
BAB 56
Kayra memeluk Elkhan karena ketakutan. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Linda. Namun, Elkhan menenangkan adiknya. "Nggak perlu takut. Linda memang memiliki penyakit bawaan dari lahir." katanya menenangkan adiknya yang hampir menangis.
"Setelah orang tuanya datang, kita pulang.." kata Elkhan.
Sementara Kayra tidak menjawab. Dia hanya menganggukan kepalanya sembari terus memeluk kakaknya.
Ternyata yang datang hanyalah mang Dadang, sopir pribadi Linda. Dia datang dengan memakai jaket tebal dan syal dileher. Sebelumnya Linda juga bilang kalau mang Dadang sedang tidak enak badan.
"Mas El, gimana keadaan nona?" tanya mang Dadang dengan sangat cemas.
"Linda nggak apa-apa. Tapi, kata dokter dia tidak datang berobat sejak sebulan yang lalu?"
"Hah.. iya mas. Non Linda nggak mau berobat, dia akan selalu menolak saat diajak ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan. Sementara penyakit non Linda semakin parah." kata Dadang dengan raut wajah sedih.
"Padahal waktu deket sama mas El dulu, non Linda semangat untuk berobat. Tapi, beberapa bulan terakhir dia sudah malas, dan sebulan terakhir malah tidak mau berobat sama sekali." lanjut Dadang.
"Apa mas El bisa bantu saya bujuk non Linda supaya mau berobat?" tanya Dadang yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
"Mang, bukannya aku mau nolak. Aku dengan senang hati akan membantu. Tapi, aku nggak mau Linda semakin berharap. Aku tahu dia memiliki perasaan lebih ke aku. Tapi aku tidak. Aku punya seseorang yang aku cintai."
"Dan, kalau dia ingin sembuh, dia harus berusaha menyemangati diri sendiri! Jangan bergantung kepada orang lain. Aku bukan dokter apalagi Tuhan. Kalau dia memang ingin sembuh, pasti dia memiliki semangat untuk melakukan pengobatan." kata Elkhan.
Lebih baik dia jujur dari sekarang bahwa dia tidak bisa memberikan harapan palsu kepada Linda. Karena Elkhan memiliki seseorang yang dia cintai. Elkhan bukan tidak tahu bahwa Linda suka dengannya. Oleh sebab itu, Elkhan tidak mau membuat Linda berharap lebih. Karena, wanita yang dia cintai adalah Kimora.
"Maaf ya mang, aku harus pulang karena sudah malam." Elkhan kemudian pamit bersama dengan adiknya.
"Iya mas, maaf kalau saya lancang." Dadang merasa tidak enak dengan Elkhan karena telah lancang. Sebagai sopir, seharusnya dia tidak bicara seperti itu kepada Elkhan.
"Nggak apa-apa mang. Aku tahu mang Dadang menyayangi Linda seperti anak sendiri." jawab Elkhan dengan santai. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Dadang. Elkhan tahu seperti apa kedekatan Linda dengan sopirnya tersebut. Sudah seperti anak dan bapak sendiri.
Elkhan segera meninggalkan tempat tersebut bersama dengan adiknya yang mulai membaik. "Bisa naik motor sendiri nggak?" tanyanya.
Kayra menganggukan kepalanya dengan cepat. "Ya udah, gue ikuti dari belakang." kata Elkhan lagi.
Elkhan mengikuti adiknya dari belakang. Dia juga menyesuaikan kecepatannya dengan kecepatan Kayra.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh mama mereka. Alenka dengan panik menunggu kedua anaknya pulang. Dia sengaja menunggu Elkhan dan juga Kayra. Karena sebelumnya Kayra menelepon mamanya dengan panik saat memberitahu jika mereka pulang telat. Karena mengantar Linda ke rumah sakit.
"Linda kenapa El?" tanya Alenka dengan khawatir.
"Dia lama nggak berobat ma, harusnya dia rutin berobat." jawab Elkhan.
"Emang Linda sakit apa?"
"Sirosis hati." Alenka membulatkan matanya.
"Kenapa dia sampai nggak mau berobat?"
"Nggak tahu ma, mungkin dia malas hidup."
"Elkhan! Jangan bicara seperti itu!" seru Alenka dengan marah.
"Iya ma.." namun Elkhan tidak berani melawan mamanya.
"Ya udah, yang penting kalian berdua tidak kenapa-napa. Sekarang kalian istirahat!" pinta Alenka dengan nada suara yang lembut kembali.
"Iya ma." jawab Kayra dan Elkhan bersamaan. Lalu mereka berdua menuju kamar masing-masing.
Dia, mengirim pesan untuk wanita pujaannya terlebih dulu. Kata-kata yang manis nan romantis. "Beribu bintang berkelipan di langit yang tinggi. Banyak orang mengagumi keindahannya. Tapi, bagiku kamu lebih indah dari ribuan bintang itu. Good night my queen, have nice dream, i love you so much." ketik Elkhan.
Namun sayang sekali. Kata-kata indah itu hanya dibaca saja tanpa dibalas sama sekali. Bahkan Kimora juga tidak mau menerima telepon darinya.
"Ish.." Elkhan yang kesal langsung melempar ponselnya. Dengan segera menarik selimut lalu memejamkan matanya. Meskipun selama satu jam lebih dia baru bisa tertidur.
.....
Pagi yang agak mendung. Kicauan burung terdengar merdu. Meskipun langit nampak agak suram. Bahkan matahari pun tidak menampakan dirinya sama sekali. Tapi burung-burung itu tetap bernyanyi dengan riang.
Elkhan terbangun karena suara alarm yang dia atur selamam. Matanya masih lengket, tapi dia harus mencari dimana sumber suara itu berasal. Dia tak tahu mana ponselnya setelah dia lempar semalam.
"Dimana sih?" gumamnya sambil mencoba membuka matanya lebar-lebar.
Tak lama dia mampu menemukan barang yang dianggap paling penting untuknya tersebut. Mematikan alarm dan berharap mendapat balasan dari wanita tercinta.
__ADS_1
Sayangnya, harapan itu hanyalah tinggal harapan. Kimora sama sekali tidak membalas pesan yang dia kirim semalam. Terdengar tipis helaan nafas kecewa darinya.
Akan tetapi, dia tidak mudah menyerah. Elkhan kembali mengirim pesan romantis untuk Kimora. "Malam terasa indah, sejak ku mengenalmu. Pagi semakin cerah, saat ku mengingatmu. Apakah yang kurasa benar jatuh cinta? Morning my queen.."
Tapi tetap saja tidak ada balasan sama sekali dari Kimora. Membuat Elkhan menjadi kesal. "Untung sayang, kalau nggak udah gue, hih..." gumam Elkhan seorang diri.
Elkhan melemparkan dirinya ke kasur kembali. Tapi, tiba-tiba dia ingat jika dia harus segera bersiap ke sekolah. Hari ini, dia akan naik angkot untuk pertama kalinya. Dia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk bersiap.
Ia meminta adiknya untuk mengantarnya ke gang yang dekat dengan rumah Kimora. Ia sengaja naik angkot bersama dengan Kimora.
Elkhan juga sengaja bersembunyi, menunggu sampai Kimora datang. "Lo pergi aja!" dia mengusir adiknya.
"Lo yakin mau naik angkot kak?" tanya Kayra yang merasa ragu. Karena selama ini dia dan juga kakaknya belum pernah sama sekali naik angkutan umum.
"Iya.. buruan berangkat!" ia mendorong tubuh adiknya pelan. Agar segera meninggalkannya.
Tak lama dia melihat Kimora sedang menunggu angkot. Dengan sengaja dia bersembunyi terlebih dahulu. Setelah Kimora masuk ke dalam angkot. Dengan segera dia ikut naik ke angkot yang sama. Bahkan dia juga duduk di sebelah Kimora.
Kimora membulatkan matanya. Sementara Elkhan hanya tersenyum sembari memandanginya. "Lo anak sekolah mana sih? Boleh kenalan dong.." katanya sembari tersenyum.
"Ck.." Kimora hanya memutar bola matanya.
"Sapa kek.. demi lo, gue rela naik angkot kayak gini.." keluh Elkhan.
"Siapa suruh naik angkot.. Kan lebih enak naik mobil lo sendiri, nggak kepanasan." kata Kimora dengan sengit.
"Lebih enak kalau bareng sama lo." tiba-tiba Elkhan menyenderkan kepalanya dibahu Kimora.
Kimora menggerakan pundaknya pelan. "Gue ngantuk. Karena lo gue bangun pagi-pagi." lirihnya.
Kimora pun terdiam. Meskipun agak malu, tapi Kimora juga enggan menolak Elkhan. "Kenapa naik angkot?" tanyanya.
"Agar bisa bareng sama lo." jawab Elkhan.
"Kenapa nggak balas chat gue?" tanya Elkhan balik.
"Gue kan kangen.." imbuhnya.
__ADS_1
Meskipun Kimora tidak menjawab Tapi senyumannya mengembang. Hatinya merasa tersanjung.