
BAB 30
Gio menjemput anaknya dari rumah sakit setelah selesai meeting. Dengan langkah cepat dia menuju mobilnya. Tapi, tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis muda.
"Maaf, maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Gio yang merasa bersalah.
Gadis itu menatap Gio dengan lekat. Senyuman di wajahnya mengembang. Dia terus menatap Gio dengan senang. Dan kaget saat mendengar pertanyaan Gio.
"Kamu ada yang luka?" tanya Gio lagi.
Sesaat kemudian gadis itu terhenyak. "Nggak, aku nggak kenapa-napa." katanya masih menatap Gio dengan lekat.
Gadis itu berusaha bangun tapi sepertinya kakinya terkilir sehingga dia tidak bisa berdiri stabil. "Aw.." gadis itu hampir terjatuh. Untung ada Gio yang menopangnya.
Gio melihat kaki gadis itu dan sedikit bengkak. "Saya bawa ke rumah sakit ya!" kata Gio.
"Nggak perlu kak.." gadis itu menolak. Tapi dia terlihat kesakitan.
"Saya bawa ke rumah sakit saja! Kebetulan saya juga mau ke rumah sakit." Gio memaksa karena tidak mungkin dia meninggalkan gadis itu dengan keadaan seperti itu. Apalagi gadis itu terkilir karena tidak sengaja bertabrakan dengan dirinya.
Gadis itu akhirnya nurut. Gio membawa gadis itu ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat anaknya dirawat. "Maafin saya ya!" kata Gio dengan lembut.
"Nggak apa kak, aku yang nggak lihat tadi." kata gadis itu.
Gio memapah gadis itu ke unit gawat darutat untuk diperiksa terlebih dahulu. "Ini cuma terkilir aja, nona boleh pulang dan harus banyak istirahat!" kata dokter.
Gio pun bernafas lega. Dia segera membayar administrasi gadis itu sekalian administrasi anaknya. Setelah itu dia kembali menemui gadis itu.
"Maaf dik, saya tidak bisa mengantar adik pulang. Saya panggilkan sopir saya ya biar adik diantar pulang!" kata Gio. Dia tidak mungkin pergi lagi karena anak dan istrinya pasti menunggu dia.
"Nggak usah kak, aku naik taksi aja. Mobil aku masih ketinggalan di kafe tadi." kata gadis itu.
"Oh, kalau gitu simpan nomer saya! Kalau masih sakit dan butuh perawatan lagi, hubungi saya!" Gio memberikan nomer teleponnya kepada gadis itu.
"Iya kak. Makasih ya karena udah bayar tagihan aku." Gio hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
"Kenalin, aku Raisa." kata gadis itu mengulurkan tangannya.
"Saya Gio." Gio juga menyambut tangan gadis itu.
"Pa!" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang mereka. Kayra berlari mendekati papanya yang sedang ngobrol dengan wanita muda.
__ADS_1
"Papa lama banget, kita udah nunggu dari tadi!" seru Kayra sembari berjalan mendekat.
"Maafin papa, tadi papa nggak sengaja tabrak kakak ini, lalu papa anterin kakak ini periksa dulu. Maaf ya?" Gio segera memeluk anak perempuan yang memasang wajah manyun.
"Oh iya, kenalin ini kak Raisa." Gio memperkenalkan anaknya kepada Raisa.
"Ini anak kak Gio?" Raisa tentu saja sangat terkejut. Bagaimana tidak, Gio yang terlihat sangat muda tapi sudah memiliki anak yang sudah remaja.
"Iya, ini Kayra anak kedua saya." Raisa membulatkan matanya. Dia masih tidak percaya jika Gio sudah memiliki anak yang sudah besar. Karena sepertinya usia Gio tidak jauh dari usianya.
"Hai Kayra. Kenalin, kakak namanya Raisa." sapa Raisa dengan senang.
"Udah tahu. Yuk pa, mama udah nungguin!" Kayra menarik tangan Gio. Seperti dia tidak menyukai Raisa.
"Saya duluan ya dik!" pamit Gio dengan tersenyum tipis. Dan itu membuat Gio terlihat semakin tampan.
Raisa menganggukan kepalanya. Dia terus menatap Gio yang pergi bersama anak perempuannya. Terlihat sekali jika Gio sangat menyayangi anaknya. Dia terus merangkul dan menggandeng anaknya.
Tanpa sadar, bibir Raisa tersungging. Kemudian dengan tergopoh-gopoh dia berjalan keluar rumah sakit.
****
"Yank, gue turun ya! Gue mau minta maaf ke ayah karena membiarkan lo pulang sampai jam segini." pinta Elkhan.
"Ayah dan ibu belum pulang kayaknya."
Akan tetapi, Elkhan tetap memaksa untuk turun. Dengan kaki yang masih agak pincang. Elkhan turun dari mobil dan masuk ke rumah Kimora.
"Loh El, udah sembuh?" tanya Aldo yang keluar. Dia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Aldo melihat Elkhan dan adiknya keluar dari mobil tersebut.
"Udah bang."
"Maaf ya bang, karena nungguin gue, Ara jadi pulang jam segini." kata Elkhan.
"Iya. Ara udah pamit juga kok tadi. Pamit ayah dan ibu juga." jawab Aldo dengan lembut.
"Ya udah kalau gitu gue pulang dulu." Elkhan segera pamit karena dia tahu Kimora pasti capek karena seharian menemaninya.
Setelah beberapa lama setelah Elkhan pulang. Saat Kimora sedang rebahan sembari mainan hape. "Sutt.." kakaknya memanggilnya.
"Apa sih bang?" tanya Kimora dengan sewot karena tidak memanggil nama tapi hanya 'sutt' doang.
__ADS_1
"Dicari temen lo tuh!" kata Aldo.
Kimora memicingkan matanya. Dia menebak-nebak siapa yang datang mencarinya. "Siapa?"
"Mana gue tahu. Gue nggak hapal temen-temen lo. Masa iya gue harus hapalin satu-satu temen lo." jawab Aldo.
"Harus dong kalau perlu." Kimora segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Males banget.." gumam Aldo meninggalkan kamar Kimora.
Kimora segera bergegas keluar rumah. Dia menatap lelaki lesu yang duduk di gazebo depan rumahnya. "Kenapa muka lo kusut gitu?" tanya Kimora mengagetkan lelaki itu.
"Sendirian lo? Yang lain mana?" tanya Kimora lagi.
"Nggak tahu. Gue sendirian aja." jawab lelaki bernama Dimas dengan wajah kusut.
"Elkhan udah sembuh?" tanya Dimas, dia nggak enak sebenarnya karena tidak menjenguk Elkhan di rumah sakit.
Kimora menganggukan kepalanya. "Tadi sore udah boleh pulang."
"Kenapa sih? Lo ada masalah? Lo bertengkar dengan Silvi?" tanya Kimora merasa aneh.
Dimas terdiam. Matanya menatap jauh ke depan. Mulutnya terkunci cukup lama. Hembusan nafasnya terasa berat. "Gue harus gimana ya, Ra? Silvi cemburuan banget. Dia larang gue untuk nongkrong kayak dulu." kata Dimas. Ada kebingungan dari suaranya yang berat.
Kimora terdiam. Sejujurnya, dia juga kecewa dengan perubahan Dimas setelah memiliki pacar. Namun dia tetap mendukung apa yang membuat temannya bahagia.
"Itu karena dia sayang sama lo." kata Kimora menenangkan Dimas yang lagi kacau. Terlihat jelas dari raut wajahnya jika Dimas banyak pikiran.
"Sayang nggak gitu juga kalik. Lo aja nggak ngelarang Elkhan untuk main sama teman-temannya kan?"
"Setiap orang itu nggak sama bro. Jangan disama-samakan! Mungkin itu cara dia menunjukan rasa sayangnya. Udah ya jangan punya pikiran yang aneh-aneh! Selama dia tidak selingkuh, lo bisa tenang. Mungkin juga itu cara dia mencari perhatian lo." kata Kimora meminta Dimas untuk selalu berpikiran positif.
"Bingung gue Ra. Apa gue putusin dia aja?" tanya Dimas kebingungan bagaimana cara menghadapi kekasihnya yang terlalu mengekang dirinya.
"Tanya sama hati lo! Apa lo bisa putus dari dia atau itu hanya amarah sesaat lo saja! Jangan tanya gue, karena gue nggak bisa tebak atau baca hati lo!" jawab Kimora. Dia tidak mau salah bicara ataupun ikut campur permasalahan temannya itu.
Kimora selalu membuka tangan saat teman-temannya ingin curhat. Tapi dia tidak bisa memutuskan apapun selanjutnya. Hanya memberi nasehat kepada teman-temannya.
"Pikirkan baik-baik keputusan lo. Jangan sampai lo menyesal!" imbuh Kimora.
Dimas menganggukan kepalanya. Tak lama kemudian dia berpamitan pulang. Karena juga sudah malam. Dimas tidak mau mengganggu waktu tidur Kimora.
__ADS_1