Sweet 17

Sweet 17
27


__ADS_3

"Lo jalan sama Diky?" tanya Kimora yang sebenarnya kaget mengetahui bahwa pertengkaran Chelsea dan Santi dipicu oleh kedekatan Chelsea dengan Diky.


Kimora baru tahu dan dia penasaran. "Sejak kapan?" imbuhnya.


"Belum lama. Baru beberapa hari." jawab Chelsea. Dia tidak menyembunyikan rahasia apapun dari teman-temannya.


"Serius lo sama dia?" tanya Ciara yang sebenarnya juga kaget. Lalu dia mengeluh kepalanya sakit karena jambakan dari Chila.


"Anj*r emang tuh orang, kepala gue jadi sakit.." katanya dengan kesal.


Tiba-tiba Diky masuk ke kelas itu. Dia berjalan mendekati Chelsea. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan. "Chel, lo nggak kenapa-napa?" tanyanya dengan khawatir.


"Gue minta maaf karena gue, lo jadi bertengkar sama Santi." imbuhnya.


Karena tidak mau mengganggu. Ciara dan Kimora pun segera beranjak dari tempat duduk mereka. Dengan alasan ke kantin, Ciara dan Kimora meninggalkan Chelsea dan Diky supaya lebih leluasa ngobrolnya.


"Mau kemana?" tanya Chelsea menahan tangan Kimora dan juga Ciara.


"Ke kantin. Gue laper." jawab Kimora dan Ciara.


"Kalian ngobrol aja! Kita makan dulu, laper soalnya nggak sarapan tadi." sahut Ciara bergandengan tangan dengan Kimora.


"El udah Ra?" tanya Diky.


"Udah mending sih, nanti sore bisa pulang katanya. Tapi harus nunggu dokter dulu." jawab Kimora.


"Dilanjut aja. Kita makan dulu." Kimora segera menarik tangan Ciara supaya meninggalkan Chelsea dan juga Diky.


Mereka berdua tahu, bahwa baik Chelsea maupun Diky. Keduanya pasti canggung ketika ada mereka.


"Mau kemana kalian?" Kimora dan Ciara segera menarik Agata agar tidak masuk ke dalam kelas terlebih dulu.


"Kenapa sih?" Agata kebingungan. Saat pertengakaran tadi, dia belum datang. Jadi dia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ikut kita! Nanti kita ceritain." jawab Kimora masih menarik tangan Agata. Tidak ingin Agata mengganggu Chelsea dan juga Diky.


"Ceritain apa? Nabi-nabi?" seketika Kimora dan Ciara pun ngakak.

__ADS_1


"Otak lo geser kayaknya.." Ciara mendorong kepala Agata pelan. Tak kenapa temannya yang satu itu lambat sekali cara berpikirnya.


"Apa sih? Anj*r kok gue penasaran." meskipun menggerutu, tapi Agata nurut juga apa kata Kimora dan Ciara. Dia terus mengikuti langkah kedua temannya sampai ke kantin.


Setelah memesan minum dan duduk di tempat biasa mereka tempati. Agata kembali bertanya. Dia dilanda rasa penasaran yang teramat. "Katanya mau cerita? Apa sih?" tanyanya.


"Tadi Chelsea bertengkar dengan Santi. Gue juga bertengkar sama Chila, lihat nih rambut gue!" Ciara menjawab dengan cepat. Dia juga menunjukan rambutnya yang banyak rontok.


"Bertengkar? Karena apa? Wah gue ketinggalan nih." Agata mulai heboh.


"Harusnya lo telepon gue tadi, biar gue juga ikut jambak tuh nenek lampir bertiga." imbuh Agata dengan antusias.


Namun, tiba-tiba Kimora membulatkan matanya. Harusnya Santi bertiga sama Chila dan Ulfa. Tapi dari tadi dia tidak melihat batang hidung Ulfa. Dia pun mulai bertanya-tanya. Kenapa Ulfa berada.


"Eh bentar. Lo tadi lihat Ulfa nggak?" tanyanya.


Barulah, Ciara mulai berpikir keras. Benar juga, dia tidak melihat Ulfa sama sekali. Hanya ada Santi dan juga Chila. "Eh iya. Gue juga baru ngeh, kemana ya dia?" Ciara balik bertanya. Sama seperti Kimora, dia juga bertanya-tanya kemana Ulfa.


"Udahlah jangan mikirin dia. Emang kenapa Chelsea bertengkar dengan Santi?" Agata tidak peduli dimana Ulfa berada. Dia lebih penasaran kenapa Chelsea bertengkar dengan Santi.


"Karena Chelsea jalan sama Diky." jawab Kimora yang kembali membuat Agata terkejut.


"Chelsea sama Diky?"


"Oh, gue inget, makanya waktu dari rumah sakit kemarin, dia nggak mau bareng Ciara ataupun gue. Terus gue lihat dia sama cowok. Iya kan Ci?"


"Em..." Ciara berpikir sejenak. Mengingat-ingat seperti kata Agata.


"Ah.. iya gue inget. Itu Diky? Gue kira siapa." sahut Ciara.


"Tapi Diky cakep juga sih, dan kayaknya baik. Moga aja mereka bisa bersama, supaya Chelsea bisa lupain si brengs*k Doni." imbuh Ciara berharap yang terbaik untuk sahabatnya.


"Gue rasa juga gitu. Orangnya kayaknya juga nggak suka neko-neko." timpal Kimora yang memang setuju jika Chelsea memiliki hubungan dengan Diky.


"Gue juga setuju." ucap Agata.


Di kelas.

__ADS_1


Diky menyentuh pipi Chelsea yang terlihat sedikit bengkak akibat tamparan Santi. "Maafin gue ya!" katanya lagi.


"Ngapain minta maaf terus sih? Bukan salah lo." ucap Chelsea dengan kesal.


"Kalau Santi bikin masalah lagi, lo jangan ladeni ya!" pinta Diky.


"Nggak bisalah. Kalau dia pukul gue, gue harus diem gitu?" tanya Chelsea dengan marah.


"Bukan gitu maksudnya." Diky kebingungan bagaimana cara menjelaskan kepada Chelsea.


"Gue udah bilang ke Santi supaya jangan cari masalah lagi ke lo. Gue juga udah bilang kalau gue suka sama lo." seketika Chelsea menoleh.


Matanya melebar, dan jantungnya mulai berdebar. Tatapan cukup lekat dan termenung. Meskipun sebenarnya dia yakin bahwa Diky pasti menyukainya. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau Diky akan mengutarakan perasaannya secepat itu.


"Chel, sebenarnya gue suka sama lo. Memang belum lama sih, tapi gue yakin dengan perasaan gue." ucap Diky lagi.


Kelas cukup sepi. Oleh sebab itu Diky berani mengutarakan langsung perasaannya. "Lo mau nggak jadi pacar gue?" imbuhnya.


Chelsea terdiam dan melongo. Dia bingung harus menjawab apa. Jujur, dia juga suka dengan Diky. Tapi mereka baru aja dekat. Diky belum cukup mengenalnya. Dan dia juga belum cukup mengenal Diky.


"Apa nggak terlalu terburu-buru?" tanyanya.


"Jadi gimana, lo mau atau nggak?" tanya Diky lagi. Dia tidak sabar. Jika memang Chelsea menolak, dia akan tetap berteman dengan Chelsea. Namun, jika Chelsea menerima, dia akan berusaha melindungi Chelsea.


"Lo belum tahu banyak tentang gue. Gue nggak sebaik yang lo pikir." Chelsea menyadari kekurangannya. Dia bukan cewek alim. Tetapi, dia cewek yang suka main ke club malam dan tempat hiburan malam dan sebagainya.


"Gue cinta sama lo dan akan menerima semua baik buruknya lo. Kalau boleh, gue bisa mengajak lo ke arah yang lebih baik." kata-kata Diky tersebut membuat hati Chelsea bergetar sekaligus nyaman.


"Lo nggak akan nyesel?"


"Kalau pun nyesel, biarin gue sendiri yang rasain. Yang gue tahu, gue sayang sama lo dan ingin menjadi pacar lo." kata Diky yang kembali membuat Chelsea terharu.


"Kalau gitu, hayuk kita pacaran. Kalaupun lo akan nyesel, itu bukan urusan gue." Diky menganggukan kepalanya dengan cepat.


Dia tersenyum penuh kebahagiaan. Bahkan dia langsung memeluk Chelsea dengan sukacita.


Chelsea menerima pelukan tersebut dengan senang pula. Alasan kenapa dia menerima Diky bukan karena dia ingin punya pacar. Tapi karena kata-kata Diky yang membuatnya yakin untuk membuka hatinya kembali.

__ADS_1


__ADS_2