Sweet 17

Sweet 17
65


__ADS_3

Seminggu selepas kepergiaan Hendri. Ciara masih belum sepenuhnya bersemangat. Ada kalanya dia akan tiba-tiba terdiam dan sedih. Melihat Ciara yang masih berduka. Kimora dan yang lainnya mencoba untuk menghibur Ciara. Mereka juga sesekali memberi pesan serta nasehat kepada Ciara.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Ci. Lo harus sayangi diri lo juga." kata Agata sembari memeluk Ciara yang masih sedih.


"Bener Ra, lo harus lanjutin hidup lo. Masih banyak orang yang peduli dan sayang sama lo." sahut Chelsea. Dia juga tidak tega melihat Ciara seperti itu.


"Come on, girl. Kita semua sayang sama lo." timpal Kimora.


Ciara pun menatap ketiga sahabatnya tersebut. Dia bersyukur memiliki sahabat yang begitu peduli terhadapnya. "Thanks ya girls.. Gue nggak tahu akan seperti apa gue jika tidak ada kalian." kata Ciara.


"Ke kantin yuk!" ajak Chelsea.


Keempat remaja putri tersebut segera bangkit dan berjalan menuju kantin sebelum bel masuk berbunyi. Langkah mereka terhenti di depan kelas Elkhan.


"Hai yank.." seru Chelsea memanggil Donny.


"Hai.."


Pada saat itu, Elkhan sedang berbincang dengan Ulfa. Kebetulan mereka berdua satu kelompok dalam mengerjakan tugas. "El, nanti malam gue ke rumah lo yak. Atau lo yang ke rumah gue?" tanya Ulfa yang merasa senang satu kelompok dengan Elkhan. Karena itu yang dia inginkan.


"Terserah aja." jawab Elkhan dingin.


"Ya udah gue ke rumah lo aja, sekalian pengen ketemu sama mama lo. Gue kangen." kata Ulfa.


"Emang lo sedekat itu sama mama gue?" pertanyaan Elkhan tersebut membuat Ulfa malu bukan main. Padahal dia berharap teman-temannya tahu kalau dia dekat dengan mamanya Elkhan. Tapi, karena perkataan Elkhan tersebut membuat teman-temannya menertawakannya. Termasuk Kimora dan teman-temannya yang mendengarnya.


"Mamp*s lo. Makanya jangan sok akrab." sindir Ciara.


"Diem aja deh, yang baru ditinggal mati pacarnya." Santi menyahut dengan menyindir Ciara tentang kematian Hendri.


"Bac*t lo bisa dijaga nggak?" Chelsea tersulut amarahnya. Dia mendekati Santi dengan kepala panas.

__ADS_1


"Apa lo? Makanya jangan sok nyindir orang." kata Santi dengan tersenyum sinis.


"Harusnya temen lo ngaca, kenapa pacarnya bisa mati. Mungkin karena dia nggak mau punya pacar kayak dia." Santi menertawakan Ciara bersama dengan Chila.


Plak..


Kimora menampar Santi dengan cukup keras. "Jaga omongan lo! Jangan pernah menyalahkan orang karena takdir yang terjadi!" seru Kimora dengan marah.


"Apa lo pikir Ciara juga mau pacarnya mati? Ini semua sudah menjadi takdir." seru Kimora lagi.


Dia bahkan mendekati Santi dan menjambak rambut Santi membuat Santi kesakitan. Tentu saja apa yang Kimora lakukan membuat Ulfa dan Chila berusaha melepaskan tangan Kimora.


"Gue peringatin sekali lagi! Jangan pernah lo bicara kayak tadi lagi! Kalau nggak, gue bikin lo nggak bisa ngomong selamanya!" ucap Kimora dengan tatapan mata yang sangat mengerikan.


"Yank, udah yank." Elkhan memegangi tangan Kimora.


"Lo mau belain dia? Karena dia temennya mantan lo?" Kimora marah ke Elkhan.


Seketika Kimora melepaskan jambakannya dengan kasar. Dia segera berlari keluar dari kelas tersebut. "Yank.." Elkhan berusaha mengejar Kimora.


"Kok lo malah gini sih?" tanya Elkhan menahan tangan Kimora.


"Lepasin!"


"Nggak. Hei, jangan gini dong!" Elkhan menyentuh wajah Kimora tapi Kimora selalu menghindar.


"Gue nggak belain Santi. Gue cuma nggak mau lo kayak gini!" dengan kasar Kimora menarik tangannya. Dia kembali berlari meninggalkan Elkhan.


Sementara Elkhan terus mengejarnya. Dia tidak mau Kimora salah paham kepadanya. "Yank.. Ara..."


Kimora yang marah segera membereskan peralatan tulisnya. Dia membawa tas keluar dari kelasnya. "Lo mau kemana?" tanya Elkhan.

__ADS_1


"Bukan urusan lo!"


"Biar gue anter!"


"Nggak usah." jawabnya dengan ketus.


Elkhan menarik Kimora ke dalam pelukannya. "Gue minta maaf kalau gue salah." lirihnya semakin erat memeluk Kimora.


"Maafin gue oke! Gue anterin, lo mau kemana?" tanya Elkhan tanpa mau melepaskan pelukannya meskipun Kimora terus meronta.


.....


Di depan makam Hendri. Kimora menangis sejadinya. Dia merasa sakit hati karena kematian Hendri dikait-kaitkan dengan hubungan percintaan Hendri dan Ciara. "Hikss.. Hikss.. Hen, bilang ke gue kalau kepergian lo bukan karena Ciara kan?" kata Kimora sembari menangis.


"Hen, meskipun Ciara seperti itu, tapi dia tulus cinta sama lo. Bahkan sampai sekarang dia masih sedih karena kepergiaan lo." lanjutnya.


"Gue sakit Hen, disaat orang-orang menyalahkan Ciara karena takdir yang terjadi. Kalau boleh memilih, Ciara juga nggak mau lo pergi." imbuh Kimora semakin deras air matanya mengalir.


"Gue juga nggak mau kehilangan lo sama Denis. Kalau gue bisa gantiin nyawa kalian, gue gantiin. Hikss.. Hikss.."


Di belakangnya, ada Elkhan yang juga ikutan sedih. Dia memahami perasaan pacarnya. Kehilangan dua sahabat dalam waktu berdekatan merupakan pukulan terberat dalam hidup Kimora.


"Yank.. Lo yang kuat. Gue nggak mau lo kayak gini. Masih ada gue yang akan selalu temani lo." ucap Elkhan memeluk Kimora.


"Hikss.. Hikss.." Kimora juga memeluk Elkhan dengan erat.


Setelah perasaannya tenang. Dia bisa berpikir lebih jernih lagi. "Maafin gue yang egois." lirihnya.


"Nggak. Gue nggak masalah. Asal lo nggak ninggalin gue, itu masih aman." jawab Elkhan sembari memeluk Kimora semakin erat.


"Jangan pernah raguin cinta gue! Gue cinta banget sama lo." imbuhnya.

__ADS_1


Kimora semakin nangis di dalam pelukan Elkhan.


__ADS_2