
BAB 62
Drttt.. Drrrttt.
Ponsel Kimora berdering dengan cukup keras. Dengan mata yang masih mengantuk. Kimora menerima panggilan tersebut.
Ciara.
Nama yang tertulis di ponselnya.
Pukul 03.00 dini hari. Kimora dibangunkan oleh panggilan telepon dari Ciara. Kimora sempat menghela nafas. Sebenarnya dia malas menerima panggilan dari Ciara. Bukan karena apa, tapi karena Ciara yang selalu menelepon di jam-jam segitu. Dan yang paling menjengkelkan, karena Ciara hanya curhat hal-hal yang tak penting dengan alasan dia tidak bisa tidur.
"Ya?" katanya sembari menguap.
"Ra.. Ara.."
Segera Kimora membuka matanya lebar-lebar. Mendengar Ciara menangis dari seberang telepon. "Lo kenapa?" tanyanya penasaran.
"Hendri Ra.. Hendri.."
"Hendri kenapa anj*r? Omong yang jelas!" seru Kimora semakin penasaran.
"Hendri kecelakaan.." kata Ciara dengan panik.
"Bercandaan lo nggak lucu!" Kimora belum percaya dengan apa yang Ciara katakan.
"Anj*r lo, masa iya gue bercandaan soal gituan. Hendri beneran kecelakaan setelah pulang dari club malam. Dan sekarang dirawat di rumah sakit Harapan." imbuh Ciara dengan kesal.
"Dia kira gue bercanda, kan gila.." gumam Ciara sepertinya sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dekatnya.
"Biar gue yang ngomong.."
"Hallo Ra, gue Chelsea. Hendri kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit Harapan." tiba-tiba ponsel Ciara direbut oleh Chelsea.
Mata Kimora terbelalak. Dia segera bangkit. "Oke gue kesana sebentar lagi." katanya lalu menutup telepon.
Dalam keadaan panik, Kimora berusaha menghubungi Elkhan. Namun ternyata Elkhan sudah meninggalkan pesan kepadanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Elkhan sudah dikabari oleh Dian perihal kecelakaan yang menimpa Hendri. Dia juga sempat menghubungi Kimora, tapi Kimora tidak menjawab. Kemudian Elkhan meninggalkan pesan jika dia sedang menuju rumahnya.
Tak lama, Elkhan kembali meneleponnya. Dia telah sampai di depan rumah Kimora. Dengan segera Kimora keluar dari rumahnya.
Akan tetapi, sebelumnya Kimora pamit kepada ibunya yang sudah bangun seperti biasa. "Buk, aku mau ke rumah sakit bentar, temenku kecelakaan." katanya dengan panik.
"Sama siapa?" ibunya juga mengkhawatirkan dirinya. Tentu saja karena hari masih sangat gelap. Ibunya tidak tenang melepas anak perempuannya pergi sendirian.
"Bangunin bang Aldo! Biar ditemenin!" imbuh ibunya.
"El udah nunggu di depan." jawab Kimora dengan tergesa-gesa.
"Ya udah hati-hati." pesan ibunya.
Kimora segera berlari dan melihat Elkhan di dalam mobil sedang menunggunya. Dengan perasaan panik dan khawatir Elkhan melajukan mobilnya dengan cukup kencang.
Sesekali dia menggenggam tangan Kimora yang nampak begitu panik dan sedih. "Tidak apa-apa, Hendri akan baik-baik saja." katanya menenangkan Kimora.
Sementara Kimora hanya mencoba tersenyum dan menganggukan kepalanya. Meskipun sebenarnya hatinya tidak karuan. Takut hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
Apalagi saat Kimora teringat perkataan random Hendri akhir-akhir ini. Hatinya kembali tidak tenang.
"Itu Ara.." kata Ciara mengagetkan teman-temannya yang lain.
"Gimana? Gimana keadaan Hendri? Kenapa bisa kecelakaan?" tanyanya dengan panik.
"Dokter masih melakukan operasi, kakinya terlindas truk.." kata Ciara sembari menangis.
"Gimana kronologinya?"
"Nggak tahu Ra, tiba-tiba dia oleng dan jatuh kemudian ada truk dari arah depan." Ciara tak kuasa menahan tangisannya.
"Lalu sopir truk itu?" tanya Elkhan.
"Sudah diamankan pihak berwajib."
Kimora menghela nafas lagi menahan amarah. Dia kesal karena teman-temannya tidak ada yang mau mendengarkan perkataannya. Dia sudah memperingati teman-temannya sebelumnya. Supaya jangan mabuk.
__ADS_1
Kimora yakin, Hendri yang tiba-tiba oleng itu pasti efek karena dia mabuk. Meskipun kesal, namun Kimora tidak mau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, dia memberi semangat kepada teman-temannya yang lain.
"Kita doakan supaya operasi Hendri berjalan dengan lancar." katanya.
"Ibunya Hendri udah dihubungi?" tanyanya.
"Ibunya di luar kota, tapi tadi udah gue hubungi, katanya baru besok siang sampai disini." sahut Angga yang merupakan teman dekat Hendri. Karena kebetulan rumah mereka juga dekat. Dan mereka kenal dari kecil.
"Kalian nggak pulang? Nggak dimarahi orang tua kalian?" tanya Kimora kepada teman-temannya yang lain.
"Kalian pulang aja! Biar gue yang nunggu disini. Besok kalian kesini lagi, takutnya kalian dicari orang tua kalian." imbuh Kimora.
Teman-temannya kemudian pulang kerumah masing-masing kecuali Angga. "Kita pulang dulu, besok kita kesini lagi!" kata Putra.
"Ya.."
"Gue anter Ayudya dulu, abis itu gue kesini lagi." pamit Dian.
Ditempat itu hanya ada Kimora, Elkhan dan juga Angga yang bersikeras tidak mau pulang. Wajah mereka nampak panik dan juga sedih.
"Ra, lo inget nggak perkataan Hendri kemarin?" tanya Angga yang sepertinya juga merasakan hal yang sama seperti Kimora.
"Ya. Perkataan random dia kan? Lo juga ngerasa takut?" Angga menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Tapi semoga itu hanya candaan semata. Semoga operasinya berjalan lancar dan Hendri kembali pulih seperti sedia kala." harapan dan doa yang sama dipanjatkan oleh Angga dan juga Kimora.
Mereka berharap apa yang mereka takutkan tidak akan pernah terjadi. Karena sakit akibat kepergiaan salah satu dari teman mereka masih terasa. Mereka tidak mau kembali merasakan sakitnya kehilangan sahabat.
Elkhan memeluk Kimora untuk memberinya semangat. Agar Kimora merasa tenang dan tetap berpikiran positif.
"Yakin ya, Hendri akan baik-baik saja." kata Elkhan penuh kelembutan.
"Lo nggak pulang?"
"Nggak. Gue disini, temenin lo." katanya lagi semakin mempererat pelukannya.
Kimora tersenyum senang. Dia juga memeluk Elkhan dengan cukup erat. "Gomawo.." lirihnya.
__ADS_1
Elkhan tersenyum lagi. Kemudian dia mengecup kening Kimora dengan lembut. Lalu menganggukan kepalanya.