Sweet 17

Sweet 17
25


__ADS_3

BAB 25


Pertandingan itu semakin seru karena belum ada gol yang tercipta. Para pendukung dari sekolah masing-masing terus meneriakan dukunngan mereka melalui yel-yel juga dengan teriakan semangat.


Di penghujung waktu. Tensi permainan semakin memanas dikala sekolah Kimora mampu mencetak gol untuk mengungguli lawan.


"Goll..."


"Elkhan saranghyeo..." seru beberapa siswi. Pada saat itu sang pencetak gol adalah Elkhan.


"Saranghiu pala lo peyang.." gumam Kimora dengan kesal.


Sementara Kresna yang berada disampingnya hanya tersenyum kecil melihat Kimora yang mengomel sendirian.


Pemain bernomor punggung 12 dari tim lawan mulai bermain kasar. Berkali-kali dia menjegal Elkhan dan pemain yang lain.


Pada saat waktu sudah hampir habis. Pemain itu menjegal kaki Elkhan dengan cukup keras membuat Elkhan jatuh dan kesakitan.


"Elkhan..." Kimora berteriak karena dia kaget melihat kekasihnya yang terjatuh dan harus menepi dari lapangan.


Dia segera berlari mendekat saat Elkhan harus dipapah oleh temannya untuk ke pinggir lapangan. Elkhan tidak bisa melanjutkan pertandingan karena kakinya cedera.


Untung saja, sekolah mereka berhasil mempertahankan kedudukan. Hingga peluit panjang dibunyikan. Sekolah Kimora menang dengan skor tipis 1-0.


"Yeay..." seru para murid yang ikut menjadi suporter. Tapi mereka juga sedih karena Elkhan harus mengalami cedera.


Elkhan dibawa ke rumah sakit oleh tim medis sekolahnya. Tentu saja Kimora terus mendampinginya. Kimora menangis melihat kondisi Elkhan yang tidak mampu untuk berjalan.


Di dalam ambulans. Kimora terus menggenggam tangan Elkhan dengan air mata yang mengalir.


Melihat itu, Elkhan tersenyum senang. Itu artinya Kimora sangat peduli kepadanya. Dia pun menyentuh pipi Kimora dan menyeka air mata Kimora menggunakan ibu jarinya. "Jangan nangis! Gue nggak kenapa-napa." katanya dengan lembut.


"Tolong hubungi mama ya, biar mama nggak khawatir!" Elkhan meminta Kimora untuk memberitahu kondisi Kimora saat ini. Dia takut mamanya akan khawatir kalau dia pulang terlambat nanti.


Kimora menganggukan kepalanya. Dia kemudian memberi pesan singkat kepada mamanya Elkhan. Kebetulan Kimora juga punya nomer mamanya Elkhan.


Sesampainya di rumah sakit. Dokter mengatakan jika Elkhan tidak kenapa-napa. Hanya kakinya saja yang terkilir dan perlu istirahat beberapa hari di rumah sakit.


"Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-napa, El.. Kalau gitu pak guru pamit dulu, kamu semoga cepat sembuh ya!" kata guru olahraga yang juga pelatih tim futsal sekolah.


"Iya pak. Terima kasih." jawab Elkhan.


"Kamu tidak pulang, Kimora?" tanya pak guru tersebut.


"Aku nunggu sampai orang tua Elkhan datang, pak.." jawab Kimora. Dia sama sekali tidak mau meninggalkan Elkhan karena dia sangat khawatir.


"Ya udah kalau gitu. Pak guru duluan." Kimora menganggukan kepalanya.


Kimora merawat Elkhan yang sedang sakit dengan penuh perhatian. "Mau makan apa biar gue beliin?" tanya Kimora.

__ADS_1


"Nggak mau apa-apa. Makasih ya udah peduli sama gue." kata Elkhan sembari menggenggam tangan Kimora.


Kimora tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Gue ambilin minum ya?"


Kimora segera mengambil minum untuk Elkhan. Dia benar-benar sangat hati-hati saat merawat Elkhan.


Tak lama, teman-teman Elkhan dan Kimora tiba di rumah sakit. Mereka juga khawatir dengan keadaan Elkhan. Karena sepertinya cedera Elkhan cukup serius.


"El, gimana kaki lo?" tanya Dian yang terlihat paling khawatir.


"Iya El, gimana kaki lo?" sahut Ciara juga.


"Cuma terkilir kok. Tapi harus istirahat dulu juga. Thanks kalian udah khawatirin gue." jawab Elkhan.


"Syukur deh kalau lo nggak kenapa-napa. Gue takut banget tadi. Brengs*k banget tuh nomor 12. Lihat aja gue bakal balas suatu saat nanti." ucap Dian dengan geram.


"Nggak perlu-lah. Biasa mereka kan lagi marah karena kalah." Elkhan bahkan tidak kepikiran untuk balas dendam.


"Tapi dia sengaja mencederai lo." Dian masih emosi saat mengingat kejadian tadi.


"Biarin aja, yang penting kita menang kan?"


Tiba-tiba pintu kembali terbuka. Ulfa berlari dengan khawatir. Dia bahkan menabraki orang-orang di depannya termasuk Kimora. Dan dengan tanpa malu mendekati Elkhan. "El, gimana keadaan lo?" tanyanya dengan cemas. Ulfa juga menggenggam tangan Elkhan.


Tapi dengan cepat Elkhan menarik tangannya. "Gue nggak kenapa-napa kok." jawabnya sembari melirik Kimora yang sudah memasang muka menyeramkan.


"Makasih ya kalian udah datang. Gue mau istirahat dulu, kalian pulang aja!" Elkhan tidak bermaksud mengusir teman-temannya. Tapi dia hanya ingin Ulfa pergi dari tempat itu.


Elkhan mengisyaratkan dengan matanya. Dan teman-temannya pun seketika paham. "Iya pulang yuk! Biarin El istirahat!" kata Dian yang paham dengan kode dari Elkhan.


"Gue disini aja temenin lo." kata Ulfa yang tidak mau meninggalkan tempat tersebut.


"Iya yuk pulang!" Kimora yang kesal pun mengajak teman-temannya pulang.


"Ara, lo nggak boleh pulang! Gue mau ditemenin lo." seketika Elkhan bangkit dan menahan Kimora yang hendak pergi.


"Udah ada Ulfa, dia yang akan rawat lo." jawab Kimora.


"Nggak. Gue mau lo yang rawat gue." seru Elkhan.


"Fa, tolong lo pulang ya! Yang gue butuhin Ara disini bukan yang lain." kata Elkhan kepada Ulfa.


Dia memang harus tegas dengan sikapnya. Agar supaya hubungannya dengan Kimora tidak rusak akibat salah paham.


Wajah Ulfa seketika mengeras. Bukan hanya sakit hati karena penolakan Elkhan. Tapi juga rasa malu, karena teman-teman Kimora mengolok-oloknya.


"Pulang woi pulang. El nggak butuh lo." seru Agata sambip cekikikan.


"Iya woi, sadar diri!" sahut Chelsea.

__ADS_1


"Masih punya malu kan. Pulang kalau gitu." Ciara tak mau kalah.


Sebenarnya Elkhan juga tidak tega melihat Ulfa dipermalukan seperti itu. Tapi, dia juga tidak ingin kekasihnya pergi dan salah paham lagi. "Fa, maaf.." lirih Elkhan.


Dengan marah dan malu, Ulfa meninggalkan ruangan tersebut tanpa berkata apapun. Bahkan saat teman-teman Kimora mengoloknya, dia sama sekali tidak membalas. Hatinya terasa sangat sakit karena penolakan Elkhan.


"Kalau gitu kita pulang dulu ya!" pamit teman-teman Kimora dan juga teman-teman Elkhan.


Mereka pergi hanya menyisakan Kimora saja yang tidak diperbolehkan pulang oleh Elkhan. "Lo udah pamit sama ayah dan ibu?" tanya Elkhan.


"Udah, sama bang Aldo juga udah." jawab Kimora.


Elkhan pun merasa lega. Karena takutnya Kimora akan dicari oleh orang tua dan kakaknya karena pulang telat.


Tak lama kemudian. Alenka datang bersama dengan Gio dan Kayra. Mereka begitu sangat khawatir dengan kondisi Elkhan.


"El, gimana keadaan kamu?" tanya Alenka yang terlihat sangat khawatir.


"Nggak apa-apa ma, cuma disuruh istirahat aja." jawab Elkhan.


"Papa sama mama kaget banget waktu menerima pesan dari Ara. Kebetulan mama sedang main di kantor papa. Kita langsung jemput adik kamu, terus kesini. Mama khawatir banget." kata Alenka.


"Syukurlah kamu tidak kenapa-napa. Makasih ya Ra udah rawat El.." imbuh Alenka.


"Iya tante, om.." jawab Kimora dengan tersenyum.


"Kalian belum makan kan? Nih papa beliin makanan untuk kalian." Gio memberi bungkusan makanan untuk Kimora dan juga Elkhan.


"Yank, suapin!" Elkhan bersikap manja kepada Kimora bahkan di depan kedua orang tua dan adiknya.


"El, yang sakit kan kaki lo, bukan tangan lo.." kata Kimora menggertakan giginya. Dia yang malu saat Elkhan bertingkah manja kepadanya, karena itu di depan orang tua Elkhan.


"Kalau nggak disuapin, gue nggak mau makan.." Elkhan mulai ngambek.


"Disuapin mama ya, biar Ara makan dulu!" sahut Alenka.


"Nggak mau. Pokoknya mau disuapin Ara." ucap Elkhan dengan wajah manyun.


Kimora melotot melihat tingkah manja kekasihnya itu. Tapi, mau tidak mau dia melakukannya juga. Kimora menyuapi Elkhan di depan orang tua dan adik Elkhan. Menahan rasa malunya, Kimora diam-diam mencubit tangan Elkhan.


"Aw.. sakit Ara.." erang Elkhan mengusap-usap tangan yang kena cubit Kimora.


"Oh maaf, maaf, nggak sengaja.." kata Kimora sembari melotot.


Sementara Elkhan hanya terus tersenyum senang. Kayra yang tahu maksud kakaknya pun hanya tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan kakaknya. Begitu juga kedua orang tua Elkhan. Mereka paham betul maksud dan tujuan Elkhan. Tapi mereka hanya tersenyum saja.


"Persis kayak kamu waktu muda." bisik Alenka.


Gio hanya tersenyum dan merangkul Alenka sambil terus memperhatikan anak sulungnya yang sedang dilanda asmara. Ya, bukan hanya wajah yang hampir mirip dengannya. Tapi sikap dan karakter Elkhan sama persis seperti papanya.

__ADS_1


__ADS_2