
BAB 34
Elkhan masuk ke dalam kelasnya dan membuat heboh Ulfa beserta teman-temannya. Mereka senang melihat Elkhan sudah sembuh dan bisa berjalan seperti sediakala.
"El, lo udah sembuh?" tanya Ulfa mendekat ke bangku Elkhan.
"Ya, udah." jawabnya singkat.
"Ah syukur deh." sahut Chila juga tak kalah heboh.
Tiba-tiba anak baru di kelas mereka juga mendekat ke bangku Elkhan. "Hai, lo yang namanya Elkhan? Kenalin gue Ayudya, anak baru." katanya sembari mengulurkan tangannya.
Sebagai anak baru, Ayudya terlalu percaya diri sehingga dia berani mengajak kenalan Elkhan. Akan tetapi, Elkhan menyambutnya dengan baik. Selama itu hal positif, Elkhan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Iya, gue Elkhan." jawab Elkhan menyambut tangan Ayudya.
Ulfa yang kesal segera mendorong Ayudya. Dan itu membuat Elkhan dan Ayudya bahkan teman-temannya yang lain menjadi terkejut.
"Sana lo, jangan sok caper!" kata Ulfa dengan kesal.
Dia aja masih belum bisa singkirin Kimora, sudah ada saingan baru lagi. Ulfa pun menjadi kesal karenanya.
Untung saja Ayudya tidak menanggapi serius perilaku Ulfa terhadapnya. Dia hanya tersenyum sinis sembari berkata. "Caper? Bukankah kita sama?"
Setelah mengatakan hal itu. Ayudya segera kembali ke tempat duduknya. Namun, itu mengundang reaksi Ulfa dan teman-temannya.
"Anak baru jangan sok keras deh!" seru Santi yang memang selalu tidak bisa mengontrol emosinya.
"Gigi gue sakit jadi nggak bisa keras-keras!" jawab Ayudya dengan santai.
"Lo??" Santi marah dan hendak mendekati Ayudya. Tetapi, dia ditahan oleh Ulfa.
Sedangkan Elkhan tidak menghiraukan mereka yang sedang beradu mulut. Dia malah asyik main game dengan temannya.
Di tempat lain. Kantin.
Kimora sedang asyik menggoda Chelsea yang sedang pacaran dengan Diky. Bukan hanya Kimora, tapi juga ada Agata dan Ciara yang juga sudah datang.
"Dik, sekali-kali ajak Chelsea makan di kafe kek, masa di kantin mulu.." seru Ciara yang memang sengaja menggoda Diky.
"Betul tuh, mana katanya mau traktir juga belum terlaksana." sahut Agata.
"Gimana kalau kafe Moon?" timpal Kimora.
"Kan waktu itu udah gue traktir, anj*r lupa kalian?" seru Chelsea yang merasa sudah mentraktir teman-temannya tapi kembali ditagih.
__ADS_1
"Nj*r cuma bakso doang. Yang kerenan dikit dong!" seru Ciara lagi.
"Syukur-syukur gue traktir bakso, daripada nggak." kata Chelsea dengan sewot. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum.
"Oke, nanti malam gue traktir di kafe Moon." sahut Diky.
"Serius ya!" Diky menganggukan kepalanya.
"Lo juga harus nyanyi untuk Chelsea nanti malam!" pinta Kimora.
"Gue nggak bisa nyanyi.."
"Demi cinta lo pasti berusaha." sahut Ciara.
"Kita bertiga udah punya cowok, lo kapan bos?" Kimora bertanya sembari merangkul Ciara yang ada di sebelahnya.
"Gue... gue nanti. Gue masih pengen sendiri." jawab Ciara dengan gagap.
Benar juga, dari ke empat sahabat itu. Hanya Ciara yang belum memiliki kekasih. "Gue gampang.." imbuhnya.
"Apa lo sebenarnya nunggu Widi buat nembak lo?" goda Agata. Kebetulan Widi lewat di depan mereka.
"Nggak anj*r." Ciara berteriak.
"Wid, Ciara nunggu lo nembak dia tuh.." kata Agata lagi.
"Gue juga najis tralala. Emang nggak ada cewek yang lebih cantik. Najis banget sama dia." kata Widi sembari mendorong kepala Ciara.
Tentu saja itu membuat Ciara menjadi kesal. Dia beranjak dari tempat duduknya dan segera mengejar Widi yang sudah lari duluan. "Awas lo ya!" seru Ciara saling kejar dengan Widi.
"Ra, lo tahu kemana Dimas?" tanya Angga sembari berjalan mendekati Kimora.
"Nggak tahu gue. Emang kenapa sih dia udah dua hari nggak masuk sekolah?" tanya balik Kimora.
"Itu yang kita bingung. Di chat juga cuma diread doang. Lo nggak ngerasa aneh gitu dengan sikapnya akhir-akhir ini? Dia jadi pendiam banget." sahut Hendri yang memang sudah memperhatikan perubahan Dimasal semenjak berpacaran dengan teman satu kelas mereka juga.
"Silvi juga lebih jadi pendiem." kata timpal Putra.
"Waktu itu kayaknya seminggu yang lalu, dia datang ke rumah gue. Biasa curhat. Katanya dia lagi dilema mau putus dari Silvi atau nggak." kata Kimora mengingat malam itu waktu Dimas datang ke rumahnya.
"Emang ada masalah apa sih?" Putra menjadi penasaran.
"Katanya sih, Silvi melarang dia kumpul dengan kita. Makanya Dimas dilema banget." jawab Kimora mengatakan apa yang dia tahu dari mulut Dimas sendiri.
"Sebenarnya, kita nggak masalah dia mau kumpul atau nggak. Yang terpenting dia bahagia. Sebagai teman, sebenarnya kita maklum kok dengan apa yang Dimas alami. Nanti kalau mereka putus, Dimas juga bakal balik ke kita, dan kita pasti akan membuka tangan lebar-lebar untuk menyambutnya." kata Hendri.
__ADS_1
"Betul. Kita nggak masalah sebenarnya." sahut Angga.
Sebagai teman, mereka tidak mau memaksa temannya untuk melakukan apa yang membuatnya tidak suka. Jika itu membuat Dimas bahagia dan tidak bertengkar dengan pacarnya. Teman-temannya akan menerima dan tetap mendukung.
"Tapi nggak tahu juga apa yang Dimas pikirkan atau rasakan. Gimana kalau kita ke rumahnya?" tanya Putra. Dia begitu khawatir dengan temannya yang mulai susah diajak komunikasi itu.
"Boleh. Gimana kalau besok? Ntar kita mau ditraktir Diky." jawab Kimora kembali mengingatkan Diky akan janjinya.
"Cuma mereka doang? Kita juga temen Chelsea loh." Angga merasa tidak terima karena menganggap Diky pilih kasih.
"Kalian boleh ikut kok." jawab Diky.
"Yeay.. Sekalian lihat si kampret Galih perform." ucap Hendri.
"Oh iya, kemana sih tuh kampret? Tumben nggak kelihatan?" tanya Chelsea yang sedari tadi tidak melihat batang hidung Galih.
"Biasa lagi caper sama anak baru di kelas 10C."
"Hadeh.." Kimora memutar bola matanya. Kenapa banyak sekali yang ingin mendekati anak baru tersebut.
"Lo nggak takut Ra? Dia kan satu kelas sama Elkhan?" tanya Chelsea bermaksud menggoda Kimora.
"Nggak. Gue percaya sama cowok gue. Emang lo juga nggak takut? Dia kan juga satu kelas dengan Diky?" Kimora balik bertanya.
"Gue juga percaya sama cowok gue." jawab Chelsea.
"Emang yakin? Diky aja berbunga waktu kita cerita anak baru itu." kata Kimora.
"Nggak mungkin. Jangan fitnah lo.." Diky langsung menyanggahnya. Apalagi saat Chelsea menatapnya dengan tajam.
Agata dan Kimora tertawa melihat ekspresi Diky yang ketakutan. "Nama anak baru itu siapa sih Dik?" tanya Kimora.
"Ayudya." jawab Diky dengan cepat.
"Tuh hafal namanya, nama gercep lagi jawabnya." giliran Agata yang menggoda Chelsea dan Diky.
"Enggak yank, kan emang temen sekelas sudah pasti tahu dong namanya." Diky menjelaskan padahal Chelsea tidak berkata apapun hanya menatap Diky dengan tajam. Tapi Diky sudah ketakutan duluan.
"Kalian jangan jadi kompor deh!" omel Diky kepada Kimora dan Agata.
"Panas dong.." seru Kimora dan Agata bareng. Lalu keduanya kembali terbahak.
"Udah biarin aja yank. Biarin mereka seneng. Dasar kompor emang.." sahut Chelsea juga mengomeli Kimora dan Agata. Tapi keduanya malah cekikikan nggak jelas.
Namun, baik Diky maupun Chelsea. Mereka sama-sama paham kalau semua itu hanyalah candaan. Jadi mereka tidak menganggap perkataan atau godaan teman-temannya tersebut dengan serius.
__ADS_1
Karena memang seperti itu waktu mereka kumpul. Selalu ada yang menggoda tapi tentu saja tidak di masukan ke dalam hati atau dianggap serius.