
BAB 42
Di kelas 10A.
Tangan Dian sibuk mengusili Kimora yang duduk di depannya. Saat Kimora fokus menulis, Dian lalu mencolek pundaknya. Begitu Kimora menoleh, Dian akan berpura-pura fokus dengan aktifitasnya.
Mata Kimora melotot, tapi Dian pura-pura tidak melihatnya. Begitu Kimora menoleh lagi. Dian akan melakukan hal seperti tadi kembali.
Sampai akhirnya Kimora menjadi geram. Dia sengaja merebut buku Dian, kemudian menyobeknya. Tentunya perbuatan Kimora tersebut membuat Dian kesal.
"Sialan lo ya.." omel Dian merebut bukunya kembali.
"Kapok.." kata Kimora sama sekali tidak merasa bersalah.
"Siapa suruh jailin gue?" tanya Kimora dengan sengit.
"Cuma bercanda.."
"Sama dong, gue juga cuma bercanda." kata Kimora lagi.
Dian pun terdiam. Dia sadar bahwa dia tidak mampu berdebat dengan Kimora. Pasti ujung-ujungnya dia tetap kalah. Dengan menghela nafas serta memutar bola matanya. Dian memilih untuk mengalah.
"Ayudya gimana?" tanya Dian mengalihkan pembicaraan.
"Ayudya anak baru?" Dian langsung menganggukan kepalanya.
"Katanya dia suka sama El ya?" Dian mendengar rumor yang berkembang di kelas 10C. Murid dari kelas 10C bilang kalau Ayudya mendekati Elkhan. Bahkan sempat ribut dengan Ulfa karena memperebutkan Elkhan.
"Nggak tahu gue. Tapi emang sempet ribut dengan Ulfa." jawab Kimora. Sebenarnya dia juga sudah mendengar mengenai rumor tersebut. Tapi, Kimora tidak bisa menjawab dengan pasti.
"El serakah banget sih?" gerutu Dian.
Padahal udah punya pacar tapi masih banyak yang menyukai dia. Mungkin itu yang membuat Dian berpikiran seperti itu.
"Ya... mau gimana lagi, resiko jadi cowom ganteng sih.." kata Kimora yang seolah sangat membela pacarnya.
"Ganteng tapi rabun." sahut Dian dengan cepat.
"Heh, lo mau bilang karena dia suka sama gue? Halah, lo aja dulu juga suka sama gue. Ngaku aja sih kalau gue cantik." ucap Kimora membuat Dian mendengus.
"Bantuin gue deketin Ayudya dong!" pinta Dian kepada Kimora. Dia tahu untuk masalah jadi mak comblang, Kimora paling pintar.
"Emang lo udah putus sama pacar lo yang kelas B itu?" Kimora masih terus menoleh ke belakang dan tidak melanjutkan nulisnya. Karena keasyikan ngobrol dengan Dian.
"Belum sih. Tapi gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama Ayudya." jawab Dian dengan tersenyum. Sama seperti Kimora, Dian tidak lagi melanjutkan menulisnya.
"Nggak mau gue. Mending lo beresin urusan lo sama pacar lo dulu. Kasihan kan dia?" Kimora menolak. Dia tidak ingin menyakiti hati pacarnya Dian.
"Lo tanyain Ayudya-nya dulu, mau nggak kenalan sama gue!"
"Nggak." Kimora menolak dengan mantap.
"Please!"
"No!"
"Please Ara!" Dian menarik-narik lengan baju Kimora membuat Kimora menjadi kesal.
"Kalau lo beresin urusan lo sama pacar lo, gue akan bantu. Setidaknya lo kasih kepastian buat pacar lo dulu." jawab Kimora.
Maksud Kimora baik. Dia tidak ingin Dian menyakiti pacarnya. Kalau dia memang sudah tidak suka. Mending dia memberi kepastian kepada pacarnya daripada menyakiti.
__ADS_1
"Tapi lo janji akan bantu gue?"
"Hmm.."
"Janji?"
"Apa itu janji-janji? Kalau mau kencan nanti pas iatirahat aja!" tanpa disangka ternyata bu guru mendengar percakapan Dian dengan Kimora.
"Kencan apaan sih bu? Orang Dian minta bantuan aku buat tanyain ke ibu. Dian mau ajak ibu kencan katanya." Kimora tetaplah Kimora. Seorang siswi yang konyol.
Bergemuruhlah kelas itu karena perkataan konyol Kimora. Dian pun mendorong kepala Kimora karena ngomong sembarangan.
"Nj*r nih anak, ada aja alasannya." gerutu Dian. Tapi sesaat kemudian, dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kimora.. sudah selesai mencatat belum?" tanya bu guru.
"Belum bu, digangguin Dian mulu dari tadi."
"Kok gue?" Dian tidak percaya Kimora menyalahkan dirinya.
"Emang elo yang gangguin daritadi. Ya kan Ra?" Kimora bertanya kepada Ciara yang duduk disebelahnya.
"Hmm.." dengan cepat Ciara menganggukan kepalanya.
"Kalian satu kandang, makanya suka fitnah gue." Dian membela diri karena tidak mau kena omel.
"Fitnah apa? Itu kenyataannya bos. Lo gangguin Ara terus, gue lihat sendiri." sahut Ciara.
Karena saling membela diri. Maka terjadilah keributan yang membuat kelas 10C menjadi semakin riuh.
Dok..Dok..Dok..
Bu Dina mengetuk mejanya agar anak didiknya tidak lagi ribut. "Dian, Kimora, Ciara. Kalian lari keliling halaman sebanyak lima kali!" Bu Dina memberikan hukuman kepada mereka bertiga karena membuat keributan di kelas.
"Harusnya Ara dan Ciara doang bu, aku nggak ikut-ikut.." Dian juga protes.
"Kalian bertiga. Sekarang." kata Bu Dina lagi.
Mau tidak mau. Kimora, Ciara dan Dian bangkit lalu menjalankan hukuman dari bu guru. Meskipun mereka kembali ribut karena saling menyalahkan.
"Hosh.. hosh.."
"Capek banget anj*r, mana panas banget lagi. Gara-gara si kutu kupret Dian.." ucap Ciara yang kesal. Padahal dia tidak tahu menahu malah kena hukuman juga.
"Emang kampret tuh anak.." sahut Kimora yang juga kelelahan.
"Lo juga anj*r.. Gara-gara belain lo, gue jadi ikutan dihukum.." Ciara memarahi Kimora.
"Maap.. nanti gue traktir es cappucino." Kimora merangkul Ciara.
"Janji?" dengan cepat Kimora menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba ada beberapa murid yang mendekat dan bertanya. "Ada apa sih kok kalian lari-lari?" tanyanya sembari terbahak. Ternyata mereka hanya ingin mengolok Kimora dan Ciara.
"Ada anj*ng tuh di belakang makanya kita lari." jawab Kimora menunjuk Dian yang masih di belakangnya.
Kimora dan Ciara pun kemudian tertawa bersama. Sementara Dian mencak-mencak di belakang mereka. Tidam terima dibilang anj*ng.
Beberapa murid yang bertanya itu juga terbahak mendengar jawaban Kimora. Itu semakin membuat Dian kesal. Dian pun menjegal kaki Kimora sampai Kimora terjatuh.
"Akh.." erang Kimora yang terjatuh dan membuat lututnya berdarah.
__ADS_1
"Dian!!" seru Kimora dengan kesal.
"Sorry sorry sorry gue cuma bercanda." melihat Kimora yang berdarah Dian pun menjadi merasa bersalah. Dia tidak bermaksud membuat Kimora terluka. Dia hanya berniat bercanda saja.
"Lo bener-bener ya.." omel Ciara.
"Lo nggak kenapa-napa Ra?" tanya Ciara yang begitu khawatir.
Kimora melihat lututnya yang berdarah. Lalu menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Dengan dibantu Ciara, Kimora segera bangkit kembali.
"Ra, sorry, gue cuma ingin bercanda. Maaf.." Dian mulai merasa bersalah.
"Lo emang beg*.." Ciara yang tidak terima. Dia memarahi Dian bahkan memakinya.
"Ya maaf.."
Tetttt.. Tetttt.. Tetttt..
Bel pulang berbunyi. Kimora meminta Ciara untuk mengambilkan tasnya di kelas. Sementara dia menunggu di dekat parkiran. "Ya, lo tunggu sini aja!" Ciara segera berlari mengambil tas miliknya dan juga milik Kimora.
Saat dia sampai di depan kelas. Dia melihat Elkhan yang berdiri di depan kelasnya. "Cariin Ara?" Elkhan segera menganggukan kepalanya.
"Ada di dekat parkiran, kakinya luka, tadi dia jatuh." mendengar jawaban Ciara. Elkhan segera berlari menuju parkiran. Dia sangat panik sekali mendengar pacarnya jatuh dan terluka.
Secepat kilat Elkhan mencari Kimora diparkiran. Karena parkiran tidak begitu luas. Dengan mudah dia menemukan kekasihnya. "Yank, katanya lo jatuh? Ada luka yang serius?" tanya Elkhan yang tiba-tiba datang.
Kimora sedang berteduh dibawah pohon. Dia memperhatikan kakinya yang luka dan berdarah. Begitu Elkhan mendekat, dia menjadi kaget. Apalagi melihat wajah Elkhan yang panik.
"Lo tahu dari mana?" tanyanya.
"Ciara yang bilang. Coba gue lihat!"
"Nggak apa-apa kok, tadi bercanda sama Dian, nggak sengaja jatuh. Tapi cuma luka dikit aja kok, udah nggak apa-apa cuman agak perih.." jawab Kimora sembari tersenyum. Tidak ingin membuat pacarnya khawatir.
Elkhan dengan lembut meniup lutut Kimora yang lecet. Dan itu membuat Kimora terbelalak. Dia menyentuh pipi Elkhan dengan tersenyum senang.
"Gue udah nggak kenapa-napa. Dilihat banyak orang." Kimora meminta Elkhan agar cepat bangkit.
Namun Elkhan hanya mendongakan kepalanya saja. Dia tetap berjongkok di depan Kimora. "Ke rumah sakit ya!" katanya.
"Nggak. Cuma lecet doang." Kimora jelas menolak. Karena luka itu tidaklah berbahaya.
"Bangun El!" pintanya.
"Bangun Elkhan!" katanya sekali lagi.
Elkhan pun langsung berdiri. Tapi kemudian dia mengangkat Kimora. "Kyaa..." Kimora berteriak karena kaget dengan apa yang Elkhan lakukan.
"El, turunin gue! Gue malu anj*r.." Kimora menyembunyikan wajahnya di dada Elkhan.
Meskipun dia meminta Elkhan untuk menurunkannya. Tapi Kimora malah mempererat pegangannya.
Sementara Elkhan melangkah dengan yakin. Tidak peduli dengan banyaknya mata yang menatapnya. Dia membawa Kimora ke motornya.
"Tas gue masih dibawa Ciara." kata Kimora yang sudah duduk diataa motor.
Tak lama, Ciara berlari mendekat dan memberikan tas Kimora. "Thanks ya Ci.." ucap Kimora.
"Ya. Hati-hati El!"
"Thanks ya.. Kita duluan." pamit Elkhan.
__ADS_1
Lalu, Elkhan melajukan motornya meninggalkan sekolah.
Dari lantai dua, Ayudya melihat pemandangan itu. Dia pun tersenyum kecil sebelum akhirnya dia berjalan menuju parkiran.