
Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit. Hendri sudah mulai membaik. Namun, pada hari Rabu pukul 02.00 dini hari. Hendri kembali harus dilarikan ke rumah sakit. Ada pendarahan dibekas operasinya.
Tidak tahu lagi siapa yang harus dihubungi. Akhirnya ibunya Hendri menelepon Angga. Karena Angga yang lebih dekat dengan Hendri selama ini.
"Hendri dilarikan ke rumah sakit lagi.." kata ibunya Hendri sembari terisak.
Angga yang sebenarnya panik, harus berusaha bersikap biasa aja. Agar supaya ibunya Hendri tidak semakin panik dan khawatir.
"Iya tante, aku ke rumah sakit sekarang." kata Angga lalu bersiap bergegas ke rumah sakit.
Sebelumnya, dia juga menghubungi teman-temannya melalui wa grup. Angga maklum jika beberapa temannya tidak merespon. Karena jam segitu masih enak-enaknya tidur.
Menggunakan motor cb lamanya. Angga segera menuju rumah sakit. Selain bertetangga dan lebih lama kenal dengan Hendri. Angga dan Hendri juga sudah bersahabat sejak kecil.
Perasaannya campur aduk. Masih teringat jelas beberapa waktu lalu. Hendri berkata jika dia sudah sembuh dan bisa kembali beraktifitas meskipun harus menggunakan kursi roda.
Sembari melantunkan doa untuk keselamatan dan kesembuhan sahabatnya. Jalanan yang masih sepi membuat Angga sampai di rumah sakit lebih cepat.
Dengan tergesa-gesa, Angga memarkirkan sepeda motornya. Segera dia berlari memasuki rumah sakit.
"Ngga..." namun dari belakang. Seseorang memanggilnya. Maka seketika menolehlah Angga.
Dahinya mengernyit. "Ciara?" gumamnya.
"Lo sama siapa?" tanyanya.
"Gue sendiri. Gue nggak bisa tidur waktu lihat pesan lo di grup wa. Yuk kita segera temui Hendri!" Ciara segera menarik tangan Angga menuju tempat dimana Hendri mendapat perawatan.
Ciara memeluk ibunya Hendri yang terlihat begitu khawatir. "Tante yang tenang ya!" katanya sembari mengelus lengan ibunya Hendri.
Angga juga nampak cemas. Dia mondar mandir di depan ruangan tersebut. Dan, begitu dokter keluar. Angga segera mendekat dan bertanya. "Gimana keadaan Hendri, dok?" tanyanya.
Dokter sempat terdiam. Dan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Angga mengerutkan keningnya karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh dokter tersebut.
"Maksud dokter gimana? Hendri gimana?" Angga bertanya sekali lagi.
__ADS_1
"Maaf, kami sudah mencoba, tapi Tuhan berkendak lain. Teman anda tidak bisa diselamatkan." kata dokter kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Bersamaan dengan itu, pecahlah tangis ibunya Hendri. "Dokter pasti bohong kan?"serunya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah pergi untuk selamanya.
"Dokter pasti bohong. Hendri bilang dia sudah sembuh. Itu tidak benar kan dok?" ibunya Hendri bahwa berteriak dengan cukup kencang.
Ciara berusaha memeluk ibunya Hendri. Meskipun sebenarnya dia juga merasa terpukul dengan kepergiaan sahabatnya itu. "Tante tenang, Hendri sudah tidak sakit lagi." lirihnya.
Mereka bertiga segera masuk dan melihat tubuh Hendri yang terbujur kaku. Ibunya Hendri terlihat begitu sangat terpukul. Dia memeluk tubuh kaku anaknya. "Kenapa kamu ninggalin mama? Kamu kemarin janji akan jagain mama, kenapa kamu ninggalin mama?" katanya dengan air mata yang tak terkendali.
Sementara Angga hanya terdiam menghadap dinding dan menangis tanpa suara. Dalam benaknya teringat masa-masa bersama dengan Hendri. Kenal sejak kecil dan akhirnya menjadi sahabat. Kenangan itu masih teringat jelas di dalam benaknya.
Sejujurnya, Angga sendiri tidak bisa menerima kepergiaan Hendri yang begitu mendadak. Tapi, dia juga tidak mau memperberat langkah sahabatnya tersebut. Dia hanya bisa menangis tanpa suara.
Namun, tiba-tiba Angga menoleh, menatap Ciara yang menangis sembari bergumam. "Kenapa lo ninggalin gue begitu cepat? Katanya lo mau ajak ke tempat yang indah, melihat bintang bersama. Kenapa lo ninggalin gue, yank.." gumam Ciara.
"Lo sama Hendri??" tanya Angga yang semakin penasaran ketika mendengar panggilan Ciara ke Hendri.
Ciara seolah tahu apa yang ingin Angga tanyakan. Dia menganggukan kepalanya pelan. "Gue udah jadian sama Hendri selama sebulan."
"Sebulan?" Angga membulatkan matanya. Selama itu, tapi teman-temannya tidak ada yang tahu. Hebat bener mereka berdua bisa menyembunyikan hubungan mereka selama itu.
Namun, saat Angga bertanya kenapa. Hendri segera mengalihkan pembicaraan. Kini, Angga tahu apa maksud dari perkataan Hendri tersebut.
****
Pagi itu langit nampak gelap. Rintik hujan jatuh tanpa diduga. Kicauan burung pun tak terdengar. Senyap.
"Hiks..hiks.."
Tangisan mengiringi kepergian Hendri untuk selamanya. Meninggalkan mama, adik dan juga pacarnya. Takdir memang tidak bisa ditebak atau diatur. Karena hidup hanyalah sebuah persinggahkan sesaat.
Ciara memeluk Kimora dengan sangat erat. "Kenapa dia ninggalin gue, Ra? Dia janji akan ajak gue lihat bintang ditempat romantis." lirih Ciara.
Awalnya Kimora tak paham apa maksud dari perkataan Ciara. Tapi, setelah Ciara mengatakan yang sebenarnya. Barulah Kimotra mengerti kenapa Ciara begitu sangat terpukul dibanding yang lainnya. Bahkan dari Angga yang telah lama berteman dengan Hendri.
__ADS_1
"Lo harus ikhlasin dia. Kasihan kalau lo masih belum ikhlas, ntar langkah Hendri berat." kata Kimora menasehati sahabatnya.
"Hiks.. I..ya Ra.."
"Tapi sulit Ra.." Ciara masih menangis.
"Pelan-pelan. Lo pasti bisa kok, kasihan Hendrinya juga." sama seperti teman-temannya yang lain. Kimora juga sedih atas kepergian Hendri. Apalagi belum lama ini dia juga kehilangan sahabatnya.
"Lo harus kuat, Ci!" kata Agata dan Chelsea yang juga sangat terpukul.
Pukul 10.00 pagi hari. Iring-iringan jenazah mengantar Hendri ke peristirahatan yang terakhir. Suasana mengharu biru tatkala jenazah Hendri dimasukan ke dalam liang lahat.
Berulang kali terdengar suara jeritan dari ibunya Hendri. Sebagai seorang ibu, tentunya tidak bisa melihat anaknya dimakamkan di depan matanya. "Hendri, kamu janji akan menjaga ibu.." katanya sembari menangis.
"Mama, kakak udah tenang. Mama harus ikhlas." adik perempuan Hendri memeluk ibunya sembari menangis pula.
Untung saja Ciara dipeluk oleh ketiga temannya sehingga dia masih bisa terkendali. Ketiga sahabatnya secara bergantian menasehati Ciara supaya ikhlas dan kuat.
"Gue tahu ini pasti sakit, tapi inilah takdir. Lo harus tetap kuat." kata Kimora.
"Boleh sedih, tapi sewajarnya saja!" gumam Chelsea.
"Menangislah! Tapi setelah itu lo harus bangkit!" sahut Agata.
Mereka bertiga mendekap Ciara tanpa melepaskan pelukannya. Takut jika Ciara akan tak terkendali.
Setelah pemakaman selesai. Ciara dan ibunya Hendri masih menangis di depan pusara Hendri. "Ma, pulang yuk!" ajak adik Hendri.
"Mama harus kuat!" imbuhnya.
Tak lama, ibunya Hendri segera berpamitan kepada nisan anaknya. "Mama pulang dulu ya, nak! Mau hujan, besok mama kesini lagi." katanya dengan sedih.
Ibunya Hendri dipapah oleh adiknya menuju mobil. Mereka memang sakit dan terpukul. Tapi harus merelakan kepergian Hendri. Karena itu takdir yang mereka jalani.
Kini, menyisakan Ciara yang masih menangis sesegukan di depan pusara kekasihnya. Tangan tanpa sadar mengcengkeram gundukan tanah merah yang penuh dengan bunga tersebut.
__ADS_1
Dia menangis tanpa suara.
Sementara teman-temannya menunggunya dari kejauhan. Mereka memberi kesempatan kepada Ciara untuk berduka. Karena memang itu memang duka yang begitu mendalam bagi Ciara dan teman-temannya.