Sweet 17

Sweet 17
22


__ADS_3

BAB 22


Kimora yang bingung, mendatangi rumah sang kekasih. Dia ingin mendapat kejelasan kenapa Elkhan tiba-tiba marah padanya.


Akan tetapi, Elkhan tidak mau menemui Kimora. Tentu saja itu membuat Alenka dan juga Kayra bertanya-tanya. Tidak biasanya Elkhan seperti itu.


"Kak El nggak mau ketemu kak Ara katanya." ucap Kayra setelah dari kamar Elkhan.


"Emang kenapa sih Ra? Kalian berantem?" tanya Alenka sembari mengelus rambut Kimora dengan lembut.


"Aku juga nggak tahu tante. Tiba-tiba aja Elkhan marah ke aku. Ya udah kalau gitu aku pulang aja ya tante. Maaf udah ganggu." kata Kimora. Hatinya merasa sangat sedih. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya itu.


"Dianter sopir ya!" Alenka begitu mengkhawatirkan Kimora.


"Nggak usah tante. Aku naik taksi aja." jawab Kimora segera berpamitan.


Dengan hati kecewa Kimora keluar dari rumah Elkhan. Meskipun dia kecewa tapi tetap saja Kimora penasaran apa yang membuat Elkhan tiba-tiba bersikap seperti itu kepadanya.


Saat dia sudah berada di dalam taksi. Tanpa sengaja dia melihat mobil Ulfa melaju ke rumah Elkhan. Dia pun penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah Elkhan.


"Pak kembali ke rumah tadi!" pintanya kepada sopir taksi tersebut.


Pak sopir pun segera memutar arah dan kembali ke rumah mewah yang ada di ujung jalan. Kimora tidak langsung turun dari taksi. Dia menunggu beberapa saat sampai dia melihat Elkhan keluar dari rumah bersama dengan Ulfa.


Pastinya, hatinya terasa sakit sekali. Kimora tersenyum sinis melihat Elkhan yang keluar bersama dengan Ulfa. "Dia bahkan nggak mau temuin gue. Tapi malah berduaan." gumam Kimora dengan tersenyum tapi jelas sekali dari raut wajahnya jika dia begitu sangat kecewa.


Di sisi lain. Elkhan meminta Ulfa agar tidak sering ke rumahnya. Dia tidak ingin memberi harapan apapun ke Ulfa lagi. "Fa, sebaiknya lo jangan kesini lagi! Gue nggak mau orang akan salah paham mengenai hubungan kita." kata Elkhan dengan tegas.


"El, niatku hanya ingin berteman." kata Ulfa.


"Tapi nggak harus selalu kesini kan? Udah ya gue capek, mau istirahat." kata Elkhan dengan begitu dingin.


Elkhan segera berbalik. Namun Ulfa menahan tangannya. "El, gue udah berusaha buat lupain lo, tapi gue nggak bisa. Gue harus gimana?" tanya Ulfa dengan air mata yang mulai menetes.


Elkhan kembali berbalik. Tapi, saat dia berbalik. Dia melihat Kimora yang berjalan masuk ke halaman rumahnya yang cukup luas. Matanya pun membulat. Lalu dengan cepat menepis tangan Ulfa.


"Ara?" gumamnya.


Seketika Ulfa pun menoleh.


Kimora berjalan mendekat dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya. "Kenapa wajah kalian gugup?" tanyanya masih dengan tenang dan santai.

__ADS_1


"Gue kesini cuma mau kasih selamat aja. Selamat karena kalian udah balikan." katanya masih tersenyum. Tapi senyuman itu terlihat ambigu.


"Kalau gitu mulai sekarang kita udah nggak punya hubungan apa-apa. Sekali lagi selamat." imbuh Kimora dengan masih tersenyum. Tapi kemudian berbalik badan dan berlari meninggalkan tempat itu.


"Ra.." Elkhan segera mengejar Kimora sampai ke taksi yang masih menunggu.


"Dengerin gue dulu!" ucapnya meraih tangan Kimora.


"Lepasin gue!" Kimora tidak mau menghiraukan Elkhan.


"Gue sama Ulfa nggak balikan. Lo jangan salah paham!" kata Elkhan tidak mau melepaskan tangan Kimora.


"Salah paham?" tanya Kimora dengan sengit.


"Lo tiba-tiba marah ke gue. Lo bahkan nolak minuman yang gue bawa. Gue datang ke rumah lo, tapi lo nggak mau temuin gue. Tapi lo temuin dia. Apanya yang salah paham? Semua udah jelas kan, lo lebih milih dia daripada gue." kata Kimora dengan marah.


"Gue punya alasan kenapa gue marah sama lo. Sebenarnya bukan marah, tapi lebih ke kesal aja." jawab Elkhan dengan kepala dingin. Dia tidak mau meladeni kemarahan Kimora.


"Alasan? Emang gue ngapain anj*r?" Kimora semakin marah.


"Pak.." Elkhan memberikan selembar uang lima puluh ribu untuk sang sopir taksi.


Elkhan lalu segera menarik tangan Kimora mengajaknya masuk ke dalam rumahnya secara paksa. Dia bahkan tidak menghiraukan Ulfa yang masih berada di halaman rumahnya.


"El, kamu kenapa? Lepasin Ara, kasihan!" Alenka terkejut saat melihat anaknya masuk sembari menarik tangan Kimora.


Akan tetapi, Elkhan juga tidak menghiraukan mamanya. Dia terus menarik tangan Kimora masuk ke lift dan naik ke kamarnya.


"Kak, kasihan kak Ara.." seru Kayra yang hendak menyusul kakaknya. Tapi, ditahan oleh mamanya.


"Udah biarin aja! Kakak kamu nggak akan sakiti Ara. Dia sayang sama Ara, jadi tidak akan sakiti Ara." kata Alenka yang sangat percaya jika anak lelakinya tidak akan berbuat kasar kepada wanita. Apalagi wanita yang dia cinta. Kayra pun mengurungkan niatnya menyusul kakaknya.


Sesampainya di lantai tiga. Tepatnya di dekat kamar Elkhan. Kimora terus meronta.


"Elkhan lepasin nggak! Sakit!" Kimora masih berjuang melepaskan diri. Namun, Elkhan semakin erat menggenggam tangannya.


Elkhan membawa Kimora masuk ke dalam kamarnya. Itu pertama kalinya Kimora masuk ke kamar teman lawan jenisnya. "El, jangan kayak gini! Nggak sopan banget gue masuk ke kamar lo." ucap Kimora dengan lembut berharap Elkhan akan luluh.


Elkhan malah mengunci kamarnya. Tentunya Kimora menjadi kebingungan membuka pintu kamar itu. Apalagi pintu kamar Elkhan menggunakan kata sandi untuk membukanya.


"El, jangan buat gue jijik sama lo!" pikiran Kimora sudah kemana-mana. Dia takut Elkhan akan gelap mata dan melakukan hal yang buruk terhadapnya.

__ADS_1


"Kenapa mesti jijik? Gue nggak akan apa-apain lo." kata Elkhan dengan santai.


Elkhan lalu duduk di kasur empuknya. Dia menepuk sebelahnya, meminta agar Kimora duduk disebelahnya. Akan tetapi, Kimora sama sekali tidak mau mendekat. Dia ketakutan.


"Kesini! Gue nggak akan apa-apain lo!" katanya dengan tersenyum saat melihat ekspresi ketakutan Kimora.


Perlahan-lahan Kimora berjalan mendekat. Begitu sudah dekat, Elkhan menarik tangannya sehingga Kimora terduduk di kasur bersebelahan dengan dia.


Elkhan menunjukan sebuah foto di ponselnya kepada Kimora. "Ini alasan kenapa gue kesel sama lo dan bahkan cuekin lo." katanya.


"Tolong jelasin maksud dari foto ini!" imbuhnya.


Mata Kimora membesar melihat foto yang tidak tahu siapa yang mengambilnya. Tapi jelas sekali itu memang dirinya. "Lo dapat darimana foto ini?" tanyanya.


"Itu beneran lo?" Kimora menganggukan kepalanya. Dia tidak mau membohongi Elkhan hanya untuk membela dirinya.


"Terus apa penjelasan lo?"


"Sebelum gue jawab, apa lo akan percaya dengan penjelasan gue?"


"Kalau itu masuk akal gue akan percaya."


"Tapi gue nggak peduli lo percaya atau nggak. Yang jelas, gue akan jelasin sejujur-jujurnya."


"Foto itu emang gue sama Kresna. Dan gue yakin foto itu diambil tadi siang. Gue nggak kencan atau janjian sama Kresna. Kita nggak sengaja ketemu. Kresna menawarkan pertemanan ke gue. Awalnya gue nolak. Tapi setelah gue pikir lagi. Apa salahnya berteman dengan mantan? Toh kita sudah sama-sama tidak memiliki perasaan. Dia udah punya pacar, dan gue juga udah punya pacar." Kimora menjelaslan sejelas-jelasnya kepada Elkhan.


"Menurut gue, norak aja sih kalau kita harus bermusuhan dengan mantan. Kita kenal baik-baik, dan berakhir dengan hubungan yang baik-baik juga lah." imbuh Kimora.


"Udah kan. Terserah lo mau percaya atau nggak. Kita juga udah putus."


"Nggak! Gue nggak mau putus. Gue percaya sama lo. Gue minta maaf karena sempat kesel sama lo. Tapi lo harus tahu, gue cemburu." kata Elkhan meraih tangan Kimora. Dia menyadari kesalahannya.


"Tapi gue nggak mau jadi selingkuhan." ucap Kimora menarik tangannya.


Elkhan segera memeluk Kimora dengan erat. "Lo bukan selingkuhan. Lo satu-satunya wanita yang gue cintai setelah mama gue." ucapnya.


"Terus Ulfa? Bukannya lo lebih memilih menemui dia dibanding gue?" Kimora mendorong Elkhan tapi Elkhan kembali memeluk Kimora.


"Gue tadi minta Ulfa supaya jangan sering kesini. Maafin gue. Jangan tinggalin gue. Pokoknya gue nggak mau putus. Yank, gue nggak mau putus.." Elkhan semakin erat memeluk Kimora.


"El ah gue nggak bisa nafas!" Elkhan segera melepaskan pelukannya. Dia menatap Kimora dengan lekat.

__ADS_1


"Maafin gue.." katanya lagi.


Kimora menganggukan kepalanya. Elkhan pun tersenyum senang. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke bibir Kimora. Mereka bercium*n dengan cukup lama.


__ADS_2