Sweet 17

Sweet 17
40


__ADS_3

BAB 40


Reyhan cepat sekali akrab dengan Kimora. Dia bahkan tidak mau semobil dengan papa dan mamanya. Dia merengek ingin ikut semobil dengan Kimora dan Elkhan. Pada akhirnya papa dan mamanya mengalah. Reyhan diijinkan semobil dengan Kimora dan Elkhan.


Sementara kakek dan neneknya Elkhan juga semobil dengan mereka. "Ra, kayaknya Reyhan suka banget sama kamu. Dia bahkan tidak mau pisah sama kamu." kata Vika yang duduk di kursi tengah bersama dengan suaminya dan juga Kayra.


"Iya nih oma. Habis gimana, Rey juga ngegemesin banget.." Kimora mencubit kedua pipi Reyhan dengan gemas.


"Kayaknya bisa nih El, papa dan mama nambah anak lagi." seru Gio dari bekalang kemudi.


"No!! Aku nggak setuju. Nanti papa sama mama udah nggak sayang sama aku." sahut Kayra dengan cemburu.


"Papa sama mama akan tetap sayang sama kamu. Kalian kan sama-sama anak papa dan mama. Gimana ma, masuk nggak?"


"Nggak. Papa apaan, anak kita udah pada gede, El sebentar lagi juga udah mau nikah." jawab Alenka menolak ide suaminya.


"Belum kok ma, Ara masih belum mau." seru Elkhan.


"Emang kamu mau menikah sama Ara?"


"Ya mau lah, tapi nanti kalau kita udah mapan." jawab Elkhan.


"Kalau ternyata kalian tidak berjodoh? Atau Ara direbut orang lain?" tanya Gio, ingin tahu reaksi anaknya.


"Kalau gitu nanti lamarin Ara buat aku!" jawab Elkhan yang membuat Kimora terbelalak. Dia langsung mencubit tangan Elkhan yang bicara sembarangan.


Alenka dan Gio tertawa mendengar jawaban Elkhan. "Tuh kan sama persis kayak kamu." ucap Alenka.


"Kalau sama-sama mau ya nggak apa-apa kita lamar Ara. Dulu papa sama mama kamu juga nikah muda." sahut Rahman.


"Aku masih kepengen sekolah dan berkarir dulu, opa." jawab Kimora tidak membahas masalah itu. Karena Kimora merasa masih sangat muda dan kecil untuk membicarakan semua itu.


"Bener, kalian masih muda dan masih punya waktu yang panjang. Kalau kalian berjodoh ya akan dipersatukan." kata Vika. Dia sebenarnya juga tidak setuju dengan nikah muda.


Menurutnya, cucu lelakinya itu masih memiliki masa depan yang panjang. Biarkan dia menikmati masa mudanya. Jangan buru-buru nikah. Karena nikah besar tanggung jawabnya. Bukan hanya sebatas kata cinta.


"Mama setuju dengan oma. Jalan kalian masih panjang. Nikmati masa muda kalian dulu. Karena nikah bukan tentang hanya tentang kata cinta, tapi banyak sekali tanggung jawab didalamnya." Alenka mengakui bahwa nikah muda itu tidak semudah yang dibayangkan.


Masih banyak ego di dalam diri mudanya. Meskipun dia tidak pernah bertengkar dengan Gio yang sampai parah. Tapi harus diakui, ego mereka masih sama-sama besar saat Elkhan masih kecil.


Walaupun kini mereka telah melewati masa-masa itu. Tapi, Alenka tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama dengan kedua orang tuanya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah oma Tutut, neneknya Alenka. Mereka akan menginap selama satu malam disana. Sebelum ke rumah Arina, mereka membersihkan diri terlebih dulu.


Rumah Arina tidak jauh dari rumah oma Tutut. Semenjak Arina menikah, dia ikut dengan suaminya. Dan rumah oma Tutut juga tidak dihuni semenjak oma Tutut meninggal.


Sebelumnya, Alenka menghubungi Arina supaya mencari orang untuk membersihkan rumah oma Tutut. Jadi begitu mereka sampai, mereka bisa langsung menempati rumah tersebut.


"Ra, kamu tidur sama Kayra ya!" kata Alenka.


"Iya tante."


"Aku juga bobok sama kak Ara." Reyhan kembali merengek.

__ADS_1


"Rey, kamu bobok sama kak El aja.."


"Nggak mau, aku bobok sama kak Ara.."


"Kamu sama kak El bobok sama kak Ara dan kak Kayra aja." kata Gio menengahi. Gio juga tidak tega membiarkan Elkhan tidur sendirian. Jadi dia memutuskan supaya Elkhan, Reyhan, Kayra dan Kimora tidur dalam satu kamar.


Ada Kayra dan Reyhan, Gio yakin Kimora dan Elkhan tidak akan berbuat macam-macam. Apalagi dia percaya, Elkhan dan Kimora tidak akan berani berbuat macam-macam. Mengingat Kimora berasal dari keluarga baik-baik dan taat ibadah.


....


"Arin..." Refina berlari kecil mendekati Arina yang sedang menimang anaknya.


"Hai.. Alenka mana?" tanya Arina. Dia senang ketemu saudara-saudaranya.


"Tuh." Refina menggerakan kepalanya menunjuk Alenka yang baru datang bersama dengan keluarganya.


"Yang sama Reyhan itu siapa?" Arina justru salah fokus kepada seorang gadis yang berjalan bersama Reyhan dan Elkhan juga Kayra.


"Pacarnya El. Cantik ya?" kata Refina.


"Banget. Pinter juga si El cari pacar." Arina tersenyum melihat keponakannya.


"Hai..." sapa Alenka lalu memeluk Refina.


"Arin aja dipeluk, gue nggak. Bener-bener pilih kasih." celoteh Refina.


"Apaan sih si lemot.." Alenka kesal lalu mendorong kepala Refina.


"Iya maaf kakak.." sahut Alenka dengan cepat membuat Refina memonyongkan bibirnya.


Arina terbahak melihat kedua saudaranya itu. Masih tetap sama seperti belasan tahun yang lalu saat mereka masih sekolah.


Lagi asyik-asyiknya ngobrol. Rama dan Boy juga datang untuk menjenguk Arina. Kedatangan Rama tersebut tentunya membuat Arina terkejut. Meskipun masih sering komen di grup alumni. Tapi untuk bertemu langsung, sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Selamat ya Rin atas kelahiran anak ketiga lo." kata Rama memberi ucapan selamat kepada Arina.


"Siapa yang suruh lo tinggalin kafe?" tanya Gio dengan melotot.


"Orang lo sendiri yang bilang gue boleh tinggalin kafe kalau mau kesini. Pikun lo ya." Rama kesal karena Gio memarahinya. Padahal Gio sendiri yang memberi ijin.


Gio pun langsung terbahak melihat ekspresi wajah Rama. "Bercanda gue.. Gue pikir lo kesini sendiri, ternyata ngajak Boy.." kata Gio.


"Niatnya sih sendiri tapi tahu sih kunyuk mau ikut, katanya kangen Refina." ucap Rama yang membuat Refina melotot. Apalagi melihat ekspresi wajah suaminya yang datar.


"Mulut lo. Padahal dia yang ngajakin gue katanya gugup kalau ketemu Arina sendirian." Boy membalas olokan Rama.


"Lemes lo.." Rama mendorong kepala Boy dengan cukup keras.


"Om, jangan dorong-dorong kepala pak pol nanti om dimasukin ke penjara loh.." sahut Elkhan.


"Tahu tuh El, nggak ada takut-takutnya dia." ucap Boy masih kesal dengan Rama.


"Tenang El, nanti cuma om kedipin. Om Boy langsung luluh." perkataan Rama tersebut membuat gelak tawa tapi membuat Boy bergidik.

__ADS_1


Setelah cukup lama mengobrol. Dan hari pun semakin larut. Alenka beserta keluarganya kembali ke kediaman oma Tutut. Tentunya Rama dan Boy juga.


"Nah, karena ada om Rama dan om Boy. El, kamu tidur sama om Rama dan om Boy!" perintah Gio.


"Iya pa." meskipun kesal tapi Elkhan tidak berani membantah perintah papanya.


Akhirnya Elkhan tidur sekamar dengan Rama dan Boy. Dia sempat mengomeli kedua om-nya tersebut. "Gara-gara kalian, aku nggak bisa tidur sekamar dengan cewek aku." gerutunya.


"Yaelah El, sekamar juga nggak lakuin apa-apa, kenapa mesti kesel?" tanya Rama si mes*m.


"Tapi kan setidaknya bisa ngobrol sebelum tidur, bisa lihatin dia pas tidur." Elkhan masih saja kesal.


"Om bilangin ya, rugi tahu kalau sekamar nggak ngapa-ngapain." kata Rama.


"Bener ya kata papa, om itu mes*m tapi nggak berani nikah." ucap Elkhan.


"Nj*r mulutnya sama kayak emaknya.." kata Rama dengan kesal.


"Mamp*s lo. Makanya jangan ngajarin yang aneh-aneh." Boy terbahak mendengar Elkhan meledek Rama.


"Loh itu wajar bagi anak muda jaman sekarang." kata Rama lagi.


"Udah El, kamu tidur aja! Jangan dengerin si setan satu ini!" kata Boy.


"Gue bilang ke Gio lo ya, ngajarin El yang nggak-nggak.." ancam Boy ke Rama.


"Jangan anj*r.. Gue cuma kasih pengetahuan aja ke El, gimana caranya menghadapi wanita." ucap Rama.


"Lo aja umur segini masih belum nikah dan jomblo, sok-sokan mau ngajarin El. Kalau soal menghadapi wanita, diantara kita, Gio itu ahlinya. Masa lo mau ngajarin anaknya Gio." Boy menggelengkan kepalanya.


"Emang papa dulu pacarnya banyak ya om?" Elkhan jadi penasaran dengan kehidupan papanya jaman dulu.


"Banyak apanya El. Papa kamu tuh menurut om kan ganteng banget yak, tapi om juga heran kenapa dia milih mama kamu yang galaknya minta ampun, mulutnya pedes banget." jawab Rama tapi dengan tersenyum kecil.


"Padahal waktu itu banyak banget yang suka papa sama kamu. Walaupun sekarang masih ada yang suka sama papa kamu. Tapi dasarnya papa kamu tuh hanya ganteng tapi buta, makanya dia tetap setia sama mama kamu." imbuh Rama semakin terbahak.


"Oh, aku bilang ke mama aja kalau om Rama suka jelekin mama." Elkhan tidak menganggap serius perkataan Rama. Dia tahu seperti apa teman-teman papa dan mamanya kalau sedang bercanda.


"Jangan woi, nanti om dijambak sama mama kamu."


"Wah seru dong. Bilangin ah besok."


"Bilangin aja El, biar kapok. Dulu dia sering banget dijambak sama mama kamu." sahut Boy ikutan tertawa.


"Kayaknya seru ya om.."


"Kalau kamu bilangin ke mama kamu. Om nggak mau bantuin kamu lagi.."


"Nanti minta bantuan sama om Boy dong.." Elkhan menjulurkan lidahnya.


Elkhan memang sangat dekat dengan teman-teman Gio. Dari kecil, Elkhan sudah dikenalkan dan juga sangat dekat dengan mereka. Terutama Rama dan Boy yang selalu main ke rumah Gio setiap kali punya waktu senggang.


Jadi tidak heran kalau Elkhan sudah seperti teman bagi Rama dan Boy. Bahkan Rama dan Boy mengakuinya sebagai keponakan mereka.

__ADS_1


__ADS_2