
BAB 17
Entah kenapa, Chelsea terlihat murung. Dia seperti tidak ada semangat sama sekali. Wajahnya juga nampak sedih dan juga terlihat bengkak seperti orang yang kurang tidur.
Langkahnya pelan memasuki gerbang sekolah. Pandangannya juga kosong, tidak menunjukan gairah sedikit pun.
Dari belakang, Kimora yang juga baru tiba di sekolah merasa aneh dengan Chelsea. Semalam saat nongkrong di kafe Moon. Dia juga tidak kelihatan.
Dengan berlari kecil, Kimora menghampiri Chelsea. "Lo kenapa kayak lemes gitu? Lo sakit?" tanya Kimora sembari menempelkan tangannya ke dahi Chelsea.
"Nggak kok, Ra.. Mungkin karena mau datang bulan aja, jadi agak males." jawab Chelsea berusaha untuk tersenyum. Tapi tetap tidak bisa menyembunyikan wajah murungnya.
"Chel, tatap gue!" Kimora menghentikan langkah Chelsea. Dia meraih tangan Chelsea dan meminta sahabatnya itu untuk menatapnya.
Perlahan demi perlahan Chelsea menoleh dan menatap mata Kimora. "Lo ada masalah kan? Cerita sama gue!" Kimora bisa menebak dengan tepat. Mereka berteman memang baru beberapa bulan. Tapi kasih sayang mereka melebihi saudara.
"Nggak kok.." Chelsea menghindari kontak mata dengan Kimora. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari wanita berambut sebahu itu.
"Chel! Kita pernah janji untuk selalu berbagi suka duka kan?" kata Kimora yang membuat mata Chelsea berkaca-kaca.
Chelsea memejamkan matanya sebentar. Mengatur pernafasannya untuk menahan amarah yang menggelora di dadanya. "Gue emang nggak bisa sembunyiin apapun dari lo.." ucapnya pelan sembari menundukan kepalanya.
"Kita ke halaman belakang sekolah!" ajak Kimora.
Di halaman belakang sekolah mereka ada sebuah bangku dibawah pohon yang rindang. Tempat itu cukup tenang karena tidak banyak siswa yang kesana.
Kimora sengaja mengajak Chelsea kesana agar Chelsea bisa lebih leluasa menceritakan masalahnya. Keduanya berjalan dengan cepat menuju halaman belakang sekolah.
Mereka duduk di bangku yang hanya ada satu tersebut. "Ada apa?" Kimora kembali bertanya.
Chelsea terdiam. Tapi matanya tidak bisa bohong bahwa dia sedang menahan amarah dan kesedihan. Cukup lama Chelsea terdiam. Mungkin dia sedang mengatur perasaannya sebelum bercerita.
Dan, Kimora dengan sabar menunggu sahabatnya membuka mulutnya. Karena menurut Kimora, Chelsea bersikap tidak seperti biasanya.
"Lo ingat Doni?" Kimora menganggukan kepalanya.
Doni adalah lelaki yang kemarin Chelsea kenalkan sebagai gebetannya kepada teman-temannya. "Kenapa?" tanya Kimora.
"Ternyata dia laki-laki brengs*k. Dia punya banyak cewek, dan dia juga kasar." kata Chelsea dengan menekan amarah dihatinya.
"Chel, lelaki baik tidak akan mau pergi ke tempat seperti itu." kata Kimora.
__ADS_1
Seketika Chelsea menangis tersedu. Dia menyadari kesalahannya yang telah dibutakan oleh tampang Doni yang ganteng.
"Makanya gue selalu bilang ke lo. Jangan pergi ke tempat seperti itu! Lo cewek, image lo jadi jelek." Kimora menasehati sahabatnya agar tidak lagi pergi ke tempat hiburan malam seperti itu.
"Daripada lo pergi ke tempat seperti itu. Mending nongkrong kafe Moon lihat sih monyet Galih perform." Kimora menarik Chelsea ke dalam pelukannya.
"Udah jangan sedih lagi! Untung kalian belum jadian kan.." kata Kimora lagi.
Chelsea menganggukan kepalanya. Dia merasa tenang sekarang setelah bercerita dan mendapat nasehat dari Kimora. "Elkhan romantis ya, Ra? Semalem dia nyanyi buat lo kan?" tanyanya.
"Tahu darimana?"
"Gue dikirimin Ciara videonya. Ah lo beruntung banget.. Tapi gue ikut bahagia buat lo.." kata Chelsea.
"Makasih tembemku.." Kimora menarik pipi tembem Chelsea.
Setelah merasa lega. Mereka kemudian pergi ke kelas. Wajah murung Chelsea kini telah sirna. Dia kembali ceria seperti biasanya.
Saat Chelsea dan Kimora masuk ke dalam kelas. Dia melihat Galih yang sedang kejar-kejaran dengan Putra dan Widi.
"Ntar jadi nganterin Wawan guys?" tanya Kimora.
"Jadi dong.." Galih seketika berhenti bermain. Dia mendekati Kimora.
"Widih, apah tuh?"
"Rahasia. Ntar kalian juga tahu."
"Gue juga bikin striker nama-nama kita. Ntar gue bagiin, gue juga mau kasih ke Wawan supaya dia tidak pernah lupain kita." sahut Putra.
"Cakep. Tumben pinter lo.." puji Chelsea kepada Putra.
Dari semua teman-teman Kimora. Memang hanya Putra yang punya pemikiran kreatif. Dia juga yang memiliki ide supaya mereka membuat baju sebagai tanda persahabatan mereka. Agar terlihat kompak aja sih.
"Masalah kreatifitas jangan pernah lo raguin Putra sih. Sayangnya dia masih aja jomblo." ledek Hendri sembari terbahak.
"Orang lo juga jomblo." Putra mendorong kepala Hendri pelan.
"Sesama jomblo dilarang saling mendahului!" kata Kimora.
"Iya deh percaya, yang punya pacar.." ucap Putra mendengus.
__ADS_1
"Makanya cantik biar punya pacar.." jawab Kimora dengan konyol.
"Si Putra mah cantiknya kalau malem. Kan mangkal." sahut Widi yang mengundang gelak tawa teman-temannya.
Gurauan, candaan seperti itu yang membuat persahabatan mereka sangat menyenangkan. Apalagi mereka yang tidak pernah terbawa perasaan saat bercanda.
Dan, hal seperti itu yang membuat mereka enggan untuk libur jika tidak ada sesuatu yang mendesak. Meskipun sering saling ejek, tapi justru itulah keeratan hubungan persahabatan mereka.
....
Sore hari di bandara.
Kimora dan teman-temannya yang lain mengantar kepergiaan Wawan ke pulau seberang. Perasaan haru, sedih bercampur jadi satu. Perpisahan yang tak pernah mereka inginkan tapi harus mereka jalani.
"Jaga diri lo disana ya!" kata Widi dengan wajah sedih.
"Jangan lupain kita!" sahut Angga tak kalah sedih.
Wawan tersenyum melihat teman-temannya bersedia mengantarnya. Tapi jelas sekali dia merasa sedih harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti saudara baginya. Mata Wawan memerah menahan air mata yang hendak menetes.
Wawan berusaha untuk tidak sedih di depan teman-temannya. "Kalian jaga diri kalian ya! Jangan lupain gue!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Buat lo." Galih memberikan sesuatu untuk Wawan.
Wawan membuka bingkisan tersebut. Dan ternyata adalah sebuah kaos dengan tulisan 'Friend Forever 10A'. Wawan tersenyum kecil, tapi dia semakin tidak bisa menahan air matanya yang sudah menumpuk.
Wawan memeluk Galih disusul oleh teman-teman yang lain. Perpisahan itu begitu sangat menyakitkan. "Jangan lupain gue!" lirih Wawan yang sudah tak bisa menahan air matanya.
Putra juga memberi striker yang dia desain sendiri kepada Wawan. "Thanks ya.. Kalau ada waktu, gue sempetin main kesini." kata Wawan sambil menyeka air matanya.
"Kalau sampai hubungin kita!" seru Kimora.
"Iya. Kalian yang akur ya, jangan berantem terus!" pesan Wawan kepada teman-temannya.
Sebenarnya dia merasa berat meninggalkan teman-temannya. Berulang kali Wawan mengusap air matanya.
"El, nitip temen gue yang bawel ini ya!" ucap Wawan kepada Elkhan yang turut serta mengantarnya.
"Pasti. Lo hati-hati, jangan pernah lupain kita!" kata Elkhan.
Lambaian tangan Wawan membuat suasana di airport tersebut menjadi begitu menyedihkan. "Hati-hati!" seru Ciara.
__ADS_1
Wawan hanya menganggukan kepalanya dan kembali melambaikan tangannya. "Semoga bisa bertemu lagi.."