
BAB 47
Alenka pulang ke rumah untuk membereskan barang-barangnya. Tentu saja Gio menahannya. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya pergi dari rumah.
"Ma, tolong jangan kayak gini! Percaya sama papa kalau papa tidak mungkin mengkhianati mama." kata Gio menahan Alenka yang membawa barang-barangnya.
"Percaya? Selama ini aku selalu percaya sama kamu. Aku setia sama kamu, tapi apa balasan kamu?" tanya Alenka dengan marah.
"Kamu khianati aku, khianati rumah tangga yang sudah kita bina selama belasan tahun." imbuh Alenka dengan berteriak.
"Aku tidak pernah khianati kamu. Tidak pernah sama sekali." Gio tetap membela diri. Karena dia merasa tidak pernah berkhianat.
Karena keributan itu terjadi ruang tengah. Tentu saja semua orang di rumah mendengar pertengkaran itu. Termasuk Kayra dan Elkhan yang sudah pulang dari sekolah.
"Bukti sudah ada di depan mata, masih aja mengelak. Ternyata selama ini, kamu membodohi aku."
"Sudah berapa wanita yang kamu jadikan selingkuhan?" tanya Alenka yang terdengar jelas oleh anak-anaknya.
"Papa selingkuh?" Elkhan yang tidak menyangka papanya melakukan seperti itu, merasa sangat terpukul.
Apalagi Kayra yang selalu menjadikan papanya sebagai ukuran dia memilih pasangan. "Bilang itu nggak bener pa!" guman Kayra yang begitu sangat terpukul. Tidak menyangka jika papanya akan melakukan hal semacam itu.
Selama ini yang dia tahu, papanya orang yang begitu menyayangi keluarganya. Tidak pernah neko-neko.
Kejadian ini tentu saja membuat Kayra begitu sangat terpukul. Sampai tanpa sadar air matanya mengalir deras bersama air mata mamanya.
"Itu semua nggak bener. Papa hanya mencintai mama kalian. Papa berani bersumpah." kata Gio menjadi semakin bingung karena anak dan istrinya mulai kecewa kepadanya.
"Ma, kita bicarain dengan kepala dingin ya! Kasihan anak-anak." pinta Gio. Selama menikah, baru pertama kali ini Alenka marah sampai ingin pergi dari rumah.
Alenka melihat anak-anaknya yang terlihat sangat sedih. Hatinya semakin sakit saat melihat Kayra menangis. "Kalian mau ikut papa atau mama? Kalau ikut mama, kalian harus terbiasa hidup susah." tanya Alenka dengan suara serak.
"Ikut mama." seru Kayra dengan cepat. Dia sepertinya sudah bener-bener kecewa dengan papanya.
"Nggak ada yang boleh pergi!" seru Gio.
"Yank, semua yang kamu lihat dan denger itu nggak bener. Ayolah, jangan seperti ini!" Gio masih begitu sabar menghadapi istrinya.
Tapi, dia juga menyalahkan istrinya jika dia marah. Karena siapapun pasti akan marah saat pasangannya dipeluk oleh orang lain. Bahkan Raisa sempat mengatakan jika mereka memang memiliki hubungan.
Namun, tetap saja. Alenka tidak mau menghiraukan suaminya. Dia tetap memaksa untuk pergi.
Sama saja, Gio tidak membiarkan Alenka melangkah keluar dari rumah. Dia terus memeluk Alenka agar Alenka tidak bisa pergi.
"Ma, tolong pikirin lagi! Tolong bicarakan lagi dengan kepala dingin! Demi aku dan Kayra." ucap Elkhan menahan mamanya pergi.
__ADS_1
Meskipun dia kecewa kepada papanya tapi dia juga tidak ingin melihat papa dan mamanya berpisah.
Alenka menatap Elkhan yang juga nampak sedih. Akan tetapi dia menyembunyikannya di depan orang tuanya dan juga adiknya.
Demi mempertimbangkan permintaan anaknya. Alenka akhirnya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah. "Maafin mama yang tidak mempedulikan perasaan kalian." Alenka memeluk kedua anaknya.
Setelah tenang, Elkhan membawa mamanya ke kamar. "Papa disini aja! Biarin mama tenang dulu!" pinta Elkhan.
Dan Gio nurut apa kata anaknya. Demi agar supaya istrinya menjadi tenang dan bisa berpikiran jernih.
"Kay..."
Namun Kayra berlari tanpa menjawab papanya. Dia begitu sangat kecewa dengan papanya.
Tak lama kemudian, papa dan mamanya datang. Mereka khawatir dengan Gio dan juga Alenka. Bahkan Elsa sampai menangis saat suaminya memberitahu kondisi rumah tangga Gio saat ini.
"Apa yang kamu lakukan Gio? Kenapa kamu tega dengan anak dan istri kamu?" tanya Elsa dengan terisak.
"Mama kenal aku kan? Apa menurut mama aku akan lakukin hal semacam itu?" tanya Gio. Dia berharap mamanya bisa percaya seutuhnya kepadanya.
Orang lain mungkin bisa salah paham terhadapnya. Tapi Gio yakin, mamanya jauh lebih mengenalnya.
"Nggak. Mama nggak percaya. Tapi kenapa Alenka sampai semarah itu?" tanya Elsa lagi.
"Siapa wanita itu?"
"Tapi Gio berani sumpah jika Gio nggak punya hubungan apapun sama dia." jawab Gio.
"Alenka dimana?"
"Di kamar sama El dan Kayra."
Elsa segera berlari menuju kamar menantunya. Dia begitu sangat mengkhawatirkan Alenka. Karena sudah lama menjalin hubungan. Kasih sayang Elsa ke Alenka sudah seperti kasih sayang kepada anak kandung sendiri.
Di kamar, Kayra terus menangis sembari memeluk mamanya. Dia juga mengatakan jika dia membenci papanya. Dia sangat kecewa dengan papanya.
"Dek, jangan bikin mama semakin sedih! Gue juga kecewa dengan papa. Tapi semua bisa dibicarakan baik-baik." kata Elkhan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Al, mama boleh masuk?" tanya Elsa di depan kamar Alenka.
"Iya ma.." seru Alenka.
"Bukain pintu untuk oma!" pinta Alenka kepada Elkhan.
__ADS_1
Elkhan pun segera membuka pintu kamar untuk oma-nya. Begitu kamar terbuka, Elsa langsung memeluk Elkhan. Kemudian berjalan mendekati Alenka.
"Oma, papa jahat.." Kayra segera mengadu kepada neneknya.
"Nanti oma jewer ya, telinga papa." Elsa berusaha menyenangkan hati cucu perempuannya.
"Oma bisa bicara berdua dengan mama kalian?" tanya Elsa. Lalu kedua cucunya segera keluar dari kamar mamanya.
Begitu anak-anaknya keluar. Pecahlah tangisan Alenka. Dia menangis sembari memeluk mama mertuanya. "Ma, maafin aku yang belum bisa jadi menantu yang baik." kata Alenka.
"Kamu ngomong apa? Kamu menantu terbaik mama."
"Menangislah kalau kamu ingin menangis! Luapkan semua amarah kamu!" kata Elsa lagi sembari mempererat pelukannya.
"Seandainya aku pisah dengan Gio, apakah aku tetap anak mama?" pertanyaan Alenka itu membuat Elsa menangis tersedu.
"Apakah aku tetap anak mama?" Elsa menganggukan kepalanya dengan air mata yang semakin deras.
Tentu saja yang dia inginkan rumah tangga anaknya akan tetap utuh. "Gio bilang dia tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu." lirih Elsa.
"Alenka juga harap begitu. Tapi kenyataannya tidak begitu, ma." Alenka semakin menangis.
Elsa menjadi bingung. Anaknya bilang jika mereka tidak memiliki hubungan. Tapi menantunya yakin jika Gio memang berselingkuh.
Akan tetapi, untuk saat ini Elsa tidak ingin memikirkannya dulu. Dia hanya ingin menenangkan menantunya agar tetap mau mempertahankan rumah tangganya. Sambil memikirkan cara untuk meluruskan semuanya.
****
Elkhan datang ke rumah Kimora. Karena dia merasa begitu sangat sedih. Di rumah, dia akan menjadi semakin sedih saat melihat papa dan mamanya perang dingin.
Begitu melihat Kimora, Elkhan langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat. "Hiks.. hiks.." Elkhan menangis dalam pelukan Kimora.
Kimora pun menjadi bingung. Apa yang membuat Elkhan tiba-tiba menangis. "Kenapa?" tanya Kimora dengan panik.
Akan tetapi Elkhan tetap membisu. Dia hanya mempererat pelukannya dan masih terisak. Kimora pun membiarkan Elkhan meluapkan perasaannya dalam tangisannya.
Setelah cukup lama. Kimora menuntun Elkhan supaya duduk di gazebo tempat biasa mereka ngobrol. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Ya udah kalau nggak mau jawab. Lo mau minum apa?" tanya Kimora. Dia tidak ingin memaksa Elkhan untuk menjawab pertanyaan.
"Gue nggak butuh minum. Gue cuma mau sama lo." Elkhan kembali memeluk Kimora dengan cukup erat.
Sangat lama. Barulah Elkhan menceritakan apa yang membuatnya begitu sangat sedih bahkan menangis. "Mama mergokin papa sama cewek lain."
Mata Kimora terbelalak. Jika bukan Elkhan yang bilang. Kimora pasti tidak akan percaya. Dia melihat sendiri betapa sayangnya papanya Elkhan kepada mamanya.
__ADS_1
"Mama ingin pergi dari rumah. Tapi gue larang, untungnya mama nurut. Gue takut Ra, gue takut mereka beneran berpisah." lirih Elkhan.
Kimora tidak berani berkata apapun. Dia takut salah bicara. Jadi, dia memilih untuk tetap diam. Hanya memberi pelukan untuk Elkhan.