Sweet 17

Sweet 17
19


__ADS_3

BAB 19


Papanya Doni tidak lagi bersikap congkak di depan Gio. Dia yang tadi menganggap Gio sebagai anak muda. Kini dia berbicara lebih sopan kepada Gio.


"Maaf pak Gio, saya tidak tahu siapa bapak jadi sembarangan bicara. Tapi saya ikhlas ganti ruginya kok pak." kata papanya Doni.


Dia menyadari kekuatan serta kekuasaan Darwis di kalangan para pebisnis lainnya. Maka dari itu, Pramono tidak mau menyinggung apapun yang berhubungan dengan Darwis Wijaya.


"Kalau gitu saya pamit dulu!" Pramono segera mengajak anaknya untuk meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Gio tetap dengan ekspresi ciri khasnya. Sedikit mengangkat alisnya dan tersenyum kecil.


"Kamu nggak kenapa-napa El?" tanyanya mengkhawatirkan anak lelakinya.


"Nggak kok pa. El nggak kenapa-napa." jawab Elkhan.


"Maafin El ya pa, karena El udah bikin papa dan mama khawatir. Tapi El lakuin itu karena El tidak suka melihat laki-laki berbuat kasar ke perempuan." imbuh Elkhan merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya khawatir.


"Lain kali harus lebih bisa menahan amarah kamu! Tapi papa salut dengan sikap gentleman kamu." ucap Gio.


"Kamu nggak kenapa-napa Ra?" tanya Gio juga mengkhawatirkan pacar anaknya.


"Nggak om." jawab Kimora dengan tersenyum kecil.


"Itu papa dan mamanya Elkhan?" bisik Chelsea.


"Iya.." Kimora menjawab dengan pelan.


"Masih muda banget ya? Mana ganteng dan cantik banget.." kata Chelsea lagi.


"Kayaknya mereka nikah muda." bisik Kimora.


"Oh pantesan.."


Elkhan kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Chelsea pulang. Elkhan datang bersama Kimora membawa mobil.


"Pa, aku anterin temen aku dulu ya, sekalian anterin Ara pulang." pamitnya.


"Iya, hati-hati nak!" jawab Gio.


"Kak, gue ikut!" Kayra mendekati kakaknya. Dia ingin ikut dengan kakaknya.


"Lo pulang sama mama dan papa aja, Kay! Kalau mama dan papa ditinggal berdua, nanti kita bakalan punya adik.." kata Elkhan dengan konyol.


Tentu saja perkataan Elkhan itu membuat Alenka dan Gio tertawa kecil. Bukan hanya orang tuanya yang tertawa. Tapi beberapa orang yang mendengarnya juga tertawa.

__ADS_1


"Kak El apaan sih.." Kayra juga sempat tertawa mendengar banyolan kakaknya.


"Ajak adik kamu! Papa sama mama mau pacaran dulu!" kata Gio.


Mau tidak mau Elkhan harus nurut apa kata papanya. Dia tidak berani membantah perkataan papanya sama sekali.


"Ah, nanti lo ganggu gue sama Ara.." meskipun begitu, Elkhan menggerutu juga.


"Nggak akan. Ntar gue pura-pura jadi patung." jawab Kayra yang kembali membuat papa dan mamanya tersenyum.


....


Sementara Elkhan mengantar Chelsea dan Kimora pulang. Gio dan Alenka pergi ke taman yang tak jauh dari rumah mereka. Keduanya berjalan-jalan di taman yang hampir penuh dengan anak muda yang sedang nongkrong.


"Lama banget kita nggak jalan-jalan kayak gini ya, pa?" ucap Alenka.


"Hmm.. Dingin?" Gio melihat istrinya yang mengusap-usap tangannya untuk menciptkan kehangatan.


Segera Gio melepaskan jaket yang dia kenakan. Kemudian memasangkannya ke tubuh istrinya. Dia juga mengajak Alenka duduk di bangku yang kebetulan kosong.


Alenka menyenderkan kepalanya dibahu suaminya. Sementara Gio membuka tangannya dan memeluk istrinya. "Kita ternyata udah tua ya pa?" kata Alenka.


"Kamu bosen nggak hidup sama aku?" tanya Alenka yang membuat Gio seketika menoleh menatap Alenka.


"Nggak dong." Gio mempererat pelukannya.


"Terima kasih ya ma, karena kamu sudah memberikan aku dua anak yang manis dan baik." imbuh Gio.


"Gimana kalau kita nambah anak lagi seperti kata El?" bisik Gio yang membuat Alenka tersenyum kecil. Alenka mencubit perut suaminya.


Dia mendongak dan menatap Gio dengan lekat. Ya memang harus diakui, bahwa suaminya sangatlah tampan. Meskipun sudah memiliki dua anak yang menginjak dewasa. Tapi ketampanan Gio tidak berubah sama sekali. Justru dia terlihat semakin tampan.


Gio juga menatap istrinya dengan lekat dan dalam. Kepalanya mendekat kemudian mencium istrinya. Tidak peduli dimana mereka berada.


"I love you, Alenka.." lirih Gio.


Alenka pun memeluk suaminya semakin erat. Sekian lama bersama bersama semakin membuat Alenka cinta kepada suaminya. Perasaan itu tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.


****


Di sekolah, Ulfa mendekati Elkhan yang sedang main game dengan teman sebangkunya. "El, lo kepilih ikut futsal sekolah. Besok akan ada pertandingan melawan sekolah tetangga." kata Ulfa.


"Udah tahu." jawab Elkhan tanpa mengalihkan pandangannya dari hape-nya.


"Yang semangat ya El. Semoga sekolah kita bisa menang." kata Ulfa lagi.

__ADS_1


"Thanks." jawab Elkhan singkat. Wajah Ulfa seketika mengeras. Dia marah karena Elkhan tidak menghiraukannya.


"El pasti semangat dong kalau disemangati Ara. Ya nggak El?" sahut teman sebangku Elkhan.


"Yoi.."


Mendengar nama Kimora. Ulfa wajah Ulfa kembali mengeras. Kenapa dia selalu kalah dengan wanita bernama lengkap Kimora Gavrillia tersebut. Apa hebatnya dia. Apa yang dia punya yang tak Ulfa punya.


Ulfa bertanya-tanya dalam hatinya. Apa kekurangannya dibanding dengan Kimora. Lalu dia kembali ke bangkunya dengan wajah muram.


"Dicuekin Elkhan lagi?" tanya Santi.


"Apa sih hebat si Ara itu? Kenapa dia bisa bikin Elkhan sampai seperti itu?" tanya Ulfa dengan marah.


"Fa, sebenarnya Ara tuh nggak ada apa-apanya dibanding lo. Hanya saja apa yang lo perbuat ke Elkhan waktu itu sangat menyakitkan bagi dia." sahut Chila, kembali mengingatkan kejadian lalu saat dengan tega Ulfa menduakan Elkhan. Padahal waktu itu Elkhan benar-benar mencintai Ulfa.


"Chila.." Santi menyenggol tangan Chila yang kembali mengingatkan akan kesalahan Ulfa.


"Kenapa? Itu fakta kan?" ucap Chila lagi.


Ulfa menatap Chila dengan tajam. Chila memang orang suka ceplas ceplos kalau ngomong. Meskipun kesal tapi Ulfa membenarkan perkataan Chila.


"Gimana kalau nanti siang kita lihat Elkhan latihan? Lo deketin dia, dan ingatkan dia tentang masa lalu kalian dulu!" Santi memberikan ide kepada Ulfa untuk mendekati Elkhan kembali.


"Kalian kan pernah saling mencintai, pasti perasaan itu masih ada dihati Elkhan walau sedikit." imbuh Santi.


"Cari cowok lain napa sih Fa?" sahut Chila.


"Cowok kan bukan hanya Elkhan. Lagipula dia udah punya pacar juga." imbuhnya.


"Lo bisa diem nggak!" Santi memarahi Chila yang seolah tidak mendukung sahabatnya sama sekali.


"Gue ngomong apa adanya." gumam Chila dengan kesal. Sebagai teman dia hanya ingin temannya mendapat yang terbaik. Karena Chila melihat Ulfa yang kerap kesal dan sedih saat Elkhan cuek kepadanya.


"Nggak usah dengerin Chila! Teman apa kayak gitu.." ucap Santi lagi.


"Gue cuma mau Ulfa dapat yang terbaik. Lo nggak kasihan lihat dia sedih dan murung terus?" kini giliran Chila yang memarahi Santi.


"Tapi kebahagiaan Ulfa bersama Elkhan." Santi tak kalah ngotot. Bahkan dia dan Chila saling melotot.


"Tapi Elkhan udah punya cewek. Lo mikir nggak sih?" Chila menjadi kesal.


"Mending lo diem, kalau nggak bisa support Ulfa, mending lo diem!" tutur Santi yang membuat Chila semakin kesal.


"Jangan ribut! Kenapa sih harus ribut? Biar gue pikirin sendiri apa yang terbaik buat gue. Kalau kalian bertengkar kayak gini, itu hanya akan membuat gue sedih." seru Ulfa menengahi perselisihan antara kedua temannya.

__ADS_1


Santi dan Chila saling berpandangan. Mereka kemudian memeluk Ulfa yang nampak sedih sekali. "Maafin kita.." ucap mereka bersamaan saling berpelukan.


__ADS_2