
BAB 14
Selama acara pesta, Kimora tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia masih saja kepikiran dengan teman-temannya yang menganggapnya telah berubah. Faktanya, meskipun dia memiliki kekasih. Dia tetap Kimora yang sama.
"Lo kenapa Ra?" tanya Elkhan. Sebenarnya dia tahu apa yang rasakan kekasihnya. Hanya saja dia ingin menghibur pacarnya itu.
"Gue ambilin kue ya!" Kimora hanya tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya. Dia juga tidak mau mengecewakan Elkhan dan keluarganya yang telah mengundangnya.
Sebisa mungkin Kimora bersikap biasa dan tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.
"Kamu kenapa nak? Kamu sakit?" tanya Elsa yang terus memperhatikan pacar cucunya.
Sama seperti Gio dan Alenka. Elsa merasakan aura positif dari dalam diri Kimora. Makanya dia mendukung hubungan Kimora dengan cucu lelakinya.
"Nggak oma.. Aku cuma merasa agak dingin aja." jawab Kimora berusaha terlihat biasa saja.
"El kemana?" tanyanya lagi.
"El lagi ambilin kue buat aku, oma.."
Tak lama kemudian Elkhan mendekat sembari membawa beberapa kue untuk kekasihnya. Dia tahu Kimora sangat suka dengan makanan manis. "Nih.."
"Makasih.." Kimora segera menyantap kue tersebut.
"Pacar kamu kedinginan tuh, ambilkan pakaian hangat buat dia!" kata Elsa kepada cucu lelakinya.
"Lo kedinginan?" Elkhan segera meraih tangan Kimora. Dan benar saja, tangan Kimora terasa begitu dingin.
Elkhan kemudian melepaskan jas yang ia kenakan. Lalu memakaikannya kepada Kimora. "Minum dulu!" Elkhan juga mengambilkan segelas minuman hangat untuk Kimora.
Bukan hanya itu. Elkhan juga menggosok-gosokan kedua tangannya kemudian menempelkannya ke tangan Kimora agar terasa hangat. Melihat betapa perhatiannya Elkhan kepada Kimora. Elsa pun teringat anaknya ketika pacaran dengan Alenka.
Gio juga sama seperti Elkhan, dulu. Dia sangat perhatian kepada Alenka. Dan tak segan-segan menunjukan perhatiannya di depan umum termasuk kedua orang tuanya.
"El itu mirip banget sama papanya, ya pa?" kata Elsa kepada suaminya yang berdiri disebelahnya.
"Namanya juga anaknya, ma.." jawab Darius.
"Mama suka banget sama pacarnya El. Kayaknya dia baik orangnya." imbuh Elsa.
__ADS_1
"Ya, kita dukung aja ma apapun yang menurut cucu kita terbaik. Yang terpenting El dan Kayra bahagia." ucap Darius.
Tidak ada yang lebih indah dari kebahagiaan anak dan cucunya. Seluruh kehidupannya dia dedikasikan untuk anak dan cucunya. Apalagi yang dia inginkan. Darius sudah memiliki semuanya.
****
Keesokan paginya, Kimora sengaja datang ke sekolah lebih awal. Dia ingin menjelaskan kepada teman-temannya bahwa dia tidak pernah berubah. Dia masih sama seperti Kimora yang dulu. Hanya saja keadaannya semalam itu berbeda.
"Hen, sorry untuk yang semalem. Gue bukannya nggak mau kalian main ke rumah gue. Tapi gue udah ada janji beneran sama orang tuanya Elkhan." kata Kimora sembari duduk disebelah Hendri yang masih kosong.
"Gue sih paham, Ra. Tapi asal lo tahu, semalem Wawan mau pamitan sama kita terutama sama lo. Dia mau pindah ke luar pulau ngikut orang tuanya." kata Hendri dengan wajah sedih.
Jedarr..
Bagaikan disambar petir di siang bolong. Kimora sangat terkejut mendengar perkataan Hendri. "Pindah?" tanyanya mengkonfirmasi.
"Ya. Dia lagi urus surat pindah sekarang." Kimora langsung berlari menuju kantor untuk menemui Wawan.
Air matanya mengalir tanpa henti. Seandainya dia tahu jika tadi malam adalah kesempatan terakhirnya bertemu Wawan. Kimora akan meluangkan waktunya untuk mendengar keluh kesah Wawan. Karena entah kapan lagi mereka akan bertemu dan saling cerita.
"Dimana Wawan?" tanyanya kepada teman-temannya yang lain yang juga ingin bertemu dengan Wawan sebelum dia pindah sekolah.
"Oke, gue minta maaf kalau emang gue salah. Tapi please, gue bisa jelasin semua." kata Kimora dengan sedih. Dia sengaja menahan amarahnya agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Wawan masih di dalam." sahut Angga.
Berbeda dengan Galih. Angga dan yang lainnya bisa mengerti keadaan Kimora. Mereka tidak menyalahkan Kimora hanya karena masalah semalam. Mereka juga tahu jika Kimora berhak untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Lagipula, bagi mereka Kimora masih tetap sama. Hanya keadaannya saja yang berbeda tadi malam.
Kimora mondar mandir dengan gelisah menunggu Wawan yang masih mengurus surat pindahnya. "Kenapa mendadak sih?" tanya Kimora.
"Sebenarnya dia udah galau selama seminggu ini. Puncaknya semalam, dia ingin sekali minta pendapat lo sebelum memutuskan untuk pindah. Tapi ternyata lo nggak bisa dengerin dia." jawab Widi.
"Gue.. gue.. gue bukannya nggak mau. Hanya saja gue udah ada janji dengan orang tua Elkhan. Gue juga nggak tahu kalau ternyata semalam itu keadaan sangat genting." jelas sekali jika Kimora menyesal.
"Nggak usah nyalahin diri lo sendiri, Ra! Gue tahu kok lo juga berhak bahagia dengan lelaki yang lo cintai." Wawan menghibur Kimora yang terus menyalahkan dirinya.
"Lo beneran akan pindah?" Wawan menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Orang tua gue butuh gue disana." jawab Wawan.
__ADS_1
"Lo bakal tinggalin kita? Lo bakal lupain kita?" Kimora tidak bisa menahan air matanya.
"Nggaklah, gue nggak bakalan lupain kalian semua. Kalian bukan teman gue, tapi udah kayak saudara bagi gue. Meskipun kita baru kenal beberapa bulan. Tapi persaudaraan ini akan terikat selamanya." Wawan juga tidak bisa menahan rasa sedihnya.
Begitu banyak kenangan yang telah terjalin diantara mereka. Meskipun sering kali terlihat tidak akur. Tapi, rasa sayang mereka melebihi apapun.
"Semoga lo sukses disana bro, dan jangan pernah lupain kita!" kata Galih yang juga sangat terpukul dengan keputusan yang Wawan ambil.
"Iya, lo juga. Jangan nyalahin Ara terus! Dia juga berhak bahagia. Kita nggak boleh egois!" kata Wawan memperingati Galih agar tidak terus menyalahkan Kimora.
Galih menganggukan kepalanya. Dia menyadari bahwa dia telah keterlaluan kepada Kimora tadi malam. Tidak seharusnya dia menyalahkan Kimora dan menuduh Kimora telah berubah. Karena biar bagaimanapun, Kimora juga memiliki perasaan. Dia juga berhak memiliki seorang kekasih yang mampu membahagiakannya.
"Maafin gue ya Ra! Nggak seharusnya gue marah sama lo." kata Galih yang berbesar hati meminta maaf duluan.
"Sama-sama, gue juga minta maaf kalau mungkin kalian nganggep gue berubah. Tapi, sebenarnya gue tetap sama." kata Kimora.
"Kalian harus akur ya selama gue tidak ada!" pinta Wawan kepada teman-temannya.
Suasana menjadi haru saat Wawan berpamitan kepada teman-temannya. Berulang kali dia juga mengusap air matanya yang menetes. Dia harus terlihat tegar agar teman-temannya tidak merasa sakit saat dia pergi.
"Lo nggak boleh lupain kita!" kata Kimora dengan air mata yang mengalir deras diwajahnya.
"Nggak akan." Wawan menyeka air mata Kimora.
"Jangan nangis! Ntar lo jadi jelek, kakak-kakak kelas kita nggak ada yang godain lo lagi!" kata Wawan dengan tersenyum.
Tapi, meskipun dia tersenyum. Matanya tidak bisa berbohong bahwa dia sangat berat dan sedih meninggalkan teman-temannya.
"Harus selalu komunikasi! Jangan putus komunikasi!" sahut Angga.
"Jangan left dari grup kelas juga! Lo tetap bagian dari kita!" kata Widi yang juga menangis.
"Jangan lupain kita!" Hendri dan Putra juga merasa sedih.
Untuk terakhir kalinya, mereka berpelukan sebelum Wawan meninggalkan sekolah tersebut. "Berangkat kapan?" tanya Galih.
"Lusa."
"Kita anter!" seru mereka bersama-sama.
__ADS_1
Wawan kembali terharu dengan rasa pertemanan itu. Dia menahan air matanya yang sudah menumpuk disudut matanya. Dengan pelan dia menganggukan kepalanya.