Sweet 17

Sweet 17
32


__ADS_3

BAB 32


Gio dan Alenka makan di kafe milik mereka. Kafe yang tidak ada perubahan sama sekali. Hanya perubahan dari warnanya saja yang menyesuaikan trend.


Kafe yang memiliki banyak kenangan untuk Gio dan Alenka. Kafe yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka dari remaja sampai mereka punya dua anak.


Suasananya tetap sama. Bernuansa romantis. Kedatangan mereka dilayani baik oleh para karyawan. "Loh Gi, ada masalah apa kok tumben kesini?" tanya Rama, sang manager kafe.


Rama diminta Gio untuk mengurus kafe tersebut. Sedangkan Gio jarang sekali datang karena kesibukannya. "Iya, mau makan Ram. Udah lama kan nggak kesini." jawab Gio.


"Kenapa tuh muka ditekuk gitu?" tanya Rama kepada Alenka.


Rama cukup dekat dengan Gio dan Alenka karena mereka dulu pernah satu sekolah. Bahkan Rama juga salah satu sahabat Gio.


"Laper katanya." Gio memberi kode kepada Rama agar segera mempersiapkan makanan untuk dia dan Alenka.


"Oh, oke kalau gitu biar disiapin sekarang!" tanpa perlu bertanya, Rama sudah tahu makanan kesukaan Alenka dan Gio.


Dia pun segera meninggalkan Gio dan Alenka. Sepertinya Alenka sedang ngambek dan Gio berusaha membujuknya.


"Ma, jangan cemberut terus dong! Iya deh papa minta maaf, papa beneran nggak tahu kalau kamu wa papa. Maaf ya!" Gio meraih tangan istrinya.


"Jelas nggak tahu, orang di depan ada cewek cantik dan masih muda." kata Alenka dengan wajah manyun.


"Nggak ngaruh juga. Dimata papa cuma mama yang paling cantik." Gio berkata dengan lembut kepada istrinya.


Istri yang sangat dia cintai. Demi hidup bersama, dia merelakan masa mudanya untuk menikahi wanita itu. Dan di masa mudanya, dia telah memiliki anak yang sudah beranjak dewasa.


"Apakah kamu sudah mulai bosan hidup dengan aku? Separuh usia kamu habiskan dengan aku." perkataan Alenka tersebut membuat Gio kaget.


"Aku nggak pernah bosan hidup sama kamu. Justru kalau nggak sama kamu, mending aku nggak usah hidup."


"Ma, aku cinta banget sama kamu. Aku rela lakuin apa aja demi kamu. Jangan pernah punya pikiran seperti itu! Sampai kapanpun, aku tidak pernah bosan. Aku justru sangat bahagia." lanjut Gio. Dia meraih tangan Alenka kemudian menciumnya.


"Maafin aku yang membuat kamu tidak nyaman. Aku hanya sebatas bertanggung jawab aja kepada Raisa, nggak lebih. Karena tidak ada yang bisa buat aku jatuh cinta seperti ini, selain kamu." imbuh Gio.


Alenka menatap Gio yang juga menatapnya dengan lekat. Setelah sekian lama, rasa itu masih sama seperti waktu mereka pacaran dulu. Rasa yang semakin besar dan semakin kuat.


"Maafin aku ya!" Gio menyentuh wajah istrinya menggunakan tangan kanannya dengan lembut. Tatapannya juga sangat dalam.

__ADS_1


Setelah terdiam beberapa saat. Alenka pun menganggukan kepalanya. "Maafin aku juga yang masih suka cemburu." lirih Alenka.


"Nggak apa, itu tandanya kamu cinta sama aku, kamu takut kehilangan aku." kata Gio sembari tersenyum kecil. Dia kembali mencium tangan Alenka. Dan juga mengecup kening Alenka dengan sangat lembut. Tidak peduli disana ada banyak orang. Gio hanya ingin menunjukan kepada dunia jika dia sangat mencintai istrinya.


Begitu hidangan tersedia. Keduanya segera menghabiskan. Saat Gio dan Alenka beranjak. Rama segera mendekat.


"Mau pulang atau ke kantor dulu?" tanya Rama.


"Balik ke kantor. Kenapa mau ikut?" tanya Gio sembari tersenyum.


"Dia pedekate sama karyawan di kantor kok ma, kamu udah tahu belum?" tanya Gio kepada Alenka.


"Oh ya?" Alenka tersenyum senang mendengar berita itu.


"Cuma kenal anj*r.." Rama memukul lengan Gio pelan.


"Cepet nikah Ram! Gue sama Gio akan duet kalau lo nikah." kata Alenka.


"Ah duet doang, nggak nyumbang." kata Rama dengan wajah sengit.


"Kalau lo nikah, gue naikin gaji lo!" sahut Gio.


"Tapi gue masih belum siap." kata Rama.


"Umur lo berapa kok masih belum siap? Keduluan sama El nanti." sahut Alenka.


Sementara Rama hanya tersenyum. Dari teman-teman Alenka dan Gio. Hanya Rama dan Boy yang masih belum menikah. Entah apa yang membuat mereka enggan untuk menikah.


Padahal kalau soal kemapanan. Rama dan Boy bisa dibilang sudah mapan. Rama menjadi manager dengan gaji cukup tinggi. Boy menjadi polisi dan tentunya juga sudah sangat mapan.


"Atau jangan-jangan dia malah nikah sama Boy.." kata Alenka meledek Rama.


"Bisa jadi kan mereka masih sama-sama sendiri." Gio juga mendukung perkataan Alenka.


"Kampret kalian. Nggak lah, cuma belum ketemu sama yang pas aja." jawab Rama tersenyum kecil. Hal semacam itu yang membuat kangen. Karena sekarang mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Oh ya Gi, kapan hari lalu gue lihat El kesini sama cewek. Dia udah punya pacar?" tanya Rama.


"Dia mah udah gonta ganti pacar." sahut Gio sembari tersenyum.

__ADS_1


"Idih kayak papanya." ucap Rama.


"Nggaklah, gue cukup Alenka aja." sanggah Gio.


"Emang lo nggak bosen Al, bisa dibilang setengah usia lo udah bersama Gio?" Rama bertanya kepada Alenka.


"Bosen sih Ram. Mau gimana lagi, adanya cuma dia." Rama terbahak mendengar perkataan Alenka.


"Kalau lo punya temen, bisa deh kenalin gue." imbuh Alenka yang membuat Rama semakin terbahak.


"Alenka..." seru Gio dengan kesal.


Sementara Alenka hanya tersenyum melihat suaminya yang kesal. Gio lalu memeluk istrinya dengan manja. "Nggak boleh bosen! Karena jalan kita masih panjang. Demi anak-anak kita." ucapnya.


Alenka membalas pelukan Gio sembari menganggukan kepalanya. Apa yang dia ucapkan tadi hanyalah sebuah candaan semata. Alenka tidak benar-benar serius dengan perkataannya.


Selama ini dia sangat bahagia hidup bersama dengan Gio. Meskipun dia harus merelakan masa mudanya. Tapi itu tak jadi masalah. Gio memberikan semua cinta dan kasih sayangnya untuk dia dan anak-anak mereka.


"Buruan pulang, atau kembali ke kantor! Jangan pamer kemesraan disini!" ucap Rama mengusir Gio dan Alenka yang terlihat sangat romantis.


"Oh berani usir bos sekarang?" tanya Gio menggoda Rama. Selama ini dia tidak pernah menganggap Rama sebagai bawahannya. Dia menganggap Rama sebagai patner kerjanya.


"Habisnya si bos ini nggak punya perasaan. Mesra-mesraan di depan jomblo." gerutu Rama yang justru membuat Gio dan Alenka tersenyum lebar.


"Arin gimana Al?" tanyanya.


"Nggak gimana-mana. Minggu depan kita mau kesana. Lo mau ikut?" tanya balik Alenka.


"Pengen sih. Tapi gue nggak enak sama suaminya. Salam aja buat dia." jawab Rama.


"Oke. Ntar gue bilangin kalau lo masih nungguin dia." Alenka menggoda Rama juga.


"Jangan anj*r. Gue malu."


"Ngaku aja kalau lo belum siap nikah karena nungguin Arina kan?" pertanyaan Gio itu langsung membuat Rama gugup.


"Nggak. Gue emang belum siap nikah aja." jawab Rama mencoba tetap tenang meskipun sebenarnya dia merasa gugup.


Ya, bagi Rama, Arina adalah mantan terindahnya. Meskipun setelah putus dia memiliki banyak kekasih. Tapi Arina memiliki tempat khusus di dalam hati Rama.

__ADS_1


__ADS_2