Sweet 17

Sweet 17
50


__ADS_3

BAB 50


Alenka mengejar Elkhan yang berjalan ke kamarnya. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena Kimora berkata bahwa mereka tidak bertengkar sebelumnya.


"El, kamu kenapa dengan Ara? Kamu beneran sudah tidak mencintai Ara?" tanyanya.


"Aku capek ma, pengen istirahat.." namun Elkhan tidak mau menjawab pertanyaan mamanya.


Segera dia meninggalkan mamanya dan langsung masuk ke kamarnya. Hatinya sangat kacau. Ada perasaan yang menusuk saat teringat mata Kimora yang berair.


Tanpa sadar air matanya juga menetes. "Kenapa? Kenapa lo harus saudaraan sama dia?" tanya Elkhan dengan emosional.


Padahal, sebagai manusia kita hanya bisa menerima takdir menjadi anak siapa dan memiliki saudara seperti apa. Terkadang kita lupa bahwa hidup tidak selalu sesuai keinginan kita.


Air mata Elkhan tidak bisa terkendali. Sejujurnya, dia masih sangat mencintai wanita berzodiak Sagitarius tersebut. Tapi entah kenapa dia malah memilih untuk putus.


....


Keesokan paginya.


Burung berkicau dengan berisik di sebelah kamar Kimora. Di pohon samping rumah Kimora. Ketika Kimora membuka matanya. Sang Surya telah menampakan senyum indahnya. Cahaya itu menembus celah-celah jendela di kamar Kimora.


"Ah.." Kimora menggeliat, meregangkan otot-otot tubuhnya.


Segera dia mengambil ponsel dan melihatnya. Kebiasaan itu setiap hari dia lakukan. Wajahnya berubah murung tatkala teringat apa yang terjadi semalam.


Ia juga bercermin melalui kamera di ponselnya. Matanya masih terlihat bengkak. Segera dia menuju kamar mandi. "Ah,, gue kan kuat, wonder woman.." gumamnya.


Putusnya hubungannya dengan Elkhan tidak membuatnya terpuruk. Dia sadar jika konsekuensi dari pacar adalah putus. Hanya sedikit kecewa saja. Dia putus tanpa melakukan kesalahan apapun.


Alenka bersikap seperti biasa. Dia tidak sedih ataupun terpuruk. Ia tetap berusaha tegar dan ceria. Ada saatnya untuk bahagia, ada saatnya untuk bersedih.


"Mata lo kenapa?" tanya Aldo saat ia berjalan menuju meja makan.


"Nggak tahu, kegigit semut kayaknya." jawab Kimora sembari mengusap-usap matanya agar kakaknya tidak curiga.


"Makanya jadi cewek jangan jorok.." ucap Aldo.


"Makan di kasur, apa-apa di kasur.." imbuhnya.


"Bawel lo.."


"Di bilangin juga. Buruan makan! Ntar telat." omel Aldo.


Kimora tidak menjawab hanya nurut apa kata kakaknya. Dia segera makan dengan tenang.


"Nanti biar bibi bersihin kamar kamu." kata ibunya. Kimora kembali hanya menganggukan kepalanya.


Setelah selesai sarapan. Ia pamit kepada orang tuanya. Suara bisik mobil Aldo sudah menunggunya. Dengan sedikit berlari, ia segera masuk ke mobil kakaknya.


"Lo habis nangis?" tanya Aldo.


"Nggak." Kimora masih saja mengelak.

__ADS_1


"Nggak usah bohong, gue abang lo.." kata Aldo lagi. Meskipun terkesan cuek, tapi sebenarnya Aldo sangat perhatian kepada saudara-saudaranya.


"Kenapa?" tanya Aldo lagi.


Kimora masih enggan mengaku. Dia menundukan kepalanya.


"Kalau nggak mau ngaku juga nggak apa-apa. Abang hanya ingin lihat lo bahagia. Jelek-jelek gitu, lo tetap adik gue." imbuh Aldo dengan tersenyum.


"Abang ah..." gerutu Kimora. Ia merasa kesal, lalu memasang wajah manyun sembari mendekap kedua tangannya.


Sementara Aldo hanya tersenyum kecil sembari melirik adiknya yang merasa kesal. "Ck.. mukanya dijelek-jelekin, orang udah jelek..." ucap Aldo yang membuat Kimora menjadi heboh.


Tanpa aba-aba dia mulai menjambak rambut kakaknya. "Ara,, gue lagi nyetir ini.." seru Aldo merasa kesakitan.


"Bilang dulu kalau gue cantik!" perintah Kimora.


"Iya lo cantik. Adik gue yang paling cantik.." Aldo nurut apa kata adiknya.


"Nah gitu.." Kimora melepaskan jambakannya.


"Pemaksaan.." gerutu Aldo. Namun, ketika Kimora mengangkat tangannya lagi. Dia hanya cengar-cengir tak jelas.


Sesampainya di sekolah. Kimora mengatur perasaannya agar mampu menghadapi kenyataan bahwa dirinya kini seorang jomblo.


"Ara.." beberapa kakak kelasnya masih saja suka menyapanya. Dan masih suka menggoda Kimora.


"Hai.."


"Sendirian aja? Mau ditemenin?" tanya kakak kelas.


"Bisa nggak sih nggak usah senyum?"


"Why?"


"Lo cantik banget anj*r kalau senyum. Jiwa pembinor gue meronta-ronta.." Kimora terbahak mendengar banyolan kakak-kakak kelasnya.


"Pulang sekolah bareng gue!"


"Idih maksa.." Kimora kembali tertawa kecil.


"Siapa suruh ketawa? Dilarang senyum kok malah ketawa." Kimora hanya tersenyum melanjutkan langkahnya.


Senyumannya masih mengembang. Setidaknya dia bisa sedikit melupakan kesedihan hatinya. Putus dengan Elkhan membuat hatinya sedih. Tapi, Kimora tidak ingin terpuruk karena hal tersebut.


"Ara..." seru Ciara dari belakangnya.


"Tumben sendirian?" Ciara mensejajarkan langkahnya dengan Kimora. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.


"Gue sama El udah putus." seketika Ciara menoleh menatap Kimora yang nampak biasa saja. Meskipun sedikit agak sedih tapi Kimora tetap terlihat biasa. Tidak kelihatan jika dia sedang putus cinta.


"Putus?" Kimora menganggukan kepalanya.


"Lo nggak sedih?" tanya Ciara.

__ADS_1


"Sedih sih pasti, tapi kenapa harus berlarut, orang dia aja putusin gue dengan santai." kata Kimora dengan hati yang kembali berdenyut.


"Dia yang putusin lo?" Kimora menganggukan kepalanya dengan cepat.


Ciara semakin bingung. Beberapa hari yang lalu mereka masih saja mesra. Lalu tiba-tiba Elkhan berubah cuek. Kemudian mereka putus. Sebenarnya ada apa sih?


Sampai di kelas. Ciara mengajak Kimora ke kantin. Tapi, Kimora menolak dengan alasan dia capek. "Lo sendiri aja, gue capek banget.." kata Kimora.


"Ya udah kalau gitu gue ke kantin dulu. Lo mau di bawain apa?"


"Nggak usah aja. Gue udah sarapan tadi."


"Ya udah, gue susul Agata sama Chelsea dulu.." Kimora menganggukan kepalanya.


Kimora dengan malas menempelkan kepalanya di meja. Dia menatap ke luar jendela. Melihat teman-temannya yang lewat menuju kelas masing-masing.


Tiba-tiba sosok yang tidak ingin dia lihat saat ini, lewat. Kimora menatap mantan pacarnya yang berjalan tanpa menoleh sama sekali. Kimora tiba-tiba menundukan kepalanya. Ada perasaan sakit yang terasa aneh dalam hatinya.


"Inget Ra, dia udah tidak cinta sama lo. Lo harus sadar diri!" gumamnya pada dirinya sendiri.


Tapi tetap saja, hatinya terasa nyeri. Dipikirannya terlintas momen indah bersama dengan Elkhan. Saat-saat mereka masih saling mencintai beberapa hari yang lalu.


Tapi, kini semuanya telah berakhir. Kenangan indah itu hanya menjadi sebuah cerita dalam hidupnya.


Karena tidak mau semakin terpuruk oleh masa lalu. Kimora pun memutuskan menyusul teman-temannya ke kantin sekolah.


Kebetulan, di depan kelasnya dia tidak sengaja berpapasan dengan Kresna. "Mau kemana?" tanya Kresna.


"Ke kantin. Lo mau kemana? Bukannya kelas lo lebih dekat jika lewat bawah?" tanya Kimora balik.


"Mau ketemu lo. Kangen gue..."


"Nggak usah ngaco!" Kimora mendorong kepala Kresna pelan.


Mereka kemudian berjalan bersama karena searah juga. Kresna selalu menjahili Kimora dengan selalu menarik kuncirnya setiap kali Kimora mengikat rambutnya.


"Kresna..." seru Kimora. Dan kebetulan juga saat Kimora berteriak, dia dan Kresna berada di depan kelas Elkhan.


Namun Kimora tidak peduli. Dia tetap bercanda dan bersendau gurau dengan Kresna. Bahkan Kimora tertawa lepas bersama dengan Kresna.


Di dalam kelas, Elkhan menatap Kimora melotot. Tanpa sadar tangannya pun juga mengepal dengan erat.


Tiba-tiba Elkhan berdiri dan keluar kelas. Ia mengikuti Kimora. Dan, begitu dekat, Elkhan sengaja memisahkan Kimora dan Kresna yang berjalan berdampingan.


"Jangan nutupi jalan!" katanya dengan ketus. Tapi, dia sama sekali tidak menatap ke arah Kimora maupun Kresna.


"Cowok lo marah tuh, nggak lo kejar?" tanya Kresna saat Kimora tidak mempercepat langkahnya untuk mengejar Elkhan.


"Gue udah nggak sama dia." kata Kimora sembari menatap Elkhan yang berjalan tanpa menoleh sama sekali.


"Kalian putus?" Kimora menganggukan kepalanya. Matanya tidak bisa melepaskan pandangannya dari Elkhan. Bahkan saat Elkhan berjalan menuruni tangga, Kimora tetap menatapnya.


"Jadi kapan kita balikan?" seketika Kimora menoleh dan menatap Kresna dengan tajam.

__ADS_1


Ditatap seperti itu. Kresna pun mulai tersenyum kecil. "Nggak, cuma bercanda." tutur Kresna sembari tersenyum.


__ADS_2