
BAB 41
Perjalanan pulang, Alenka mengutarakan perasaan yang aneh saat melihat Arina. Alenka merasakan sikap Arina yang aneh. Dia lebih sering murung dan sering kepergok terlihat sedih.
Tentu saja itu sangat aneh. Pasalnya Arina baru saja memiliki anak lagi. Tapi dia seperti tidak bahagia. "Kamu merasa aneh nggak sih pa? Arin kayak sedih, padahal dia baru saja punya anak." kata Alenka kepada suaminya.
"Mama juga ngerasa gitu sih Al. Selama ini Arin nggak pernah cerita apa-apa ke kamu?" Vika mulai mengkhawatirkan keponakannya.
"Nggak ma, dia nggak pernah bilang kalau ada masalah. Dia juga nampak bahagia, hanya kemarin dia nampak beda." jawab Alenka yang tidak merasakan apapun sebelumnya.
"Apa karena ada Rama?" tanya Gio.
"Nggak sih pa. Sebelum Rama datang, aku udah lihat Arin yang beda kayak biasanya." jawab Alenka.
Tidak biasanya dia melihat Arina yang seperti itu. Wajahnya minim senyum, nampak sekali dia sedang memikirkan banyak hal. Sebagai saudara dan juga sahabat Arina. Alenka menjadi kepikiran karenanya. Hatinya merasa tidak tenang. Sepertinya Arina menyimpan sesuatu hal yang dia sembunyikan.
Melihat istrinya sedang melamun dan berpikir keras. Gio segera meraih tangan Alenka. "Nanti kita tanya kenapa dia." katanya menenangkan istrinya.
Alenka hanya menganggukan kepalanya saja. Tapi tetap saja pikirannya terus bertanya-tanya. Apa yang membuat Arina terlihat begitu sedih setelah melahirkan anaknya.
Apa jangan-jangan anaknya bermasalah. Tapi tidak. Arina bilang anaknya sehat. Tapi apa?
Semakin keras berpikir, semakin kepala Alenka merasa pusing. Hingga tanpa sadar dia mengerang sembari memegangi kepalanya. "Akh.."
"Kenapa ma?" tentu saja itu membuat Gio panik bukan main. Gio segera menepi. Untung saja jalanan cukup lenggang sehingga tidak menimbulkan kemacetan saat Gio tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gio dengan panik.
"Kenapa Al?" Rahman dan Vika pun ikutan panik.
"Nggak apa kok, cuma agak pusing aja.." jawab Alenka masih dengan memegangi kepalanya.
"Mama kenapa oma?" tanya Elkhan dan Kayra yang terlihat panik juga.
"Tante Alenka kenapa?" Kimora ikutan panik. Karena dia duduk di kursi belakang, jadi tidak begitu jelas apa yang dialami oleh Alenka.
"Nggak apa-apa nak, mama cuma pusing aja." jawab Alenka sembari tersenyum. Tidak mau membuat anak-anaknya khawatir.
"Kita istirahat dulu di kafe depan ya!" ajak Gio yang masih begitu khawatir dengan keadaan istrinya. Dia tahu jika istrinya memiliki begitu banyak pikiran.
"Iya pa." Alenka menganggukan kepalanya.
Gio melajukan mobilnya ke kafe yang ada di depannya. Diikuti oleh mobil Ryan dan Refina.
"Alenka kenapa Gi?" tanya Refina saat melihat Alenka dipapah oleh Gio.
__ADS_1
"Pusing katanya. Makanya kita istirahat sekalian makan terlebih dulu." jawab Gio.
Refina pun mulai ikut khawatir. Dia juga memapah Alenka sampai ke tempat duduk. "Lo sakit?" tanya Refina.
"Nggak." Alenka menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Lo banyak pikiran?" tanya Refina lagi. Dia sangat mengenal sahabat yang kini menjadi adik iparnya itu. Kalau bukan sakit, berarti Alenka sedang banyak pikiran.
"Kenapa? Bukannya kemarin lo masih fine-fine aja." tanya Refina semakin penasaran.
Alenak terdiam sesaat. Namun, setelah menghela nafas panjang. Dia mulai mengutarakan kegusarannya kepada Refina. "Menurut lo, Arin aneh nggak? Maksud gue sikapnya, ada yang aneh nggak?" tanya Alenka.
"Lo gue curiga?" Refina tersenyum tipis. Dia juga menyadari sikap aneh Arina dari kemarin. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Arina. Tidak seperti biasa dan Refina juga menyadarinya.
"Lo juga ngerasa?" Refina menganggukan kepalanya.
"Kakak lo aja juga melihat ada yang aneh dari Arina." ucap Refina.
Jadi, bukan hanya Alenka saja yang melihat keanehan itu. Tapi juga semua orang mungkin yang melihat itu.
"Kenapa ya dengan Arin? Harusnya dia bahagia habis lahiran, apalagi akhirnya dia memiliki anak laki-laki kan?" Alenka kembali bertanya. Namun, sesaat kemudian dia merasakan pusing kembali.
"Al, jangan terlalu dipikirin! Dia udah dewasa, biarin dia mikirin urusannya sendiri!" sahut Ryan.
"Iya kak." benar kata Ryan. Arina sudah dewasa, biarkan dia memikirkan urusannya sendiri. Namun, Alenka tidak bisa begitu saja tidak memikirkan Arina.
"Karena lapar kayaknya." Alenka tersenyum lebar menjawab pertanyaan konyol kakaknya.
Tidak menyangka jika kakak yang dulu terlihat begitu dingin. Kini sudah mulai mencair dan hangat.
****
Keesokan harinya.
Santi berpapasan dengan Kimora saat mereka sama-sama mengantar buku ke ruang guru. Santi melirik tajam ke Kimora yang sedang bercanda dengan salah satu guru muda di sekolahnya.
"Ih caper.." gumam Santi pelan.
Kebetulan saat itu Kresna berdiri tidak jauh dari tempat Santi. Dia mendengar perkataan Santi dan hanya tersenyum kecil.
Mereka sama-sama keluar dari ruang guru. Kresna yang usil mulai mengusili Kimora. "Ih caper banget.." kata Kresna begitu Kimora berada di sebelahnya.
"Masalah?" seru Kimora dengan sengit.
"Gue sih enggak, tapi ada orang yang sirik.." Kresna pun melirik Santi.
__ADS_1
"Lo ngatain gue?" Santi tahu bahwa sindirian itu untuknya. Dia mulai kesal.
"Oh,, lo ngerasa?" Kresna tetap menanggapinya dengan santai.
"Oh, belain mantan? Atau jangan-jangan balikan?" Santi menyindir Kresna dan juga Kimora.
"Kalau emang balikan kenapa? Iri?" Kimora yang memang kesal dengan Santi. Mulai tertarik untuk memancing reaksi Santi.
"Harusnya Elkhan tidak suka sama wanita kayak lo. Mending Ulfa kemana-mana daripada lo. Kalau Elkhan tahu, dia pasti akan putusin lo." seru Santi dengan geram.
Apa yang membuat Santi geram. Karena Elkhan lebih menyukai Kimora daripada Ulfa. Padahal mereka jelas-jelas sama-sama tidak setia.
"Bukankah itu tugas lo buat laporan ke Elkhan?" sindir Kimora.
Dia memang sengaja memanas-manasi Santi. Karena Kimora tahu, Santi ini sumbu pendek. Dia mudah sekali tersulut tanpa mencari kebenaran terlebih dulu.
Santi yang kesal hanya menghentakan kakinya sebelum meninggalkan Kimora dengan Kresna. Tentu saja Kimora dan Kresna hanya tersenyum geli melihat Santi yang pergi dengan marah.
"Lo nggak takut dia laporan ke Elkhan?" tanya Kresna.
"Laporan apa? Laporan kalau gue balikan sama lo?"
"Hmm.." Kresna menganggukan kepalanya.
Kimora terbahak. "Elkhan nggak mungkin percaya kalau gue balikan sama lo. Dia tahu selera gue tuh manusia." katanya masih terbahak.
"Anj*r, emang gue bukan manusia?" Kresna menjadi kesal kemudian mendorong kepala Kimora.
"Ya nggak tahu kok tanya saya..." jawab Kimora kembali terbahak.
"Meskipun bukan manusia, tapi dulu lo pernah suka kan?"
"Itu.. karena waktu itu gue masih buta dan beg*.."
"Orang sekarang juga masih beg*. Beruntung aja karena Elkhan kena pelet lo.." sahut Kresna gantian mengolok Kimora.
"Pelet apaan? Tanpa gue pelet aja Elkhan udah klepek-klepek.." jawab Kimora dengan bangga.
"Kalau gue jadi Elkhan, gue nggak mau sama lo."
"Untung dia bukan lo. Kalau dia itu lo, gue nggak mau. Masa iya gue jadian sama buaya buntung." kata Kimora.
"Mulutnya.." Kresna kembali mendorong kepala Kimora dengan pelan.
"Emang bener ya, laki-laki tidak akan menang berdebat dengan wanita." Kresna mendengus sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Pasal satu, wanita selalu benar. Pasal dua, kalau wanita salah, kembali ke pasal satu." ucap Kimora kembali terbahak.
"Nj*r.." Kresna memutar bola matanya. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum juga.