
BAB 36
Pagi itu cuaca nampak mendung. Burung-burung yang biasanya berkicau pun seolah tidak menampakan dirinya. Rintik hujan sempat turun dan membasahi jalan dan dedaunan.
Kimora dengan malas membuka matanya. Meskipun ibunya berkali-kali membangunkannya. Namun, tubuh Kimora hanya menggeliat dengan malas di atas kasur.
"Jam berapa bu?" tanyanya dengan mata yang sedikit terbuka.
"Jam 8. Elkhan sudah menunggu di depan." jawab ibunya.
Seketika Kimora pun terperanjat. Dia segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. "Suruh El nunggu bentar!" katanya sembari berlari ke kamar mandi.
"Ya."
"Ibu nggak ke kantor?" serunya dari dalam kamar mandi.
"Ibu libur nak, kan tanggal merah."
Kimora lupa jika hari ini adalah tanggal merah. Di dalam kamar mandi, dia berdiri di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya lewat cermin yang cukup besar itu.
Matanya masih terlihat agak bengkak. Semalaman dia menangis karena menerima kabar yang begitu mengejutkan.
Dimas, teman sekelas sekaligus sahabatnya. Dikabarkan meninggal karena kecelakaan. Lututnya terasa kendor dan tubuhnya lemas seketika. Air mata tidak bisa berhenti turun tatkala dia menatap tubuh kaku sahabatnya.
Hari ini, hari pemakaman Dimas. Kimora tidak ingin melewatkan hal tersebut. Dia ingin mengantar sahabatnya sampai ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Mengingat Dimas, lagi-lagi Kimora menangis. Sembari memegangi dadanya yang sesak, Kimora menangis dalam guyuran air yang mengalir dari shower.
Kenapa Tuhan begitu cepat memanggil sahabatnya. Kenapa takdir mengharuskan mereka berpisah untuk selamanya. Kenapa?
Berjuta pertanyaaan kenapa dan mengapa memenuhi pikiran Kimora. Dia masih belum menerima kepergiaan sahabatnya yang begitu mendadak.
Setengah jam kemudian, Kimora keluar dari kamar dengan memakai baju hitam sebagai tanda berkabung. Raut wajahnya tidak bisa disembunyikan bahwa dia terlihat begitu sedih.
"Sarapan dulu, Ra!" pinta ayahnya yang sedang mengobrol dengan Elkhan di ruang tamu.
__ADS_1
"Nanti aja yah. Aku berangkat dulu ya." pamitnya kepada ayah dan ibunya.
"Tapi kamu belum makan dari semalam." seru ibunya.
"Nanti aja buk, aku masih kenyang." Kimora tetap menolak untuk makan. Dia merasa tidak mood untuk makan. Dia hanya ingin segera melihat jasad sahabatnya.
Setelah berpamitan kepada ayah dan ibunya Kimora. Elkhan dan Kimora segera berangkat menuju rumah duka. Pemakaman Dimas dijadwalkan jam 10 pagi.
Di dalam mobil, berkali-kali Elkhan meraih tangan Kimora tanpa berkata. Dia hanya menunjukan bahwa ada dia yang ada bersamanya.
"Kenapa Tuhan begitu cepat memanggil Dimas? Kenapa El?" tanya Kimora dengan air mata yang telah menetes dipipinya.
"Yank, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Lo yang sabar, lo harus ikhlas." kata Elkhan mempererat genggamannya.
Sesaat kemudian dia menyentuh wajah Kimora lalu menyeka air mata Kimora yang sudah membasahi pipinya. "Jangan sedih terus!" ucapnya pelan.
Kimora memegang tangan Elkhan kemudian menggenggamnya erat. Tapi air matanya seolah tidak bisa berhenti menetes.
Begitu sampai di kediaman Dimas. Dimana jenazah Dimas disemayamkan. Air matanya tidak bisa terkendali lagi. Kimora mendekat dan menangis di samping jasad Dimas.
Dua hari yang lalu, Dimas masih sehat. Dia datang ke sekolah dengan wajah yang terus tersenyum. Setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Dia juga sudah mau kembali kumpul dengan teman-temannya yang lain.
"Kemana aja lo?" tanya teman-temannya karena sudah beberapa hari Dimas tidak ada kabar dan juga tidak masuk ke sekolah.
"Nggak kemana-mana. Gimana kabar kalian?" tanya balik Dimas.
"Baik."
Mereka juga sempat bercanda seperti biasa. Tidak ada yang menyangka jika Dimas akan meninggal tiga hari setelahnya. Bahkan kemarin sebelum dia kecelakaan. Dimas masih pergi ke sekolah seperti biasa. Hanya anehnya, dia sudah tidak terlihat bersama dengan Silvi, pacarnya.
Dan, sampai pagi hari ini pun. Silvi sama sekali tidak nampak batang hidungnya. Entah ada apa dengan hubungan keduanya. Yang jelas banyak yang berasumsi jika mereka berdua telah putus.
Mungkin karena itu juga yang membuat Dimas terganggu pikirannya sampai mengakibatkan dia mengalami kecelakaan semalam. Tapi belum diketahui secara jelas apa penyebab Dimas mengalami kecelakaan. Karena menurut saksi, Dimas mengalami kecelakaan tunggal.
Yang membuat dada teman-temannya terasa sesak ialah tangisan tanpa suara dari ibunya Dimas. Ibu Dimas seorang single parent. Dan Dimas merupakan anak tunggal. Mungkin itu yang membuat ibunya begitu sangat terpukul.
__ADS_1
Dimas harapan satu-satunya untuk masa tuanya. Tapi, kini Tuhan telah memanggilnya terlebih dahulu. Hati orang tua mana yang tidak hancur karenanya.
Saat jenazah Dimas dibawa menuju pemakaman. Isak tangis mengiringi kepergiaannya untuk selamanya. Untaian doa teriring menemani kepergiaannya.
Cuaca mendung dan gerimis kecil mengantarnya ke peristirahatannya yang terakhir. Alam seolah ikut bersedih dengan kepergiaannya yang menyisakan duka bagi ibunya dan para sahabatnya.
Kimora salah satunya. Dia tidak bisa mengendalikan air matanya begitu jenazah Dimas dimasukan ke dalam liang lahat. Tanah menutupinya dan bunga tersebar di rumah barunya.
Elkhan memeluk Kimora yang terlihat begitu sedih. Berkali-kali dia meminta Kimora untuk sabar dan ikhlas. "Ikhlaskan dia, agar jalannya tidak berat!" lirih Elkhan sambil terus memeluk Kimora.
Elkhan takut Kimora menjadi lemah karena Kimora belum makan dari semalam. Dan hanya terus-terusan menangis.
Setelah acara pemakaman selesai. Elkhan mengajak Kimora makan, tapi Kimora menolak. "Ke rumah aja ya El! Gue masih belum mau pulang, gue masih keinget Dimas terus. Seminggunan yang lalu dia ke rumah gue, curhat masalah pacarnya. Gue masih keinget terus." kata Kimora.
"Iya." Elkhan dengan senang hati membawa Kimora ke rumahnya.
Seperti biasa, Elkhan dan Kimora duduk di gazebo yang ada disamping kolam renang. Tubuh Kimora terasa berat, dia menyenderkan kepalanya dibahu Elkhan. Wajahnya masih nampak sedih, dan matanya juga bengkak, bahkan air mata masih sekali menetes.
Pelayan di rumah Elkhan membawakan makanan untuk mereka. Namun, Kimora masih menolak untuk makan. "Gue nggak laper, El." katanya.
"Ra, lo boleh sedih, tapi lo juga pikirin tubuh lo, pikirin gue juga. Gue nggak mau lo sakit." kata Elkhan yang hendak menyuapi kekasihnya.
"Tapi gue nggak laper."
"Makan ya! Pikirin gue juga, gue nggak mau lo sakit, gue pasti sedih." lanjut Elkhan sudah mengangkat sendok berisi makanan.
Kimora menatap Elkhan sejenak. Kemudian membuka mulutnya dan mulai makan. Benar apa yang Elkhan katakan. Kalau dia sakit, Elkhan pasti akan sangat sedih.
Setelah makan. Kimora rebahan dipangkuan Elkhan. Dia menjadikan paha Elkhan sebagai bantal. Dengan lembut Elkhan mengelus rambut Kimora. Tak lama kemudian Kimora tertidur.
Tak lama kemudian, Alenka mendekat. Dia melihat Kimora yang tertidur dalam pangkuan anaknya. "El, Ara tidur?" Elkhan menganggukan kepalanya.
"Dia pasti masih sangat sedih banget." Alenka teringat Sisil yang juga meninggal saat masih sekolah. Jadi dia bisa merasakan apa yang Kimora rasakan.
"Bawa Ara ke kamar kamu! Disini banyak angin." kata Alenka.
__ADS_1
Elkhan pun segera mengangkat Kimora ke kamarnya dilantai atas. Dengan hati-hati Elkhan meletakan Kimora di atas kasurnya. Lalu menyelimutinya, dan menunggui Kimora di sampingnya. Sampai dia ikutan tertidur.