
BAB 26
"Ra.." seru Chelsea ketika Kimora keluar dari mobil kakaknya.
"Hai.." sapa Kimora dengan tersenyum senang.
"Hallo kak Aldo.." Chelesea juga menyapa kakaknya Kimora dengan centil.
"Hai dek.."
"Abang pergi dulu!" Kimora menganggukan kepalanya.
"Oh ya, ntar siang lo jadi jengukin Elkhan?" sebelum pergi Aldo bertanya kepada adiknya. Apakah adiknya jadi menjenguk kekasihnya.
"Jadi bang."
"Oh ya udah. Abang pergi dulu!" pamitnya sekali lagi sebelum melajukan mobilnya meninggalkan Kimora bersama dengan temannya.
"Abang lo cakep banget, Ra.. Udah punya cewek belum sih?" Chelsea senang sekali bisa melihat kakaknya Kimora. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan kakaknya Kimora. Karena Kimora selalu berangkat bersama Elkhan.
"Udah. Yuk masuk!" Kimora menarik tangan Chelsea.
Mereka melihat-lihat tapi belum melihat mobil Ciara di parkiran. Juga belum melihat batang hidung Agata. "Agata dianter Afen?" Chelsea menganggukan kepalanya.
Meskipun Chelsea dan Doni sudah putus. Tetapi, hubungan Agata dengan Afen yang adalah teman Doni, masih baik-baik saja. Bukan tidak mengerti perasaan Doni dan Chelsea. Tapi mereka juga berhak memilih pasangan masing-masing. Untungnya, baik Chelsea maupun Doni tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Bim..Bim..
Dari belakang Ciara mengagetkan mereka. "Tungguin gue!" seru Ciara dari dalam mobil. Dengan segera dia memarkirkan mobilnya.
Ciara segera berlari menyongsong temannya yang menunggunya tak jauh dari parkiran. Mereka bertiga segera berjalan menuju kelas mereka sembari cerita banyak hal dan bersendau gurau.
Plak..
"Heh, sial*n lo ya. Beraninya lo deketin Diky!" Santi yang berlari dari arah belakang menarik pundak Chelsea kemudian menamparnya.
Tentu saja perbuatan Santi tersebut membuat Ciara dan Kimora bahkan Chelsea sendiri menjadi kaget. Chelsea yang segera sadar dari rasa terkejutnya. Balas menampar Santi dengan cukup keras.
Plak..Plak.. Dua kali.
__ADS_1
Chelsea yang marah juga menjambak rambut Santi dengan cukup keras. "Akh.." membuat Santi mengerang kesakitan.
"Chel, udah!" Kimora berusaha melerai mereka. Karena tidak ingin temannya menjadi bahan tontonan murid-murid yang lain.
"Lepasin brengs*k.." Santi menahan rasa sakit sembari berteriak.
"Chel.." Kimora menahan tangan Chelsea supaya tidak menarik rambut Santi lagi.
"Biarin aja Ra. Siapa suruh dia tiba-tiba nampar Chelsea. Terusin Chel!" Ciara justru mendukung Chelsea untuk terus menjambak rambut Santi semakin kuat.
"Nggak usah ikut campur lo!" Chila tidak terima temannya disakiti. Dia segera mendorong Ciara supaya tidak mengeroyok temannya.
"Apa lo?" Ciara maju dan balik mendorong Chila.
Keributan pun juga tak terhindarkan. Chila menarik rambut Ciara. Sebaliknya Ciara juga menarik rambut Chila. Mereka berdua saling jambak.
Kimora menjadi bingung karena kedua temannya bertengkar semua. "Lepasin Chel!" pinta Kimora lagi.
Dengan kasar Chelsea melepaskan jambakannya. "Gue punya salah apa sama lo? Kenapa lo tiba-tiba menampar gue?" tanya Chelsea yang sepertinya kurang jelas mendengar perkataan Santi tadi.
Santi segera merapikan rambutnya dengan masih menatap tajam ke arah Chelsea. Sementara Kimora gantian melerai Chila dan Ciara yang masih saling menjambak.
"Lo nggak usah ikut campur! Lo mau keroyokan?" Chila malah salah paham kepada Kimora yang berniat melerai mereka.
"Ngapain harus keroyokan? Lawan Ciara aja lo belum tentu menang, apalagi lawan kita." jawab Kimora dengan nada menghina. Dia kesal karena dituduh mengeroyok Chila. Padahal dia hanya ingin melerai.
"Terserah." Kimora membiarkan Ciara dan Chila kembali saling tarik menarik rambut.
Namun, Ciara cukup cerdik. Dia mendorong Chila sampai membentur dinding. Barulah Chila mulai mengendorkan tarikannya. Dengan cepat Ciara membebaskan diri dan juga melepaskan jambakannya.
Ciara dan Kimora segera mendekati Chelsea yang sedang berdebat dengan Santi. "Jadi gara-gara gue pulang sama Diky, lo jadi marah?" tanya Chelsea dengan tersenyum geli.
"Emang Diky pacaran sama lo?" tanya Chelsea yang tidak bisa dijawab oleh Santi. Karena kenyataannya mereka memang tidak berpacaran.
Melihat kebisuan Santi membuat Chelsea tersenyum sinis. "Kalian tuh satu circle. Circle halu." ejek Chelsea dengan senyuman sinis.
"Kalau lo emang suka sama Diky, harusnya lo bersaing secara sehat. Nggak main labrak kayak gini, itu hanya akan mempermalukan lo. Karena belum tentu Diky mau sama lo." Chelsea kembali tersenyum sinis. Tapi kali ini dengan sedikit mengejek.
"Lo aja yang jal*ng. Lo goda Diky kan? Karena Diky nggak mungkin suka sama cewek kayak lo. Ngaca!" seru Santi dengan marah.
__ADS_1
"Terus Diky sukanya cewek seperti apa? Seperti lo?" Chelsea masih tenang menanggapi kemarahan Santi yang membara.
"Kalian tuh cuma dijodoh-jodohin aja sama temen-temen kalian karena kalian terlihat akrab. Kalian terlihat akrab juga karena kalian teman dari kecil." kata Chelsea lagi.
"Lo pernah nggak dianter Diky tanpa lo minta, tapi Diky sendiri yang nawarin mau nganterin lo?" lanjut Chelsea masih dengan tersenyum santai tapi terlihat sinis.
"Nggak kan? Kasihan.." Chelsea mengejek Santi yang belum pernah ditawarin dianter oleh Diky.
Melihat wajah Santi yang semakin marah dan kebisuannya. Membuat Chelsea yakin bahwa apa yang dia katakan itu memang benar. Sebelumnya Diky yang bercerita tentang hal tersebut. Dan Chelsea hanya ingin membuktikan.
"Ada apa ini? Kenapa ada nama gue disebut?" Diky berjalan membelah kerumunan di depannya. Dia melihat Chelsea yang sedang berdebat dengan Santi dan menyebut namanya.
Chelsea kembali tersenyum. Dia berjalan mendekati Diky yang sepertinya baru datang. "Kebetulan lo datang. Tolong kasih tahu sama temen lo eh temen atau pacar ya? Tolong bilangin jangan pernah berani tampar gue hanya karena seorang lelaki!" ucap Chelsea dengan tegas.
Setelah itu dia meninggalkan kerumunan tersebut disusul oleh Ciara dan Kimora. Kemudian kerumunan itu bubar.
Diky hanya termenung di tempat setelah mendengar perkataan Chelsea. Dia menatap Santi dengan rambut yang berantakan. Dan dia yakin, telah terjadi pertengkaran sebelumnya.
Diky memdekat dan membantu Santi membenahi rambutnya yang berantakan. "Kenapa lo tampar Chelsea?" tanyanya.
"San, kita udah berteman dari kecil. Lo tahu apa yang membuat gue suka dan tidak suka." imbuh Diky masih membantu Santi membenahi rambutnya.
"Kayaknya gue harus ngomong jujur sama lo. Gue suka sama Chelsea." perkataan terakhir Diky tersebut tentunya membuat Santi terkejut bukan main.
Tapi, seharusnya dia sudah bisa menebak saat melihat Diky pulang bersama Chelsea kemarin. "Tapi dia bukan wanita baik. Gue nggak rela lo sama dia karena dia bukan wanita baik-baik. Dia sering pergi ke club malam. Pokoknya gue nggak rela lo sama dia." kata Santi dengan marah.
"Karena lo suka sama gue kan?" tanya Diky yang kembali mengejutkan Santi.
"San, lo tahu dari dulu. Gue cuma anggep lo sebagai sahabat." imbuh Diky memperjelas status hubungan mereka.
"Tapi kenapa lo diem setiap kali temen-temen kita mengolok kita? Lo bahkan nggak nolak." tanya Santi dengan hati terluka.
"Gue nggak peduli orang mau ngomong apa. Yang gue peduliin cuma perasaan gue aja. Dan perasaan gue cuma menganggap lo sebagai sahabat." jawab Diky menegaskan tentang status mereka.
"Mereka menjodoh-jodohkan kita karena kita terlihat akrab. Gue juga udah bilang ke lo, supaya jangan baper karena itu hanya akan membuat pertemanan kita menjadi renggang." tutur Diky.
"San, kalau lo emang temen gue. Lo pasti akan mendukung apapun keputusan gue. Begitu juga gue, akan mendukung apapun keputusan lo." Diky kemudian meninggalkan Santi begitu saja.
Santi tidak bisa menahan tangisannya. Dia kalah sebelum berperang. Chila yang tidak tega melihat temannya segera memeluk Santi untuk menenangkannya.
__ADS_1