Suamiku Anak Kelas Sebelah

Suamiku Anak Kelas Sebelah
49


__ADS_3

Jam 1 siang. Sekolah sudah sepih karena sejak jam 11 siang mata pelajaran ujian telah selesai, kini Dion sudah berada di Caffe mengecek beberapa berkas, serta mengawasi para karyawannya.


"Salah satu teman kalian kemana?" tanya Dion.


Diri tadi dia mencari keberadaan Yuna, tapi tidak juga dia temukan. Akhirnya dia bertanya kepada salah satu karyawannya.


"Maaf, Bos. Sepertinya Yuna belum datang," jawab sang karyawan.


"Ok. Kembalilah bekerja."


"Baik, Bos."


Setelah karyawan itu pergi memgerjakan pekerjaannya, Dion langsung keluar ke arah mobilnya. Langsung meninggalkan pekarangan Caffe untuk menuju ke sesuatu tempat.



"Yuna! Apa benar yang dia katakan?" tanya ibu kos padanya.


"Itu tidak benar, Bu. Saya berani bersumpah! Saya tidak melakukan seperti yang dia tuduhkan." Yuna mengelak atas tuduhan itu, dia bahkan menjelaskan dengan air mata.


"Bohong, saya melihat sendiri. Kalian sedang berpelukan tadi. Bilang saja, kalau kalian sedang ingin berme**m tadi. Iya 'kan?" ungkap Neni, sang tetangga.


"Maaf, Bu. Tapi, kami tidak melakukan hal seperti itu. Masalah pelukan, itu hanya salah paham. Sebenarnya tadi Yuna hampir jatuh, jadi saya menolongnya," Si pria ikut menjelaskan tentang salah paham yang dituduhkan Neni.


"Alah! bilang saja kalian ingin melakukannya. Hanya saja saya mendapatkan kalian, jadi kalian malah mengelak." Neni semakin menuduh.


"Astagfirullah! Itu fitnah," jawab setempat Yuna dan Ezio, si pria.


"Ibu tidak menyangka, kalau kalian melakukan hal seperti itu," kecewa ibu kos.


Yuna beralih menatap sang ibu kos yang menampakkan wajah kecewa serta wajah kemarahan. Yuna langsung memeluk kaki sang ibu kos dan menagis, memohon agar ibu kos percaya padanya.


"Ibu, aku mohon. Aku tidak seperti itu."


"Bu, kami tidak melakukannya," sambung si Ezio.


"Dasar perempuan murahan," sindir Neni.


"Cukup, Mbak! Sudah cukup Mbak menuduh yang tidak-tidak kepada kami. Sadarlah, siapa yang perempuan murahan disini." Ezio mulai murka dengan tuduhan Neni.


Yuna yang mendegar bentakan Ezio langsung berdiri dan mengusap pipinya yang basah karna air mata.


"Apa maksudmu?" tanya Neni.


"Tidak usah sok polos, Mbak. Kami semua tahu apa yang selama ini Mbak lakukan dan apa pekerjaan, Mbak Neni selama ini." Ezio menatap Neni dengan mata yang memerah karna menahan kemarahannya, sudah cukup Neni menuduhnya yang tidak-tidak.


"Ka, sudah." Yuna mencoba menenangkan Ezio.


"Ngak usah membelanya, Yun!" bentak Ezio.


"Sudahlah, ngak usah memutar balik fakta. Sudah ketahuan juga." Neni menyindir lagi.


Sebenarnya Neni tahu apa maksud Ezio dan dia juga mulai keringat dingin dengan perkataan Ezio.


Yang Neni takutkan adalah jika Ezio memocorkan rahasianya pada ibu kos. Entah, apa jadinya nanti jika ibu kos mengetahuinya. Apa lagi ibu kos itu sangat tegas orangnya. Ya, walaupun ibu kos itu adalah tante Neni sendiri, tetap saja dia takut.


"Apa maksudmu, Ezio?" Ibu kos mulai penasaran dengan ucapan pemuda itu.


"Asal ibu tahu, kalau pekerjaan keponakan ibu ini tidak benar," jawab Ezio.


Yuna mulai takut dengan permasalahan ini, apa lagi melihat wajah Ezio yang memerah dan dadanya mulai naik turun karena a emosi.


Yuna menarik ujung baju Ezio agar pemudah itu berhenti untuk bicara. "Ka, sudah. Biarkan saja."


"Diam, kamu!" bentak Neni pada Yuna.


"Aku salah apa sih, Mbak? Sehingga Mbak sangat membenci aku dan tega menfitnah aku?" Yuna bertanya bertubi-tubi pada Neni.


Neni maju selangkah ke depan dan tepatnya di hadapan Yuna. "Kamu mau tahu apa kesalahanmu?" tanya Neni dan menaikkan sebelah alisnya.


"Ini."


Plak!!


Bersamaan dengan ucapan Neni, tangannya pun mendarat di pipi Yuna dengan keras, sehingga membuat wajah Yuna berpaling ke samping.


"Mbak! Apa yang Mbak lakukan?!" bentak Ezio.


Pria itu menarik Yuna ke samping untuk menghindar tamparan Neni lagi.


"Mau tahu, kenapa selama ini aku membencimu, ha?! Itu karena kamu selalu dekat pada Ezio. Bahkan Ezio juga selalu memperhatikan kamu dari pada aku. Jangankan memperhatikan, menyapa saja jarang!" bentak Neni dengan emosi.


"Padahal kamu tahu, kalau aku sangat menyukai Ezio." Suara Neni mulai meredah bersamaan dengan luruhnya, air matanya.


Semuanya hanya diam mendengar ucapan Neni. Memang selama ini Neni sangat menyukai pemuda itu, tapi Ezio tidak pernah memperhatikan Neni.


Ezio malah sibuk dengan pekerjaannya sendiri bahkan dia juga jarang menyapa anak kos lain selain Yuna.


Sebenarnya Ezio hanya menganggap Yuna sebagai adik, semenjak mengetahui kalau Yuna tidak punya siapa-siapa lagi semenjak kedua orang tuanya meninggal.


Tapi Neni malah salah paham dengan kedekatan Yuna dan Ezio, dia malah terbakar api cemburu saat melihat Yuna. Dia juga menganggap Yuna ingin merebut Ezio.


"Tapi, itu tidak seperti yang Mbak pikirkan." Yuna kembali bersuara.

__ADS_1


"Lalu apa? Kalian selalu saling menyapa, bahkan Ezio khawatir saat kamu sakit. Tapi denganku, Ezio bahkan tidak mau melihat wajahku jika saling bertemu." Neni kembali lagi berucap sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata.


"Itu karena aku membenci pekerjaan, Mbak. Awalnya aku mulai ingin menyapa Mbak Neni. Tapi semenjak mengetahui pekerjaanmu, aku mulai menjauh." Ezio kini bersuara setelah lama mendegar ucapan Neni.


"Memangnya kenapa dengan pekerjaanku? Apakah salah jika aku mencari uang sendiri?" tanya Neni.


"Tidak, hanya saja pekerjaan Mbak itu."


"Sebenarnya kalian bicara apa? Aku tidak mengerti," tanya ibu kos setelah lama berdiam.


"Asal ibu tahu, kalau selama ini Mbak Neni bekerja di club." Ezio bersuara.


"Apa?" kaget ibu kos. "Neni apa itu benar?" sambung ibu kos lagi.


"I-iya, tan. Tapi aku tidak bekerja sejauh apa yang tante pikirkan." Neni mulai takut melihat wajah marah tantenya.


"Lalu, yang waktu aku lihat apa, Mbak?"


"Kamu salah paham, Zi. Memang waktu itu aku merangkul pria mabuk ke kamar club, tapi kami tidak melakukan apapun. Aku hanya mengantarkannya saja, karena dia sudah memesan kamar," jelas Neni.


"Siapa yang lihat, Mbak. Apalagi kalian berada di dalam kamar berduaan."


"Aku berani bersumpah, Zio! Kalau aku tidak pernah melakukan hal buruk itu." Bentak Neni.


"Dan asal kamu tahu, jika sampai sekarang aku masih tersegal. Itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Ezio." Suara Neni pelan saat di ujung ucapannya.


"Jika benar Mbak Neni mencintaiku, berhentilah bekerja di sana. Cari pekerjaan lain yang lebih aman dan halal," ucap Ezio dan menatap manik Neni dengan dalam.


"Ada apa ini?"


Saat Neni ingin menjawab perkataan Ezio, malah terhenti saat suara seseorang bertanya dari arah belakan Ibu kos.


'Ka Dion,' batin Yuna.


"Kamu siapa?" tanya Ibu kos pada Dion.


"Maaf, Bu. Dia adalah Bo--"


"Aku pacar dia, Bu. Yun, aku dari tadi menunggumu di caffe," ucap Dion.


"Pacar? Yuna, apa benar dia pacar kamu?" tanya Ibu kos dengan penasaran.


"Dia--"


"Benar. Yuna dan dia tidak punya hubungan apapun. Jadi berhenti berkata yang bukan-bukan." Dion menarik Yuna ke sampingnya, menggengam tangan gadis itu dengan lembut.


Sebenarnya Dion sempat mendegar pertengkaran saat baru saja sampai. Dion pun mulai penasaran, akhirnya dia menghampiri keributan itu dan melihat Yuna menagis setelah di tampar oleh Neni.


Itulah sebabnya Dion berbohong kalau Yuna adalah pacarnya, agar Neni tidak berpikiran buruk lagi pada Yuna.


Yuna hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi, belum sempat keterkejutannya karena tamparan Neni barusan, kini Dion datang dan mengaku sebagai pacarnya.


Neni hanya diam dan tetap meneteskan air mata karena telah salah paham pada Yuna, apa lagi sudah menampar gadis itu.


Apa lagi jika melihat wajah tampan Dion, Neni merasa ada benarnya. Tidak mungkin Yuna menyukai Ezio, sedangkan dia sudah punya kekasih yang begitu tampan dan masih mudah dari Ezio.


Hening.


Tak ada yang bersuara satupun, sehingga Dion beralih menatap Yuna yang masih menunduk di sampingnya.


"Kemasi barang-barangmu sekarang juga."


"Apa?" Yuna merasa terkejut saat mendegar perintah dari Dion.


"Perlukah kuulang lagi? Atau aku sendiri yang mengambil barang-barangmu." Dion kembali berucap dan menatap tajam pada Yuna.


"Tapi-"


"Apa? Atau kamu tidak membutuhkan barang-barangmu lagi. Baiklah, jika seperti itu, kita langsung pergi saja."


Yuna tidak punya pilihan lain sain menuruti perintah Dion, sebenarnya dia belum paham dengan ucapan Dion yang memerintahkannya mengambil barang-barangnya.


Tapi jika membantah lagi, pasti Dion akan marah dan yang Yuna takutkan jika Dion memecatnya dari caffe. Apa lagi Yuna sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk kehidupan sehari-harinya.


"Cepat, tunggu apa lagi?" Suara Dion kembali membuyarkan pikiran Yuna.


Yuna pun masuk kedalam kamar kosnya mengambil pakaiannya di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas besarnya.


"Tunggu, tapi kamu akan membawa dia kemana? Apa lagi Yuna baru 3 hari membayar sewa kos untuk bulan ini," ucap ibu kos.


"Aku tudak peduli dan aku akan membawanya ke tempat yang lebih aman, agar dia tidak disakiti lagi," sindir Dion pada Neni.


"Dan terimah kasih karena selalu menjaga Yuna." Dion beralih menatap Ezio. Ezio hanya mengangguk pelan.


"Ka Dion, aku sudah selesai." Yuna keluar dari kamarnya dan menghampiri Dion.


"Kita pergi sekarang." Dion menuntun Yuna Le mobilnya sambil mengambil alih tas Yuna.


••


Sementara Di taman pinggir danau, kini ada seorang wanita sedang duduk termenung. Sementara seorang pria yang berada di dekatnya juga ikut terdiam sambil memandang kosong ke depan.


"Ayo... Akhiri semua ini," ucap pelan si wanita.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Sayang?" jawab si pria.


Risma, yang tak lain adalah wanita itu, beralih menatap Giovanni yang juga ikut menatapnya penuh tanya.


"Ayo, kembali seperti semula."


Risma menatap kedua mata Giovanni dengan hati tak bisa terbaca, sementara matanya mulai berkaca-kaca siap meluncurkan cairan bening.


"Kembali apa maksudmu? Aku sama seperti tidak mengerti."


Giovanni mulai bigung dengan arah pembicaraan gadis kecilnya, sejak dari tadi mereka duduk dibangku itu, tapi hanya terdiam bersama. Setelah Risma berucap malah membuat Giovanni bingung.


"Maksudku. Ayo kita saling melupakan seperti dulu, mungkin itu lebih baik, Ka." Air matanya langsung keluar membasahi pipinya setelah mengucapkan kata-kata itu.


"Apa?! Apa kamu sudah gila?!"


Giovanni langsung berdiri dan menatap Risma dengan tatapan tajamnya. Rahangnya pun mulai mengeras.


Risma tak bersuara lagi, kini dia sudah tertunduk sambil menangis tanpa suara.


Dia juga tidak menginginkan ini semua, tapi dia juga tidak mau kalau pernikahannya sampai hancur karena hal ini.


"Katakan! Apa maksud dari ucapanmu itu?"


Risma memberanikan diri untuk menatap wajah Giovanni yang kini mulai memerah karena menahan kemarahannya.


"Aku... Aku, hanya... Hanya ingin semuanya baik-baik saja, Ka."


"Tidak. Semuanya tidak akan baik-baik saja. Lalu bagaimana denganku? Aku tidak sanggup lagi berjauhan darimu, Sayang. Aku tidak kuat." Giovanni mulai melemah, kini dia juga sudah mengeluarkan air mata.


"Jangan egois, Ka."


"Kamulah yang egois."


"Aku takut, Ka! Aku takut jika Ka Leon mengetahui semua ini. Bagaimana kalau dia tidak menerima kenyataan dan malah membenciku juga."


Risma kembali lagi tertunduk. Dia tak sanggup melihat Giovanni yang menagis karena dirinya.


"Jika memang dia benar-benar mencintaimu, maka dia akan menerima kamu apa adanya. Bukan ada apanya."


Leon maju selangkah, memegang dagu Risma dan menariknya sedikit biar gadis itu menatapnya.


"Sayang, apa kamu bersunguh-sungguh ingin melupakan aku?" tanya Giovanni.


Risma hanya diam, dia juga tidak mau menjauh lagi dari pria tampan ini, sudah cukup dia terpisah selama 4 tahun.


Tapi mengingat suaminya, dia mulai takut jika suaminya akan melarangnya untuk bertemu lagi dengan Giovanni.


Bukan hanya itu, dia juga takut jika rumah tangganya akan hancur, padahal pernikahannya baru saja mau memasuki 5 bulan.


Dia juga sangat mencintai Leon, sehingga dia tidak sanggup jika suatu hari Leon malah meninggalkan dirinya.


Karena tidak ada jawaban dari Risma. Giovanni menarik tubuh kecil itu agar berdiri di hadapannya dan langsung memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin melepaskan Risma jauh darinya.


"Aku akan menjelaskannya kepada suamimu."





Setelah pertemuan tadi yang menguras air matanya bersama Giovanni. Risma pun pulang karena hari semakin sore.


Tadi, Giovanni meminta untuk mengantarkannya pulang sampai rumah, agar keselamatan gadis itu tidak bahaya.


Tapi Risma menolaknya, dia beralasan kalau ingin singgah terlebih dahulu ke sesuatu tempat. Akhirnya Giovanni pun tidak memaksanya lagi.


Setelah sampai di supermarket, tempat yang ingin dia singgahi. Kini dia berjalan menuju ke arah tempat cemilan kesukaan Deren dan Leon.


Mengambil beberapa macam cemilan, setelah merasa cukup dia pun berpindah tempat. Ingin membeli sesuatu yang sudah dari kemarin ingin di belinya.


Tapi kini, dia merasa bingung sekarang. 'Apa iya, aku harus membelinya? Tapi, kalau tidak...." Risma semakin bingung.


Setelah berpikir panjang, akhirnya dia mengambil benda itu. Bukan hanya satu, tapi dia mengambil dua kotak.


Setelah benda itu berada di gemgamannya, dia kembali lagi melihat sekelilingnya. Ternyata hari ini cukup rame oleh pembeli.


Tak!


Risma mengembalikan benda yang tadi di ambilnya ke tempat semula, dia takut jika harus membeli benda itu. Bukannya apa? Tapi pasti kasir nanti akan bertanya banyak padanya.


Untuk apa dia membeli 2 Tespeack sekaligus, apa lagi dia kini masih berumur 17 tahun dan bertubuh kecil. Walaupun nanti dia akan menjelaskannya, kalau dia itu sudah memiliki suami. Pastu orang-orang tidak akan mempercayainya.


"Lebih baik aku pesan lewat on-line saja deh, dari pada ribet," gumamnya.


Akhirnya dia pun tidak jadi membeli benda itu, dia memilih memesannya agar orang-orang tidak mencurigainya kalau dia sedang hamil di luar nikah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2