak itu pun langsung menyambut tangan Pak Andi dan melingkarkan tanganya di leher laki-laki yang di panggilnya 'Papi'.
"Paman, janji yah, besok kamu mengajakku jalan-jalan."
"Janji, besok jam 10, ok?"
"Ok." Tidak lupa tangan telunjuk dan ibu jarinya bertemu, berbentuk 'O' dan jangan lupa, kedipan matanya yang genit beberapa kali ke arah Giovanni sebelum pergi.
Giovanni yang melihat tingkah Deren langsung senyum, betapa menggemaskan anak kecil itu. Andai saja dia punya anak, mungkin sudah sebesar Deren.
Setelah cukup lama keheningan diantara mereka berdua, Giovanni pun mulai berbica untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
"Bolehkah besok aku mengajaknya pergi?" tanyanya pelan.
"Untuk apa? Untuk menghancurkan hatinya di kemudian hari. Seperti yang kamu lakukan padaku?" sindirnya.
"Aku--"
"Sudah cukup, Kak! Aku mohon. Lihat, apa yang akibat kamu lakukan waktu lalu? sampai sekarang aku masih mendapat imbasnya."
Giovanni hanya diam mendegar ucapan Risma, betul yang di ucapkan gadis itu, semenjak dia pergi sampai kembali, Risma malah semakin mendapatkan kesialan bahkan sampai kehilangan.
.
.
.
.
__ADS_1