Sweet 17

Sweet 17
63


__ADS_3

BAB 63


Beberapa hari dirawat di rumah sakit. Hendri meminta paksa keluar rumah sakit. Dengan alasan dia sudah sembuh dan tidak betah di rumah sakit. Dengan ngeyel dia berusaha melepaskan infusnya sendiri.


"Hendri.. kamu apa-apaan sih? Kamu harus denger apa kata dokter!" seru ibunya kaget dengan apa yang dilakukan oleh Hendri.


"Aku mau pulang, aku udah sembuh." kata Hendri dengan ngeyel.


Hendri berusaha turun dari ranjang rumah sakit. Tangannya meraih kursi roda yang ada di depannya. Kakinya masih belum sembuh pasca operasi.


Brukkk..


"Hendri.." seru ibunya saat melihat anaknya jatuh ke lantai. Dengan sigap dia menolong anaknya sembari berteriak memanggil perawat.


"Sus.. suster.. dokter..." serunya penuh kekhawatiran.


"Iya nanti pulang, tapi harus dengerin apa kata dokter dulu!" omelnya kepada anaknya yang keras kepala.


Namun, Hendri menepis tangan ibunya. Seolah dia tidak mau dibantu oleh ibunya. "Aku bisa sendiri." katanya dengan sengit.


Akan tetapi, ibunya tetap membantu anaknya untuk bangkit dibantu oleh suster. Sekeras apapun Hendri menepis tangannya. Ia akan tetap tidak tega melihat anaknya seperti itu.


"Mas masih belum pulih, masih harus banyak istirahat!" kata suster.


"Kalau mau pulang, nunggu dokter periksa dulu." imbuh si suster.


Namun, Hendri hanya diam tanpa menjawab dan berkata apapun. Dia bahkan memalingkan wajahnya dari ibunya. Entah apa yang membuatnya seolah sangat membenci ibunya.


Tak lama, Angga datang menjenguk bersama dengan Galih dan Putra. Pulang dari sekolah mereka menyempatkan untuk menjenguk sahabatnya.


"Gimana keadaan lo, bro?" tanya Putra berjalan mendekat ke ranjang Hendri.


"Udah sehat gue, tinggal nunggu pulang aja." jawab Hendri dengan tersenyum senang. Mungkin dia merasa senang karena teman-temannya datang menjenguknya.


"Tapi gue harus pakai kursi roda kalau nggak ya kaki palsu." imbuhnya dengan tersenyum pahit. Ya, dia merasa kenyataan memang sangat menyakitkan. Dikala dia harus menerima takdir bahwa kakinya hancur setelah terlindas truk. Dan mengharuskan dia memakai kursi roda atau kaki palsu.


"Tetap semangat bro!" Galih menepuk pundak Hendri untuk memberinya semangat.


"Tante kalau mau makan, silahkan aja! Biar aku yang tungguin Hendri." kata Angga yang kenal dekat dengan ibunya Hendri. Karena memang mereka bertetangga.


"Oh, iya. Kalau gitu tante makan dulu ya! Nitip Hendri!" jawab ibunya Hendri setelah kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


Lalu, Angga berjalan mendekati Hendri. "Lo masih kesel sama mama lo?" tanyanya.


"Iya lah. Selama ini dia kemana? Sekarang sok sok'an perhatian." jawab Hendri dengan kesal.

__ADS_1


Angga tersenyum kecil mendengar jawaban Hendri. Dia pun duduk di samping Hendri yang duduk di ranjang. "Lo bisa seperti ini, menikmati hidup tanpa mikir susahnya cari duit, karena siapa?"


"Mama lo.." kata Angga masih dengan tersenyum.


"Itu sebabnya gue lebih banyak duit daripada kasih sayang." sahut Hendri dengan kesal.


"Itulah kehidupan. Harusnya lo bisa lebih hargai mama lo, bro!"


"Gue bukan mau yang gimana-mana. Tapi lo harus ingat, setelah papa lo ninggalin mama lo dengan selingkuhannya, sampai akhirnya papa lo kecelakaan dan meninggal bersama selingkuhannya. Siapa yang merawat lo, ngebesarin lo sampai seperti ini?" Angga tersenyum kecil.


"Maaf bukan gue mau ungkit masa lalu orang tua lo. Tapi gue cuma mau lo hargai perjuangan mama lo!"


"Mama lo bukan tidak sayang sama lo. Dia sayang, sayang banget malah. Tapi dia juga tahu kalau dia tidak berjuangan sekarang, dia tidak akan bisa memberikan masa depan yang layak buat lo." Angga terus nyerocos.


Sementara Hendri terdiam dengan air mata berkaca-kaca. Selama ini dia selalu menyalahkan ibunya karena jarang di rumah. Bahkan disaat hari ulang tahunnya sekalipun. Meskipun selalu memberi kado, tapi yang Hendri ingin ialah hadirnya sosok ibunya.


Sementara Putra dan Galih hanya diam. Mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi antara Hendri dengan ibunya. Itu sebabnya mereka memilih untuk bungkam.


Akan tetapi, Angga mulai sadar jika dia telah terlalu jauh. "Udah makan belum? Dapat salam dari Ara sama Elkhan." kata Angga mengalihkan pembicaraan.


"Udah tadi. Oh ya, bilangin makasih ke Ara dan Elkhan karena selalu sempetin kesini tiap hari. Setia kawan banget mereka." kata Hendri.


"Mereka pamit nggak kesini katanya. Elkhan tanding futsal." sahut Putra.


"Nggak, kita kangen sama lo." sahut Galih juga.


Hendri berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya. "Dalam persahabatan tidak ada kata terima kasih. Karena apa yang kita lakukan itu memang seharusnya seperti itu."


"Bener.. Santai aja sama kita." Putra kembali menepuk pundak Hendri.


****


Di tempat lain.


Kimora bersama teman-temannya menonton pertandingan futsal antara sekolah dengan sekolah tetangga. Mereka begitu semangat mendukung sekolah mereka. Apalagi Elkhan juga main.


"El, kalau lo bisa cetak gol, mau dikasih hadiah Ara, katanya..." seru Agata.


"Apaan sih.." Kimora menepuk lengan Agata karena bicara ngaco.


"Mau dicium katanya." sahut Ciara yang semakin membuat Kimora malu.


"Mulut lo!" omelnya sembari mendorong kepala Ciara pelan.


Sementara Ulfa bersama kedua temannya memutar bola mata mereka. Bahkan mereka juga mencibir Kimora cs dengan mengatakan jika Kimora dan teman-temannya sangatlah lebay.

__ADS_1


"Ish lebay banget.." gumam Santi sembari memutar bola matanya.


"Iya, lebay.." sahut Chika.


Memasuki menit akhir. Jalannya pertandingan menjadi panas. Sekolah tetangga yang ketinggal skor mulai bermain kasar. Salah satu teman Elkhan dijegal dengan sangat keras.


Elkhan yang tidak terima mulai tersulut amarahnya. Bahkan tidak ada yang bisa menahannya. Sampai akhirnya Kimora turun ke lapangan untuk menenangkan kekasihnya.


"El, sabar! Lo harus jaga emosi lo!" katanya dengan lembut sembari memegang kedua pipi Elkhan.


"Lihat gue!" imbuhnya.


Elkhan pun nurut. Dia menatap Kimora di depannya dengan jarak sejenggal tangan. Kimora menatapnya dengan tersenyum tipis. Matanya berkedip dengan begitu cantik.


Perlahan amarah Elkhan mulai terkontrol. Kimora lalu mengajaknya untuk duduk di bangku cadangan sembari terus menggenggam tangan Elkhan. Sementara pertandingan kembali dilanjutkan.


"Ini hanya pertandingan persahabatan. Jangan terlalu serius!" kata Kimora dengan lembut.


"Tapi mereka brengs*k, lihat Dika! Dia sampai nggak bisa jalan." kata Elkhan masih dengan emosi.


"Gue tahu, gue juga kesel. Tapi lo harus jaga emosi lo! Gue nggak suka ah sama orang yang mudah emosi." kata Kimora lagi.


Seketika Elkhan langsung menatap Kimora dengan lekat. "Masih mau jadi kesayangan gue?" Elkhan menganggukan kepalanya.


"Kalau gitu belajar menahan amarah dan jangan mudah emosi!" Elkhan tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya.


"Gitu kan cakep.." Kimora menarik kedua pipi Elkhan dengan gemas.


"Love you.." katanya dengan pelan.


Elkhan pun tersenyum mendengar perkataan Kimora tersebut. "Gue juga cinta banget sama lo." Elkhan menyenderkan kepalanya dipundak Kimora dengan manja.


"Tadi gue cetak gol. Jadi kapan mau dikasih hadiah?" tanya Elkhan.


"Emang mau hadiah apa?" tanya Kimora dengan tersenyum kecil.


Elkhan pun memajukan bibir tipisnya. Sontak, apa yang Elkhan lakukan membuat Kimora terbahak. "Yang bilang kan Ciara, lo minta aja sama dia." Kimora terkekeh.


"Ah.. ayank mah gitu, kesel deh.." Elkhan merajuk.


"Pokoknya gue cuma mau lo.."


"Cuma mau lo.."


"Ih apaan sih, kalau mau ya nanti, jangan disini, malu sama yang lain." omel Kimora yang justru membuat Elkhan tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2