Sweet 17

Sweet 17
31


__ADS_3

BAB 31


Seperti biasa Kimora berjalan dengan santai menuju kelasnya. Dia tidak bareng dengan Elkhan karena Elkhan masih belum berangkat.


Kimora menoleh ke kanan dan ke kiri karena dia merasa ada yang menjawil telinganya. Namun, dia tidak menemukan siapapun. Kimora melanjutkan langkahnya. Kembali ada yang menepuk pundaknya.


Dan ternyata itu Kresna. Dia tersenyum ke arah Kimora yang udah kesel. "Kampret lo ya.." umpat Kimora sembari memukul lengan Kresna.


Namun Kresna tetap tersenyum. "Sendirian aja, pacar lo belum sembuh?" tanyanya.


"Pacar yang mana dulu?" Kimora bertanya dengan konyol.


"Asekk sekarang udah jadi playgirl." kembali, Kresna mendapat pukulan di lengannya.


"Udah pulang dari rumah sakit kemarin. Tapi masih belum ke sekolah." Kimora melanjutkan langkahnya diikuti oleh Kresna.


"Ya nitip salam aja buat dia, moga lekas sembuh." kata Kresna.


"Ciee balikan.." seru salah satu kakak kelas yang sering menggoda Kimora.


"Siapa bilang? Katanya pacar gue, elo. Gue milih lo aja kak." jawab Kimora yang membuat kakak kelasnya pada heboh mengcie-ciekan.


"Terus Kresna?"


"Buang aja ke laut." jawab Kimora tersebut membuat kakak kelasnya kembali heboh.


"Bener tuh buang aja ke laut."


"Makanya, buanglah mantan pada tempatnya." kata Kimora membuat semua tertawa.


Sementara Kresna juga ikutan tersenyum sembari menoyor kepala Kimora pelan. "Sial*n lo.." katanya dengan tersenyum kecil.


Kresna dan Kimora melanjutkan langkahnya kembali. Kimora baru sadar kalau arah kelas Kresna bukanlah melewati kelasnya. Bisa sih tapi lebih jauh.


"Bukannya kelas lo disana ya?" Kimora menunjuk arah kelas Kresna.


"Ngapain lo lewat sini?"


"Gue nganterin lo." jawab Kresna dengan santai.


"Idih sok perhatian lo. Dulu aja lo cuekin gue." Kimora meninju pelan Kresna. Kemudian dia tersenyum kecil.


"Maaf ya untuk waktu itu." kata Kresna dengan lembut.


"Oh, jadi gini kelakuan lo kalau El nggak ada? Harusnya El lihat ini." Ulfa tiba-tiba muncul dari belakang. Dia juga sempat merekam atau memfoto Kimora bersama dengan Kresna.


"Tinggal lo kirim aja foto gue sama Kresna seperti waktu itu. Beres. Lo bisa deketin El lagi. Tapi kalau El-nya mau." kata Kimora dengan sedikit meledek.


"Lo bisa bangga sekarang. Tapi asal lo tahu, El paling tidak suka dikhianati." kata Ulfa.

__ADS_1


"Gue juga nggak suka. Semua orang juga nggak suka kalau dikhianati. Untungnya gue tahu diri. Gue nggak suka dikhianati maka dari itu gue juga nggak akan khianati pacar gue." Kimora segera meninggalkan Ulfa dengan teman-temannya. Dia tidak mau meladeni Ulfa.


"Gue masuk dulu!" pamitnya kepada Kresna.


Sedangkan Kresna hanya menganggukan kepalanya. Lalu memilih untuk pergi.


****


Gio segera bergegas ke rumah sakit setelah dia mendapat telepon dari Raisa. Hari ini jadwal Raisa periksa lagi. Dan karena Gio merasa bersalah, dia mau menemani Raisa untuk periksa.


"Gimana kata dokter?" tanya Gio.


"Masih ada pasien katanya. Ini juga sedang nunggu." jawab Raisa sambil melihat jam ditangannya. Dia sudah cukup lama menunggu.


"Maaf ya kak kalau ganggu kerjaan kakak. Sebenarnya aku hanya ingin ngabari aja nggak perlu ditemenin." kata Raisa.


"Nggak apa-apa. Saya juga nggak sibuk kok. Tapi jam 1 saya harus temenin anak saya kontrol." kata Gio.


"Anak kakak kenapa emangnya?" sebenarnya Raisa kecewa ketika mengetahui fakta jika Gio sudah memiliki anak gadis yang sudah remaja. Tapi entah kenapa Raisa masih ingin ketemu dengan Gio.


"Waktu main futsal kakinya tidak sengaja kejegal lawan." jawab Gio.


"Kayra main futsal?" Raisa ketemu dengan Kayra kemarin.


"Bukan Kayra. Itu kakaknya, namanya Elkhan." Raisa semakin terkejut. Tapi sesaat kemudian dia ingat bahwa Gio mengenalkan Kayra sebagai anak keduanya.


"Anak kak Gio udah besar?" Raisa semakin penasaran. Sepertinya dia tertarik dengan Gio sejak pertama ketemu.


"Mereka anak kandung kak Gio?" Gio menoleh menatap Raisa.


"Nggak maksudnya, kak Gio kan masih muda banget, tapi udah punya anak yang sudah remaja." Raisa takut Gio akan salah paham. Dia segera memberikan penjelasannya.


Gio tersenyum tipis. Raisa bukan orang pertama yang menanyakan hal yang sama. Mungkin karena jarak umurnya dengan Elkhan jadi membuat orang-orang penasaran.


"Iya. Mereka berdua anak kandung saya." jawab Gio.


"Jadi kak Gio nikah muda?" Gio menganggukan kepalanya.


Raisa kembali merasakan tidak enak dalam hatinya. Sepertinya dia memang tertarik dengan Gio. Mungkin ditahap dia menyukai Gio. Tapi sayangnya Gio sudah berkeluarga.


"Gi?"


"Pa?"


Gio pun menoleh dan melihat Elkhan bersama dengan neneknya. "Loh ma, El, kalian kenapa?" tanya Gio kebingungan.


"Mama nggak tenang, makanya mama ajak El kontrol lebih awal. Kamu kenapa disini? Emang nggak kerja?" tanya Elsa sembari melotot karena melihat seorang perempuan bersama dengan Gio.


"Papa sama siapa?" tanya Elkhan dengan marah.

__ADS_1


"Oh, ini kak Raisa. Kemarin papa nggak sengaja menabrak kak Raisa, dan sekarang sedang bertanggung jawab." jelas Gio agar anak dan mamanya tidak salah paham.


"Papa disini juga?" Alenka yang masih dibelakang terkejut melihat suaminya berada di rumah sakit bersama seorang wanita.


Gio sempat terkejut. Tapi dia segera menjelaskan agar istrinya tidak salah paham. "Ini Raisa yang aku tabrak kemarin." kata Gio.


"Pantes, aku chat nggak bales." kata Alenka menyindir.


Gio langsung buru-buru mengambil ponselnya. Dan benar saja, ada beberapa chat dari istrinya dan yang lainnya. "Maaf ma, aku nggak tahu. Beneran." Gio segera mendekati Alenka yang sepertinya sedang kesal.


"Periksanya udah?" tanya Gio lagi mencairkan suasana yang agak tegang.


"Udah." jawab Alenka singkat.


"Yuk El, ma!" Alenka mengajak anak dan mertuanya segera pergi. Tapi dia tidak mengajak suaminya.


Gio pun menjadi kebingungan. Dia segera mengejar istrinya. "Saya duluan, maaf nggak bisa nemenin!"


"Ma, tungguin dong!" Gio menahan tangan Alenka yang berjalan terlebih dulu.


"Apa sih? El nanti jatuh!" Alenka mengomel karena takut anaknya jatuh. Saat itu dia sedang memapah anaknya yang belum sembuh total.


"Maaf, biar papa aja yang tuntun El." kata Gio.


"Nggak usah!" terlihat sekali jika Alenka marah.


"Iya deh maafin papa. Tapi kan papa udah bilang kemarin tentang si Raisa ini." lanjut Gio.


Kemarin waktu Gio cerita tentang Raisa. Alenka terkesan biasa saja. Tapi setelah melihat kedekatan itu dia tiba-tiba menjadi cemburu.


"Jangan marah dong!" pinta Gio sembari menatap Alenka dengan penuh cinta.


Akan tetapi, Alenka masih diam. Wajahnya tidak bisa bohong jika dia memang sedang marah.


"El, mau ke rumah oma nggak?" Elsa memainkan matanya memberi kode kepada cucunya.


"Mau oma. Yuk kita duluan!" Elkhan seolah tahu apa yang diinginkan oleh neneknya. Dia segera menyetujui untuk pergi ke rumah neneknya.


Elkhan dan Elsa meninggalkan Alenka dan Gio berdua. Mereka ingin memberi waktu untuk Gio dan Alenka berbicara berdua.


"Nanti papa jemput, nak." seru Gio.


"Kamu udah makan?" tanya Gio dengan lembut kepada istrinya.


Alenka hanya menggelengkan kepalanya saja. Tapi raut wajahnya masih sangat kesal. "Ke kafe Moon yuk!" ajak Gio.


Kafe itu menyimpan berjuta kenangan mereka waktu masih sekolah dulu. Gio mengajak istrinya kesana untuk mengenang lagi masa-masa indah itu.


Karena Alenka tidak menjawab. Gio yang tak sabar pun segera membopong istrinya. "Kyaaa... Turunin nggak! Malu dilihat orang!" seru Alenka yang tak menyangka jika suaminya akan bertindak seperti itu.

__ADS_1


Tetapi, Gio tidak mendengarkan perkataan Alenka sama sekali. Dia terus menggendong istrinya menuju parkiran. Tidak peduli seberapa banyak pasang mata yang menatapnya.


Dari kejauhan, Raisa tersenyum sinis melihat pemandangan itu. Dia mengakui jika istri Gio memang cantik. Tapi entah kenapa dia merasa tidak suka melihat keromantisan Gio dengan istrinya.


__ADS_2