Sweet 17

Sweet 17
rumor 2


__ADS_3

Dalam hitungan menit saja rumor itu mulai menyebar dihembus angin yg kencang.


Aku sempat melihat Nia pulang sekolah dalam keadaan basah, pakaiannya kotor, karna Nia ada yg nyiram pake air got, Nia sempet cerita kalo sepanjang jalan banyak yg menghina.


Yg lebih parahnya ya, sampe disiram air got itu, dihina dengan perkataan kotor, menurut mereka anak yg terlahir dari ibu yg kotor, memang pantas disiram air got yg kotor.


Aku ga habis pikir kenapa mereka percaya saja dengan gosip yg belum tentu kebenarannya.


Nia sekarang sampe trauma ga mau keluar rumah.



Jadinya aku yg nemenin sekarang.


Pintu rumahnya sengaja dikunci,  semua adik-adik Nia jg disuruh tidur lebih cepat. kasihan Indah jg kena imbasnya, anak kecil yg ga tau apa-apa, apalagi Shandy adik Nia yg paling kecil, sudah dengar kata-kata yg seharusnya ga didengar, Shandy terus-terusan bertanya apa itu pelacur? dengan kata yg masih cadel.


Untungnya sekarang udah pada tidur.


"Kak Nia, gimana kita sekarang, kenapa orang-orang itu terus-terusan menghina keluarga kita?" kata Dira sambil terisak.



"iya, kamu yg sabar yaa, nanti juga bakalan ilang dengan sendirinya, sekarang kita jalani dulu, biarlah orang berkata apa, yg penting kita tau mama orang yg seperti apa." Nia menenangkan Dira sambil memeluknya.


Hatiku begitu perih melihat Nia dan adiknya.


Kenapa jadi seperti ini.


Aku ga tau harus berbuat apa, aku sangat bingung.


__ADS_1


Dira masih nangis sampe sekarang, dan Nia terus-terusan menenangkan adiknya.


Aku bingung, sangat bingung.


Walau bukan aku yg merasakannya tapi, dengan melihatnya saja membuatku hatiku hancur. Sakit, sakit sekali melihat kejadian ini.


Namun Aku hanya bisa duduk terdiam melihat kedua kakak-adik itu.


Semoga saja semuanya cepat berlalu.


Aku ga tega melihat semua ini.


Aku pulang dulu karna udh sore.



**


"kamu, sebaiknya nurut ya, jangan dekat-dekat dulu sama Nia dan keluarganya tadi ceu Dina bilang sama bapak takutnya nanti kamu juga kena sial." bahkan bapakku juga mengatakan itu.



"maaf pak, bukannya Julia mau melawan bapak, lagian itu cuma gosip, belum tentu benar kan, jadi Julia tetep akan berteman sama Nia dalam keadaan apapun." tekadku sudah bulat.


" baiklah, kalo memang itu yg kamu mau, saran bapak lebih baik kamu menghindar dulu, sampai gosip ini berhenti."


" maaf pak, Julia ga bisa, Julia bakalan bantu sebisa Julia."


Bapak hanya menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.


__ADS_1


" ya sudah bapak ga bisa larang kamu, kamu juga harus jaga diri baik-baik, kita ga tau apa yg terjadi nanti kalo kamu masih bersikeras seperti itu."


Aku bangun dari dudukku.


Dan aku mau menemui Nia lagi.


Kasihan dia harus mengurus adik-adikya sendiri, pasti sekarang lagi kerepotan.


Aku menemui Nia. Dan benar saja, aku lihat Nia dan Dira kerepotan mengurus Indah dan Shandy, apalagi Shandy berlari kesana, kesini dalam keadaan ga memakai baju karna baru selesai mandi dan Indah yg bersiap mandi dengan Dira.



"Shandy, Shandy udah dong sini pakai baju dulu." bujuk Nia.


Seengakanya dengan melihat yg seperti ini bisa sejenak melupakan apa yg sedang terjadi.


" Shandy, sama kakak Julia yuu.." aku ikut membujuk Shandy. Tapi Shandy tetap berlari kesana-kesini.


Aku ikut ngejar, dan memeluknya.


" hayooo... Kena kan, nah sekarang pake baju yuuk." kataku sambil memegang Shandy dengan erat. padahal cuma satu anak kecil, kami sampai kewalahan.






__ADS_1


__ADS_2