Sweet 17

Sweet 17
58


__ADS_3

BAB 58


Elkhan yang kesal segera keluar dari kelas. Dia sangat tidak suka jika ada orang yang menghina temannya, pacarnya atau orangtuanya, juga orang-orang terdekatnya.


Wajahnya nampak suram. Bibirnya bergumam dengan kesal. Masuk ke kelas Kimora. Dimana Kimora sedang bercanda dengan teman-temannya. Karena guru yang mengajar belum datang.


Tiba-tiba Elkhan memeluk Kimora. Membuat Kimora kaget, dan membuat teman sekelas Kimora menjadi heboh.


Mereka menyoraki Kimora yang nampak terkejut. Tapi, dia tahu, pasti ada sesuatu yang membuat membuatnya seperti itu.


"Kenapa?" tanya Kimora dengan lembut.


Elkhan hanya menggelengkan kepalanya. Tapi tidak melepaskan pelukannya sama sekali.


"Kalau gitu lepasin dong! Malu dilihat banyak orang." kata Kimora masih dengan begitu lembut.


Namun Elkhan malah mempererat pelukannya. "Nanti pulang sekolah, main ke rumah ya!" lirihnya.


"Iya." jawab Kimora sembari menganggukan kepalanya.


Kimora hanya ingin menyenangkan hati Elkhan. Lagipula, sudah lama dia tidak main ke rumah Elkhan. Kangen sama orang tua Elkhan.


"Sekarang kita belajar yuk!" Kimora masih dengan sangat sabar terhadap Elkhan.


Akan tetapi, Elkhan masih memeluk Kimora dengan erat. Tidak peduli dengan godaan teman-teman sekelas Kimora. Baginya, tempat ternyamannya adalah dalam dekapan wanita yang sangat dia cintai itu.


"El.."


"Janji jangan pernah tinggalin gue?" kata Elkhan setelah melepaskan pelukannya.


"Bukannya lo yang tinggalin gue?" tanya Kimora pelan. Tapi, sesaat kemudian dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Iya." katanya.


Kimora tidak ingin membuat Elkhan kembali merasa bersalah. Dengan lembut dia menyentuh pipi Elkhan. "Balik gih, guru udah datang." katanya lagi.

__ADS_1


Elkhan hanya tersenyum sembari terus menatap Kimora. Setelah itu dia kembali ke kelasnya. Bersamaan dengan datangnya guru pengajar di kelas 10A.


****


Saat Gio sedang meninjau di salah satu pusat perbelanjaan. Tanpa sengaja dia bertemu kembali dengan Raisa. Tapi, Gio tidak mempedulikannya. Bahkan saat Raisa dengan sengaja mendekat untuk menyapanya.


"Hai kak, lama tidak jumpa.." kata Raisa dengan gaya centil.


"Pak Gio kenal?" klien Gio merasa tidak mengenal Raisa. Jadi dia bertanya kepada Gio.


"Saya juga nggak kenal. Mungkin mbaknya salah orang." jawab Gio kembali tidak mempedulikan Raisa.


Gio segera melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, dengan tidak tahu malunya. Raisa segera memeluk Gio. "Kak, maafin aku. Aku kangen banget sama kakak." katanya.


Gio dengan kasar mendorong Raisa. Bahkan dia tidak peduli dengan presepsi orang yang mengatakan jika dia lelaki yang kasar. "Jangan kurang ajar dan tidak tahu malu!" kata Gio dengan melotot.


"Hargai diri kamu sebagai seorang wanita!" imbuhnya.


Gio benar-benar kesal karena Raisa tidak berhenti mengganggunya. Bahkan di depan kliennya juga.


Tiba-tiba dari arah belakang. Ada seseorang yang menjambak rambutnya. "Kalau gatel jangan ke suami orang!" katanya.


"Aw.. aw.. akh..." erang Raisa sambil menahan tangan orang yang menarik rambutnya.


"Kalau lo mau rebut papa gue dari mama gue, langkahi dulu mayat gue!" ternyata itu adalah Kayra yang merasa kesal dengan apa yang Raisa lakukan ke papanya.


Kayra jalan-jalan bersama teman-temannya sepulang sekolah. Tidak tahu jika ada papanya di mall itu juga. Dan tanpa sengaja melihat Raisa merayu papanya lagi. Maka geram lah dia.


"Kay, lepasin nak!" pinta Gio kepada anak perempuannya. Dia paham betul apa yang dirasakan oleh anak perempuannya.


"Papa bela dia?" tanya Kayra dengan marah.


"Nggak. Papa nggak bela dia. Papa cuma nggak mau tangan kamu sakit hanya untuk orang tidak penting bagi kita." kata-kata Gio sangatlah tajam. Bahkan membuat Kayra langsung melongo.


Selama ini, dia belum pernah melihat atau mendengar papanya bicara kasar atau tajam seperti itu. Selama ini papanya terkesan begitu lembut dan sopan kepada siapa saja.

__ADS_1


Perlahan, Kayra segera mengendorkan jambakannya. "Oke, Kayra anak yang baik.. Papa sayang Kayra.." ucap Gio dengan lembut sambil menuntun agar anaknya mau melepaskan jambakannya.


Kayra segera memeluk papanya dengan erat. Dengan lembut Gio mengelus rambut anaknya. "Jangan kayak tadi lagi ya! Anak papa harus lembut, tidak boleh emosi seperti tadi!" kata Gio menenangkan Kayra.


"Iya pa. Maafin aku karena udah bikin malu papa." lirik Kayra mulai merasa bersalah.


"Enggak. Kamu nggak pernah bikin malu papa. Kamu kesayangan papa, nyawa papa. Kamu salah satu orang terpenting dalam hidup papa. Papa sayang banget sama kamu, nak." Gio mulai mengecup kening anaknya dengan sangat lembut.


"Maaf pak Gio, ini?"


"Oh maaf pak. Perkenalkan, ini Kayra, anak kedua saya." kata Gio memperkenalkan Kayra kepada kliennya.


"Anak kedua segede ini?" klien Gio sempat terkejut. Mengingat Gio yang masih terlihat begitu sangat muda.


"Iya. Anak pertama saya sudah kelas 10." kata Gio lagi.


"Jadi pak Gio nikah muda? Karena masih terlihat sangat muda dan ganteng." Gio hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"Kamu mau ikut papa atau mau-?"


"Aku jalan-jalan sama temen aku aja, pa." jawab Kayra bahkan mereka sama sekali tidak mengindahkan Raisa yang memasang wajah kesal.


"Ya udah papa lanjut antar temen papa ya!"


"Iya pa." setelah berpamitan kepada Gio dan kliennya. Kayra melanjutkan jalan-jalan bersama dengan teman-temannya.


"Tadi itu beneran papa kamu?" tanya salah seorang teman Kayra.


"Hm.."


"Gue kira kakaknya, masih ganteng banget anj*r.." kata teman Kayra itu.


"Mamanya Kayra juga cantik banget, udah pasti papanya juga ganteng." sahut yang lain.


"Udah yuk, nanti gue salamin papa gue.." canda Kayra sembari menarik tangan temannya. Dan perkataan tersebut disambut tawa oleh teman-teman Kayra.

__ADS_1


__ADS_2